• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Rabu, April 29, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Syed Abdul Rahim di Asian Games 1962 Jakarta dalam Film Maidaan

by Redaksi
April 29, 2026
in OPINI
0
Syed Abdul Rahim di Asian Games 1962 Jakarta dalam Film Maidaan
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 Oleh Yohanes Maria Prayoga Pangestu, Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta; Sejarawan Mentah

 

 

Hingga Kini, Syed Abdul Rahim dikenang Sebagai Bapak Sepak Bola Modern India

Film Maidaan (2024) oleh Amit Sharma adalah film biografi bertemakan olahraga yang mengangkat kisah nyata dari Syed Abdul Rahim, pelatih legendaris sepak bola tim nasional India. Maidaan mengambil latar waktu antara tahun 1952 hingga 1962, dikenal sebagai periode keemasan sepak bola India.

Alur cerita berfokus pada tokoh utama Syed Abdul Rahim, diperankan oleh Ajay Devgn, yang berjasa besar menempatkan The Blue Tigers dalam peta sepak bola dunia. Film ini menyorot keikutsertaan tim sepak bola India dalam kompetisi internasional, diantaranya Olimpiade 1960 Roma dan Asian Games 1962 Jakarta.

Dalam tugasnya menangani tim nasional, Abdul Rahim menghadapi berbagai rintangan silih berganti. Mulai dari tekanan politik internal dalam asosiasi sepak bola India (IAFF) hingga masalah kesehatan pribadinya. Berbicara soal masalah kesehatan, Abdul Rahim mengidap kanker paru-paru sebagai efek samping dari kebiasaan menghisap puntung rokok dan kurangnya waktu istirahat.

Ranah Bollywood menawarkan genre baru dalam industri perfilman mereka, yakni olahraga. Meskipun produk Bollywood, Maidaan mematahkan stereotip bahwa film sejarah India kental dengan adegan tari-tarian dan percintaan kedua sejoli. Maidaan lebih berfokus sepenuhnya pada imajinasi sejarah daripada sisi komersial, menitikberatkan kisah pengorbanan sang juru latih yang memberikan sisa nafasnya bagi kemajuan sepak bola negaranya.

 

 Mode Emplotment Dominan

Sejarawan Hayden White dalam karyanya Metahistory (1973) memperkenalkan istilah emplotmen (emplotment), yakni proses memasukkan peristiwa kedalam struktur cerita sejarah. Dalam menjelaskan istilah emplotmen, Hayden meminjam tipologi Northrop Fyre, antara lain Romansa, tragedi, komedi, dan satir. Melalui tipologi ini, Hayden menyatakan bahwasannya dalam proses penafsiran sejarah cenderung mengikuti pola-pola imajinasi dalam dunia sastra.

Mode emplotmen dominan yang digunakan dalam film Maidaan adalah romansa. Amit Sharma menampilkan karakter Syed Abdul Rahim sebagai sosok yang stoikisme. Stoikisme Abdul Rahim disini dilukiskan sebagai orang yang sangat hemat bicara di depan publik.

Ia lebih banyak mengamati melalui asap rokok yang dihisapnya. Tak peduli batang rokok dihisap membawa ia dekat dengan tangga kematian. Baginya, hisapan rokok adalah teman yang membawa ketenangan jiwa di tengah kesibukannya sebagai pelatih sepak bola.

Di mata para pemain, Syed Abdul Rahim tidak hanya dikenal sebagai seorang pelatih. Hubungan Rahim dengan para pemain layaknya ayah dan anak secara biologis (paternalistic). Ia cenderung melindungi anak asuhnya dari tekanan pihak media, sehingga para pemain rela ‘mati’ di lapangan demi pelatihnya.

Kontingen tim sepak bola India sebenarnya sempat terancam tidak diberangkatkan ke Asian Games 1962 Jakarta karena masalah sokongan dana. Mengatasi hal tidak diinginkan, Abdul Rahim turun tangan membujuk kementerian keuangan negara dibawah Jawaharlal Nehru untuk memberangkatkan timnya. Bujukan sang pelatih berhasil, tim India berangkat dengan terpaksa mencoret satu nama di skuad India. Nama itu adalah Shahid Hakim, putra dari sang pelatih.

 

Sisi Romansa: Mengubah Teror di Jakarta Menjadi Medali Kemenangan

Pernyataan keras Guru Dutt Sondhi, tokoh olahraga India, mengenai isu politik dicampuradukkan kedalam pesta olahraga sebesar Asian Games 1962 memicu kemarahan lapisan masyarakat Indonesia. Publik yang tersulut melampiaskan emosinya kepada para atlet India yang masih tinggal di Indonesia. Timnas sepak bola India sukses melenggang ke final Asian Games 1962 tak luput dari bidikan.

Bus kontingen India menuju stadion Gelora Bung Karno dilempari batu dan dicemooh di sepanjang jalan. Puncaknya adalah sorakan kebencian dari puluhan ribu penonton di GBK. Publik lebih menjagokan lawannya India di final, Korea Selatan. Alih-alih menyerah, Abdul Rahim menggunakan “teror” di GBK sebagai bahan bakar untuk memotivasi para pemainnya.

Menurut saya, sisi romansa yang sebenarnya ditampilkan dalam Maidaan adalah fakta dimana kondisi kesehatan sang pelatih semakin payah. Abdul Rahim mengawal timnya sambil menahan sakit dada yang luar biasa akibat kanker paru-paru. Di Jakarta, penonton bisa melihat seorang bapak-bapak India secara rutin batuk berdarah di pinggir lapangan. Namun tetap berusaha berdiri tegak dan berteriak memberi arahan kepada pemainnya.

Tim India pada akhirnya berhasil memenangkan pertandingan atas Korea Selatan dengan skor akhir 2-1. Kemenangan atas Korsel membawa India meraih medali emas di cabor sepak bola.  Faktanya, raihan medali emas di Asian Games 1962 ini merupakan prestasi tertinggi sepak bola India hingga sekarang.

 

Ket. Foto: Syed Abdul Rahim bersama Tim India yang memenangkan medali emas sepak bola di Asian Games 1962 (Sumber Dok. StarsUnfolded)

 

Romansa Syed Abdul Rahim, Sebuah Kesimpulan

Sisi Romansa yang dipersembahkan Abdul Rahim kepada negaranya telah meremukkan tubuhnya secara total. Tetapi semangatnya di pinggir lapangan tetap utuh hingga peluit akhir pertandingan. Sayangnya tak lama setelah kesuksesan di Jakarta, Syed Abdul Rahim meninggal dunia pada 11 Juni 1963 setelah berjuang melawan kanker yang dideritanya.

Menonton film sejarah membutuhkan kedewasaan dalam membedakan kebenaran puitis dan kebenaran historis. Film sejarah yang diproduksi oleh suatu negara cenderung memiliki bias nasionalisme. Pernyataan Guru Dott Sondhi memang memicu demonstrasi besar di Jakarta.

Namun, penonton harus menyadari bahwa aksi publik Indonesia digambarkan sebagai perbuatan anarki yang harus ditaklukkan oleh sang pahlawan, dalam ini Syed Abdul Rahim. Penggambaran ini membuat motif dari aksi protes masyarakat Indonesia terkesan hitam-putih.

Dalam film Maidaan, teror verbal di GBK dimunculkan sebagai adegan tambahan yang menggugah emosional penonton. Film Maidaan mengemasnya dengan tujuan utama menonjolkan sisi heroik Abdul Rahim dan tim India. Penonton yang kritis menjadikan film sebagai pintu masuk untuk membaca literatur sejarah.

ShareTweetSend

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Besok, Tite Hena Jabodetabek Gelar Pelantikan Pengurus

Besok, Tite Hena Jabodetabek Gelar Pelantikan Pengurus

7 tahun ago
 JNE Bagikan 10.000 Takjil di Ramadan 2023  

 JNE Bagikan 10.000 Takjil di Ramadan 2023  

3 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In