Budi adalah anak yatim piatu berumur 23 tahun yang berprofesi sebagai petani. Ayah dan ibunya meninggal saat perang saudara di desa mereka. Hanya bermodalkan cangkul dan sabit, bukan buku dan pena, bukan pula teori dan konsepsi, Budi mengandalkan harapan untuk bekerja di sawah peninggalan orang tuanya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Meski dihantui oleh sinar mentari dalam keadaan bertelanjang dada dan celana ala kadarnya, Budi tetap fokus pada pekerjaan yang sedang digelutinya. Badan yang kurus, tenggorokkan kering, dan kulit terbakar karena panasnya mentari, sungguh tidak membuatnya patah semangat dalam mengais sumber hidup dari sepetak sawah. Budi sadar bahwa dirinya masih terlalu muda untuk menerima kegagalan atau D’O dari dunia persawahan. Budi sesekali menyeka keringat dari dahi berkerut yang dimilikinya sembari memandang burung-burung sawah menari riang di atas cakrawala.
“Ah, andaikan aku bisa menjadi seperti mereka, barangkali hidup ini akan terasa lebih indah, terbang sintesis begitu saja semau-ku,” katanya dalam hati.
***
Ketika senja menghampiri, Budi duduk beristirahat. Ia melihat sepetak tanaman padi dan berharap padi itu tumbuh dengan subur. Ia ragu dan berpikir bahwa tanaman padi tidak akan berkembang dengan baik, karena pertimbangan kondisi tanah yang masih mengandung zat-zat kimia dari sisa-sisa bekas bom rakitan dan porak poranda sampah plastik akibat peperangan kala itu, dengan kondisi air yang masih keruh. Namun di satu sisi, ia percaya bahwa semua usaha dan niat baik akan memperoleh hasil yang memuaskan. Ia sadar bahwa hidup butuh proses, bukan butuh hipotesis.
“Ayah-ibu tolong hantarkan harapan dan doaku kepada Tuhan yang empunya dunia ini,” curhatan Budi di dalam hati.
Budi pun pulang ke gubuknya. Gelap gulita sudah mulai menyelimuti dunia. Terlihat beberapa pelita berjuang menerangi gubuk-gubuk kecil di seberang sana. Terdengar pula burung-burung malam berusaha menghibur penduduk desa dengan kicauan merdunya, ditemani angin sepoi-sepoi yang menambah mesranya malam itu. Tetapi, di dimensi lain anak-anak balita tidak mampu membendung lapar dan tangisan, berteriak pilu menanti sesuap nasi dari hasil jerih payah kedua orang tua mereka. Sedang di dalam gubuknya, Budi asyik menyantap masakannya sendiri. Ia berusaha melewati hari tanpa harus mengeluh. Hingga keheningan desa membuatnya tertidur lelap dalam mimpi dan imajinasi.
***
Sinar mentari pagi dari ufuk timur menembusi celah-celah dinding gubuk, Budi tersadar dan meninggalkan sahabat malamnya.
“Arkhh!” ujarnya sambil merenggangkan otot dari penat kenikmatan tidur malam.
Hari ini, Budi bangun dengan suasana hati yang tidak terjadi seperti biasanya, tak ada semangat, tak ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan, bagaikan kebiasaan mahasiswa/i yang harus bangun pagi-pagi mencangkul otak, membentangi bibit-bibit analisis dan mencari kebenaran di balik bedeng-bedeng kehidupan. Sekelilingnya terlihat sepi, semua penduduk telah pergi ke sawah sebelum matahari terbit. Budi mengangkat cangkul kesayangannya dan mengambil bambu berisikan air minum, lalu berjalan menuju sawah. Budi menyimpan air minum, mengangkat cangkul dan segera membuka saluran irigasi yang ditutupi timbunan lumpur kemarin, sekaligus memperbaiki jalur irigasi yang rusak agar sumber air dapat mengalir lancar ke dalam petakan-petakan sawah. Ketika sedang serius bekerja di dalam petakan, ia mengangkat kepaala dan melihat tiga buah mobil Jeep meluncur di jalanan becek menuju perkampungan.
“Sudalah, cukup.” ujar Budi, mengakhiri pekerjaan.
Ia duduk di pondok, mengangkat bambu berisi air minum dan menegukinya, menghilangkan rasa haus yang membakar dahaga. “Hufffssttt!!” Budi menarik nafas lega. Sejenak ia membaca buku dogeng cerita rakyat kesukaan ibunya yang terselip di dinding gubuk pondok, meskipun ia tidak terlalu suka membaca buku. “Ahh, menarik sejuta hati buku ini,” ujar Budi. Ia lalu bangkit pulang ke perkampungan. Di tengah perjalanan, ia melihat tiga mobil Jeep terparkir di depan gubuk kepala suku. Terlihat beberapa pereman berdiri memegang senjata laras panjang, memantau ke kiri dan ke kanan, dan nampak salah satu dari antara mereka sedang berbincang serius bersama kepala suku. Budi hanya tertunduk bisu. Mata sipit mencuri pandang dan telinganya serius menganalisis setiap sumber suara. Budi bingung sekaligus cemas bilamana terjadi sesuatu terhadap kepala suku dan semua penduduk di kampungnya, lantaran sudah sejauh beberapa tahun pasca perang saudara, baru kali ini muncul lagi sekelompok pereman: provokator persepsi yang pernah memicu perang saudara di kampung mereka (menurut cerita ibu) kembali bertengger di tengah kampung.
“Budi?” sapa kepala suku, melihat Budi berdiri di pinggir jalan.
“Iya kek!” sambung Budi.
“Sedang apa kamu disitu?” tanya kepala suku.
“Baru pulang dari sawah, kek. Sengaja berdiri di sini kek, sekedar melihat pisang kakek, barangkali bisa barter sama padi saya kek” ujar Budi, pura-pura melihat pisang.
“Aduh Nak, lain kali barternya, pisang itu masih terlalu mudah untuk dibarter” ujar kakek.
“Oiah baik kakek, permisi!” sambung Budi, meninggalkan mereka.
Malam pun tiba, Budi sibuk memperbaiki cangkulnya yang rusak. Ketika sedang sibuk dengan dunianya sendiri, tak lama terdengar teriakan: “Tolonggggg, tolonggg, tolongggggg!” Gubuk kepala suku beserta isinya hangus dilahap api. Tak lama kemudian, 10 mobil Jeep muncul beserta para pereman. Satu dua tembakan senjata diluncurkan, bunyi besar menimbulkan kemelut di tengah kampung. Gubuk-gubuk rumah perkampungan dibakar hangus, darah bercucuran dimana-mana, dan Ibu-ibu susah sungguh menggendong bayi berlari entah kemana sembari menangisi realitas.
“Perhatiannn-perhatiannnnnn!” teriak salah seorang pereman, kasar, intimidasi, sungguh otoriter.
“Mulai detik ini, perkampungan, sawah, kebun dan hasil-hasilnya akan menjadi milik kami!” ujar pereman itu.
Hening syahdu, semua penduduk kampung antah berantah, entah sudah dimana.
“Tidak, tidak, tidak!” teriak warga memecah kesunyian, dari kejauhan, tak kelihatan.
“Prajurit, tembakkk merekaaaaa!” perintah pria itu lagi dengan penuh ketegasan.
Keheningan malam berubah menjadi perpecahan, benci berlumur darah menggangu dimensi rasa dan logika di malam yang kelam, hingga tangisan membentuk luka tak bersuara.
***
Mentari menjemput malam pulang, sinarnya memperlihatkan porak-poranda desa. Budi berjalan sempoyongan, air mata membasahi wajah manisnya. Setiap derapan langkah menyusuri jalan setapak tak bertepi, tiada lagi gubuk perumahan, apalagi harapan. Di lihatnya sebuah gua dari kejauhan, dimasukinya gua itu, sekedar berteduh dan menikmati bayangan cahaya-cahaya kecil yang menerobosi lubang-lubang gua perdamaian. Sejenak, ia keluar bersahabat dengan tarian burung sawah, sembari coba mencari arti.
“Ah Tuhan, mungkinkah aku akan mengalami nasib yang sama seperti ayah dan ibu? mereka mati secara fisik, tetapi aku kini mati secara rasa dan logika. Sungguh dunia ini begitu gelap,” seru Budi sambil meleparkan beberapa batu kecil ke arah burung sawah yang sedang beterbangan. Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Budi masuk kembali ke gua. Gelap pekat, tetapi cahaya redup dari dalam rongga gua itu terus menyambutnya. Di situ, ia temui sosok tua berjubah putih, duduk bersila, entah sedang ber-alegori, atau sebatas bermeditasi.
“Siapa?” tanya Budi, penasaran.
“Saya penjaga gua, namaku Tu’an. Bukan orang, bukan pula rasa, apalagi logika yang kamu pahami, aku lebih dari pada itu,” jawab sosok tua itu sambil tersenyum.
Budi diam, tak bersuara.
“Engkau mencari apa di balik gua ini Nak?” kata lelaki tua itu.
“Aku mencari rumah Tu’an, rumah yang pernah membuatku menemukan segala yang ‘Ada’, dan rumah yang pernah membuatku mengerti betapa nikmatnya perpaduan antara rasa dan logika; tetapi kini ia hanya tinggal sebatas kenangan, bahwa saya pernah hujan-hujanan demi pulang: rumah (kedamaian),” curhat Budi.
Lelaki tua itu tersenyum tipis, memanggil Budi duduk bersila di sampingnya.
“Sungguh malang Nak nasibmu, sudah sejauh ini berziarah mencari ‘rumah’, seperti ziarah sepanjang jalan menuju Santiago de Compostela dalam novel Paulo Coelho, kamu tahu itu?” tanya Tu’an.
“Tidak Tu’an”, jawab Budi, menunduk.
“Tentu, itu tentu. Sebab engkau bukanlah seseorang yang sebatas pernah membaca buku, tetapi engkau adalah seseorang yang pernah membaca buku kehidupan. Di sini, Aku akan mengajarimu bagaimana caranya mencari ‘rumah’ yang engkau impikan: Rumah perdamaian, rumah kebenaran, rumah kebijaksanaan, dan rumah kesalehan. Tutup matamu, kosongkan pikiranmu, berdamailah dengan diri sendiri, tarik nafas dalam-dalam. Lakukan itu berulang kali” ujar lelaki tua.
Budi masih terdiam. Belum menjalankan pinta Tu’an. Ia masih dilemma karena pengalaman keterlukaan.
“Mengapa masih terdiam?” ujar lelaki tua itu tersenyum ramah.
“Ah Tu’an, Susah-Sungguh. Aku masih terlalu muda untuk melakukan yang Engkau mau. Saya belum bisa menukar kekecawaan dengan kebahagian hati, bagaikan pisang kepala suku yang masih terlalu muda untuk dibarter,” ujar Budi.
Lelaki tua itu tersenyum lagi.
“Lakukanlah, carilah dan temukan ‘Rumah’ di dalam gua hatimu sendiri Nak!” seru lelaki tua itu.
Budi lekas berkonsentrasi, ditinggalkannya seluruh kenangan ego diri yang berkecamuk dalam pikiran akibat kelemahan rasa dan logika. Ia sungguh masuk ke dalam alam bawa sadar; menikmati indahnya gua hati, alegori, imajinasi, dan meditasi sampai tak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan itu ke dalam serangkaian kata. Budi sungguh bahagia ketika bercumbu dan bersatu dengan rasa.
“Mulai detik ini, cari dan panggil aku Tuhan, bukan lagi Tu’an,” kata lelaki tua itu, Menghilang
**********************



