
Oleh Paul Budi Kleden SVD
Dalam ritus pemakaman agama-agama, sering terdengar ungkapan yang menyebut kubur sebagai tempat peristirahatan terakhir. “Kita mengantar almarhum/ah ke tempat peristirahatannya yang terakhir”. Orang Katolik menulis pada salib atau batu nisan di kuburan: RIP: Reguiescat in pace: semoga ia beristirahat dalam dami. Orang Jerman menyebut kuburan sebagai Friedhof. tempat kedamaian. Pada batu nisan di kuburan sering tertulis: Her ruht in Frieden NN…: di sini beristirahat dalam damai NN… Ada damai di kuburan, ada damai bagi orang mati. Sebab itu, kuburan biasanya bebas dari segala hingar bingar. Orang diharapkan untuk menjaga ketenangan di wilayah pekuburan. Menghormati orang mati berarti membiarkan mereka dalam ketenangan tersebut. Dan masuk ke dalam lingkungan pekuburan memungkinkan orang mengambil bagian di dalam ketenang mereka. Keheningan pekuburan menciptakan suasana doa yang membangkitkan kenangan akan diri yang terbaring dalam makam itu.
Kubur dikonotasikan dengan ketenangan dan kedamaian. Sebab itu, apa yang terjadi pada hari Minggu dini hari, sepagaimana dikisahkan tentang peristiwa Paskah, adalah satu pembalikan suasana pekuburan. Pada dini hari itu, ketika suasana masih diwarnai keheningan, kubur Yesus didapati terbuka dan kosong. Kejadian ini terlalu aneh dan tidak biasa. Karena itu, tak ada lagi keheningan di pekuburan di awal hari itu. Orang mulai berbicara dan menjadi panik, mencari jenazah yang hilang.
Yesus yang mati tak lagi terbaring dalam damai di kubur-Nya. Yesus yang bangkit mesti menjumpai mereka yang menyembunyikan dirinya dalam rumah yang terkunci rapat. Setelah kematian Yesus, para pengikut-Nya membuat kubur mereka sendiri karena takut menghadapi berbagai argumentasi para penguasa yang memojokkan mereka. Ke tengah mereka yang berkumpul dalam suasana ketakutan tersebut, Dia datang, membawa shalom, damai-Nya. Damai ini memecahkan ketenangan, membuka penjara ketakutan dan kuburan kecemasan mereka. Dia yang hendak disembah dengan berbagai ritus kuburan, yang hendak ditemui di tempat peristirahatan-Nya yang damai, kini membelah kesunyian mereka dan membawa damai bagi mereka. Guru yang terbaring di kubur, kini menjadi pembuka kubur bagi mereka yang terpenjara dalam ketakutannya.
Radikalitas Paskah sebagai satu momen pembalikan hanya dapat dihayati apabila orang tidak melupakan peristiwa salib dan konotasi yang dihubungkan dengan kedamaian kuburan. Kita coba melihat kedua latar belakang ini untuk menggali makna pembebasan yang terkandung di dalam perayaan Paskah.
Kontra pembunuhan
Yang pertama, menghayati Paskah pada latar belakang peristiwa salib berarti menyadari bahwa kita mesti menolak segala bentuk penyalahgunaan agama hanya untuk membenarkan pembunuhan, apalagi pembunuhan atas diri orang-orang yang sedang memperjuangkan hak-haknya sendiri atau hak-hak orang lain. Paskah mengingatkan bahwa pembunuhan yang dianggap sekian wajar berdasarkan pertimbangan keagamaan dan sudah sesuai prosedur menurut ketentuan politis dan pihak keamanan, tidak pernah dapat diterima. Paskah adalah pembebasan dari sikap menerima pembunuhan yang hendak dibenarkan penguasa. |
Pandangan seperti ini didasarkan pada keyakinan dasar akan identitas Dia yang disalibkan dengan Dia yang dibangkitkan. Yesus yang telah disalibkan sebagai pendosa besar dan provokator kerusuhan sosial, dibangkitkan sebagai Kristus, Tuhan. Yang dibangkitkan adalah yang disalibkan, yang dimuliakan adalah yang direndahkan. Dia yang dihormati dan diagungkan sebagai pembawa damai, adalah Dia yang dipandang telah merusakkan rasa keagamaan umat dan keamanan politis para warga.
Orang boleh saja menafsirkan penampilan dan pembicaraan-Nya sebagai penampilan yang sangat sopan dan pembicaraan yang amat halus. Namun, tampaknya penampilan dan pembicaraan-Nya itu bukanlah sebuah undangan yang menarik bagi para penentang-Nya untuk tenggelam dalam refleksi dan kontemplasi atas diri sendiri dan masyarakat. Dihadapan orang-orang yang memusuhi Nya, penampilan itu adalah gugatan yang sangat tajam, dan pembicaraan-Nya yang dinilai sederhana itu menggemakan protes yang amat keras, karena dinilai seperti ini, maka Dia pantas dihukum mati, perdasarkan penilaian keagamaan dan pertimbangan politis yang ada, kematian-Nya adalah sesuatu yang sangat wajar.
Kematian tragis di salib adalah upah yang mesti diterima oleh seseorang yang berani melecehkan rasa keagamaan panyak orang dengan menyebut diri sebagai Putera Allah, dan yang dengan gerakan seperti ini membuat para penguasa politis merasa tidak aman. Kalau orang seperti ini dibunuh di salib, ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ini adalah wajar, berdasarkan ketentuan hukum dan sesuai dengan prosedur. Sebab itu, tidak ada orang yang berhak menuntut para petinggi agama untuk membuat pernyataan protes terhadap kematian seperti ini, karena mernang kematian orang seperti ini adalah kematian seorang penjahat yang sudah sesuai dengan prosedur. Malah, meminta petinggi agama untuk bersuara dalam peristiwa seperti ini akan dinilai sebagai satu kejanggalan besar. Petinggi agama yang baik akan memberikan restu, mengamini pembunuhan seperti ini, karena sangat wajar jika seorang penghujat Allah dan seorang provokator masyarakat dihukum mafi. Umat beragama seperti Yesus bukanlah umat beragama yang patuh. Dia sudah membangkang. Maka, jika orang seperti ini mesti berurusan dengan pihak penguasa politik yang akhirnya menjatuhkan hukuman mati atasnya, para petinggi gama tidak perlu banyak berkomentar. Kematiannya hanya perlu disesalkan sebagai kematian seorang bodoh yang tidak bersedia mendengar wejangan tentang batas-batas haknya, namun tidak perlu mengundang protes.
Jalan pikiran seperti ini tidak dapat diterima oleh orang-orang Kristen yang mengimani Paskah sebagai perayaan kebangkitan Kristus. Bagi orang Kristen, iman Paskah menggarisbawahi keberpihakan Allah kepada Dia yang tersalib, dan dalam Dia, kepada semua mereka yang dibuang oleh masyarakatnya. Sebab itu, orang Kristen tidak dapat membenarkan pembunuhan atas siapa pun. Bagi orang Kristen tidak ada pembunuhan yang wajar. Paskah mengajak kita untuk bersikap kritis terhadap kecendrungan yang ada di dalam diri kita sendiri dan di dalam masyarakat, yang menerima pembunuhan atas orang-orang tertentu, karena yang terbunuh itu telah dinilai bersalah. Paskah membongkar segala pertimbangan yang memberi kesan wajar terhadap pembunuhan atas orang atau kelompok orang tertentu.
Kisah kebangkitan Yesus Kristus menyadarkan kita bahwa damai yang diwartakan dan dihidupi Yesus Kristus bukanlah damai yang membiarkan langgengnya status quo. Dengan membangkitkan Yesus Kristus, Allah tidak membiarkan penafsiran damai sebagai kecendrungan berdamai saja dengan keadaan. Kebangkitan Kristus adalah perlawanan Allah terhadap kecendrungan yang membiarkan orang menyalahgunakan agama untuk membunuh atau membenarkan pembunuhan atas para penjahat dan pendosa. Dengan menghidupkan Dia yang dibunuh sebagai pendosa besar, Allah menentang kekuasaan yang membunuh. Allah tidak berdamai dengan kekuasaan yang membunuh. Dengan membangkitan Yesus, Allah menyingkapkan ketersesatan pola pikir religius dan pertimbangan politis yang ada. Sebab itu Allah yang berkarya dalam peristiwa Yesus Kristus bukanlah Allah yang menutup-nutupi kesalahan hanya demi sebuah perdamaian. Pengungkapan dan penyadaran akan dosa pembunuhan adalah salah satu inti pewartaan kebangkitan.
Berani berkonflik
Kedua, menempatkan peristiwa Paskah pada latar kubur yang terbuka akan menyingkapkan kewajiban yang lahir dari iman Paskah ini. Yesus, Dia yang hidup dan memberikan kehidupan, tidak dapat ditempatkan dan ditemukan dalam dunia kematian. Kebangkitan menegaskan inti misi Yesus sebagai pembawa warta kehidupan. Pewartaan tentang kehidupan ini tidak tanpa konsekuensi. Sejarah Yesus memaparkan secara sangat jelas, di mana pewartaan kehidupani itu dapat menemukan akhirnya. Pewartaan seperti ini dapat mendatangkan perlawanan yang hebat dan membawa orang kepada konflik dengan berbagai pihak. Yesus yang dibangkitkan menyatakan bahwa Dia tidak hidup dalam dunia tanpa pertentangan dan konflik, Dia tidak berada dalam dunia penuh kedamaian semu.
Peristiwa kebangkitan itu sendiri telah mendatangkan banyak konflik dan perbedaan pendapat, tidak hanya dalam berhadapan dengan para penguasa agama dan pemimpin politik, tetapi juga di antara para murid-Nya sendiri. Jika Allah menghendaki sebuah kehidupan yang jauh dari pertentangan, maka mungkin lebih baik apabila Dia tidak membangkitkan Yesus atau jika Dia mengupayakan agar kebangkitan itu tidak menjadi sebuah peristiwa yang diperdebatkan secara ramai. Namun, Allah memilih membangkitkan Yesus secara demikian, dan dengan itu Dia memilih kemungkinan timbulnya konflik. Jalan ini dipilih, sebab hanya dengan demikian kebenaran dapat disingkapkan. Kebenaran tidak dapat dikubur dan dibiarkan beristirahat dalam damai. Kebenaran mesti dibangkitkan, disingkapkan. Dengan itu kebenaran juga akan menghadapi perlawanan dan penolakan dari mereka yang membencinya.
Yesus, seorang pembawa dan pengupaya perdamaian, tidak takut menghadapi konflik, juga konflik di antara mereka yang mengikuti-Nya. Sebab itu, Dia membuka kubur para murid-Nya. Yesus sadar, untuk bisa menghidupi dan menghayati perdamaian, banyak kubur harus terlebih dahulu dibongkar. Orang tidak dapat mengupayakan perdamaian ketika kubur-kubur tetap tertutup, jika banyak kesalahan dan ketidakadilan tidak terbongkar, bila banyak saksi dibiarkan bungkam. Allah sendiri membuka kubur Yesus dan dengan ini menyingkapkan kepada dunia kemapanan pola pikir religius dan politis yang telah menjadikan Putera Tunggal-Nya korban.
Selanjutnya, Yesus, sang pembawa damai yang telah dibangkitkan, menghembuskan warta damai kepada kelompok para murid yang sedang mengurung diri. Dengan ini Dia memberanikan dan memulihkan daya hidup mereka. Kematian Guru mereka secara tragis sebenarnya adalah satu aksi teror penguasa terhadap para pengikutnya. Membunuh otak sebuh gerakan dengan cara yang dibenarkan secara religious, diharapkan sanggup melumpuhkan seluruh gerakan. Mulanya kalkulasi penguasa ini terbukti benar. Para murid tidak berani tampil di depan umum untuk berbicara atas nama Yesus. Mereka menjadi panik. Rasa tak berdaya menghantaui meraka. Semua tampaknya sia-sia. Ada di antara mereka yang merasa ditipu. Yang lainnya merasa terpojok. Harapan besar yang digantungkan pada Yesus, pada seorang diharapkan dapat membawakan pembebasan dan kelegaan, berakhir tragis. Para murid itu terkurung di dalam kuburnya sendiri, kubur kekecewaan dan ketakberdayaan.
Kebangkitan yang dirayakan pada peristiwa Paskah adalah juga kebangkitan kelompok para murid-Nya. Yesus Kristus yang bangkit membangkitkan para murid. Tentu sangat tidak mudah membangkitkan kembali sebuah harapan yang pernah dipatahkan dan dikecewakan. Terlampau banyak harapan yang diembankan pada pundak-Nya, yang ternyata diporak-porandakan oleh kematian-Nya yang tragis. Hal ini menjelaskan, betapa lambannya iman para murid mulai disulut oleh warta kebangkitan Yesus Kristus. Namun, Kristus yang bangkit itu tidak mudah putus asa. Dia terus berusaha mendatangi para murid-Nya untuk meyakinkan mereka, untuk nemulihkan harapan mereka.
Banyak perjuangan dan gerakan masyarakat mengalami hal yang sama. Masyarakat menjadi panik dan takut karena perjuangannya yang dimotori oleh seorang yang dikenalnya, berakhir secara tragis. Banyak warga masyarakat menjadi tak berdaya dan kecewa. Di dalam kekecewaan seperti ini, kemungkinan untuk sama sekali tidak lagi mempercayai setiap orang lain yang datang dengan warta yang sama, menjadi sangat besar. Bukan tidak mungkin, di tengah pengalaman kekecewaan seperti ini, masyarakat mulai membenci dia yang telah menggerakkan mereka. Dia dinilai sebagai orang yang gagal. Ketidakpercayaan ini semakin diperparah oleh banyak orang dan instansi lain yang datang dengan berbagai argumentasi dan bukti untuk semakin mencoreng wajah tokoh penggerak ini. Mereka mencercanya sebagai orang yang hanya mendatangkan penderitaan warga dan ketidakamanan masyarakat.
Menghadapi tantangan seperti ini, iman akan kebangkitan dapat menjadi sumber inspirasi bagi semua yang melibatkan dirinya dalam proses pemberdayaan masyarakat, untuk menghadapi berbagai pengalaman kekecewaan dan ketidakpercayaan dari masyarakat. Yesus sendiri mesti berulang kali mendekati para murid-Nya untuk dapat membangkitkan mereka. Usaha itu dibutuhkan, sebab hanya apabila para murid berani keluar dari kuburannya, warta tentang kebenaran dapat disampaikan. Kebangkitan para murid dari kubur ketakutannya menyingkapkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas dasar kebiasaan untuk menakut-nakutkan masyarakat, tidak akan bertahan lama. Para murid harus dibangkitkan untuk menyatakan kebenaran akan kerapuhan setiap kekuasaan yang mengandalkan pilar teror. Demikian juga, usaha untuk memberanikan masyarakat, upaya untuk memulihkan kembali harapan mereka, adalah satu kemestian, walaupun usaha ke arah itu sangat melelahkan. Meninggalkan masyarakat yang ketakutan itu sendirian berarti membiarkan mereka terkurung di dalam kuburannya. Mungkin ada orang menafsirkan ini sebagai damai, namun kedamaian tanpa kehidupan, kedamaian di dalam kuburan. Paskah menginginkan kehidupan, mendorong setiap perjuangan untuk menghormati kehidupan.
*****************
Sumber Tulisan dari Buku Di Tebing Waktu, Paul Budi Kleden. Ledalero 2009




