
Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan
Tanggal 19 November 2025 saya diminta sebagai salah satu narasumber di acara Yayasan Tunas Karya di Jakarta. Topik yang saya bahas terkait budaya literasi, bergerak dinamis, dan berpikir merdeka dalam mengelola sekolah berkualitas.
Saya ditemani Emilia Kuswardani, S.Pd., M.M., – Kepala SMP Strada Nawar, dan Yohanes Vajar Juniyanto, S.Pd., M.M., – Kepala Bagian Diklat Perkumpulan Strada.
Peserta yang hadir sekitar 53 kepala sekolah dan mitra, termasuk pengurus dan pengawas yayasan. Mereka mengikuti acara dengan antusias. Hal itu diindikasikan lewat perhatian dan aneka pertanyaan yang diajukan. Sayangnya waktu kurang cukup, perlu pendalaman di lain waktu. Kendati demikian semua materi dapat tersampaikan dengan baik.
Salah satu hal penting yang dipaparkan terkait tata kelola pendidikan. Pendidikan merupakan fondasi utama sebuah bangsa. Kualitas pendidikan, pada gilirannya, sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya baik itu kepala sekolah maupun guru.
Untuk mencapai cita-cita bangsa yang besar dan maju, kita perlu mendesain ulang profil pendidik agar mereka tidak hanya menjadi pimpinan karya edukatif atau penyampai materi, tetapi juga agen perubahan yang berdaya.
Tidak ada satu pun bangsa besar di dunia yang terbentuk tanpa fondasi literasi yang kuat. Literasi, dalam konteks ini, tidak hanya berarti kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan menggunakan informasi secara kritis (literasi digital, finansial, sains, budaya, dan lainnya).
Seorang pendidik yang mempunyai literasi yang baik adalah mata air pengetahuan yang tak pernah kering. Mereka mampu mengelola sekolah, menyaring hoaks, mengaitkan berbagai disiplin ilmu, dan menyajikan materi pembelajaran dengan kedalaman kontekstual. Inilah kunci utama.
Pendidik idealnya menjadi pembelajar seumur hidup (lifelong learner) agar mereka dapat menanamkan semangat belajar dan bernalar kritis kepada peserta didik. Literasi pendidik merupakan investasi strategis yang akan menuai generasi emas.
Selain kedalaman literasi, pendidik masa kini dituntut memiliki kebijaksanaan dan pemahaman yang komprehensif tentang tata kelola pendidikan. Hal tersebut mencakup pemahaman tentang kurikulum, evaluasi, manajemen kelas, hingga kebijakan-kebijakan pendidikan di tingkat nasional.
Pendidik yang bijak mampu mengambil keputusan yang berpihak pada tumbuh kembang siswa, bukan sekadar mengejar target administratif. Mereka mengerti bahwa setiap siswa adalah individu unik. Pemahaman tata kelola yang baik memungkinkan mereka bekerja secara profesional, efisien, dan kolaboratif, memastikan sumber daya sekolah (waktu, materi, fasilitas) digunakan secara optimal demi tujuan pembelajaran.
Konsep pribadi pendidik yang merdeka sangat relevan dengan semangat kemajuan. Kemerdekaan di sini berarti memiliki otonomi profesional dalam berinovasi dan berkreasi untuk praktik pembelajaran.
Pendidik yang merdeka adalah mereka yang tidak takut melakukan refleksi dan perbaikan diri secara mandiri dan juga mampu mengembangkan metode yang paling sesuai dengan kebutuhan lokal dan karakteristik siswa mereka.
Selain itu pendidik juga menjadi fasilitator, bukan sekadar penceramah, yang memancing rasa ingin tahu dan inisiatif siswa. Kemandirian ini akan melahirkan pendidik yang bertanggung jawab, yang melihat profesinya bukan sebagai beban rutinitas, tetapi sebagai arena eksperimen dan pengembangan potensi diri.
Dunia berubah dengan sangat cepat. Pendidik tidak boleh menjadi entitas statis. Kita bisa menganalogikan pendidik yang ideal seperti ikan Marlin—lincah, cepat, dan dinamis. Pendidik memiliki kelincahan beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi baru, perubahan sosial, dan tantangan zaman.
Mereka proaktif mencari informasi, berkolaborasi dengan sejawat, dan merespons kebutuhan siswa yang terus berkembang.Pendidik yang bergerak dinamis mampu menyegarkan semangat belajar di kelas, menjadikan proses pendidikan sebagai sebuah petualangan yang relevan dan menarik.
Mewujudkan bangsa yang besar memerlukan pendidik yang memiliki literasi mendalam, kebijaksanaan tata kelola, kemandirian profesional, dan dinamika adaptasi yang tinggi. Dengan memberdayakan dan memerdekakan pendidik, kita sedang menabur benih bagi masa depan gemilang – masa depan di mana setiap individu siap menghadapi kompleksitas dunia modern.
*********************







