Oleh Agus Widjajanto
Blue Water Navy adalah istilah untuk armada angkatan laut sebuah negara yang punya kemampuan beroperasi di laut lepas Samudera (bukan cuma pesisir). Contohnya, US Navy punya Blue Water Navy yang kuat yang bisa beroperasi seluruh dunia tidak hanya beroperasi diwilayah teritorialnya sendiri, dimana punya kemampuan menyerang jarak jauh dari wilayahnya sendiri sebagai bagian dari kekuatan politiknya dalam hegemoni kekuatan angkatan laut, sebuah negara besar.
Negara-negara dengan kemampuan Blue Water Navy adalah:
– Amerika Serikat: Memiliki armada laut terbesar di dunia dengan 11 kapal induk, 9 kapal serbu amfibi, dan 50 kapal selam.
– Cina: Sedang mengembangkan kemampuan Blue Water Navy dengan 3 kapal induk, 11 kapal serbu amfibi, dan 70 kapal selam.
– Rusia: Memiliki 1 kapal induk, 1 kapal serbu amfibi, dan 66 kapal selam.
– Jepang: Memiliki 2 kapal induk, 2 kapal serbu amfibi, dan 22 kapal selam.
– Britania Raya: Memiliki 2 kapal induk, 2 kapal serbu amfibi, dan 6 kapal selam.
– Prancis: Memiliki 1 kapal induk, 3 kapal serbu amfibi, dan 5 kapal selam.
– India: Memiliki 2 kapal induk, 1 kapal serbu amfibi, dan 16 kapal selam.
– Italia: Memiliki 2 kapal induk, 3 kapal serbu amfibi, dan 8 kapal selam.
– Korea Selatan: Memiliki 2 kapal serbu amfibi dan 21 kapal selam.
– Indonesia: Sedang mengembangkan kemampuan Blue Water Navy dengan pembelian kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia.
Negara-negara ini memiliki kemampuan untuk memproyeksikan kekuasaan di luar wilayah teritorial mereka sendiri dan melakukan operasi laut jarak jauh.
Indonesia sedang mengembangkan proyeksi kekuatan angkatan lautnya menuju Blue Water Navy. Ini berarti Indonesia ingin meningkatkan kemampuan lautnya untuk beroperasi di laut lepas, bukan hanya di perairan teritorial.
Beberapa langkah yang sudah diambil Indonesia untuk mencapai ini termasuk:
– Pengadaan Kapal Induk Giuseppe Garibaldi dari Italia, yang akan meningkatkan kemampuan operasi laut jarak jauh Indonesia
– Pengadaan KRI Brawijaya 320, kapal tempur multiperan yang memperkuat pertahanan laut Indonesia
– Modernisasi armada laut dengan penambahan kapal-kapal canggih lainnya
– Peningkatan kemampuan udara dengan pengadaan pesawat tempur Rafale dari Perancis dan Chengdu J-10 dari Cina
Dengan langkah-langkah ini, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan posisinya sebagai kekuatan maritim regional dan global. Indonesia juga ingin memainkan peran lebih signifikan dalam menjaga stabilitas geopolitik di Indo-Pasifik
KRI Bala Putradewa (322) adalah fregat tempur muktiperan modern buatan PT PAL indonesia sebagai bagian dari program “Fregat Merah putih ” untuk memperkuat Armada Angkatan Lau nya. KRI Bala Putradewa dibangun dengan lisensi desain dari Inggris Arrowhead- 140 memiliki panjang 140 meter, dilengkapi dengan VLS 64 set, meriam 76 m, sistem tempur canggih untuk perang permukaan, udara, dan bawah laut, yang baru saja diluncurkan dari galangan PT PAL surabaya.
Disamping KRI Bala Putra Dewa, adalah KRI Brawijaya-320, bukan KRI Bala Putradewa. KRI Brawijaya-320 diprediksi para analis sebagai tonggak penting Angkatan Laut Indonesia menuju Blue Water Navy. KRI Brawijaya-320 adalah kapal patroli lepas pantai kelas Thaon di Revel yang dibeli dari Italia. Kapal ini memiliki kemampuan multiperan, termasuk peperangan anti-udara, anti-kapal selam, dan serangan jarak jauh. Dengan panjang 143 meter dan kecepatan maksimal 32 knot, KRI Brawijaya-320 akan meningkatkan kemampuan TNI AL dalam mengamankan perbatasan maritim dan memantau jalur laut strategis
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menyatakan bahwa TNI AL saat ini fokus menjadi Green Water Navy sebelum menuju Blue Water Navy. KRI Brawijaya-320 merupakan langkah penting dalam modernisasi armada laut Indonesia dan meningkatkan posisinya sebagai kekuatan maritim regional,
Dengan hadir nya alutsusta canggih baik laut, udara maupun darat, maka peran sistem pertahanan akan berubah, dimana Indonesia tidak lagi bertahan untuk menghalau serangan musuh digaris terluar teritorial lagi sesuai doktrin pertahanan selama ini, tapi akan berubah menjadi kekuatan Blue Water Navy, kekuatan samudera yang bisa diproyeksikan untuk serangan jarak jauh mengarungi samudera diluar teritorial wilayah dan Zona Ekonomi Eklusif, dimana bisa digerakan dan digelar di suluruh wilayah dunia, apabila kepentingan nasionalnya dibutuhkan. Bagaimana dengan doktrin pertahanan rakyat semesta?
Kekuatan Blue Water Navy sangat relevan dengan konsep Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Hankamrata) di Indonesia. Hankamrata adalah strategi pertahanan nasional yang melibatkan seluruh komponen bangsa, termasuk rakyat, untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayah.
Dengan memiliki Blue Water Navy, Indonesia dapat:
– Mengamankan perairan teritorial dan melindungi sumber daya alam
– Mengawasi jalur laut strategis dan mencegah ancaman dari luar
– Mendukung operasi militer di laut dan darat
– Meningkatkan kesadaran maritim dan memperkuat identitas bangsa sebagai negara maritim
Dalam konteks Hankamrata, Blue Water Navy dapat berperan sebagai:
– Garda depan pertahanan nasional, melindungi Indonesia dari ancaman laut.
– Pendorong ekonomi maritim, meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pengelolaan sumber daya laut.
– Simbol kedaulatan, memperkuat posisi Indonesia di mata internasional.
Dengan demikian, pengembangan Blue Water Navy sejalan dengan tujuan Hankamrata untuk menciptakan pertahanan nasional yang kuat dan tangguh.
——————-
Penulis adalah pemerhati masalah pertahanan





