• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Jumat, April 17, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Paradoks Paskah

by Redaksi
April 5, 2026
in OPINI
0
Paradoks  Paskah

Foto diambil dari google

0
SHARES
19
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh RD Lucius Poya Hobamatan, Pastor Paroki St. Yohanes Don Bosco, Tanjunguban – Bintan

 

Di saat fajar merekah, di awal pekan, kita berhimpun di tempat yang sama; dan dalam sukacita bersorak hosanna. Bahana suara kita lantunkan dalam gegap gempita, mengarak Dia Sang Raja yang berkuasa, yang memerintah dalam nama Tuhan. Dialah Yesus, Sang Raja di Minggu Palma.

Namun tanpa kita duga, Dia yang adalah Tuhan itu memasuki Yerusalem, bukan untuk bertahkta di Singgasana. Ia masuk untuk mengikat pinggang sebagai hamba mempersembahkan Tubuh dan mencurahkan Darah-Nya, ketika Paskah tiba. Bagai Anak Domba Mesir, yang memberikan diri-Nya sendiri disembelih demi membawa keluar kaum tertindas menuju tanah pembebasan; begitu pulalah tindakan Yesus di awal Paskah. Paskah artinya Tuhan lewat. Tuhan melintas di tengah kita orang-orang berdebu demi memembasuh kita dengan air dan dengan darah-Nya, agar bersih, walau tidak semua. Ia melakukan semua itu bukan sebagai Raja yang bertakhta di atas kuda keperkasaan; melainkan sebagai keledai yang memikul beban dosa kita. Misteri itulah yang Tuhan lakukan di Jumat Agung, saat Ia melintas di tengah kita menuju Kalvari; ke tempat tengkorak; tempat kematian; tempat di mana tidak ada kehidupan. Begitu berat beban dosa itu, sehingga Ia terhuyung dan terseok, jatuh terkapar mencium debu, namun bagun lagi dan berjalan sampai tetelesthai; sampai selesai dengan kematian. Kata Yohanes, semua tindakan itu dilakukan Yesus, karena cinta-Nya kepada kita total; tak tersisa; sampai sehabis-habisnya. Totalitas Cinta itu melampui kuatnya semesta, sehingga, injil memberi

kesaksian bahwa mataharipun seakan malu memancarkan sinar; gelap menggelayut membalut semesta; Bait Allah pun seakan menebah dada tanda tak pantas, hingga dinding terbelah menjadi dua. Begitulah Paskah! Tuhan lewat menunjukkan totalitas cinta-Nya di saat dosa menunjukkan kuasanya untuk membelenggu manusia dalam ketidakberdayaannya.

Itulah sebabnya, malam ini kita berkumpul dalam gelap, sebab bagai kubur, dosa membuat kita terperangkap dalam ruang gelap, terkurung dalam pengap, terbelenggu dalam sesak—seakan tak ada lagi oksigen yang memberi kita napas kehidupan. Begitulah sejatinya dosa. Dosa mengantar kita ke kubur, kepada kematian, ke tempat tak ada lagi kehidupan; ke tempat di mana tak ada celah untuk menikmati sinar cahaya; tak ada celah yang memampukan kita leluasa menghirup kehidupan. Dosa hanya menyiapkan satu jalan, yakni ke Kalvari; ke tempat tengkorak.

Namun oleh inisiastif Allah; Allah yang mencintai sampai sehabis-habis-Nya, Dia memilih untuk menebusnya. Dia memilih untuk melewati jalan ke tempat tengkorak itu; untuk memasuki ruang gelap tanpa kehidupan demi menguasainya; untuk membawa kembali kehidupan. Tuhan memasuki kubur untuk membuka pintu kubur yang tak sanggup dibuka manusia. Itulah sebabnya, kata Matius dalam Injil, ketika pintu kubur dibuka, cuaca berubah. Kilau kilat memendar. Busana hitam kematian berubah putih bagai salju.

Begitulah tindakan Allah. Ia melakukan semua itu hanya karena cinta-Nya kepada manusia adalah cinta yang tuntas. Sebab sejak awal, kata Kitab Kejadian, cuaca kehidupan Allah hanyalah cahaya; terang bersinar sehingga semuanya teratur. Namun manusia, demi memuaskan keangkuhannya, memilih kegelapan sebagai jalan yang ditempuh, dan ternyata pilihan itu membelunggunya dalam derita dan kematian; menciptakan chaos; yang tak sanggup ia atasi. Hanya karena cinta Allah itu tuntas, Allah memanggil Abraham untuk meretas jalan baru, namun lagi-lagi hanya sebentar, sehingga derita dan kematian harus dialami. Namun lagi-lagi, karena cinta yang tuntas, Allah mendengar erangan dan rintihan, duka dan kecemasan manusia yang menderita, sehingga Ia datang dan membawa manusia keluar melalui Laut Merah, sebagaimana dilansir Kitab Keluaran. Ada secercah cahaya kehidupan yang mulai ditenun, namun lagi-lagi pengalaman itu bukan membuat manusia bertahan, melainkan terus jatuh dan bangun dalam dosa, sebagaimana diwartakan para nabi. Pengalaman pahit yang diderita manusia itu, seakan mengetuk relung terdalam hati Allah. Ia mengutus Kristus-Putra Tunggal-Nya sendiri, sebagai Anak Domba Sejati yang harus dikorbankan demi keselamatan final umat-Nya yang menderita. Kristuslah bukti totalitas serentak finalitas cinta Allah itu. Cinta yang total serentak final itu ditunjukkan Yesus dalam derita dan kematian-Nya, sehingga Paulus, kepada orang-orang Katolik di Romas menegaskan, bahwa Kristus membaptis diri-Nya dalam derita dan kematian, agar kita dibaptis di dalam kematian-Nya itu, sehingga kita juga dibangkitkan bersama Dia pula. Inilah sukacita yang kita lantunkan malam ini sambil bervigili, sambil berjaga-jaga; karena kita seperti kita sekarang bukan usaha kita, melainkan berkat Anak Domba Paskah dikorbankan.

***

Malam ini, secara liturgis, kita berjalan dalam gelap, karena itulah sejatinya kita. Namun ada satu titik cahaya mendahului kita, sehingga walau dalam gelap, kita tahu ke mana kita melangkah. Dan ketika sang cahaya itu berada di altar anak domba yang disembelih, cahaya itu disebarkan kepada kita, sehingga seperti teriakan hosanna, saat kita menyambut Yesus memasuki Yerusalem, Gereja pun bersorak menyanyikan lagu gembira, karena cahaya yang dialirkan kepada kita, untuk mengubah kegelapan, ternyata berkat Kristus Sang Anak Domba sejati dikorban; dan berkat Darah-Nya, rumah diri kita dikuduskan.

Makna vigili ini yang sejatinya menjadi titik permenungan saya dan anda. Sebab Paskah menghadirkan dua sisi paradoks: Allah yang melintas dan manusia yang terbelenggu; Allah yang bercahaya dan manusia yang terkungkung gelap; Allah yang kudus dan manusia yang berdosa; Allah yang hidup dan manusia yang mati. Namun karena cinta-Nya yang sehabis-habisnya, Allah membalik fakta. Hanya karena cinta, Ia memberi diri dibelenggu agar manusia bisa melintas; Ia masuk dalam gelap agar manusia bercahaya; Ia menjadi korban dosa agar manusia kudus; Ia mengalami maut agar manusia hidup. Inilah rahmat yang diperoleh dalam misteri baptis, yang sangat perlu disyukuri dan terus diperbaharui. Penting syukur atas pembaptisan dan penting pula baptis diperbaharui, karena hanya orang yang tahu bersyukur dan tahu memperbaharui diri; merekalah yang tahu tentang makna Paskah.

Lebih dari itu, hanya orang yang tahu tentang makna paskah, dia selalu sadar bahwa Paskah bukan moment Kristus menunjukkan kuasa-Nya atas kubur, untuk sekedar mengundang rasa takjub, sebagaimana perilaku manusia sombong kebanyakan. Itulah sebabnya Yesus tidak menunjukkan kebangkitan diri-Nya di kubur; di tempat kematian. Sebab iman yang muncul dari rasa takjub lahiriah akrena melihat kuasa di tempat kematian selalu mengantar orang kembali kepada kegelapan dan segera kembali kepada kematian. Kebangkitan Tuhan selalu dari dalam kubur-kubur yang hidup; dan oleh karena itu Tuhan yang bangkit menghendaki para murid-Nya untuk menjumpai-Nya di Galilea kehidupan yang penuh dinamika. Di tempat kehidupan seperti itulah, kata Matius, Tuhan yang bangkit menunggu para murid untuk selalu menjumpai-Nya. Di sanalah, berkat perjumpaan yang dipelihara, cahaya lilin Paskah kebangkitan yang dibagi kepada setiap murid menyinari kubur-kubur yang hidup itu, sehingga di setiap sudut galilea kehidupan, apapun bentuknya, memancarkan cahaya. Di sanalah, berkat kebangkitan Tuhan dari kubur-kubur yang hidup, orang merasakan mujisat Paskah; karena kehadiran seorang murid membuat siapa saja merasakan Paskah; merasakan Tuhan lewat. Di sanalah, berkat perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit, pintu-pintu kubur, yang telah membuat seseorang terbelenggu dalam kepengapan dan merasakan derita dan kematian dibuka, dan kehidupan baru dimulai, karena para murid yang memperbaharui baptis memancarkan cahaya.

  S E L A M A T    P A S K A H

ShareTweetSend
Next Post
“Lumen Christi — Cahaya yang Membangkitkan dan Membebaskan Segala Bangsa”

“Lumen Christi — Cahaya yang Membangkitkan dan Membebaskan Segala Bangsa”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Dengan Humor Melawan Praktik Ninabobo

Dengan Humor Melawan Praktik Ninabobo

2 tahun ago

Pilkada, Politik Dinasti dan Ujian Demokrasi Lokal

5 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In