• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Jumat, April 3, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home UMUM

Lima Tahun di Atas Pusara

by Redaksi
Desember 15, 2025
in UMUM
0
Lima Tahun di Atas Pusara
0
SHARES
54
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Rofinus Pati

 

Akhirnya, nama Hendrikus dikisahkan kembali  di desa Leudanung, kecamatan Omesuri. Sekitar 80 tahun dia hidup di atas tanahnya yang curam. Tanah di atas bukit wadas, dengan kemiringan ekstrem sekitar 80 derajat dan bebatuan tampak  berserakan sepanjang kemarau  yang gersang. Cuaca panas akan merambatkan panas dari luar tubuh sampai di dalam.

Rumah-rumah penduduk dibangun di atas wadas,  berjejer dari bawah ke atas seperti susunan dek dek kapal. Gunung Uyelewun yang megah tersambung ke bawah, ke kaki bukit yang langsung berbatasan dengan bibir pantai. Jalan negara langsung menempel di samping tebing, dekat debur ombak.

Topografi wilayah seperti ini tidak banyak menjanjikan panenan yang melimpah dan mendorong banyak warganya mencari dan membuka lahan baru di luar desa untuk menanam jagung, kacang-kacangan  dan ubi-ubian. Hasil panen akan dibawa pulang ke desa sebagai makanan setahun bagi istri dan anak-anak. Biasanya area ladang tadah hujan lebih dari satu dan tidak hanya di satu wilayah, agar rejeki lebih banyak di musim menuai.

Syukur bahwa sekarang ini akses jalan darat sudah cukup baik, sehingga hasil ladang dimuat di kendaraan umum. Waktu jalan darat masih sulit ditempuh untuk membawa pulang jagung dan ubi, hanya laut menjadi satu-satunya jalur. Hampir setiap warga mempunyai sampan yang dipakai untuk memuat hasil panen yang berjarak jauh, bahkan mendekati 100 kilometer.

Perjalanan melintasi laut tidak selalu mudah. Cuaca terkadang tidak bersahabat, selisih jauh dari perkiraan awal. Angin dan ombak sering mengamuk membalikkan sampan dan  menantang nyali pemiliknya. Pernah dengan muatan sarat, dia terhadang oleh angin dan ombak besar, sehingga tidak sanggup mendayung sampan melintasi  tanjung Lohu,  Balauring.

Dia terpaksa mundur dan berlabuh di dekat dermaga menanti amarah alam mereda. Menahan lapar dan haus sudah hal biasa. Anak-anaknya menghantar makan  malam untuk bapak yang menahan udara dingin di pantai dan digigit nyamuk sepanjang malam. Energi perlu dibaharui agar kuat  mengayuh sampan esok hari sebelum tiba di Leudanung. Beberapa jam dibutuhkan untuk sampai di sana.

Di zaman masyarakat masih berjalan memikul atau menjunjung jagung dan ubi  kembali ke desa, pilihan untuk beristirahat di tengah jalan sering dilakukan untuk melepas lelah,  meregangkan otot-otot sebelum meneruskan perjalanan. Dinihari dia sudah berangkat supaya tidak kepanasan atau agak sore baru keluar dari rumah  dan bermalam di tengah jalan, apalagi anak kecil dibawa serta. Kuda sebagai sarana transportasi yang membantu membawa beban tidak dimiliki, sehingga masih mengandalkan bahu dan kepala sendiri untuk memikul padi, jagung atau ubi untuk diolah di kampung.

Seperti bapak keluarga lainnya, Hendrikus amat menyayangi istri dan anak-anaknya. Di ladangnya ditanami padi juga, agar anak istrinya bisa makan nasi dari beras padi untuk menghemat belanja beras dari pedagang Binongko, Bugis, Buton, Wance dan Papalia di pasar Wairiang dan  Balauring.

Nasi dari beras padi yang dipetik dari ladang sendiri adalah santapan paling lezat bagi orang desa, walau gagal panen bukanlah pengalaman asing di kawasan ladang tadah hujan. Di kala hujan menentu, hasil panen melimpah. Hujan tidak menentu, petani mengelus dada tanpa gerutu, mengangkat kepala  untuk tetap berharap di musim barat tahun berikutnya.

Keyakinan Hendrikus amat kuat bahwa alam selalu setia dan tidak pernah berbohong untuk mengguyurkan hujan setelah musim panas pamit. Gagal panen tidak memupuskan harapan. Masih ada seonggok jagung, kacang-kacangan di pondok. Lumbungnya tidak hanya di pondok untuk menyimpan persediaan makanan, tapi gudangnya juga berada di bawah tanah.

Di bawah tanah masih terpendam  ubi-ubian di kaki gunung Uyelewun yang tetap berisi diam-diam, karena embun gunung yang deras di waktu malam. Untuk urusan makan minum, ladang di desa dan di luar desa masih bisa menjamin. Kesulitan utama adalah rupiah untuk  tanggungan lain yang memerlukan pengeluaran dalam jumlah cukup besar.

Tuntutan ekonomi menjadi salah satu faktor pemicu tingginya arus perantauan atau urbanisasi, bahkan merantau lintas negara. Hendrikus sempat mengalami nasib sebagai pekerja ilegal ke Malaysia yang dirias kisah pilu menawan hati. Keberangkatan lewat jalur belakang alias tersembunyi, sambil bermain kucing-kucingan dengan polisi laut Malaysia agar selamat sampai ke negeri jiran. Dia dan kawan-kawannya pernah disembunyikan di pulau Tokongju, sebuah pulau kosong sebagai tempat “buangan”, menunggu kondisi aman untuk dijemput menyeberang ke Malaysia.

Banyak orang di pulau kosong itu. Tak ada cukup makanan dan minuman setiap hari. Naluri untuk bertahan hidup sungguh diasah sebab tidak ada kepastian kapan  dijemput. Setiap hari Hendrikus dan kawan-kawan rajin  berjalan mengitari pulau kecil itu sembari jeli mengamati, apakah ada makanan yang terdampar ke pantai agar bisa dimakan.

Di saat berkeliling sambil berdoa di pantai itu, Hendrikus menemukan satu buah kelapa tua yang terdampar. Dipanggilnya semua kawan sembari mengangkat buah kelapa itu dan kawan-kawannya lari berhamburan mendatanginya. Kelapa dipecahkan dan mereka berbagi rejeki itu, masing-masing mendapat bagian sebesar setengah jari kelingking.

Tiba di negeri jiran tanpa dokumen resmi bukan sesuatu yang  mudah. Sama seperti saat masuk, tidak gampang. Mereka disembunyikan di sebuah rumah panggung, pintunya tertutup rapat,  seperti burung dalam sangkar. Tidak boleh ada keributan. Jam makan ditandai dengan bunyi  papan yang disodok dari bawah.

Ketika mendengar bunyi itu, pintu dibuka sedikit saja langsung ditutup lagi seperti sedang mengambil handuk dari dalam kamar mandi. Polisi Malaysia sering mondar-mandir menangkap para pekerja yang tidak memiliki paspor. Hendrikus dan kawan-kawannya akhirnya merasa lega setelah ada majikan yang mempekerjakan mereka.

Di tangan majikan pun tidak menjamin keamanan. Polisi Malaysia sering melakukan razia malam-malam. Polisi merangsek masuk ke perkebunan dan perkemahan, untuk menangkap pendatang haram. Banyak pekerja berlari dan tidur malam di hutan berteman dengan  nyamuk yang puas menyedot darah.   Nasib buruk menimpa Hendrikus juga. Bersama teman-temannya, dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan polisi.

Mereka hanya diberi sedikit makanan dengan sayur kangkung tua yang lebih cocok direbus untuk babi, tidur memakai celana dalam di atas lantai yang basah. Ada yang disuruh berbaring di tempat tidur reyot tapi penuh kutu busuk lapar atau tabuan kecil di dekatnya. Mereka baru dibebaskan setelah majikan datang dan  berurusan dengan polisi setempat.

Turun dari tempat  tinggal di pedalaman untuk ‘mencuci mata’ di kota, tidak selalu enak, sebab paspor tidak ada di saku celana. Tiba di kota, mata selalu awas, melihat ke kiri, kanan, depan, belakang, agar tidak ditangkap polisi. Ketika melihat polisi dan dirasa kurang nyaman, mereka harus mengambil langkah seribu untuk menghindari polisi. Sering ada pengecualian kalau hari raya. Polisi menjadikan hari itu bonus, tidak ada penangkapan sehingga umat boleh leluasa  merayakan hari raya. Saat itulah kesempatan emas bagi warga pedalaman untuk bersenang-senang di kota.

Hendrikus seorang yang sangat kikir  mengeluarkan uang untuk sesuatu yang bukan kebutuhan. Awal perjalanannya  menuju Malaysia sudah membuatnya menyimpulkan satu hal bahwa merantau itu bukan gampang. Keinginannya untuk berfoya-foya selalu dikalahkan, sebab dia merantau untuk mengumpulkan uang sebelum kembali ke kampung halaman menemui istri dan anak-anaknya.

Dirinya dikendalikan secara ketat. Semua jenis hiburan tidak sehat dijauhkan, meskipun teman-teman lainnya terjebak, bahkan mengajak. Sulit mengirim surat dan uang ke kampung, kecuali kalau ada teman yang berencana kembali. Saat itulah Hendrikus mengirimkan ringgit untuk ditukar rupiah di Batam, sebagai kado untuk istri dan anak-anaknya.

Tiga tahun di tanah orang, sudah seperti tiga puluh tahun lamanya bagi Hendrikus. Apalagi tidak pernah beribadah, tidak mengenal hari Jumat atau Minggu, sebab tinggal jauh di hutan dan hanya pada hari raya baru turun merayakan di kota. Hari hari di  perkebunan  dilaluinya begitu sepi, terasa hampa, kerontang. Kerinduan pada istri dan anak-anak mendorongnya kembali dengan  dompet lumayan tebal kalau ditukar rupiah. Istri dan  anak-anak menyambutnya gembira, sebab kepala keluarga telah kembali selamat sampai di rumah.

Tiada kado paling  istimewa. Hanya beberapa helai  pakaian kesukaan istri dan anak-anaknya. Kado yang tidak kalah penting adalah lilin. Tradisi berziarah ke kuburan keluarga yang telah meninggal untuk membakar lilin  masih terjaga sampai kini. Sebelum merantau membakar lilin di kuburan, sekembalinya juga demikian. Antara yang hidup dan sudah meninggal masih saling bicara,  bertukar kata dan rasa, lewat lilin yang menyala. Saling merindukan  dan mendoakan, meski dari zona  berbeda.

Kehidupan keluarga  sejati bersama istrinya Kristina dan anak-anaknya mulai tertata kembali seperti sebelumnya. Ke rumah ibadah, ke tempat pesta dilakoni bersama dan melibatkan diri dalam setiap kegiatan di kampung, baik demi kepentingan umum maupun keluarga. Bila musim hujan datang, Hendrikus mengambil bibit,  bergegas ke ladang untuk menanam jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian.

Begitu pula saat musim menuai tiba dan menyimpan  panenan ke dalam lumbung. Istri dan anak-anaknya selalu dimanjakan dengan nasi dari beras padi yang ditanam di ladang sendiri. Apalagi amat sedap kalau  dicampur kacang merah dan gula, lidah memang tidak berbohong.

 

**

 

Takdir tak bisa ditolak bahwa hidup di Leudanung dan di mana pun hanyalah sebuah perantauan setelah mendarat di dunia dari rahim ibu. Ibarat sekedar singgah sebentar untuk meneruskan perjalanan ke alam seberang.  Kedukaan kini melanda keluarga Hendrikus. Istri tercinta: Kristina pergi mendahuluinya dan tidak pernah  kembali menemaninya dalam tidur dan mimpi.

Di kala sakit, Hendrikus setia merawat istrinya yang terbaring pasrah. Siang malam Hendrikus berada dekat di samping istrinya, mengurut kaki, meremas tangannya, mengelus-elus dahi, keramas bahkan menyisir rambut istrinya penuh kelembutan.

Orang-orang berdatangan melayat. Jaringan keluarga, baik dekat maupun jauh berusaha mengunjungi rumah duka, berbagi kesedihan   dan saling meneguhkan. Hendrikus tidak menghendaki istrinya dikubur jauh dari rumah sebab sulit dikunjungi atau dirawat kuburannya. Kuburan disiapkan di samping rumah, dekat dengan diri dan hatinya, supaya mereka tetap saling mencintai seperti masih hidup bersama. Dalam sekejap, kuburan selesai. Semua warga di desa membalas jasa Hendrikus yang selalu datang membantu menggali kuburan ketika ada orang meninggal.

Orang-orang bertukar cerita,  mengenang satu kisah khas dari Hendrikus. Setiap kali mendengar orang meninggal, dia mengambil linggis atau cangkul di rumahnya, memikulnya di pundak dan langsung berangkat menuju ke tempat dimana kuburan akan digali. Dia tidak pergi ke rumah duka, tidak membantu  menyiapkan meja kursi, tidak mencincang daging, tidak membelah kayu atau mendirikan tenda.

Dia memusatkan perhatian di pusara. Setelah kuburan selesai, dia kembali beristirahat di rumahnya. Dia sungguh menyadari arisan amal, hari ini dia menggali kuburan orang lain, nanti kuburan istrinya akan digali orang lain, sebab dia sedang berduka. Kebiasaannya itu menjadi pola hidupnya dan membekas dalam memori warga.

Tiada disangka, kehidupan lima tahun telah berjalan  tanpa istri di sampingnya. Suka duka dirangkulnya sendiri. Syukur, Hendrikus tidak sepi di rumah sebab ditemani cucu-cucu yang suka mengganggu dan membuatnya gemas. Tapi, lima tahun juga dia setia duduk di atas pusara dengan lilin di tangannya. Sejak  senja sampai malam hari. Ketika ayam-ayam naik pohon dan warga memulai aktivitas di dalam rumah, Hendrikus sudah mengambil sebatang lilin di tangan kanan dan pemantik di tangan kiri.

Dia melangkah pelan dan sopan menuju pusara istrinya yang hanya berjarak sekitar tiga meter dari pondasi rumah. Sejenak dia merunduk diam, lalu menyalakan lilin dan memasangnya di lantai pusara. Sesudah itu, terjadi keheningan total. Cucu-cucu memanggil tidak digubrisnya, apalagi menjawab.

Lama kelamaan, cucu-cucunya sadar bahwa kakek dalam posisi itu berarti tidak boleh diganggu dan mereka boleh  mundur satu persatu dari situ. Sering juga mereka duduk mengitari kakeknya sambil serius menyaksikan peristiwa itu. Sesekali mereka juga senang, tertarik dan meminta lilin, membakar dan memasangnya di samping lilin kakek, namun tidak berani ribut sebab kakek sudah duduk seperti patung.

Mata Hendrikus  menatap sebatang lilin yang bernyala itu, sering  tak pernah berkedip seperti mata belalang. Pandangannya teduh, segar dalam bisu. Mulutnya terkunci. Pemandangan itu sudah tak asing bagi warga yang melintas di rumahnya. Saat melewati kuburan, warga sering tidak menyapa Hendrikus di atas pusara, sebab dia pasti tidak mau kehilangan fokus.

Cucu-cucunya dipanggil orangtua untuk mandi, makan malam, belajar dan menonton acara kesayangan di televisi. Mereka membiarkan kakek duduk sendirian sampai puas ditemani angin malam. Terkadang mereka bertanya kepada bapak dan ibunya, mengapa kakek selalu berbuat seperti itu. Hanya dijawab bahwa kakek sedang berdoa, jangan diganggu.

Dalam tatapan yang teduh pada nyala lilin itu, aneka pikiran timbul di otak dan rasa bergejolak di dada. Hendrikus menyadari kerapuhannya. Dirinya hanya seperti satu butir pasir di padang gurun dan dia harus bersiap-siap berangkat ketika giliran kematian datang menjemput. Semua kekayaan dan popularitas hanyalah fana.

Begitu pula hidup dan bekerja di bumi ini, hanya sebentar dan nama seseorang akan segera dilangkahi dalam perhitungan orang-orang hidup. Semua yang dikejar di bumi hanya bunga dunia, yang segera layu pada waktunya. Kematian terus terjadi setiap saat dan setiap orang perlu mawas diri untuk kembali menjadi debu, seperti sebutir dirinya saat masih bernapas.

Permenungannya juga terdampar pada beberapa  pertanyaan yang memantik otaknya seperti petir menyambar di siang bolong. Mengapa manusia pergi ke alam baka harus melewati kematian? Mengapa seorang manusia yang tidak pernah memilih untuk dilahirkan, namun setelah jaya di bumi, segera menyadari dirinya akan menjadi jenazah tanpa kompromi?

Andai orang boleh memilih sebelum dilahirkan, apakah semua orang memilih dilahirkan untuk menjadi calon mayat seperti semua orang? Belum tentu!  Mengapa tidak ada jalan lain menuju alam baka, selain jalan kematian? Mengapa ke alam baka, tidak sama seperti mengirim pesan Whatsapp dimana orang tidur sejenak, memejamkan mata  dan menekan tombol “kirim” dan segera mendarat di alam baka tanpa harus dikuburkan atau dikremasi?

Dengan otaknya yang kecil, Hendrikus tidak sanggup mengerti alasan kematian yang datang  merenggut nyawa  dan mengakhiri hidup manusia di planet bumi ini. Sungguh sangat  menyedihkan jika demikian yang terjadi. Tak lama kemudian, dia lalu merasakan hati berbunga-bunga, merambat berkilauan ke dalam kepalanya, seperti bintang-bintang bercahaya di cakrawala. Keadilan Allah. Kematian adalah tanda keadilan Allah.

Allah menunjukkan dengan terang benderang satu bentuk keadilan-Nya dalam hal kematian. Mengapa? Sebab, jika kematian bisa disogok dengan uang, maka kematian hanya menjadi milik orang kecil. Orang kaya mempunyai uang untuk membeli kematian atau menyogok Allah, sehingga mereka tetap hidup jaya di bumi menurut  kemauannya sendiri. Allah membuat uang tidak bernilai di hadapan kematian, agar semua manusia  mengalami nasib sama, mengalah,  meregang nyawa, tunduk melewati pintu kematian menuju zona lain.    Tak lama kemudian, cicak berbunyi pelan di atas dahan pohon mangga yang menaungi pusara itu. Suara itu seperti menyapa dan membelai sukma. Hendrikus kembali merasakan hatinya berdenyut-denyut,  merindukan istrinya yang berbaring di dalam pusara. Dia baru menyadari, hampir tiga jam menemani istrinya di pusara dan terhanyut dalam lamunan sendiri sampai malam turun memeluk desa Leudanung. Dia pamit pada istrinya untuk masuk kembali ke dalam rumah sambil memegang pemantik di tangannya.

Itulah rutinitas Hendrikus setiap hari, di waktu senja, sejak kematian istrinya lima tahun lalu. Entah hujan atau panas, setiap hari, satu batang lilin, dinyalakan, dipasang di atas pusara, dijaganya dari angin, sampai lilin habis terbakar. Bahkan dia masih tetap duduk menemani pusara itu sampai dipanggil masuk oleh anak atau cucunya.

Anak-anak dan cucu-cucunya di kampung, di Lewoleba, Kupang, Batam, Samarinda, secara rutin dan bergiliran, menyumbangkan lilin-lilin agar Hendrikus bisa menjalankan aktivitasnya setiap hari dengan hati nyaman. Pernah kehabisan lilin dan betapa gelisah hati Hendrikus sebelum mendapatkan lilin lagi untuk terus menghubungkan cinta mereka berdua.

Lima tahun sudah berlalu, setia dijalani, duduk di atas pusara istrinya. Di hari-hari  terakhir sebelum penyakit datang menyerang dirinya yang semakin menua, dibawanya sebatang lilin untuk membisikkan pesan kepada istrinya:

“Kristina sayangku. Saya tidak bisa hidup sendiri lagi tanpa dirimu. Saya tidak bisa makan dan tidur sendiri lebih lama lagi. Saya tidak puas hanya duduk di pusaramu selama lima tahun ini. Saya ingin bertemu langsung denganmu, duduk di sampingmu dan memelukmu untuk melepaskan rindu ini. Datang dan jemputlah saya di Rumah Sakit Umum Lewoleba, sebab anak cucu kita, sudah cukup bahagia mengurus saya selama ini”.

——————-

ShareTweetSend
Next Post
Agus Widjajanto: Hegemoni Indonesia ke Depan dan Falsafah Kepemimpinan Nasional dalam Perspektif  Ke-Indonesiaan

Agus Widjajanto: Hegemoni Indonesia ke Depan dan Falsafah Kepemimpinan Nasional dalam Perspektif  Ke-Indonesiaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Sajak Taman Kasih Tak Bertepi 

Sajak Taman Kasih Tak Bertepi 

9 bulan ago
Reformasi, Deformasi, Publik Enemi dan “Banana Republic”

Reformasi, Deformasi, Publik Enemi dan “Banana Republic”

2 bulan ago

Popular News

  • Berada Bersama Peserta Didik untuk Menjadikan Disiplin sebagai Habitus

    Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perihal Presidensialisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In