• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Selasa, Maret 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Memaknai Kisah Nostalgia Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr

by Redaksi
Maret 4, 2026
in OPINI
0
Memaknai Kisah Nostalgia Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr
0
SHARES
27
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh  Rofinus  Pati

 

Acara syukuran purna tugas Yang Mulia Uskup Fransiskus Kopong Kung, Pr di Desa Lewomuda, Selasa, 17 Februari 2026, berjalan lancar dan sangat berkesan. Setelah sambutan dari Ketua Panitia Romo Wilhelmus Ola Baga, Pr dan Bapak Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, tibalah giliran Bapak Uskup emeritus untuk memberikan sambutan. Tidak seperti kedua pembicara terdahulu, Bapak Uskup emeritus lebih memilih menggunakan kesempatan ini untuk bernostalgia. Pengalaman hidupnya dinarasikan secara cair dan gembira seperti baru kembali dari rumah masa lalu.

Kisah indah penuh warna bersama orangtua pada sebuah kampung di atas bukit. Bersama teman-teman sekolah, teman sepermainan atau teman berburu rusa dan babi hutan. Di sana ada kerja keras, ketekunan, kontrol diri, kesabaran dan kesetiaan. Ada senyum dan air mata. Namun, di sana juga selalu ada harapan, meski masa lalu itu telah menjadi rekam jejak yang tak akan terhapuskan.

 

Tiga Kisah Pengalaman

Dari riwayat yang dipaparkan oleh Bapak Uskup emeritus, di sini khusus diambil tiga kisah pengalamannya, yang kemudian akan coba dimaknai sebagai upaya menarik benang merah, sebuah imajinasi biblis atau fantasi elok yang dapat diselaraskan dengan peristiwa-peristiwa nyata yang dialami sepanjang kehidupan Bapak Uskup emeritus. Ada pun ketiga kisah tersebut sebagai berikut :

Pertama, pengalaman masuk seminari setelah menamatkan Sekolah Dasar. Pengalaman ini cukup unik bagi Bapak Uskup emeritus. Beliau ditolak oleh Pater Herman Josef Kremers, SVD (1901-1973) saat mau mendaftar ke SMP Seminari Hokeng karena mempunyai nama Kopong yang sama dengan nama seorang imam yang menjadi semacam “advocatus diaboli” (iblis pengganggu) bagi hierarki pada waktu itu dan dinilai melanggar Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik Roma. Uskup Antonius H. Thijssen, SVD akhirnya membantunya masuk ke Seminari Hokeng.

Saat tiba di pelataran seminari, pembesar di seminari bersama semua staf berdiri menerima beliau dengan sukacita karena tambahan satu orang murid baru. Setelah itu, beliau dibawa ke kamar makan. Saat memasuki kamar makan, semua orang berdiri menyambutnya dengan gembira seperti halnya tadi di halaman depan. Beliau mengaku merasa gugup dan bingung, apalagi sebagai seorang murid yang terlambat masuk seminari beberapa bulan.

Kedua, pengalaman berburu di kawasan Lewomuda dan sekitarnya. Bapak Uskup emeritus mengaku mengetahui atau menghafal sangat baik, bukit-bukit dan lembah-lembah di sekitar kawasan Lewomuda, termasuk sampai di Likotuden dan Kawalelo.

Sejak kecil, beliau sudah mengikuti bapaknya dan orangtua umumnya, pergi berburu rusa dan babi hutan, menaiki bukit dan menuruni lembah. Kegiatan ini selalu dilakukan, sehingga tingkat pengenalan medan atau arena berburu, tidak perlu diragukan. Di zaman itu, populasi hewan-hewan liar di hutan masih banyak, sehingga tidak terlalu sulit mendapatkannya.

Kisah menarik terjadi di saat berburu pada usia Kelas III Sekolah Dasar. Bersama beberapa temannya, beliau ‘diusir’, diperintahkan oleh orangtua untuk pulang, tidak perlu mengikuti orangtua yang sedang berburu di hari itu. Perintah ini mungkin karena mereka masih dini usia, mereka masih belum berpengalaman dalam berburu atau belum mengetahui seluk-beluk dalam dunia berburu. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami tantangan dan risiko yang bisa menimpa kapan saja.

Di saat mereka sendirian, sedang beristirahat sebagai anak-anak yang dilarang berburu bersama dengan orang dewasa, suara anjing pemburu terdengar seperti sedang mengejar mangsa. Di telinga, tertangkap bunyi hewan sedang berlari mendekat ke arah beliau. Tak lama kemudian, apa yang didengar dan dilihat bukanlah fatamorgana. Seekor rusa sedang berlari agak ketakutan.

Rusa itu terus berlari dan melompat cukup tinggi di dekat beliau. Ketika posisi rusa sedang melompat itulah, beliau segera melemparkan tombaknya ke arah rusa tanpa ada persiapan, tanpa ada keyakinan bahwa tombak itu tepat mengenai sasaran. Tak dinyana, rusa itu terkena tombak dan jatuh tersungkur di depan beliau. Betapa senang hatinya sebagai seorang anak Kelas III Sekolah Dasar, yang pertama kali membuang tombaknya ke arah mangsa, namun sungguh jitu dan berhasil menamatkan riwayat hidup rusa.

Kebahagiaannya semakin bertambah besar, sebab perburuan sepanjang hari itu hanya mendapatkan satu ekor rusa dan juru tombaknya adalah beliau sendiri. Juru tombak seperti ini, setibanya di kampung akan diberikan hadiah istimewa. Inilah yang menambah kebahagiaan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi beliau di masa kanak-kanaknya.

Ketiga, Yang Mulia Bapak Uskup emeritus mempunyai bapak yang tidak hanya hidup dari berladang dan berburu, tetapi juga melaut. Bapaknya memiliki sebuah perahu untuk menangkap ikan dan mengangkut barang-barang kebutuhan hidup di hari pasar maupun hari-hari biasa. Perahu itu diberi nama “Bintang Kejora” dan dua kata itu dituliskan pada bagian samping perahu. Setiap orang mudah membacanya.

Dengan perahu ini, pilihan untuk berangkat ke Larantuka dan sekitarnya menjadi lebih mudah lewat jalur laut daripada jalur darat yang lebih banyak berjalan kaki. Selain itu, membeli maupun berjualan gading, arak, hasil-hasil ladang dan kebutuhan lain, amat terbantu dengan hadirnya perahu ini.

 

Memaknai Kisah Nostalgia

Ketiga kisah nyata yang diangkat di atas merupakan pengalaman yang telah terjadi puluhan tahun lalu. Upaya yang dilakukan sekarang adalah menghubungkan dan menyatukan serpihan-serpihan pengalaman itu ke dalam satu bingkai makna. Dengan perkataan lain, coba ditarik benang merah atau “titik sambung” untuk menempatkan pengalaman-pengalaman itu pada konteks makna tertentu sehingga dapat dimengerti secara keseluruhan.

Upaya mencari dan menemukan makna ini juga, dalam segi tertentu, melibatkan imajinasi elok atau fantasi biblis untuk menghubungkan pengalaman-pengalaman serupa dari Kitab Suci, sehingga ketiga pengalaman masa kecil tersebut bisa dipahami sebagai intervensi dan penyelenggaraan Ilahi serta leluhur sebagai kondisi awal. Proses ini kemudian berlanjut seiring perjalanan waktu, yang pada akhirnya menjadikan Bapak Uskup emeritus seperti yang ada sekarang ini.

Pertama, pengalaman diterima pertama kali saat tiba di Seminari Hokeng. Dikisahkan oleh Bapak Uskup emeritus bahwa pejabat seminari dan semua staf berdiri di pelataran, berjejer menyambut kedatangan beliau, meskipun terlambat beberapa bulan. Kemudian, ketika dibawa masuk ke kamar makan, semua orang berdiri, bertepuk tangan menyambut kehadiran beliau.

Kita tahu bahwa mengambil sikap berdiri untuk menyambut kedatangan seseorang merupakan tanda hormat dan penghargaan. Selain itu, sikap berdiri juga merupakan tanda sopan-santun, terutama kalau orang yang datang lebih tua dalam usia atau mempunyai jabatan lebih tinggi. Bertepuk tangan juga merupakan bentuk apresiasi dan kegembiraan atas kehadiran seorang.

Oleh karena itu, kita boleh bertanya, gambaran atau petunjuk apakah yang terjadi saat pembesar Seminari Hokeng dan semua staf berdiri di pelataran dan menyambut kedatangan seorang anak tamatan Sekolah Dasar? Apakah itu sebuah petunjuk atau gambaran awal bahwa di kemudian hari, umat di pulau Flores bagian timur, Solor, Adonara dan Lembata akan berdiri menyambut kedatangannya sebagai Uskup?

Kedua, saat paling membanggakan sekaligus menarik bagi seorang anak Kelas III Sekolah Dasar adalah menghentikan langkah seekor rusa dan ini menjadi pengalaman perdana dalam hidupnya.

Berburu memang merupakan bagian dari tradisi dan budaya orang-orang di pedesaan. Berburu juga merupakan identitas sekaligus memperkuat ikatan sosial. Hasil buruan akan dibagi-bagikan secara adil. Dalam dunia perburuan, pengendalian diri dan disiplin sangat diperhatikan sebab medan laga biasanya sulit dan binatang buruan pun bisa berbahaya, bahkan mengancam jiwa.

Namun demikian, yang menarik dari pengalaman di atas yaitu rusa yang datang, memberikan dagingnya untuk lauk-pauk orang-orang Lewomuda. Tanpa ada perjuangan atau perlawanan luar biasa, rusa itu tersungkur di depan beliau. Rusa itu seperti gampang datang ke hadapan beliau untuk “menyerah” dan tombak yang dilemparkan ke arah rusa tampak sebagai sebuah alasan amat sederhana.

Hal yang mau dimaknai di sini yakni binatang yang datang, “tunduk” atau “menyerah” di hadapan seseorang menunjukkan bahwa orang yang berada di depannya itu penting. Binatang ada atau datang untuk “menghormati”, “melayani” figur atau orang penting dimaksud. Ada beberapa cerita Kitab Suci bisa menjadi rujukan terkait hal ini.

Di dalam Kitab Bilangan 22:22-27 diceritakan Bileam dengan keledainya. Setelah tiga kali keledai menghindar dari hadapan Malaikat Tuhan dalam perjalanan di pagi hari bersama dengan pemuka-pemuka Moab dan dua orang pembantu, akhirnya keledai itu tidak bisa luput dari hadangan Malaikat Tuhan. Keledai pun menyerah, bertiarap di depan figur suci itu. Peristiwa ini terjadi, bukan karena keledai Bileam selalu suka bertiarap di depan siapa saja, melainkan karena figur suci itu adalah utusan Tuhan sendiri.

Selain itu, kisah dalam 1Raja-Raja 17:4-6, tentang nabi Elia dan burung gagak. Nabi Elia diperintahkan Tuhan untuk pergi menetap di tepi sungai Kerit yang terletak di sebelah timur sungai Yordan karena musim susah. Pada waktu pagi dan sore, burung-burung gagak datang membawa roti dan daging kepada Elia untuk dimakan dan minum dari air sungai Kerit. Peristiwa ini terjadi, bukan karena burung gagak sudah terlatih membawa roti dan daging setiap pagi dan sore, melainkan karena Elia adalah figur pilihan Tuhan untuk karya pewartaanNya.

Satu lagi kisah serupa tertulis dalam Kitab Daniel 6:16-28. Raja Nebukadnezar memerintahkan pengawal mengambil dan melemparkan Daniel ke dalam gua singa. Sepanjang malam, raja tidak tidur, berpuasa dan berharap agar keesokan harinya bisa melihat sisa-sisa daging Daniel setelah dilahap singa. Namun demikian, singa-singa di dalam gua itu tidak menyerang Daniel, melainkan ‘hormat’, sebab mulut-mulut singa telah ditutup oleh malaikat yang diutus Tuhan. Peristiwa ini terjadi, bukan karena singa tidak bisa memangsa Daniel, melainkan karena Daniel adalah seorang figur istimewa.

Dari kisah di atas, jelaslah bahwa binatang datang, “menyerah”, “melayani” figur atau orang penting, orang pilihan dan kesayangan Allah seperti Elia dan Daniel. Seekor rusa berlari ke hadapan seorang anak Sekolah Dasar Kelas III, bukan karena rusa itu jinak atau peliharaan. Juga bukan karena anak Sekolah Dasar Kelas III itu sudah hebat berburu, cepat berlari dan ahli menombaki rusa. Bukan! Lalu, apakah kita boleh memaknai bahwa rusa yang membawa dirinya datang “menyerah” dan “menghadap” seorang anak Kelas III Sekolah Dasar merupakan petunjuk awal bahwa kelak anak itu akan menjadi orang istimewa, pilihan Tuhan dan leluhur untuk menjadi Uskup Larantuka?

Ketiga, nama Bintang Kejora muncul penuh pesona. Kita tidak mengetahui alasan nama ini dipilih dan ditulis di perahu saat itu. Tetapi, pertanyaan kita adalah: mengapa nama itu yang dipilih dan bukan nama lain? Apakah ini sebuah kebetulan? Atau ada pesan terpendam, tanpa disadari, yang kemudian baru tersingkap menjadi kenyataan?

Bintang Kejora merupakan sebutan bagi satu dari sembilan planet, yakni planet venus. Kekhasannya bahwa planet ini paling terang di langit. Planet venus muncul di langit pada pagi hari maupun petang. Karena tampak paling terang dari bumi, disebut juga “bintang besar”.

Bagi para pelaut, bintang kejora ini menunjukkan arah, agar para pelaut menemukan jalan yang benar di saat belum ditemukan kompas seperti sekarang, sehingga mereka bisa aman dalam berlayar di lautan dan tiba di pelabuhan tujuan dengan selamat.

Karena cahayanya yang terang dan stabil, bintang kejora dianggap sebagai simbol harapan dan kebijaksanaan yang menuntun para pelaut dalam mengatasi setiap kesulitan dan tantangan di laut. Sampai di sini kita boleh bertanya, apakah nama bintang kejora itu merupakan petunjuk awal untuk sesuatu yang kelak lebih dari sekedar nama itu? Apakah nama bintang kejora tersebut, pada waktunya bertransfigurasi, berubah menjadi figur seorang Uskup yang tampil sebagai kompas iman, harapan dan cinta kasih bagi umat keuskupan Larantuka?

Kalau demikian, ibarat bintang kejora, Bapak Uskup emeritus Fransiskus Kopong Kung, Pr tidak benar-benar pergi. Seperti bintang kejora yang tetap berada di langit dengan cahaya terang benderang, di pagi maupun petang hari, demikian pula beliau tetap berada di Bukit Fatima dengan doa yang semakin kuat, kebijaksanaan dan cinta yang semakin besar kepada Uskup pengganti dan seluruh umatnya.

 

Akhirul Kalam

Refleksi sederhana ini hanyalah suatu upaya mengumpulkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lalu yang dikisahkan oleh Bapak Uskup emeritus pada saat acara syukuran purna bakti. Setelah itu, pengalaman-pengalaman tersebut dibingkai dalam satu makna secara umum untuk kita renungkan bersama bahwa hidup dan apapun pengalaman manusia, tidak terlepas dari penyelenggaraan Ilahi yakni Tuhan dan restu leluhur Lewotanah.

Lebih mendasar lagi, refleksi yang dituangkan ini tidak bermaksud melebih-lebihkan pengalaman hidup seseorang yang barangkali pengalaman-pengalaman itu sebenarnya biasa saja. Sekaligus juga, tidak ada upaya kultus individu dalam memaknai kisah nostalgia dari Bapak Uskup emeritus. Sebab, terhadap siapa saja, Tuhan bisa menarik garis lurus, di antara titik-titik yang bengkok.

************************

ShareTweetSend
Next Post
Menuju Advokat sebagai Profesi Terhormat  Mandiri

Perang Asimetris antara Iran Melawan Amerika Serikat dan Israel dan Ancaman Resesi Global

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Lereng Bukit Siku Ara jadi Saksi Hidup bagi Kesuksesan Anak Bangsa di Manggarai Timur (Bagian Kedua-Selesai)

5 tahun ago
Indonesia 2025: Mencari Strategi

Indonesia 2025: Mencari Strategi

8 bulan ago

Popular News

  • Berada Bersama Peserta Didik untuk Menjadikan Disiplin sebagai Habitus

    Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In