
Oleh Samuel Piedro Nahak Manewain, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Keluhuran di Balik “Menyusu Ayah” : Membaca Djenar melalui Kacamata Longinus
Sastra yang menggemparkan sering kali berada di antara yang profan dan yang luhur. Cerpen Djenar Maesa Ayu berjudul “Menyusu Ayah” merupakan sebuah anomali dalam sastra Indonesia kontemporer yang membuat pembaca berpaling sekaligus terdiam. Cerpen ini sering disebut sebagai karya yang hanya membangkitkan emosi karena mengangkat tema inses dan trauma. Namun, jika kita melepaskan prasangka moralistik sejenak dan menggunakan kacamata Longinus tentang the Sublime (keluhuran), kita akan menemukan kekuatan estetis yang melampaui sekadar keberanian tematis. Longinus, dalam risalah klasik On the Sublime, berpendapat bahwa keagungan dalam sastra bukan sekadar tentang keindahan yang menenangkan, melainkan tentang kekuatan yang mengangkat jiwa pembaca ke dalam keadaan ekstasi yang tak terelakkan.
Dialektika Tubuh : Djenar, Ayu Utami, and Leila S. Chudori
Kita perlu melihat lanskap sastra perempuan Indonesia untuk memahami posisi Djenar. Ayu Utami menggunakan seks sebagai alat dekonstruksi politik dan teologis dalam “Saman”, sedangkan Leila S. Chudori menggunakan tubuh sebagai saksi sejarah yang liris dalam “Malam Jahanam” atau “Laut Bercerita”. Djenar, di sisi lain, memilih jalan yang lebih brutal.
Djenar tidak menyajikan metafora yang “indah”. Leila mungkin menggunakan bahasa yang lembut untuk menggambarkan kepedihan, tetapi Djenar justru menggunakan bahasa yang telanjang. Perbandingan ini menunjukkan bahwa “Menyusu Ayah” memiliki tingkat keagungan yang berbeda, karya ini tidak berasal dari refleksi intelektual yang jauh, melainkan dari urgensi eksistensial yang meluap. Keagungan Djenar muncul dari kejujurannya yang menyakitkan dalam memotret distopia domestik.
Keagungan Pemikiran (Grandeur of Thought)
Djenar menggugat konstruksi patriarki yang paling purba yaitu peran ayah sebagai pelindung. Dengan tokoh Nayla, ia memperkenalkan gagasan tentang ingatan pralahir, sebuah konsep filosofis yang menunjukkan bahwa kesadaran manusia melampaui keberadaan fisik. Pemikiran bahwa seorang janin mampu memahami pengkhianatan ayahnya adalah gagasan yang megah sekaligus getir, mengangkat cerita ini dari sekadar drama keluarga menjadi tragedi eksistensial.
Emosi yang Kuat (Strong Passion)
Longinus menekankan bahwa keagungan membutuhkan antusiasme yang membara. Dalam cerita pendek ini, perasaan itu terwujud sebagai “gairah untuk bertahan hidup.” Nayla tidak digambarkan sebagai korban yang pasif. Ia menggambarkan proses kelahirannya yang heroik dengan semangat yang membara. Inilah keagungan rasa sakit, sebuah emosi yang begitu intens hingga mampu mengubah trauma menjadi ketangguhan.
Retorika yang Unggul (Figures of Speech)
Djenar menggunakan teknik pengulangan mantra: “Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki.” “Retorika” menyusui, yang biasanya merupakan simbol sakral kasih sayang ibu, dibalikkan menjadi tindakan eksploitasi. Pembalikan makna ini merupakan strategi retorika cerdas yang menciptakan efek terapi kejutan, memaksa pembaca untuk melihat sisi gelap dari simbol-simbol kenyamanan.
Diksi yang Baik (Noble Diction)
Kekuatan Djenar terletak pada gaya bahasanya yang lugas, dingin, namun puitis secara makab. Ia tidak menggunakan kata-kata halus untuk menyamarkan kebejatan. Kata-kata seperti “sperma”, “penis”, dan “nafsu yang tak terpenuhi” digunakan untuk menciptakan efek “kekerasan verbal” yang selaras dengan pengalaman karakter. Gaya bahasa yang tepat ini menciptakan atmosfer yang mencekam, menarik pembaca ke dalam labirin psikologis yang hancur namun tetap tajam seperti pisau.
Komposisi yang Mulia (Dignified Composition)
Struktur cerita pendek ini dibangun dengan ritme yang mantap, mulai dari kenangan di dalam kandungan hingga klimaks aksi. Bagian penutup cerita, saat Nayla menghantamkan patung kepala kuda ke arah pelakunya, menghadirkan efek keagungan yang sempurna dari sebuah ledakan tindakan. Terdapat keseimbangan antara penderitaan yang berkepanjangan dan kebebasan yang singkat namun intens.
Kesimpulan (Conclusion)
Berdasarkan analisis menggunakan teori keluhuran Longginus, cerpen ini muncul sebagai sebuah struktur di mana setiap fragmen memiliki peran penting dalam menciptakan konflik dan memperdalam karakter. Djenar menunjukkan bahwa konflik Nayla bukan hanya perbedaan pemikiran, tetapi juga perjuangan radikal demi kebebasan diri atas otoritas ayah yang otoriter, dimulai dari pengenalan traumatik hingga pencarian figur ayah pada lelaki lain. Struktur yang efisien ini memastikan pesan cerita tersampaikan secara utuh bahwa keluarga, yang seharusnya menjadi ruang perlindungan paling sakral, dapat bermutasi menjadi ruang luka ketika relasi kekuasaan dijalankan tanpa tanggung jawab moral.
Dengan mengacu pada teori keagungan Longinus, cerpen “Menyusu Ayah” telah menunjukkan bahwa karya ini merupakan wadah yang kuat untuk kritik sosial. Keberanian Djenar dalam mengangkat topik-topik tabu dengan bahasa yang lugas tidak hanya membangkitkan emosi, tetapi juga mendorong pembaca untuk merefleksikan secara kritis nilai-nilai kemanusiaan, tubuh, dan kekuasaan. Cerpen ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan arti sebenarnya dari cinta dan tanggung jawab. Djenar Maesa Ayu telah mengukir “Menyusu Ayah” menjadi sebuah keagungan estetika yang membicarakan sisi-sisi tergelap dari sifat manusia demi mencapai tingkat martabat yang lebih tinggi. Membaca cerpen “Menyusu Ayah” mengingatkan kita bahwa sastra besar tidak selalu berasal dari hal-hal yang manis. Ada rasa kehormatan dalam keberanian menghadapi monster-monster dalam budaya kita sendiri.



