Oleh: Selvia Dwi Rizki, Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Sejarah sering dianggap sebagai catatan objektif tentang kejadian-kejadian masa lalu. Akan tetapi, pandangan ini mendapatkan tanggapan negatif dari Hayden White melalui gagasan Metahistorynya. Berdasarkan pandangan White, sejarah bukan sekadar fakta-fakta yang dirangkai secara kronologis, melainkan juga merupakan konstruksi naratif yang diciptakan oleh sejarawan atau narator. Fakta sejarah mendapatkan arti ketika diletakkan dalam sebuah narasi tertentu. Salah satu ide utama yang diajukan White adalah emplotment, yang merupakan proses mengorganisir peristiwa ke dalam struktur naratif seperti romansa, tragedi, komedi, atau satire.
Konsep emplotment dapat diterapkan tidak hanya untuk menganalisis historiografi, tetapi juga untuk karya sastra dan film sejarah. Salah satu film dari Indonesia yang menarik untuk dianalisis melalui perspektif ini adalah Surat dari Praha (2016) yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko. Film ini mengisahkan tentang Jaya, seorang eksil Indonesia yang tinggal di Praha karena situasi politik setelah peristiwa 1965. Lewat perjalanan karakter Jaya dan Laras, film ini tidak hanya menunjukkan pengalaman pribadi, tetapi juga menyuguhkan gambaran luka sejarah yang dialami para eksil Indonesia.
Esai ini bertujuan untuk menganalisis cara film Surat dari Praha membangun cerita sejarah melalui mode emplotment tragedi menurut Hayden White. Film Surat dari Praha menceritakan perjalanan Laras yang diberi tugas untuk mengantar sebuah surat kepada Jaya, seorang mantan jurnalis Indonesia yang telah bertahun-tahun menetap di Praha. Selama perjalanan itu, Laras secara bertahap memahami kehidupan Jaya sebagai seorang eksil politik yang terpaksa tinggal di luar negeri karena perubahan politik di Indonesia setelah tahun 1965.
Lewat cerita Jaya, film ini menampilkan pengaruh sejarah yang tidak selalu muncul sebagai peristiwa besar atau urutan politik. Sejarah malah disajikan melalui pengalaman individu yang merasakan keterasingan, kehilangan jati diri, serta kerinduan akan tanah air. Film ini menyajikan sejarah dari perspektif individu yang sering kali terabaikan dalam narasi sejarah resmi.
Menurut Hayden White, bentuk tragedi menyoroti batasan manusia dalam menghadapi kekuatan yang berada di luar pengaturannya. Narasi tragedi tidak ditutup dengan kemenangan, tetapi dengan kesadaran akan kehilangan, penderitaan, dan konsekuensi yang harus dihadapi oleh karakter-karakternya.
Karakter Jaya dalam Surat dari Praha adalah simbol yang kuat dari penataan tragedi. Ia bukan tokoh pahlawan yang mampu mengatasi semua rintangan, melainkan individu yang harus menerima fakta bahwa hidupnya berubah secara signifikan akibat situasi politik yang tidak bisa ia kontrol. Sebagai seorang eksil, Jaya kehilangan peluang untuk kembali ke Indonesia, kehilangan hubungan dengan keluarga, serta kehilangan hak untuk menjalani kehidupan yang diinginkannya di tanah asalnya. Luka yang dialami Jaya dalam sejarahnya tidak hanya berupa fisik atau material, tetapi juga melibatkan aspek emosional dan psikologis. Ia hidup dalam rasa rindu yang mendalam kepada Indonesia, namun sekaligus menyadari bahwa masa lalu tak bisa diulang. Kesadaran inilah yang menjadi karakteristik utama dari narasi tragedi. Tokoh tidak dapat mengubah takdirnya, namun harus menghadapi kenyataan pahit yang membentuk hidupnya.
Di samping itu, film ini tidak memberikan penyelesaian yang sepenuhnya selesai. Tidak ada kemenangan politik, rehabilitasi total, atau pemulihan yang menghapus semua penderitaan di masa lalu. Yang timbul justru kesadaran akan perlunya memahami dan menerima sejarah yang rumit. Akhir cerita tidak menghapus kesakitan yang telah ada selama bertahun-tahun. Sebaliknya, film menggambarkan bahwa sejumlah luka sejarah tetap meninggalkan bekas yang kuat walaupun waktu terus berlalu.
Salah satu kekuatan utama Surat dari Praha terletak pada kemampuannya mengaitkan pengalaman individu dengan sejarah bangsa. Lewat karakter Jaya, penonton diajak memahami bagaimana kejadian politik dapat berdampak signifikan pada kehidupan individu. Sejarah kini dipahami bukan sekadar rangkaian tanggal dan peristiwa, melainkan sebagai pengalaman manusia yang nyata.
Menurut Hayden White, arti sejarah terbentuk dari cara penyusunan cerita itu sendiri. Film ini tidak mencoba menjelaskan secara mendetail seluruh kompleksitas politik tahun 1965. Sebaliknya, film tersebut memutuskan untuk menekankan dampak kemanusiaan yang timbul dari peristiwa itu. Pilihan naratif ini memudahkan penonton untuk memahami pengaruh sejarah melalui pengalaman tokoh yang jelas. Luka sejarah dalam sinema juga terlihat melalui tema pengasingan. Praha menjadi lambang kehidupan yang terpisah dari tanah kelahiran, sementara surat yang menghubungkan Laras dan Jaya melambangkan kenangan serta ikatan yang belum sepenuhnya terputus dengan Indonesia. Elemen-elemen tersebut menguatkan suasana tragis yang mendominasi seluruh kisah.
Sebaliknya, film ini bisa dilihat sebagai usaha untuk menyajikan narasi berbeda dari sejarah yang berlaku. Selama bertahun-tahun, pengalaman para pengungsi politik jarang mendapat perhatian dalam narasi publik Indonesia. Melalui kisah mereka, Surat dari Praha memperlihatkan bahwa sejarah senantiasa memiliki beragam suara dan sudut pandang. Persepsi ini sejalan dengan pendapat Hayden White yang menyatakan bahwa sejarah bukanlah satu kebenaran yang statis, melainkan produk dari konstruksi naratif yang selalu diperdebatkan dan ditafsirkan kembali.
Berdasarkan analisis emplotment Hayden White, film Surat dari Praha dapat diinterpretasikan sebagai narasi tragedi yang mencerminkan luka sejarah dan pengalaman pengasingan Indonesia setelah 1965. Lewat karakter Jaya, film menunjukkan bagaimana transformasi politik dapat membawa pada kehilangan, keterasingan, dan penderitaan yang berlangsung seumur hidup. Berbeda dengan cerita cinta yang diakhiri dengan bahagia, film ini menyoroti kesadaran akan trauma sejarah yang tidak sepenuhnya dapat terobati.
Analisis ini mengungkapkan bahwa arti sejarah dalam Surat dari Praha ditentukan oleh struktur naratif yang diterapkan oleh pembuat film. Dengan menyajikan sejarah dari sudut pandang korban eksil, film memberikan wawasan yang lebih berperikemanusiaan terhadap masa lalu sekaligus menunjukkan bahwa sejarah merupakan ruang untuk interpretasi dan penciptaan makna. Dengan pendekatan Hayden White, kita bisa melihat bahwa film sejarah tidak hanya merepresentasikan kenyataan, tetapi juga membentuk cara penonton dalam memahami dan menginterpretasikan sejarah.



