
Oleh Humaera Nur’izzatinnisa, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Bayangkan seorang lelaki di tengah malam kota besar, menatap langit yang dipenuhi arak-arakan awan membentuk kereta kuda tanpa penarik, sementara napasnya membekas kabut di kaca jendela, menyembunyikan wajahnya sendiri. Daun kering berputar-putar di halaman rumah kosong, seperti gelisah yang tak pernah diam, dan sesekali ia menggak vodka untuk melayang sejenak. Namun, rindu datang lebih hebat saat siuman. Pengalaman seperti ini bukan asing bagi banyak lelaki Indonesia modern, yang terperangkap antara tuntutan maskulinitas tradisional dan kehampaan batin di era urbanisasi yang cepat, sebagaimana ditangkap begitu tajam dalam puisi “Lelaki dan gelisah” karya Theoresia Rumthe.
Lelaki dan Gelisah
Theoresia Rumthe
Lelaki dan gelisah seumpama arak-arakan awan
Membentuk kereta kuda
Tanpa penariknya
Lelaki dan gelisah
seumpama uap napas
pada kaca jendela
tanpa kelihatan muka
lelaki dan gelisah
seumpama rumah kosong tanpa penghuni
hanya daun-daun kering di halaman
lelaki dan gelisah
seumpama vodka,
mabuk sesaat,
melayang sejenak,
datang rindu yang lebih hebat
ketika siuman
Jembatan ke Ekspresivisme
Puisi pendek ini, dengan empat stanza paralelnya, bukan sekadar curahan emosi Theoresia Rumthe sebagai pengarang nyata, melainkan lahir dari teori ekspresivisme sastra yang menekankan karya sebagai ekspresi batin pencipta. Dalam kerangka Wayne C. Booth pada The Rhetoric of fiction (1961), pengarang nyata “menghilang” dan digantikan oleh Implied Author. Persona retoris yang dibangun melalui pilihan bahasa, citra, dan struktur teks untuk membentuk pengalaman pembaca.
Implied Author ini bukan Theoresia Rumthe secara harfiah, seorang perempuan yang justru mendeskripsikan kekasihnya William Johanes sebagai “lelaki Gelisah”. Sosok “lelaki gelisah” yang menjadi suara dominan, mengarahkan kita memahami gelisah bukan sebagai keadaan pribadi semata, melainkan kondisi manusiawi universal. Transisi dari pengalaman konkret ke konsep ini menunjukkan bagaimana sastra ekspresif mengubah emosi mentah menjadi konstruksi retoris yang hidup.
Namun, puisi ini ditulis oleh Theoresia Rumthe yang lalu dibalas oleh kekasihnya, William Johanes. Theoresia mendeskripsikan kekasihnya dengan meumpamakan dirinya sebagai William yang gelisah. Adanya ikatan batin antara dua subjek yang kemudian ditarik oleh satu subjek untuk menjadi diri subjek yang satunya. Itulah yang dilakukan Theoresia Rumthe dalam menulis puisi berjudul “Lelaki dan Gelisah” ini.
Analisis Citraan Implied Author
Pengulangan frasa “lelaki dan gelisah seumpama…” di awal setiap stanza menciptakan ritme obsesif, seolah Implied Author adalah lelaki yang terperangkap dalam lingkaran pikiran, mengekspresikan kegelisahan batin yang tak terucapkan. Citra pertama dilihat pada bait “arak-arakan awan membentuk kereta kuda tanpa penariknya” yang menggambarkan gerakan tak ada arah, tak terkendali, simbol kekosongan eksistensial di mana persona ini menyiratkan dirinya sebagai pengembara tanpa tujuan, mencerminkan ekspresi batin pengarang terhadap ketidakpastian hidup modern di tengah hiruk-pikuk kota besar.
Citra kedua, “uap napas pada kaca jendela tanpa kelihatan muka,” memperkuat persona ini sebagai sosok yang tak terlihat, tersembunyi di balik kabut emosi sendiri. Hal ini menandakan sebuah metafora identitas yang hilang, di mana Implied Author menggunakan anonimitas untuk mengajak pembaca merenungkan kerapuhan diri. Di tengah keramaian urban, individu seringkali kehilangan wajahnya, menjadi kabur seperti uap pada kaca.
Ketiga, “rumah kosong tanpa penghuni hanya daun-daun kering di halaman,” membangun gambaran kehampaan fisik dan jiwa. Daun kering hadir sebagai sisa-sisa kehidupan yang sia-sia, menjadikan persona ini saksi bisu atas kesepian kolektif urban. Rumah, yang seharusnya menjadi simbol kehangatan dan perlindungan, justru menjadi monument kesendirian.
Puncaknya berada pada stanza terakhir, “seumpama vodka, mabuk sesaat, melayang sejenak, datang rindu yang lebih hebat ketika siuman”, yang mengungkap strategi retoris Implied Author menjadi pelarian bahwa gelisah adalah siklus abadi, mengubah ekspresi pribadi menjadi undangan refleksi bagi pembaca. Penanganan sementara (mabuk) hanya akan memperparah rasa hampa (rindu) saat kesadaran kembali.
Strategi Retoris dan Konteks Budaya
Sebagai kekuatan retoris, Implied Author mengendalikan emosi pembaca melalui struktur paralel yang membangun intensitas bertahap, dari citra alam (awan) ke fisik (napas), domestic (rumah), hingga intoxicating (vodka). Bahasa yang sederhana, tapi sangat padat ini dengan enjambement (pemenggalan baris), menciptakan ritme napas yang meniru denyut gelisah itu sendiri, membuat pembaca ikut “bernapas” bersama persona.
Dalam konteks Indonesia, di mana puisi sering jadi wadah kegelisahan sosial seperti pada karya Sapardi Djoko Damono atau Sitor Situmorang, persona dalam puisi ini memperluas ekspresi Theoresia Rumthe menjadi kesaksian lelaki urban yang terombang-ambing modernitas. Lelaki seringkali dituntut untuk tegar tanpa cela, namun di sini, ia ditampilkan kesepian di tengah keramaian kota besar. Implied Author tidak bersifat netral, melainkan memposisikan diri sebagai suara otoritatif yang menuntut empati, membuktikan ekspresivisme sebagai alat transformasi emosi menjadi kekuatan naratif.
Dinamika Gender dan Penutup Reflektif
Theoresia Rumthe telah bertransformasi total menjadi “Lelaki yang sedang gelisah”. Dalam hal ini, Implied Author bukan bayangan pengarang nyata, melainkan entitas hidup yang menggugat kita atas “rindu pasca-mabuk sesaat”. Fenomena ini mengingatkan kita pada dinamika gender yang lebih luwes atau fluida dalam sastra kontemporer Indonesia. Di sini, seorang perempuan seperti Theoresia Rumthe bisa “menjadi” lelaki untuk menyuarakan kerapuhan bersama, sehingga memperkaya diskursus literatur nasional.
Sastra Ekspresivisme mengajarkan kita bahwa gelisah yang abadi ini bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah panggilan untuk menghadapi kehampaan dengan keberanian. Puisi “Lelaki dan Gelisah” pada akhirnya bergema sebagai pengalaman bersama yang melampaui identitas individu penyairnya, mengubah pembaca menjadi bagian integral dari puisi itu sendiri. Melalui persona “lelaki” ini, Theoresia Rumthe bukan hanya menceritakan tentang kekasihnya, tetapi sedang membicarakan kita semua yang seringkali tersesat di balik uap napas di kaca jendela kehidupan modern.


