Oleh Agus Widjajanto
Situasi Dunia semakin mengalami ketidak pastian pasca Amerika Serikat menerapkan bea masuk tarif perdagangan terhadap China dan beberapa negara lainya yang dianggap merugikan dan mengancam kepentingan ekonomi Amerika Serikat.
Menurut pengamat Ekonomi Jeffrey Sach, alasan utama Amerika Serikat menargetkan China bukanlah alasan idieologi, melainkan alasan ketakutan akan ancaman secara ekonomi. Washington takut kesuksesan Beijing menunjukan bahwa dunia tidak lagi harus mengikuti resep pembangunan ala Liberal Amerika Serikat, China menurut Jeffri menolak menjadi koloni Ekonomi Amerika Serikat pasca perang dingin dengan jatuhnya Federasi Rusia (Uni Soviet) dan justru membangun sistem alternatif disebuah negara Sosialis (Komunis) dengan menerapkan ekonomi bebas ala China yang bisa sangat berhasil dikelola dengan benar dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang melampaui negara manapun termasuk Amerika Serikat.
Jeffri Sach menekankan keberhasilan China mengelola ekonomi secara mandiri telah menggoncang fondasi dominasi Global Amerika Serikat, karena ternyata Kapitalis Amerika bukan satu-satunya jalan menuju kemajuan. Dan lebih jauh lagi China juga menolak Hegemoni Amerika Serikat dan bagi Washington sikap China tersebut dianggap layak paling utama dijadikan musuh nomor satu dan rela berkonflik baik secara ekonomi maupun militer dari pada Hegemoni Amerika Serikat tersaingi oleh China.
Memang tidak bisa dipungkiri Amerika Serikat saat ini menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan, termasuk penurunan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi. Beberapa faktor yang berkontribusi pada situasi ini adalah:
– Perang Dagang dengan China: Amerika Serikat telah memberlakukan tarif tinggi pada impor China, yang telah memicu perang dagang dan mengganggu rantai pasokan global.
– Kebijakan Fiskal: Pemotongan pajak besar-besaran oleh pemerintahan Trump telah meningkatkan defisit anggaran dan utang nasional.
– Ketidakpastian Kebijakan Moneter: Ketidakpastian dalam kebijakan moneter Federal Reserve telah memicu volatilitas di pasar keuangan.
Dampak dari situasi ini adalah:
– Penurunan Pasar Saham: Ketidakpastian ekonomi telah menyebabkan investor menarik dananya dari pasar saham, yang bisa mengarah pada penurunan tajam indeks bursa.
– Melemahnya Nilai Dolar AS: Ketika ekonomi AS mengalami resesi, mata uang dolar bisa kehilangan daya tariknya sebagai aset safe haven, yang berpotensi menyebabkan volatilitas nilai tukar global.
– Turunnya Permintaan Ekspor: Negara-negara yang bergantung pada ekspor ke AS, seperti China dan Meksiko, bisa mengalami perlambatan ekonomi karena menurunnya daya beli konsumen AS.
Namun, perlu diingat bahwa Amerika Serikat masih memiliki kekuatan ekonomi yang signifikan, dan beberapa ekonom berpendapat bahwa AS belum memasuki resesi. Federal Reserve telah mencoba mengatasi masalah ini dengan menyesuaikan kebijakan suku bunga dan stimulus ekonomi.
Dan Hegemoni China memang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI) dan keanggotaan dalam organisasi internasional seperti Shanghai Cooperation Organization (SCO). China juga telah meningkatkan pengaruhnya di Asia Pasifik melalui kerja sama ekonomi dan diplomatik dengan negara-negara di kawasan.
Amerika Serikat masih memiliki pengaruh yang signifikan di kawasan, tetapi China telah menjadi pemain yang semakin penting dalam politik dan ekonomi global. Beberapa negara di Asia Pasifik telah meningkatkan kerja sama dengan China, tetapi juga masih memiliki hubungan yang kuat dengan AS.
Belum lagi China masuk dalam jajaran pembentukan kerjasama ekonomi dalam BRICS , BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) adalah kelompok negara berkembang yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengaruhnya di panggung internasional. Namun, apakah BRICS bisa menyaingi hegemoni Amerika Serikat?
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan:
– Kerja sama ekonomi: BRICS memiliki potensi ekonomi yang besar, dengan total GDP yang signifikan dan sumber daya alam yang melimpah.
– Kerja sama politik: BRICS telah meningkatkan kerja sama politiknya, termasuk melalui pertemuan tahunan dan kerja sama dalam isu-isu internasional.
– Diversifikasi hubungan: BRICS telah meningkatkan hubungan dengan negara-negara lain, termasuk di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Namun, ada juga tantangan yang perlu dihadapi:
– Perbedaan kepentingan: Negara-negara BRICS memiliki kepentingan yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk mencapai kesepakatan yang komprehensif.
– Keterlibatan AS: Amerika Serikat masih memiliki pengaruh yang signifikan di panggung internasional, dan akan sulit bagi BRICS untuk menyainginya tanpa kerja sama yang lebih erat.
BRICS memiliki potensi untuk meningkatkan pengaruhnya, tetapi masih perlu waktu dan kerja sama yang lebih erat untuk mencapai tujuan tersebut.
Kecerdasan Buatan / 5 G
Keperkasaan China memang menjadi ancaman bagi hegemoni Amerika Serikat di kancah global. China telah muncul sebagai kekuatan baru di abad-21, dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan pengaruh politik yang semakin besar.
Faktor-faktor yang memperkuat posisi China:
– Pertumbuhan ekonomi: China telah menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, mengungguli Jepang dan Jerman.
– Inisiatif Belt and Road: China telah meluncurkan inisiatif Belt and Road, sebuah proyek infrastruktur besar-besaran yang bertujuan untuk menghubungkan China dengan Asia, Eropa, dan Afrika.
– Teknologi: China telah membuat kemajuan besar dalam teknologi, termasuk kecerdasan buatan, 5G, dan energi terbarukan.
Dampak bagi Amerika Serikat:
– Kehilangan hegemoni: Amerika Serikat telah menjadi kekuatan dominan di dunia sejak Perang Dunia II, tetapi keperkasaan China mengancam posisi ini.
– Perdagangan: Amerika Serikat telah mengalami defisit perdagangan besar dengan China, yang telah menjadi isu politik di negara tersebut.
– Keamanan: Amerika Serikat telah meningkatkan kehadiran militernya di Asia Pasifik untuk mengimbangi pengaruh China di kawasan tersebut
Respons China:
– Dedolarisasi: China telah mempromosikan penggunaan mata uang yuan sebagai alternatif dolar AS dalam transaksi internasional.
– Kerjasama regional: China telah memperkuat kerjasama dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika untuk meningkatkan pengaruhnya di kawasan tersebut
Dalam jangka panjang, keperkasaan China dapat mengubah tatanan global dan mengakhiri dominasi Amerika Serikat. Namun, Amerika Serikat masih memiliki kekuatan ekonomi dan militer yang signifikan, sehingga persaingan antara kedua negara ini akan terus berlanjut.
Makanya atas persaingan Hegemoni kekuatan utama dunia sebagai negara Adi Daya yang bisa mengendalikan Dunia, antara Amerika Serikat dan China, sangat berpengaruh atas Geo Politik dan Geo Strategis Asia Pasifik khususnya keberadaan Taiwan dan Laut China Selatan .
China menganggap bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayah China Daratan, yang mana tinggal tunggu waktu Beijing melakukan invasi militer secara penuh terhadap Taiwan. Sedang Amerika serikat sangat berkepentingan dengan keamanan Taiwan , dimana pangkalan terdekat dari pulau Taiwan adalah berada di Jepang dalam hal ini di Okinawa, Jepang.
Belum lama ini perdana menteri jepang terlilih yang baru, didepan parlemen menyatakan bahwa keamanan Taiwan sangat berpengaruh pada keselamatan Jepang sendiri di masa depan, yang memicu debat panas dan saling ancam secara deplomatik, tentu hal ini merupakan sinyal bahwa kekuatan militer China yang merupakan kekuatan ke tiga terbesar di dunia saat ini, bisa mengancam kawasan dan apabila meletup gesekan konfrontasi bisa menyeret beberapa negara bukan hanya Amerika serikat, akan tetapi juga Inggris dan Australia yang telah membentuk aliansi militer AUKUS, dan tentu China tidak sendirian dimana kemungkinan besar Rusia juga akan memasuki gelanggang untuk membantu China apabila terjadi perang diantara negara negara tersebut.
Dan jangan sekali kali melupakan sejarah, meletusnya perang dunia kedua, mungkin akan terulang dalam episode berbeda dan tempat berbeda serta waktu berbeda.
______________________
Penulis adalah pengamat politik dan militer







