• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Jumat, April 17, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Di Atas Meja Belajar – Cerpen Gonsi Kusman

by Redaksi
Maret 20, 2026
in SASTRA
0
Di Atas Meja Belajar – Cerpen Gonsi Kusman

Foto Ilustrasi dari id.pinterest.com

0
SHARES
42
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Ani, ada apa denganmu? Masih adakah sisa cinta di hatimu, atau rindu yang mengamuk, sehingga kau enggan segera berpaling dariku? Kau begitu gampang datang dan pergi. Kau juga muncul tanpa tabir. Wajahmu yang ungu merayu menyusup ke relung imajinasiku. Ah, nikmat sekali, Ani. Senikamat anggur pemberian Tuhan pagi-pagi buta. Sungguh, jika kau menyelami kesendirianku hingga ke dasar khayalan, tapi bukan di meja belajar ini.

Malam ini sunyi sepi. Di luar jendela, angin menderu kencang. Sepotong celana dalam kesayanganku terhempas ke dahan pohon mangga paling ujung; sebuah peninggalan para musafir masa lalu yang masih tersisa. Di ambang teras kamar, hujan berguyur deras, membasahi kenangan yang terlambat kulepaskan dari jemuran waktu. Rindu pun demikian. Melambung dalam kabut ingatan. Aneh, bukan? Bahkan burung peliharaanku ikutan kabur dari sangkar saat senja tiba. Potongan pisang yang kuberikan siang tadi masih menggantung tenang di sarangnya. Ke manakah ia pergi?

Sementara itu, Baba Juang, teman diskusiku di kamar sebelah, telah terlelap dalam mimpi. Ia terkulai tak sadar di atas tempat tidur setelah berdebat rindu dengan Tina, pacarnya di Jakarta. Mereka mempersoalkan cinta dan rindu. Tina bilang, rindu adalah obat bagi cinta. Baba Juang tak setuju. Baginya, cinta adalah siksaan yang lahir dari rindu. “Cinta seperti penjajah tangguh,” katanya, “yang tak pernah mengaku salah saat seseorang terkoyak rindu.” Demikian Baba Juang menutup perdebatan sebelum mematikan telepon. Ia mengalah, meski terasa dipaksa. Rumit, bukan?

Di atas meja belajar, hanya tersisa buku-buku tua W.S. Rendra. Rendra seolah berbicara lantang tentang perjuangan dari sebuah wejangan peninggalannya. Baru saja kuhabiskan satu bab dengan seluruh tenaga, tapi tak kunjung usai. Begitu pula hujan, masih merintik di genteng. Airnya menggenang, menenggelamkan seekor anak ayam kepunyaan tuan Ande. Suara Rendra tak lagi menembus pikiranku. Yang terdengar hanyalah gemuruh guntur yang menggerogoti, dan rindu yang sementara menggila. Aku, barangkali, tenggelam di dalamnya. Membiarkan pikiran terbuka lebar, seolah mengundang siapa saja boleh menjelajahinya.

Barangkali hanya diriku sendiri.

Tapi saat kulepaskan sejenak, Ani, mantan kekasihku tiba-tiba mendekat, menyusuri lorong pikiranku. Lekuk tubuhnya merayu. Aduh, indah sekali! Rendra kubiarkan terlantar di atas meja. Lalu, Ani kujumpai dalam segenap ingatan. Sepi itu berubah menjadi pilihan. Membaca Rendra atau memeluk Ani? Namun, sunyi mengusik, dan waktu tak menghentikan derunya. Cinta dan rindu, barangkali, adalah kerumitan terberat. Menerjemahkannya seperti nestapa mendalam dalam hidupku. Ia memaksaku larut dalam khayalan, mengecap rasa cinta dan rindu yang campur aduk, tak bertepi dan menggoda. Ani mendekat pelan ke hatiku, lalu merambat hingga ke akar khayalan yang paling nakal.

Bukankah kau adalah kegembiraan masa laluku yang kini berubah menjadi luka, Ani? Begitukah?

“Cantik sungguh dirimu masih memikat,” kataku sambil membelai helai rambutmu saat kita bertemu tanpa sepengetahuan siapa-siapa kala itu. Aku sempat mengeraskan pundakku sebagai sandaran bagi kepalamu. Tapi aku sadar, aku lemah; tak sekuat pundak seorang lelaki yang kau impikan. Seperti ayah. Janji sekaligus tipu daya yang kau tanamkan padaku dulu, barangkali kini menjadi beban bagimu. Tapi itu bukan alasan untuk ragu. Kali ini, kuizinkan kau bisa berlama-lama menikmati teduh di pundak ingatanku. Sebab, pundak mana yang tega menolak bila wanita lamanya ingin kembali pulang?

“Kak, cinta kita sudah tua dalam hubungan ini. Tapi makna dari cinta itu sendiri masih terlampau muda di pikiranku. Apakah itu cinta, menurutmu?” Tanyamu saat itu, ketika pertemuan kita tak diizinkan waktu untuk berlarut dalam pelukan sepi.

Kita membiarkan sunyi berbicara sejenak dan kata-kata butuh istiraharat. Kau memejamkan mata, menanti jawabanku. Aku menatap langit, berusaha mencari arti. Tapi tak satu kata pun yang terucap. Barangkali pikiranku terlalu lemah untuk memikirkannya. Atau kekuatan cinta memang dahsyat, sehingga mendefinisikannya terlampau rumit?

“Susah sungguh, Ani,” kataku. “Definisi cinta tak sanggup ditanggung oleh akal semata. Aku masih bingung dengan kata itu.”

“Barangkali cinta tak perlu didefinisikan. Ataukah mesti?”

Cinta itu abstrak.

Bukankah kita pernah mendewasakan cinta? Bisa jadi, itulah yang dinamakan cinta: saat kita saling mengerti, saling larut, lalu saling menyalahkan.

Aku menyalahkan kau, dan kau menyalahkan nafsu.

“Hmm, seandainya begitu, bagaimana kau mendefinisikan cinta pada ibu dan saudaramu? Apakah demikian?” Tanyamu bergurau.

“Tentu tidak, Ani! Cinta yang kumaksudkan tentang kita berdua.”

Dulu kau berbisik lembut di telingaku saat senja merayap ke pangkuan bumi dan malam mulai mendekat. Kau mengharuskan aku bahwa cinta butuh dibuktikan. Meski suatu malam kita pernah sepakat, cinta tak selalu butuh bukti. Entahlah, itu hanya omong kosong saat kesadaran berpihak pada akal.

Malam semakin pekat. Matamu tampak lelah, seolah memberi isyarat bahwa saatnya merayakan cinta yang kian menua. Pasrah pun menjadi ramah bersama aliran darah di tubuh penuh noda.

Rembulan adalah saksi saat kita menari di bawahnya. Aku mencium paling dalam hatimu, sementara kau menjerit seperti jangkrik sambil menggenggam erat cintaku yang tegar. Malam itu hanya milik kita berdua.

Ah… Ani! Masihkah kau ingat? Nikmatnya bukan main.

Gemuruh guntur dan riuh rintik hujan tak lagi terdengar dalam jiwaku. Padahal, mataku menyaksikan setiap tetesan menusuk rahim bumi yang pasrah dan mencium kaca jendela kamar yang tak bersalah. Meski begitu, kilauan kilat masih menyilaukan mataku tanpa henti.

Apakah kau yang membuatku tuli, Ani?

Di atas meja belajar, segalanya terasa hampa. Tak ada lagi yang dipedulikan kecuali Ani. Cantiknya melekat di imajinasiku. Pandai merayu. Membuatku kehilangan cara mencerna petuah Rendra yang belum kuhabiskan. Sementara, kepalaku butuh asupan pengetahuan, termasuk kebijaksanaan Rendra.

“Apakah kau tak ingin aku berpengetahuan, Ani? Bukankah pengetahuan lebih utama daripada cinta?“ Demikian hatiku berucap ketika kesadaranku dipulihkan oleh buku W.S Rendra di atas meja belajar. Seolah, buku itu setia menanti meksi aku berlabuh terlampau jauh.

Aku, barangkali, terjebak!

Ya, aku sedang terjebak.

Konon, kakek pernah ingatkan ayah bahwa ilmu pengetahuan mesti diutamakan bagi yang masih merangkak di bangku sekolah. Bukan cinta. Ayah menyampaikannya pesis sama padaku saat kutinggalkan rumah, saat tekadku bulat ingin menjadi seorang intelektual.

Tapi, apakah intelektual seperti malam ini? Mengabaikan petuah Rendra demi memeluk Ani dalam rindu? Apakah petuah Rendra tak sehangat dekapan di dada Ani?

Ah, Tuhan. Mengapa begini?

Apakah Engkau yang mengirim Ani melawatku malam ini? Jika benar, jangan mengirim dia ke meja belajar. Meja ini bukan tempat Ani menari. Meja ini hanyalah panggung bagi Rendra berpidato dan filsuf berdiskusi.

Kalau Ani?

Barangkali tempatnya di ranjang. Intinya bukan meja belajar.

“Tuhan, jika Engkau mengkehendaki Ani kembali, ajaklah ia ke dalam mimpiku,“ ujudku di hadapan Salib Yesus, sebelum kembali menikmati petuah Rendra.[*]

 

Ledalero, 2024

 

ShareTweetSend
Next Post
Pemerintahan Swapraja Belanda di Timor Barat dan Implikasinya untuk Masa Kini

Pemerintahan Swapraja Belanda di Timor Barat dan Implikasinya untuk Masa Kini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Menentukan Arah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa di Indonesia

4 tahun ago
Nepotisme, Kroniisme, Dinasti

Nepotisme, Kroniisme, Dinasti

3 bulan ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In