Oleh Agus Widjajanto
Pasar dan angkutan logistik Amerika Serikat mengalami penurunan drastis akibat kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan oleh pemerintahan Trump. Kebijakan ini telah menyebabkan peningkatan biaya impor, penurunan volume perdagangan, dan gangguan pada rantai pasokan global.
Dampak pada Pasar:
– Indeks saham utama AS, seperti S&P 500 dan Nasdaq, mengalami penurunan signifikan, dengan S&P 500 anjlok lebih dari 11% dalam dua hari.
– Pasar saham global juga terdampak, dengan indeks saham di Eropa dan Asia mengalami penurunan.
– Nilai tukar mata uang juga mengalami fluktuasi, dengan dolar AS melemah terhadap mata uang lainnya.
Dampak pada Angkutan Logistik:
– Volume angkutan darat dan laut anjlok drastis, bahkan di musim puncak pengiriman liburan.
– Pelaku industri memprediksi penurunan impor AS hingga 16,6% pada Desember.
– Biaya logistik meningkat, menyebabkan kenaikan harga barang dan penurunan daya saing produk AS.
Dampak pada Ekonomi:
– Pertumbuhan ekonomi AS menghadapi tekanan turun, dengan kemungkinan resesi global meningkat.
– Inflasi meningkat, dengan kenaikan harga barang dan jasa.
– Pengangguran meningkat, dengan penurunan pekerjaan di industri terkait
Dilaporkan oleh CNBC, bahwa pasar dan angkutan logistik Amerika Serikat mengalami keruntuhan signifikan. Hal ini dipicu oleh penurunan dratis impor dari China yang tertekan tarif yang di berlakukan presidennDonald Trump.
Volume barang yang masuk ke Amerika mengalami penurunan yang memicu seluruh rantai pasokan. Para analisis menilai ini bukan hanya kemerosotan akan tetapi sudah fase “Resesi Barang Struktural”.
Dari laporan CNBC internasional terjadi penurunan 16 persen dan ini sangat mengkawatirkan, dimana penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor yakni kombinasi kebijakan tarif, melemahnya permintaan konsumen dan langkah frontloading dimana importir menarik seluruh pesanan lebih awal akibat tarif yang begitu tinggi deterapkan terhadap barang import dari China, India, Rusia, yang berakibat musim puncak pengiriman liburan tradisional terlihat hampir tidak ada tahun ini. Bahwa dampak dari kebijakan tarif import ini bukan hanya memukul China, tarif yang diterapkan 50 pesen terhadap India juga sangat memukul india.
Bahwa di dalam negeri AS sendiri mengalami penurunan Cargo di Pelabuhan-pelabuhan lebih dari 430.000. TEus pada Desember yang menyebabkan kurang kebutuhan akan pekerja pelabuhan yang menimbulkan pengangguran, truk berhenti gudang kosong yang akan menimbukan seluruh rantai pasokan barang dan jasa dan kebutuhan hidup. Yang merupakan tanda-tanda hancurnya ekonomi AS.
Bahwa memang diakui situasi dunia semakin mengalami ketidak pastian pasca Amerika serikat menerapkan bea masuk tarif perdagangan terhadap China dan beberapa negara lainya yang dianggap merugikan dan mengancam kepentingan ekonomi Amerika Serikat.
Menurut pengamat Ekonomi Jeffrey Sach, alasan utama Amerika Serikat menargetkan China bukanlah alas an idiologi, melainkan alasan ketakutan akan ancaman secara ekonomi. Washington takut kesuksesan Beijing menunjukan bahwa dunia tidak lagi harus mengikuti resep pembangunan ala Liberal Amerika Serikat, China menurut Jeffri menolak menjadi koloni ekonomi Amerika Serikat pasca perang dingin dengan jatuh nya federasi Rusia (Uni Soviet) dan justru membangun sistem alternatif disebuah negara Sosialis (Komunis) dengan menerapkan ekonomi bebas ala China yang bisa sangat berhasil dikelola dengan benar dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang melampaui negara manapun termasuk Amerika Serikat.
Jeffri Sach menekankan keberhasilan China mengelola ekonomi secara mandiri telah menggoncang fondasi dominasi global Amerika Serikat, karena ternyata kapitalis Amerika bukan satu-satunya jalan menuju kemajuan . Dan lebih jauh lagi China juga menolak hegemoni Amerika Serikat dan bagi Washington sikap china tersebut dianggap layak paling utama dijadikan musuh nomor satu dan rela berkonflik baik secara ekonomi maupun militer dari pada hegemoni Amerika Serikat tersaingi oleh China.
Memang tidak bisa dipungkiri Amerika Serikat saat ini menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan, termasuk penurunan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi. Beberapa faktor yang berkontribusi pada situasi ini adalah:
– Perang Dagang dengan China: Amerika Serikat telah memberlakukan tarif tinggi pada impor China, yang telah memicu perang dagang dan mengganggu rantai pasokan global.
– Kebijakan Fiskal: Pemotongan pajak besar-besaran oleh pemerintahan Trump telah meningkatkan defisit anggaran dan utang nasional.
– Ketidakpastian Kebijakan Moneter: Ketidakpastian dalam kebijakan moneter Federal Reserve telah memicu volatilitas di pasar keuangan.
Dampak dari situasi ini adalah:
– Penurunan Pasar Saham: Ketidakpastian ekonomi telah menyebabkan investor menarik dananya dari pasar saham, yang bisa mengarah pada penurunan tajam indeks bursa.
– Melemahnya Nilai Dolar AS: Ketika ekonomi AS mengalami resesi, mata uang dolar bisa kehilangan daya tariknya sebagai aset safe haven, yang berpotensi menyebabkan volatilitas nilai tukar global.
– Turunnya Permintaan Ekspor: Negara-negara yang bergantung pada ekspor ke AS, seperti China dan Meksiko, bisa mengalami perlambatan ekonomi karena menurunnya daya beli konsumen AS.
Namun, perlu diingat bahwa Amerika Serikat masih memiliki kekuatan ekonomi yang signifikan, dan beberapa ekonom berpendapat bahwa AS belum memasuki resesi. Federal Reserve telah mencoba mengatasi masalah ini dengan menyesuaikan kebijakan suku bunga dan stimulus ekonomi.
Dan Hegemoni China memang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI) dan keanggotaan dalam organisasi internasional seperti Shanghai Cooperation Organization (SCO). China juga telah meningkatkan pengaruhnya di Asia Pasifik melalui kerja sama ekonomi dan diplomatik dengan negara-negara di kawasan.
Amerika Serikat sendiri masih memiliki pengaruh yang signifikan di kawasan, tetapi China telah menjadi pemain yang semakin penting dalam politik dan ekonomi global. Beberapa negara di Asia Pasifik telah meningkatkan kerja sama dengan China, tetapi juga masih memiliki hubungan yang kuat dengan AS.
Belum lagi China masuk dalam jajaran pembentukan kerjasama ekonomi dalam BRICS – BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) adalah kelompok negara berkembang yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengaruhnya di panggung internasional. Namun, apakah BRICS bisa menyaingi hegemoni Amerika Serikat?
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan:
– Kerja sama ekonomi: BRICS memiliki potensi ekonomi yang besar, dengan total GDP yang signifikan dan sumber daya alam yang melimpah.
– Kerja sama politik: BRICS telah meningkatkan kerja sama politiknya, termasuk melalui pertemuan tahunan dan kerja sama dalam isu-isu internasional.
– Diversifikasi hubungan: BRICS telah meningkatkan hubungan dengan negara-negara lain, termasuk di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Namun, ada juga tantangan yang perlu dihadapi:
– Perbedaan kepentingan: Negara-negara BRICS memiliki kepentingan yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk mencapai kesepakatan yang komprehensif.
– Keterlibatan AS: Amerika Serikat masih memiliki pengaruh yang signifikan di panggung internasional, dan akan sulit bagi BRICS untuk menyainginya tanpa kerja sama yang lebih erat.
BRICS memiliki potensi untuk meningkatkan pengaruhnya, tetapi masih perlu waktu dan kerja sama yang lebih erat untuk mencapai tujuan tersebut.
Makanya atas persaingan hegemoni kekuatan utama dunia sebagai negara Adi Daya yang bisa mengendalikan Dunia, antara Amerika Serikat dan China, sangat berpengaruh atas Geo Politik dan Geo Strategis Asia Pasifik khususnya keberadaan Taiwan dan Laut China Selatan.
China menganggap bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayah China daratan, yang mana diprediksi para analis tinggal tunggu waktu Beijing melakukan invasi militer secara penuh terhadap Taiwan. Sedang Amerika Serikat sangat berkepentingan dengan keamanan Taiwan, dimana pangkalan terdekat dari pulau Taiwan adalah berada di Jepang dalam hal ini di Okinawa, Jepang disamping tetap menjaga sebagai polisi dunia dalam hegemoni global.
Belum lama ini Perdana Menteri Jepang terpilih yang baru, di depan parlemen menyatakan bahwa keamanan Taiwan sangat berpengaruh pada keselamatan Jepang sendiri di masa depan, yang memicu debat panas dan saling ancam secara deplomatik, tentu hal ini merupakan sinyal bahwa kekuatan militer China yang merupakan kekuatan ke-tiga terbesar di dunia saat ini, bisa mengancam kawasan dan apabila meletup gesekan konfrontasi bisa menyeret beberapa negara bukan hanya Amerika Serikat, akan tetapi juga Inggris dan Australia yang telah membentuk aliansi militer AUKUS, dan tentu China tidak sendirian dimana kdmungkinan besar Rusia juga akan memasuki gelanggang untuk membantu China apabila terjadi perang diantara negara-negara tersebut.
Politik ekonomi secara klasik dari jaman Imperium Romawi hingga kejayaan Jhengis Khan, serta pasca Perang Dunia ke-II, perang dan invasi militer dengan melakukan justifikasi atas peperangan kesebuah wilayah negara lain , kerap dilakukan yang sebetulnya merupakan politik untuk mengembalikan kebangkrutan ekonomi dari negara Adi Daya, kasus kejatuhan Irak shadam Husain, Moamar Khadafi Libya, isu terorisme Osama Bin Laden, serta tekanan terhadap Demokrasi dan Hak Asasi Manusia merupakan isu demi kepentingan hegemoni politik, Adi Daya yang ujung-ujungnya juga masalah Ekonomi. Demi kepentingan Ekonomi.
Apabila terjadi, maka peradaban baru akan lahir di era ke depan, soal tatanan dunia baru, dimana hegemoni Amerika Serikat akan runtuh dan tergantikan oleh tatanan baru, yang harapannya akan lebih baik, tanpa lagi ada isu Demokrasitasi, Terorisme, Hak Asasi Manusia yang dikaitkan kebijakan luar negeri, karena pada dasarnya setiap negara mempunyai ukuran sendiri yang disesuaikan dengan local wisdom dalam setiap negara menyangkut tradisi dan sejarah setiap bangsa.
—————————-
Penulis adalah pengamat sosial budaya dan politik







