Oleh Maharani Yahya, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Media sosial telah menjadi ruang komunikasi utama bagi Generasi Z yang tumbuh di era digital. Salah satu platform yang paling berpengaruh saat ini adalah TikTok, yang tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membentuk tren budaya dan bahasa. Melalui interaksi yang berlangsung setiap hari, muncul berbagai variasi bahasa yang mencerminkan dinamika masyarakat digital. Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah penggunaan campur kode (code-mixing) antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Bagi Generasi Z, penggunaan istilah bahasa Inggris dalam komunikasi digital bukan lagi sekadar gaya berbahasa, melainkan bagian dari kebiasaan sehari-hari. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena menunjukkan hubungan yang erat antara bahasa, masyarakat, dan identitas sosial. Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa selalu dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat bahasa tersebut digunakan. Oleh karena itu, perubahan cara berbahasa di TikTok dapat dipahami sebagai bagian dari perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.
Fenomena ini sejalan dengan teori bahasa dan masyarakat yang menyatakan bahwa bahasa dan masyarakat memiliki hubungan yang saling memengaruhi. Menurut Praptomo Baryadi Isodarus, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana membangun dan memelihara hubungan sosial. Dengan demikian, variasi bahasa yang muncul di TikTok merupakan hasil interaksi antara perkembangan teknologi, budaya digital, dan karakteristik Generasi Z sebagai kelompok sosial tertentu.
Untuk memahami fenomena tersebut, dapat digunakan konsep variasi bahasa, campur kode, dan alih kode. Variasi bahasa merupakan keragaman penggunaan bahasa yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan situasi komunikasi. Campur kode terjadi ketika unsur bahasa lain disisipkan ke dalam bahasa yang sedang digunakan, sedangkan alih kode terjadi ketika penutur berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dalam suatu tuturan.
Dalam praktiknya, campur kode Indonesia–Inggris sangat mudah ditemukan dalam konten TikTok. Contohnya tampak pada tuturan seperti “POV: kebiasaan pas ngedesain kebawa di real life”, “When lo dapet ide, tapi kalau disampaikan takut jadi tanggung jawab lo”, “life after graduation kerja apa kuliah?”, “gw meyakinkan diri sendiri to survive di akhir semester ini”, dan “Life feels so good, sampe lu tiba-tiba keinget belum cancel trial 7 hari lu”. Pada tuturan tersebut, unsur bahasa Inggris disisipkan ke dalam struktur bahasa Indonesia tanpa mengubah konteks komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa kosakata bahasa Inggris telah menjadi bagian yang akrab dalam komunikasi digital Generasi Z.
Selain campur kode, ditemukan pula alih kode dalam bentuk perpindahan bahasa antar-kalimat, misalnya pada tuturan “Semester ini berat banget. But I’m trying my best.” Peralihan bahasa tersebut digunakan untuk memperkuat makna dan mengekspresikan perasaan secara lebih efektif. Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan bahasa tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa, tetapi juga oleh tujuan komunikasi dan citra yang ingin ditampilkan oleh penutur.
TikTok juga memperlihatkan munculnya berbagai variasi bahasa. Selain bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, pengguna sering memadukan bahasa gaul, singkatan internet, hingga bahasa daerah. Misalnya penggunaan kata gw, lu, spill, dan prank, serta tuturan seperti “kuliah bayar larang-larang sampe kelas lakok scroll TikTok“. Kata larang-larang dalam bahasa Jawa berarti mahal-mahal, sedangkan lakok digunakan untuk menyatakan makna kok malah. Penggunaan unsur bahasa Jawa tersebut menunjukkan bahwa variasi bahasa di TikTok tidak hanya melibatkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tetapi juga bahasa daerah.
Masifnya penggunaan campur kode di TikTok dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, faktor efisiensi komunikasi karena banyak istilah bahasa Inggris dianggap lebih ringkas dan ekspresif. Kedua, faktor identitas sosial, yaitu keinginan untuk menunjukkan citra diri yang modern, mengikuti tren, dan dekat dengan budaya global. Selain itu, algoritma TikTok dan sistem For You Page (FYP) turut mempercepat penyebaran berbagai istilah tersebut sehingga semakin banyak digunakan oleh generasi muda.
Fenomena campur kode membawa dampak positif dan negatif. Dari sisi positif, fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta globalisasi. Campur kode juga memperkaya variasi ekspresi dalam komunikasi digital. Selain itu, fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang terbentuknya identitas linguistik baru di kalangan Generasi Z. Melalui pilihan bahasa yang digunakan, pengguna TikTok secara tidak langsung membangun citra diri, menunjukkan keanggotaan kelompok sosial tertentu, serta menyesuaikan diri dengan budaya digital yang berkembang. Namun, penggunaan campur kode yang berlebihan berpotensi mengurangi kemampuan generasi muda dalam menggunakan bahasa Indonesia baku, terutama dalam konteks akademik dan formal. Selain itu, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris di media sosial dapat mempersempit ruang penggunaan bahasa daerah.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa fenomena campur kode bahasa Indonesia–Inggris dalam konten TikTok merupakan bentuk adaptasi bahasa terhadap perkembangan teknologi dan globalisasi. Bagi Generasi Z, campur kode bukan sekadar pilihan bahasa, melainkan bagian dari strategi komunikasi dan pembentukan identitas sosial di ruang digital. Oleh karena itu, fenomena ini perlu dipahami sebagai bentuk kreativitas linguistik yang mencerminkan dinamika hubungan antara bahasa dan masyarakat. Meskipun demikian, penggunaan bahasa Indonesia baku tetap perlu dijaga agar perkembangan bahasa digital tidak mengurangi fungsi bahasa Indonesia sebagai identitas nasional.


