
Oleh Bernadetta Yovita Dwijayanti, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Pendahuluan
Karya sastra merupakan sarana bagi pengarang untuk dalam menyampaikan pengalaman, pengalaman, dan pandangannya terhadap kehidupan. Melalui karya sastra pembaca tidak hanya disuguhi cerita, tetapi juga diajak memahami realitas manusia dari sudut pandang tertentu. Kekuatan sebuah karya sastra terletak pada cara penyampaiannya yang mampu memberi Kesan mendalam bagi pembaca.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat kekuatan tersebut adalah teori keluhuran (sublimitas) dari Longinys yaitu daya wawasan yang agung, emosi atau passion yang kuat, retorika yang unggul, pengungkapan atau diksi yang tepat, serta penggubahan atau komposisi yang mulia. Kelima unsur tersebut menjadikan sebuah karya sastra mampu memberikan Kesan mendalam kepada pembacanya.
Cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang memiliki keberanian dalam mengangkat tubuh, seksualitas, dan relasi manusia. Cerpen ini menampilkan relasi antara suami, istri, dan pihak ketiga yang saling terhubung melalui pengalaman masing-masing.
Pembahasan
- Daya Wawasan yang Agung
Daya wawasan yang agung berkaitan dengan kedalaman pemikiran pengarang dalam memahami realitas kehidupan manusia. Dalam cerpen ini, Djenar Maaesa Ayu menunjukkan wawasan yang luas mengenai hubungan manusia yang tidak hanya didasarkan pada cinta, tetapi juga hasrat, kepentingan, dan konflik batin.
Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Saya heran, selama lima tahun kami menjalin hubungan, tidak sekali pun terlintas di kepala saya tentang pernikahan. Tapi jika dikatakan hubungan kami ini hanya main-main, apalagi hanya sebatas hasrat seksual, dengan tegas saya akan menolak.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antar tokoh tidak dapat dipahami secara sederhana. Hubungan tersebut berada di antara cinta, kebiasaan, dan hasrat. Melalui dialog ini, pengarang memperlihatkan bahwa hubungan manusia sering kali penuh dengan ambiguitas dan tidak selalu mengikuti norma sosial yang ideal. Wawasan pengarang yang mampu menggambarkan kompleksitas hubungan manusia inilah yang menunjukkan adanya keluhuran dalam karya tersebut.
- Emosi atau Passion yang kuat
Sumber keluhuran kedua menurur Longinus adalah emosi atau passion yang kuat. Dalam cerpen ini, emosi tokoh-tokohnya digambarkan secara intens sehingga mampu menggugah perasaan pembaca.
Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Saya sadar, saya memang cerewet. Tapi sudah menjadi kewajiban saya untuk cerewet.. Bahkan untuk urusan rumah inilah kulit saya keriput, tubuh saya gembrot, karena saya sudah tak punya waktu lagi selain mengurus rumah.”
Kutipan tersebut memperlihatkan perasaan seorang Perempuan yang merasa lelah dan tidak dihargai dalam kehidupan rumah tangga. Ia telah mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengurus keluarga, tetapi pengorbannya justru tidak membuatnya dihargai oleh pasangannya. Penggambaran emosi seperti ini membuat pembaca dapat merasakan penderitaan dan kekecewaan yang dialami tokoh. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan passion yang kuat karena mampu menghadirkan emosi yang mendalam.
- Retorika yang unggul
Retorika yang unggul berkaitan dengan cara pengarang menyampaikan gagasan secara kuat melalui bahasa. Dalam cerpen ini, Djenar Maesa Ayu menggunakan gaya bahasa yang tegas dan sering memanfaatkan pengulangan kalimat untuk menegaskan gagasan.
Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Saya sering katakan, jangan main api nanti terbakar.”
Kalimat tersebut memiliki makna simbolis sebagai peringatan bahwa tindakan manusia dapat membawa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Penggunaan metafora “main api” menunjukkan kemampuan pengarang dalam menyampaikan pesan secara retoris. Selain itu, pengulangan kalimat dari sudut pandang tokoh yang berbeda juga memperkuat konflik dalam cerita. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan retorika yang unggul karena mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang kuat dan berkesan.
- Pengungkapan atau Diksi yang Tepat
Pemilihan kata atau diksi merupakan salah satu unsur penting dalam menciptakan nilai estetika karya sastra. Dalam cerpen ini, pengarang menggunakan diksi yang lugas dan berani, terutama dalam menggambarkan realitas hubungan manusia.
Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Awalnya memang urusan kelamin.”
Penggunaan kata “kelamin” secara langsung menunjukkan keberanian pengarang dalam mengungkapkan realitas yang sering dianggap tabu dalam masyarakat. Selain itu, pengarang juga mengguakan metafora yang tajam dalam menggambarkan tokoh perempuan.
“Ia terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging yang tak lagi segar.” Ungkapan “seonggok daging” memberikan gambaran bagaimana tubuh perempuan dipandang secara objektif dan tidak manusiawi oleh tokoh laki-laki. Diksi tersebut memperkuat kritik sosial terhadap pandangan patriarkal yang meredukasi perempuan hanya sebagai objek fisik.
- Penggubahan atau Komposisi yang Mulia
Keluhuran terakhir menurut Longinus adalah penggubahan atau komposisi yang baik. Dalam cerpen ini, pengarang menyusun cerita dengan menggunakan berbagai sudut pandang tokoh sehingga cerita menjadi lebih kompleks dan menarik.
Hal tersebut terlihat dari penjelasan berikut:
Cerpen ini dirancang dengan hubungan silang antar tokoh suami,istri,pacar gelap, yang disampaikan melalui pengakuan masing-masing tokoh.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis menggunakan perspektif Longinus, cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu menunjukkan nilai keluhuran dalam berbagai aspek. Daya wawasan yang agung terlihat dari kemampuan pengarang menggambarkan kompleksitas hubungan manusia yang tidak hanya berkaitan dengan cinta, tetapi juga hasrat dan konflik batin. Emosi atau passion yang kuat tampak dalam penggambaran perasaan tokoh yang mendalam sehingga mampu menggugah perasaan pembaca.
Selain itu, retorika yang unggul terlihat melalui penggunaan bahasa yang tegas dan metaforis, sedangkan pengungkapan atau diksi yang tepat tampak dari pemilihan kata yang lugas dan kuat dalam menggambarkan realitas kehidupan. Penggubahan atau kamposisi yang mulai terlihat dari struktur cerita yang menggunakan berbagai sudut pandang tokoh sehingga menghasilkan cerita yang kompleks dan menarik.



