• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Jumat, April 17, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Ketika Theoresia Rumthe Menjadi “Lelaki yang Gelisah”

by Redaksi
April 7, 2026
in SASTRA
0
Ketika Theoresia Rumthe Menjadi “Lelaki yang Gelisah”
0
SHARES
115
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Humaera Nur’izzatinnisa, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

 

Bayangkan seorang lelaki di tengah malam kota besar, menatap langit yang dipenuhi arak-arakan awan membentuk kereta kuda tanpa penarik, sementara napasnya membekas kabut di kaca jendela, menyembunyikan wajahnya sendiri. Daun kering berputar-putar di halaman rumah kosong, seperti gelisah yang tak pernah diam, dan sesekali ia menggak vodka untuk melayang sejenak. Namun, rindu datang lebih hebat saat siuman. Pengalaman seperti ini bukan asing bagi banyak lelaki Indonesia modern, yang terperangkap antara tuntutan maskulinitas tradisional dan kehampaan batin di era urbanisasi yang cepat, sebagaimana ditangkap begitu tajam dalam puisi “Lelaki dan gelisah” karya Theoresia Rumthe.

 

Lelaki dan Gelisah

Theoresia Rumthe

 

Lelaki dan gelisah seumpama arak-arakan awan

Membentuk kereta kuda

Tanpa penariknya

 

Lelaki dan gelisah

seumpama uap napas

pada kaca jendela

tanpa kelihatan muka

 

lelaki dan gelisah

seumpama rumah kosong tanpa penghuni

hanya daun-daun kering di halaman

 

lelaki dan gelisah

seumpama vodka,

mabuk sesaat,

melayang sejenak,

datang rindu yang lebih hebat

ketika siuman

 

Jembatan ke Ekspresivisme

Puisi pendek ini, dengan empat stanza paralelnya, bukan sekadar curahan emosi Theoresia Rumthe sebagai pengarang nyata, melainkan lahir dari teori ekspresivisme sastra yang menekankan karya sebagai ekspresi batin pencipta. Dalam kerangka Wayne C. Booth pada The Rhetoric of fiction (1961), pengarang nyata “menghilang” dan digantikan oleh Implied Author. Persona retoris yang dibangun melalui pilihan bahasa, citra, dan struktur teks untuk membentuk pengalaman pembaca.

Implied Author ini bukan Theoresia Rumthe secara harfiah, seorang perempuan yang justru mendeskripsikan kekasihnya William Johanes sebagai “lelaki Gelisah”. Sosok “lelaki gelisah” yang menjadi suara dominan, mengarahkan kita memahami gelisah bukan sebagai keadaan pribadi semata, melainkan kondisi manusiawi universal. Transisi dari pengalaman konkret ke konsep ini menunjukkan bagaimana sastra ekspresif mengubah emosi mentah menjadi konstruksi retoris yang hidup.

Namun, puisi ini ditulis oleh Theoresia Rumthe yang lalu dibalas oleh kekasihnya, William Johanes. Theoresia mendeskripsikan kekasihnya dengan meumpamakan dirinya sebagai William yang gelisah. Adanya ikatan batin antara dua subjek yang kemudian ditarik oleh satu subjek untuk menjadi diri subjek yang satunya. Itulah yang dilakukan Theoresia Rumthe dalam menulis puisi berjudul “Lelaki dan Gelisah” ini.

 

Analisis Citraan Implied Author

Pengulangan frasa “lelaki dan gelisah seumpama…” di awal setiap stanza menciptakan ritme obsesif, seolah Implied Author adalah lelaki yang terperangkap dalam lingkaran pikiran, mengekspresikan kegelisahan batin yang tak terucapkan. Citra pertama dilihat pada bait “arak-arakan awan membentuk kereta kuda tanpa penariknya” yang menggambarkan gerakan tak ada arah, tak terkendali, simbol kekosongan eksistensial di mana persona ini menyiratkan dirinya sebagai pengembara tanpa tujuan, mencerminkan ekspresi batin pengarang terhadap ketidakpastian hidup modern di tengah hiruk-pikuk kota besar.

Citra kedua, “uap napas pada kaca jendela tanpa kelihatan muka,” memperkuat persona ini sebagai sosok yang tak terlihat, tersembunyi di balik kabut emosi sendiri. Hal ini menandakan sebuah metafora identitas yang hilang, di mana Implied Author menggunakan anonimitas untuk mengajak pembaca merenungkan kerapuhan diri. Di tengah keramaian urban, individu seringkali kehilangan wajahnya, menjadi kabur seperti uap pada kaca.

Ketiga, “rumah kosong tanpa penghuni hanya daun-daun kering di halaman,” membangun gambaran kehampaan fisik dan jiwa. Daun kering hadir sebagai sisa-sisa kehidupan yang sia-sia, menjadikan persona ini saksi bisu atas kesepian kolektif urban. Rumah, yang seharusnya menjadi simbol kehangatan dan perlindungan, justru menjadi monument kesendirian.

Puncaknya berada pada stanza terakhir, “seumpama vodka, mabuk sesaat, melayang sejenak, datang rindu yang lebih hebat ketika siuman”, yang mengungkap strategi retoris Implied Author menjadi pelarian bahwa gelisah adalah siklus abadi, mengubah ekspresi pribadi menjadi undangan refleksi bagi pembaca. Penanganan sementara (mabuk) hanya akan memperparah rasa hampa (rindu) saat kesadaran kembali.

 

Strategi Retoris dan Konteks Budaya

Sebagai kekuatan retoris, Implied Author mengendalikan emosi pembaca melalui struktur paralel yang membangun intensitas bertahap, dari citra alam (awan) ke fisik (napas), domestic (rumah), hingga intoxicating (vodka). Bahasa yang sederhana, tapi sangat padat ini dengan enjambement (pemenggalan baris), menciptakan ritme napas yang meniru denyut gelisah itu sendiri, membuat pembaca ikut “bernapas” bersama persona.

Dalam konteks Indonesia, di mana puisi sering jadi wadah kegelisahan sosial seperti pada karya Sapardi Djoko Damono atau Sitor Situmorang, persona dalam puisi ini memperluas ekspresi Theoresia Rumthe menjadi kesaksian lelaki urban yang terombang-ambing modernitas. Lelaki seringkali dituntut untuk tegar tanpa cela, namun di sini, ia ditampilkan  kesepian di tengah keramaian kota besar. Implied Author tidak bersifat netral, melainkan memposisikan diri sebagai suara otoritatif yang menuntut empati, membuktikan ekspresivisme sebagai alat transformasi emosi menjadi kekuatan naratif.

 

Dinamika Gender dan Penutup Reflektif

Theoresia Rumthe telah bertransformasi total menjadi “Lelaki yang sedang gelisah”. Dalam hal ini, Implied Author bukan bayangan pengarang nyata, melainkan entitas hidup yang menggugat kita atas “rindu pasca-mabuk sesaat”. Fenomena ini mengingatkan kita pada dinamika gender yang lebih luwes atau fluida dalam sastra kontemporer Indonesia. Di sini, seorang perempuan seperti Theoresia Rumthe bisa “menjadi” lelaki untuk menyuarakan kerapuhan bersama, sehingga memperkaya diskursus literatur nasional.

Sastra Ekspresivisme mengajarkan kita bahwa gelisah yang abadi ini bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah panggilan untuk menghadapi kehampaan dengan keberanian. Puisi “Lelaki dan Gelisah” pada akhirnya bergema sebagai pengalaman bersama yang melampaui identitas individu penyairnya, mengubah pembaca menjadi bagian integral dari puisi itu sendiri. Melalui persona “lelaki” ini, Theoresia Rumthe bukan hanya menceritakan tentang kekasihnya, tetapi sedang membicarakan kita semua yang seringkali tersesat di balik uap napas di kaca jendela kehidupan modern.

             

ShareTweetSend
Next Post
Impeachment dan Dampaknya terhadap Rakyat Kecil

Impeachment dan Dampaknya terhadap Rakyat Kecil

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Politik  Ratu  Adil

Politik Ratu Adil

2 tahun ago

R u m a h

5 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In