
Ilustrasi foto diambil dari pinterest.com
Oleh Odemus Bei Witono
Eksistensi sering kali menampakkan diri sebagai sebuah pusaran kegelapan—bukan sebagai representasi dari kejahatan, melainkan sebagai bentuk purba dari ketidakterbatasan yang menolak diringkas oleh bahasa. Di dalam pusaran ini, kata-kata kehilangan gravitasi semantiknya. Kita sering kali terjebak dalam ambisi untuk menerjemahkan sunyi, padahal yang kita miliki hanyalah sekantung kerikil penimbun makna; serpihan-serpihan kecil yang keras, tumpul, dan berat, yang justru berfungsi untuk mengubur pemahaman itu sendiri di bawah timbunan realitas yang tak terkatakan.
Dialektika Ruang Kosong
Dalam esai yang tak berpintu ini, kita harus menyadari bahwa upaya menangkap makna sering kali setara dengan memeluk kabut menggunakan jaring. Pusaran kegelapan itu bekerja dengan logika sentripetal: ia menarik setiap definisi menuju titik pusat yang hampa. Di sana, subjek dan objek melebur dalam sebuah perjamuan paradoks.
Bunyi bukan lagi getaran udara, melainkan gesekan antar kerikil di dalam kantung batin yang terus penuh namun tak kunjung tumpah.
Kita membangun menara pemikiran di atas fondasi yang terus berputar, menyusun kerikil-kerikil bisu seolah-olah mereka adalah batu bata bagi kebenaran.
Kerikil sebagai Penanda Bisu
Mengapa kita memilih kerikil untuk menimbun makna? Kerikil adalah saksi yang dingin. Ia tidak memiliki keelokan permata yang ingin dipamerkan, namun ia memiliki massa yang cukup untuk menenggelamkan harapan. Setiap butir kerikil adalah representasi dari satu kegagalan bahasa—sebuah upaya yang terhenti menjadi benda mati sebelum sempat menjadi pengertian.
Menimbun makna dengan kerikil berarti mengakui bahwa ada wilayah-wilayah dalam jiwa manusia yang memang tidak boleh dipahami secara utuh. Memahami, dalam konteks ini, berarti merusak. Maka, kegelapan menjadi ruang perlindungan terakhir bagi misteri yang suci.
Estetika Ketidaksampaian
Pada akhirnya, pusaran ini tidak meminta kita untuk keluar darinya, melainkan untuk menjadi bagian dari putarannya. Esai ini tidak sedang mencari konklusi, karena konklusi hanyalah kerikil lain yang mencoba menutup lubang ketidaktahuan.
“Kita adalah pengumpul batu di tepi jurang tak berdasar, yang percaya bahwa dengan memenuhi kegelapan, kita bisa menciptakan daratan baru bagi kaki yang lelah mencari arti.”
Di bawah pusaran kegelapan itu, makna tidak sedang menunggu untuk ditemukan; ia sedang beristirahat, tertimbun dengan rapi di bawah tumpukan kerikil yang kita kumpulkan sepanjang usia, membiarkan misteri tetap menjadi satu-satunya bahasa yang jujur.



