Oleh Yosefh Chesar Kristiadi, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Prodi: Pendidikan Sejarah
Sastra tidak hanya berfungsi sebagai karya imajinatif, tetapi juga sebagai media yang merepresentasikan realitas sosial dan sejarah pada masanya. Melalui tokoh, alur, dan sudut pandang yang dibangun pengarang, karya sastra dapat menunjukkan bagaimana hubungan kekuasaan, identitas, dan pengalaman hidup suatu kelompok digambarkan. Dalam konteks Indonesia, representasi tokoh pribumi menjadi isu yang penting untuk dikaji karena berkaitan erat dengan pengalaman kolonial yang telah membentuk perjalanan sejarah bangsa Indonesia dan mempengaruhi cara pandang masyarakat dalam memahami dirinya.
Persoalan tersebut dapat ditemukan dalam novel Max Havelaar karya Multatuli dan novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Meskipun sama-sama berlatar masa kolonial, kedua novel tersebut ditulis dalam konteks sejarah yang berbeda sehingga menghadirkan penggambaran tokoh pribumi yang tidak selalu sama. perbedaan tersebut dapat dianalisis dengan konsep agensi tokoh, yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan, menyuarakan pandangan, dan mempengaruhi jalannya peristiwa di dalam alur novel. Dengan menggunakan konsep tersebut, isi ini akan membahas bagaimana tokoh pribumi di representasikan dalam kedua novel serta menunjukkan adanya pergeseran dari posisi sebagai objek penderitaan kolonial menuju subjek yang berperan aktif dalam membentuk sejarahnya sendiri.
Dalam novel Max Havelaar, tokoh pribumi digambarkan sebagai kelompok yang hidup di bawah tekanan sistem kolonial dan penyalahgunaan kekuasaan oleh elite lokal. Penderitaan rakyat Lebak menjadi salah satu fokus utama cerita, terutama melalui penggambaran praktik pemerasan dan penindasan yang dilakukan oleh pejabat pribumi yang memiliki hubungan dengan pemerintah kolonial. Masyarakat pribumi hadir sebagai pihak yang paling merasakan dampak ketidakadilan tersebut, tetapi mereka jarang diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka secara langsung.
Keterbatasan atensi tokoh pribumi terlihat dari minimnya kemampuan mereka dalam mengubah keadaan yang dihadapi. Meskipun menjadi korban utama dari sistem yang tidak adil, tindakan dan suara mereka sering kali berada di latar belakang narasi. namun sebaliknya, upaya dalam mengungkap ketidakadilan justru lebih banyak dilakukan oleh Max Havelaar sebagai tokoh Belanda yang berusaha menentang praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di Lebak. Dengan demikian, penderitaan pribumi lebih sering disampaikan melalui perspektif tokoh kolonial daripada melalui pengalaman yang mereka ungkapkan sendiri.
Selain itu, posisi para pejabat pribumi dalam novel juga menunjukkan adanya batasan struktural yang kuat. Mereka berada dalam sistem birokrasi kolonial yang menjadi pembatas mereka dalam bertindak dan membuat mereka sulit untuk menentang kekuasaan yang lebih tinggi. Akibatnya, tokoh pribumi dalam Max Havelaar cenderung ditempatkan sebagai objek yang mengalami dampak kolonialisme, bukan sebagai pelaku utama yang menentukan arah peristiwa. Representasi ini menunjukkan bahwa agensi tokoh pribumi hadir dalam ruang yang sangat terbatas dan belum menjadi pusat penggerak narasi sejarah yang ditampilkan novel.
Berbeda dengan novel Max Havelaar novel, novel Anak Semua Bangsa menempatkan tokoh pribumi sebagai pusat narasi dan penggera utama di dalam cerita. Novel ini mengikuti perjalanan Minke dalam memahami realitas kolonial yang lebih luas setelah ia berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat. Melalui sudut pandang Minke, pembaca tidak hanya menyaksikan ketidakadilan yang terjadi pada masyarakat pribumi, namun juga proses tumbuhnya kesadaran sosial dan politik yang mendorong untuk mempertanyakan sistem kolonial yang berlaku.
Agensi Minke terlihat dari kemampuan untuk berpikir kritis, mengambil keputusan, dan membentuk pandangannya sendiri terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pribumi. Pengaruh tokoh-tokoh seperti Jean Marais dan Khouw Ah Soe Mendorongnya untuk melihat bahwa penderitaan rakyat bukan sekedar pengalaman individu, melainkan bagian dari struktur kolonial yang lebih besar. Kesadaran tersebut membuat Minke tidak lagi hanya menjadi pengamat, tetapi mulai berupaya memahami perannya dalam perubahan sosial melalui tulisan dan gagasan yang ia kembangkan.
Meskipun demikian, Minke tetap menghadapi berbagai batasan. Sistem kolonial, diskriminasi rasial, dan ketimpangan sosial membatasi ruang geraknya sebagai pribumi yang terjadi. Namun, berbeda dengan tokoh pribumi dalam Max Havelaar, mungkin tidak digambarkan sebagai sosok yang pasif menerima keadaan. Ia terus berusaha mencari pengetahuan, menyuarakan pemikirannya, dan memahami cara memperjuangkan kepentingan bangsanya. Dengan demikian, Anak Semua Bangsa merepresentasikan tokoh pribumi sebagai subjek sejarah yang memiliki kesadaran, suara, dan kemampuan bertindak dalam menghadapi realitas kolonial.
Perbandingan antara novel Max Havelaar dan novel Anak Semua Bangsa menunjukkan adanya perbedaan yang jelas dalam representasi agensi tokoh pribumi. Meskipun kedua novel sama-sama menggambarkan realitas kolonial dan berbagai bentuk ketidakadilan yang dialami masyarakat pribumi, posisi tokoh pribumi dalam kedua karya tersebut tidaklah sama. Dalam novel Max Havelaar, tokoh pribumi lebih sering ditempatkan sebagai pihak yang mengalami penderitaan akibat sistem kolonial dan penyalahgunaan kekuasaan. Sebaliknya novel Anak Semua Bangsa menampilkan tokoh pribumi sebagai individu yang memiliki kesadaran, suara, dan kemampuan untuk memahami serta merespon kondisi sosial yang dihadapinya.
Perbedaan tersebut terlihat dari pusat narasi yang digunakan oleh masing-masing pengarang. Dalam Max Havelaar, kritik terhadap kolonialisme disampaikan melalui tokoh Max Havelaar yang berperan sebagai pembela rakyat pribumi. Akibatnya, pengalaman dan penderitaan pribumi lebih banyak disampaikan melalui sudut pandang tokoh Belanda. Sementara itu novel Anak Semua Bangsa menjadikan Minke Sebagai pusat cerita sehingga pembaca melihat realitas kolonial melalui perspektif seorang pribumi. Posisi ini memberikan ruang yang lebih besar bagi tokoh lokal untuk menyampaikan pemikiran dan pengalaman mereka secara langsung.
Perbedaan representasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah dalam kedua novel. Multatuli menulis novel Max Havelaar pada masa kolonial sehingga kritik yang disampaikan masih berada dalam kerangka pandangan seorang bangsa Eropa terhadap masyarakat yang dijajah. Sebaliknya Pramoedya menulis novel Anak Semua Bangsa setelah Indonesia merdeka, ketika kesadaran nasional telah berkembang dan masyarakat Indonesia mulai dipandang sebagai pelaku sejarahnya sendiri. Maka dari itu, kedua novel menunjukkan adanya pergeseran penting dari representasi pribumi sebagai objek penderitaan menuju subjek secara yang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk bertindak.
Berdasarkan analisis yang telah kita lakukan, terdapat perbedaan yang signifikan dalam representasi agensi tokoh pribumi di dalam novel Max Havelaar dan novel Anak Semua Bangsa. Dalam novel Max Havelaar, tokoh pribumi lebih banyak digambarkan sebagai pihak yang mengalami dampak ketidakadilan kolonial dengan ruang bertindak yang terbatas, sementara kritik terhadap sistem kolonial disampaikan melalui perspektif tokoh Belanda. Sebaliknya, novel Anak Semua Bangsa menempatkan tokoh pribumi sebagai pusat narasi yang memiliki kesadaran, suara, dan kemampuan untuk memahami serta merespon kondisi sosial yang dihadapinya.
Perbedaan tersebut menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap posisi masyarakat pribumi dalam sastra. Jika dalam banyak karya kolonial pribumi cenderung sebagai objek yang diperjuangkan, maka dalam karya pasca-kemerdekaan mereka hadir sebagai subjek yang mampu menceritakan pengalaman dan membentuk sejarahnya sendiri. Dengan demikian, Anak Semua Bangsa Berhasil mereposisi tokoh pribumi sebagai pelaku sejarah yang aktif. Pergeseran ini tidak hanya mencerminkan perkembangan sastra Indonesia, namun juga menunjukkan tumbuhnya kesadaran sejarah yang menempatkan masyarakat Indonesia sebagai aktor utama dalam perjalanan bangsanya.



