Demokrasi di Demarkasi
Masa di telan massa,
Problem itu kian menghantui realita,
Susah sungguh ditangkap rasa,
Lalu menjadi satu sayembara-
di atas pangung-panggung kata,
Bisakah rasa melanggengkan historisasi?
Ibarat politik tanpa identitas ialah hampa,
Barangkali suatu saat nanti,
Cinta manusia tanpa rasa, itu biasa!
————–
Hai Saudara!
Hai saudara di seberang samudra
Yang lelah menenun nasib di bisingnya kota,
Berhentilah sejenak menghitung peluh,
Biarkan jiwamu bernapas dari riuh.
Kita berlari bukan untuk memutus akar,
Bukan sekadar mengejar dunia yang nanar.
Ada tanah yang menunggu tanganmu merawat,
Ada doa leluhur yang mengikat kuat.
Bangunlah ruang yang menyembuhkan,
Barulah langkahmu punya alasan untuk patuh.
—————–

T e n t a n g P e n y a i r
Sany Tukan, lahir di Lembata, tepatnya di Waikomo pada 16 Juni 2002, anak bungsu dari empat bersaudara; sedang menempuh pendidikan Semester VIII S1Ilmu Filsafat di IFTK Ledalero. Aktif menulis di Majalah Warta Flobamora dan hingga kini menjabat sebagai Sie Sastrawi BEM IFTK Ledalero. Kecintaannya terhadap dunia sastra menjadikannya menganggap aktivitas menulis puisi sebagai jalan mencintai yang tak tampak.



