• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Minggu, Mei 3, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru

by Redaksi
Mei 3, 2026
in OPINI
0
Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh  Agus Widjajanto

 

Pidato presiden Prabowo Subiyanto yang berbicara Indonesia Gelap yang kerap dilontarkan para pengkritik, padahal Indonesia nyatanya terang hingga terucap jika ingin pergi maka pergilah ke Yaman, adalah kritik pedas seorang Kepala Negara sekaligus kepala Pemerintahan yang harus dimaknai sebagai warning, bahwa dalam kritik juga harus relevan dan santun, kebebasan berpendapat tetap terjamin namun juga harus ada rasa tanggung jawab, itu makna dibalik pidato presiden kemarin yang menghebohkan media sosial ditanah air hingga Manca Negara.

Setiap bangsa memiliki cara untuk membaca dirinya sendiri. Dalam tradisi filosofi  Jawa, salah satu alat baca itu adalah Serat Darmo Gandul dan Gatoloco—dua simbol yang bukan sekadar cerita, melainkan pisau analisis untuk membedah watak kekuasaan, moralitas, dan keberpihakan pada saat kolonial .

Di masa lalu, Darmo Gandul adalah sindiran halus terhadap elite yang tampak luhur, berbicara atas nama nilai, tetapi hidup “menggantung”—bergantung pada kekuasaan kolonial. Mereka tidak terlihat sebagai penjajah, tetapi justru menjadi jembatan yang menghubungkan penjajah dengan rakyat yang dijajah itu mungkin makna dari pada “Silahkan kalau pergi ke Yaman”.

Sementara Gatoloco adalah antitesisnya: liar, kasar, tidak santun, tetapi jujur dan tidak mau tunduk pada kepentingan luar. Hari ini, konfigurasi itu tidak hilang. Ia hanya berganti wajah.

Jika dahulu yang dikritik adalah elite agama dan birokrat kolonial, maka hari ini pola yang sama dapat dibaca dalam sebagian praktik aktivisme modern. Ada kelompok yang tampil dengan narasi moral tinggi—hak asasi manusia, keadilan, demokrasi bahkan dibungkus dengan Agama dan nazab keturunan yang kerap memandang rendah kaum pribumi —namun dalam praktiknya, sering kali menimbulkan pertanyaan: kepada siapa mereka sebenarnya berpihak?

Fenomena ini menjadi semakin terlihat dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Sejak awal, kasus ini tidak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga arena pertarungan narasi dan Framing

Sejumlah aktivis dan lembaga swadaya masyarakat tampil  sangat vokal, bahkan cenderung membela secara total tanpa memberi ruang pada proses pembuktian yang utuh di pengadilan militer.

Yang menarik bukan sekadar sikap membela—karena advokasi memang bagian dari demokrasi—melainkan pola yang muncul: narasi dibangun lebih dulu, kesimpulan ditarik lebih cepat daripada fakta, dan opini publik digiring sebelum proses hukum selesai. Ini menggambarkan Darmo Gandul pada masa kini .

Di titik ini, pertanyaan menjadi relevan: apakah ini murni dorongan keadilan, atau ada sesuatu skenario  yang lebih besar di baliknya?

Dalam kerangka Darmo Gandul, pola semacam ini bisa dibaca sebagai bentuk ketergantungan baru. Bukan lagi kepada kekuasaan kolonial secara langsung, tetapi pada ekosistem global yang membentuk arah wacana. Aktivisme tidak lagi sepenuhnya organik, melainkan berpotensi menjadi bagian dari jaringan yang lebih luas—yang memiliki agenda, kepentingan, dan arah tertentu secara global, atau penjajahan gaya baru, dengan menggiring opini seperti Indonesia tidak akan merda tanpa golongan ras tertentu , yang dibungkus keturunan Nazab, yang dianggap lebih unggul. Dan ini sejarah pernah tertulis soal gerakan Ras di Eropa sebelum meletus perang dunia kedua.

Kecurigaan publik terhadap kemungkinan adanya keterkaitan dengan pendanaan asing pun bukan tanpa alasan, meskipun tentu membutuhkan pembuktian yang jelas. Dalam geopolitik modern, bantuan dan pendanaan sering kali tidak berdiri di ruang hampa. Ia membawa nilai, perspektif, bahkan kepentingan. Ketika sebuah gerakan terlalu konsisten selaras dengan narasi global tertentu, tetapi kurang sensitif terhadap konteks lokal, maka wajar jika publik mulai mempertanyakan independensinya pada kelompok yang di golongkan Darmo Gandul tadi.

Di sinilah Gatoloco menjadi relevan kembali. Dalam konteks hari ini, “Gatoloco” bukan berarti sosok yang serampangan atau tanpa etika, tetapi representasi dari keberanian untuk berpikir mandiri. Ia mungkin tidak populer, tidak dibungkus dengan jargon internasional, bahkan bisa dianggap “tidak progresif”, tetapi ia berdiri tanpa bergantung. Benar benar jujur demi kebaikan Bangsa nya  tidak punya kepentingan .

Sebaliknya, “Darmo Gandul” gaya baru justru tampil rapi, sistematis, dan terdengar benar. Ia menguasai bahasa global, memahami cara membangun opini, dan mampu memanfaatkan momentum isu. Namun satu hal yang menjadi pembeda tetap sama seperti dulu: apakah ia berdiri sendiri, atau menggantung pada kekuatan lain demi kepentingan kekuasaan?

Maka kita harus menengok ke belakang dalam sejarah bangsa dimana Pelajaran yang diwariskan oleh R.M.P. Sosrokartono kepada Soekarno bukanlah sekadar strategi politik, melainkan kemampuan membaca manusia dan kepentingan di baliknya. Ia mengajarkan bahwa dalam perang pikiran, yang paling berbahaya bukan musuh yang terlihat, tetapi pengaruh yang menyamar sebagai kebaikan.

Serat Darmo Gandul dan Gatoloco itu senjata kritik paling Sun Tzu dari Sosrokartono. Tidak  frontal, nggak bisa ditangkap Belanda, tapi nusuk ke ulu hati kaum agama dan pemimpin pribumi yang jadi “jongos” penjajah saat itu di era pra kemerdekaan , bedah lengkap nya :

 

  1. Asal-usul: Serat Darmo Gandul dan  Gatoloco

 

  1. Bukan karangan Sosrokartono, tapi dipopulerkan dia

Serat Darmo Gandul naskah anonim abad 19, Gatoloco tokohnya. Isinya sindiran buat raja Jawa & ulama yang kolaborasi sama Belanda.

Sosrokartono tahun 1920-an yang hidupin lagi naskah ini di Bandung. Dia pakai buat ngajar murid-muridnya, termasuk Soekarno, buat bedah karakter pemimpin & agama.

 

  1. Kenapa pakai serat?

Ini don’t lie, but don’t tell the truth. Kalau Sosrokartono teriak “ulama ini antek Belanda”, besok ditangkap. Tapi kalau bahas “Gatoloco”, semua paham tapi Belanda bingung. Perang pikiran lewat wayang.

 

  1. Isi Kritik Darmo Gandul vs Gatoloco

*Tokoh*  *Makna Sosrokartono*  *Kritik ke Kaum Agama & Pemimpin Zaman Itu*

*Darmo Gandul*     Pemimpin/Politik maupun agamawan  yang ngaku suci, ngaku luhur, tapi hidupnya *gandul = numpang* ke kekuasaan asing. Dalilnya dipakai buat legitimasi penjajah. Ulama & Bupati yang fatwanya pro-Belanda*: “Taat sama Gubermen itu bagian dari iman”. Padahal dibayar. Jual agama buat jabatan. Ini yang ditakutin Kartini: perempuan disuruh nerima pingitan atas nama agama, padahal itu pesanan feodal.

Gatoloco  Tokoh ugal-ugalan, omongannya kasar, kelakuannya nyleneh, tapi jujur ke rakyat & nggak mau didikte asing.Sindiran ke pemimpin yang “nggak alim” tapi berani*: Samin Surosentiko, petani-petani yang nolak bayar pajak ke Belanda. Walau dicap “kafir” sama Darmo Gandul, Gatoloco justru bela rakyat.

Kalimat kunci Sosrokartono ke Soekarno:

“Zaman edan pilihannya cuma dua: jadi Darmo Gandul atau jadi Gatoloco. Tapi pemimpin sejati harus bikin jalan ketiga: ambil jujurnya Gatoloco, ambil wibawanya Darmo, buang numpang & ugal-ugalannya.”

Jalan ketiga itu yang dipakai Soekarno: Satyam Eva Jayate — pakai sarung & peci kayak santri, tapi pidatonya bakar London.

 

  1. Relevansi Sebelum Merdeka & Sekarang

 

  1. Sebelum 1945

Darmo Gandul = kaum yang bilang “jangan lawan Belanda, nggak kuat, nanti kualat”.

Gatoloco = kaum menengah yang diam  yang kerap dicap nggak beragama karena rata rata kaum terdidik ”.

Sosrokartono bongkar: yang teriak agama dan bela rakyat belum tentu bela rakyat. Yang dicap nakal belum tentu salah. Ukurannya satu: memihak ke asing atau ke bangsa sendiri? Ini  politik tingkat tinggi.

 

  1. Tahun 2026

Darmo Gandul gaya baru = tokoh/tokoh politik /influencer yang pakai dalil & nasionalisme, tapi endorse-nya produk luar, FYP-nya disetir asing, ngamuk kalau impor dibatasi. Sugih banda, kere pikiran.

Gatoloco gaya baru = yang dicap “radikal/nyinyir” karena bela kebenaran aturan hukum, padahal datanya bener & nggak mau duit asing.

Perang pikiran Bapak: kalau rakyat nggak ngerti bedanya, kita milih Darmo Gandul terus. Kelihatan alim, selalu teriak Bela Rakyat  padahal gandul.

 

  1. Kenapa Ini “Terang” ala Sosrokartono

 

Habis Gelap Terbitlah Terang = gelapnya pikiran karena nggak bisa bedain mana Aktifis  beneran, mana Aktifis  gandul.

Sosrokartono kasih senter: lihat jejak uang dan keberpihakannya, jangan dengar sorbannya.

Itu imunitas pikiran yang bapak tulis. Emansipasi Kartini gagal kalau perempuannya nurut sama Darmo Gandul. Kemerdekaan Soekarno gagal kalau rakyatnya milih pemimpin gandul.

Jadi kritik Darmo Gandul-Gatoloco itu pondasi karakter bangsa dimana Sosro Kartono adalah peletak dasar Membangun Karakter Anak Bangsa.

Dalam konteks ini, aktivisme yang kehilangan pijakan pada realitas objektif justru berisiko menjadi alat, bukan kekuatan. Ketika advokasi berubah menjadi pembelaan tanpa kritik, ketika empati berubah menjadi alat tekanan, dan ketika narasi lebih cepat daripada fakta, maka yang terjadi bukan lagi pencarian keadilan, melainkan pembentukan persepsi.

Kartini berbicara tentang terang—tentang keluar dari kegelapan pikiran. Namun terang itu tidak datang dari suara yang paling keras, melainkan dari kejernihan dalam membedakan. Membedakan antara perjuangan dan kepentingan, antara keberpihakan dan ketergantungan, antara Pelajaran penting dari Kartini dan Sosrokartono bukan sekadar tentang emansipasi atau kecerdasan intelektual, tetapi tentang keberpihakan yang jernih.

Kartini melawan ketidakadilan dengan pikiran yang merdeka, sementara Sosrokartono memastikan bahwa perjuangan itu tidak mudah dipatahkan oleh kekuatan yang lebih besar. Ia mengajarkan bahwa dalam membaca realitas, yang harus dilihat bukan hanya kata-kata, tetapi juga arah kepentingan di baliknya. Siapa membiayai, siapa diuntungkan, dan ke mana narasi itu digiring.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam konteks hari ini bukan lagi sekadar metafora pencerahan, melainkan kemampuan untuk membedakan mana aktivisme yang lahir dari nurani dan mana yang tumbuh dari ketergantungan. Terang itu bukan datang dari suara paling keras, tetapi dari kejernihan dalam melihat struktur di balik suara tersebut. Jika publik gagal membedakan keduanya, maka kita hanya berpindah dari satu bentuk ketergantungan ke bentuk lainnya—dari penjajahan fisik menuju penjajahan pikiran.

 

Yang suara rakyat dan gema dari luar

Hari ini, tantangan terbesar bukan kekurangan aktivis, melainkan kejelasan arah aktivisme itu sendiri. Apakah ia benar-benar lahir dari kebutuhan rakyat, atau justru menjadi bagian dari arus global yang lebih besar?

Darmo Gandul tidak pernah memberi jawaban hitam-putih. Ia hanya memberi alat: lihat siapa yang diuntungkan, lihat ke mana arah gerakan, dan lihat apakah ia berdiri tegak atau menggantung. Di situlah publik diuji.

Karena dalam dunia yang penuh narasi, kebenaran tidak selalu datang dengan suara paling lantang-tetapi sering kali bersembunyi di balik kesunyian, seperti yang diajarkan Sosrokartono.

 

————————-

Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsa

ShareTweetSend

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Membingkai Keluruhan dalam Kehinaan: Memaknai Cerpen “Ting” Buah Tangan Djenar Maesa Ayu

Membingkai Keluruhan dalam Kehinaan: Memaknai Cerpen “Ting” Buah Tangan Djenar Maesa Ayu

2 bulan ago
Padamu Bunda Penuh Rahmat

Padamu Bunda Penuh Rahmat

5 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In