
Oleh Zefanya Chrisantya Ningrum, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Siapa yang Sebenarnya Bicara?
Saat kita membaca sebuah cerita yang menyentuh atau bahkan mengerikan, kita sering kali langsung menebak bahwa apa yang tertulis adalah pikiran atau pengalaman langsung sang penulis di dunia nyata. Namun, dalam ilmu sastra, khususnya naratologi, ada sekat-sekat yang memisahkan antara orang yang menulis dengan suara yang muncul di dalam buku. Salah satu konsep yang paling menarik untuk dipelajari adalah implied author atau pengarang tersirat.
Dalam cerpen “Saksi Mata” karya Seno Gumira Ajidarma, kita tidak hanya berhadapan dengan narator yang menceritakan suasana sidang yang ganjil. Jika kita jeli, ada sebuah “kecerdasan” di balik seluruh teks yang mengatur suasana, memilih kata-kata, dan membangun pesan moralnya. Pengarang tersirat inilah yang menjadi arsitek di balik layar, yang menentukan ke mana arah perasaan pembaca akan dibawa tanpa harus muncul secara fisik di dalam cerita.
Seno si Jurnalis vs Seno si Pembuat Cerita
Jika kita membedah cerpen ini menggunakan kacamata ekspresivisme, kita akan menemukan perbedaan tajam antara persona practica dan persona poetica. Persona practica merujuk pada Seno Gumira Ajidarma sebagai manusia nyata—seorang jurnalis yang sehari-harinya terikat pada kode etik, data, dan fakta lapangan yang objektif. Namun, ketika ia menulis “Saksi Mata”, ia menanggalkan identitas jurnalisnya dan beralih menjadi persona poetica atau pengarang tersirat.
sebagai pengarang tersirat, Seno mampu menangkap esensi trauma dan kengerian sebuah tragedi politik tanpa harus menulisnya dalam bentuk laporan berita yang kaku. Di sini, pengarang tersirat hadir sebagai sosok yang memiliki kebebasan kreatif untuk menyuarakan kebenaran melalui imajinasi, terutama ketika jalur informasi resmi di dunia nyata sedang dibatasi atau dibungkam.
Pesan Rahasia di Balik Kejadian yang Aneh
Salah satu ciri paling kuat dari pengarang tersirat dalam “Saksi Mata” adalah keberaniannya menggunakan logika surealisme. Bayangkan seorang saksi datang ke pengadilan dengan membawa matanya sendiri di dalam amplop karena matanya telah dicungkil. Secara logika sehari-hari, ini mustahil. Namun, di sinilah pengarang tersirat menunjukkan tajinya. Ia menggunakan absurditas ini sebagai alat untuk menyampaikan pesan yang sangat serius.
Pengarang tersirat dalam cerpen ini memposisikan dirinya sebagai sosok yang kritis dan penuh ironi. Ia ingin menunjukkan bahwa di tengah situasi yang menindas, kebenaran sering kali dianggap sebagai sesuatu yang “cacat” atau bahkan harus disingkirkan. Dengan memilih gaya penceritaan yang tenang namun penuh teror, pengarang tersirat berhasil menyentuh sisi intelektual sekaligus emosional pembaca. Ia tidak perlu memaki-maki ketidakadilan secara langsung; cukup dengan menghadirkan adegan mata di dalam amplop, ia sudah berhasil menampar kesadaran pembaca tentang betapa kejamnya sebuah pembungkaman.
Mengapa Sosok “Pengarang Tersirat” Penting?
Mungkin kita bertanya, mengapa kita tidak menyebutnya “Seno” saja? itu karena pengarang tersirat adalah sebuah konstruksi estetis. Seno di dunia nyata bisa saja sedang merasa bahagia saat menulis, namun pengarang tersirat dalam “Saksi Mata” adalah sosok yang berduka, marah, dan menggugat. Inilah yang membuat karya sastra menjadi sangat kaya; ia menciptakan ruang di mana penulis bisa menjadi “orang lain” yang lebih tajam dan lebih bijaksana demi menyampaikan sebuah pesan kemanusiaan.
Pengarang tersirat dalam cerpen ini juga bertugas membangun jembatan bagi kita sebagai pembaca. Ia tidak menyajikan jawaban yang sudah jadi, melainkan meninggalkan celah-celah yang harus kita isi sendiri. Ia memaksa kita untuk berpikir: jika saksi mata saja kehilangan matanya, lalu siapa lagi yang berani melihat kebenaran? Melalui pengaturan plot yang rapi dan pemilihan simbol yang kuat, pengarang tersirat berhasil mengubah sebuah cerita pendek menjadi sebuah gugatan moral yang abadi.
Sastra Sebagai Tempat Berani Jujur
Pada akhirnya, sosok pengarang tersirat dalam “Saksi Mata” adalah perwujudan dari nurani yang menolak untuk diam. Dengan memahami perbedaan antara pengarang sebagai manusia biasa dan pengarang sebagai instansi di dalam teks, kita bisa melihat betapa besarnya kekuatan sastra. Sastra bukan sekadar hiburan atau kumpulan kata-kata indah, melainkan sebuah cara bagi manusia untuk tetap jujur di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan.
Melalui persona poetica yang diciptakannya, Seno Gumira Ajidarma membuktikan bahwa imajinasi terkadang jauh lebih jujur dan lebih “berbahaya” daripada sekadar tumpukan data faktual. Pengarang tersirat dalam “Saksi Mata” akan terus ada di sana, di antara baris-baris kalimat, menjadi saksi yang tak pernah lelah mengingatkan kita bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya untuk bicara, bahkan jika ia harus dititipkan di dalam sebuah amplop kecil.



