• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Ontologi Pusaran: Menimbun Makna dalam Sekantung Kerikil

by Redaksi
April 17, 2026
in SASTRA
0
Di Balik Asumsi, Terselip Solusi
0
SHARES
35
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Ilustrasi foto diambil dari pinterest.com

 

 

Oleh Odemus Bei Witono

​

Eksistensi sering kali menampakkan diri sebagai sebuah pusaran kegelapan—bukan sebagai representasi dari kejahatan, melainkan sebagai bentuk purba dari ketidakterbatasan yang menolak diringkas oleh bahasa. Di dalam pusaran ini, kata-kata kehilangan gravitasi semantiknya. Kita sering kali terjebak dalam ambisi untuk menerjemahkan sunyi, padahal yang kita miliki hanyalah sekantung kerikil penimbun makna; serpihan-serpihan kecil yang keras, tumpul, dan berat, yang justru berfungsi untuk mengubur pemahaman itu sendiri di bawah timbunan realitas yang tak terkatakan.

 

 ​Dialektika Ruang Kosong

Dalam esai yang tak berpintu ini, kita harus menyadari bahwa upaya menangkap makna sering kali setara dengan memeluk kabut menggunakan jaring. Pusaran kegelapan itu bekerja dengan logika sentripetal: ia menarik setiap definisi menuju titik pusat yang hampa. Di sana, subjek dan objek melebur dalam sebuah perjamuan paradoks.

Bunyi bukan lagi getaran udara, melainkan gesekan antar kerikil di dalam kantung batin yang terus penuh namun tak kunjung tumpah.

Kita membangun menara pemikiran di atas fondasi yang terus berputar, menyusun kerikil-kerikil bisu seolah-olah mereka adalah batu bata bagi kebenaran.

 

​ Kerikil sebagai Penanda Bisu

Mengapa kita memilih kerikil untuk menimbun makna? Kerikil adalah saksi yang dingin. Ia tidak memiliki keelokan permata yang ingin dipamerkan, namun ia memiliki massa yang cukup untuk menenggelamkan harapan. Setiap butir kerikil adalah representasi dari satu kegagalan bahasa—sebuah upaya yang terhenti menjadi benda mati sebelum sempat menjadi pengertian.

Menimbun makna dengan kerikil berarti mengakui bahwa ada wilayah-wilayah dalam jiwa manusia yang memang tidak boleh dipahami secara utuh. Memahami, dalam konteks ini, berarti merusak. Maka, kegelapan menjadi ruang perlindungan terakhir bagi misteri yang suci.

 

​ Estetika Ketidaksampaian

Pada akhirnya, pusaran ini tidak meminta kita untuk keluar darinya, melainkan untuk menjadi bagian dari putarannya. Esai ini tidak sedang mencari konklusi, karena konklusi hanyalah kerikil lain yang mencoba menutup lubang ketidaktahuan.

“Kita adalah pengumpul batu di tepi jurang tak berdasar, yang percaya bahwa dengan memenuhi kegelapan, kita bisa menciptakan daratan baru bagi kaki yang lelah mencari arti.”

Di bawah pusaran kegelapan itu, makna tidak sedang menunggu untuk ditemukan; ia sedang beristirahat, tertimbun dengan rapi di bawah tumpukan kerikil yang kita kumpulkan sepanjang usia, membiarkan misteri tetap menjadi satu-satunya bahasa yang jujur.

ShareTweetSend
Next Post
Sekolah Reyot, Warisan Lama, dan Mimpi yang Tak Mau Padam: Membaca Laskar Pelangi Hari Ini

Sekolah Reyot, Warisan Lama, dan Mimpi yang Tak Mau Padam: Membaca Laskar Pelangi Hari Ini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Prinsip-Prinsip Dasar Memahami Vonis Mati Ferdy Sambo

Prinsip-Prinsip Dasar Memahami Vonis Mati Ferdy Sambo

3 tahun ago
Sapardi: Geometri dan Memori

Sapardi: Geometri dan Memori

2 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In