Oleh Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya dan Sejarah Bangsa
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini—mulai dari meningkatnya biaya hidup, naiknya harga bahan bakar, hingga beban pajak yang dirasakan semakin berat oleh sebagian rakyat—muncul berbagai bentuk ekspresi kekecewaan publik. Sebagian memilih menyuarakannya melalui media sosial, sebagian melalui kritik terbuka, dan sebagian lagi melalui simbol-simbol yang menarik perhatian publik.
Namun, sejarah bangsa ini sesungguhnya telah memberikan teladan mengenai bagaimana ketidakpuasan terhadap keadaan dapat disalurkan melalui jalan yang bermartabat, damai, dan berlandaskan moral. Salah satu contoh paling menarik adalah gerakan yang dipelopori oleh Samin Surosentiko, tokoh perlawanan rakyat Jawa yang hingga kini masih dikenang karena keberaniannya melawan ketidakadilan tanpa mengangkat senjata.
Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, semangat Samin layak direfleksikan kembali. Bukan untuk menghidupkan pembangkangan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan sosial yang besar sering kali lahir dari gerakan moral yang kuat, bukan dari keributan yang justru mengganggu masyarakat yang sedang berjuang mencari nafkah.
Samin Surosentiko: Perlawanan dengan Akal dan Nurani
Nama asli Samin Surosentiko adalah Raden Kohar, lahir pada tahun 1859 di Desa Plosorejo, Randublatung, Blora. Nama “Samin” diambil dari nama ayahnya, sedangkan “Surosentiko” mengandung makna keberanian dan keteguhan hati seorang ksatria.
Ia hidup pada masa kolonial Belanda ketika rakyat dipaksa menanggung berbagai beban, mulai dari pajak hingga kerja rodi. Namun berbeda dengan banyak gerakan perlawanan pada zamannya, Samin tidak membangun pasukan bersenjata, tidak menghunus keris, dan tidak mengobarkan perang fisik. Senjatanya adalah akal sehat, logika, dan pembangkangan sipil yang damai.
Di sinilah letak keunikan gerakan Samin. Ia menunjukkan bahwa ketidakadilan dapat dilawan tanpa kekerasan. Ia percaya bahwa kekuatan moral sering kali lebih sulit ditaklukkan daripada kekuatan fisik.
Filsafat Tanah dan Keadilan
Salah satu ajaran yang paling terkenal adalah ungkapan: “Bumi sabarang jeroning bumi. “Bagi Samin, bumi dan segala isinya adalah ciptaan Tuhan yang diperuntukkan bagi seluruh makhluk hidup. Karena itu, menurut logikanya, tidak ada pihak yang berhak mengklaim diri sebagai pemilik mutlak tanah lalu memungut pajak secara sewenang-wenang atas tanah tersebut.
Logika sederhana ini membuat pemerintah kolonial Belanda kesulitan menjawab. Belanda datang membawa sertifikat, peta kadaster, dan aturan hukum kolonial. Namun Samin menjawab dengan pertanyaan mendasar:
Apakah Belanda yang menciptakan tanah ini?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar retorika. Ia merupakan kritik filosofis terhadap legitimasi kolonial yang menganggap tanah dan rakyat sebagai objek eksploitasi.
Di sinilah kekuatan Samin. Ia tidak melawan dengan kemarahan, melainkan dengan pertanyaan yang menggugah nurani.
“Ngisin lan Ngisih”: Harga Diri Orang Jawa. Ajaran lain yang terkenal adalah: “Wong Jowo, ngisin lan ngisih.” Artinya, manusia harus malu berbuat jahat dan malu apabila harga dirinya direndahkan.
Ketika rakyat dipaksa melakukan kerja rodi, Samin tidak mengajak pengikutnya mengangkat senjata. Mereka datang, duduk dengan tenang, dan menyampaikan penolakan secara terbuka.
Bagi mereka, bekerja secara paksa untuk kepentingan penjajah adalah bentuk penghinaan terhadap martabat manusia.
Sikap seperti ini membuat pemerintah kolonial menghadapi dilema. Jika menggunakan kekerasan, mereka akan terlihat menindas rakyat yang tidak melakukan tindakan anarkis. Namun jika dibiarkan, gerakan itu akan semakin menyebar.
Peristiwa Randublatung Tahun 1907
Puncak gerakan Samin terjadi pada tahun 1907 di Randublatung. Saat itu pemerintah kolonial berupaya menarik pajak dan tenaga rakyat untuk pembangunan jalan serta jembatan. Ratusan pengikut Samin mendatangi kantor Wedana.
Mereka tidak membawa senjata. Mereka tidak merusak fasilitas. Mereka tidak membuat kerusuhan. Mereka hanya duduk dan menyampaikan keyakinan mereka bahwa tanah yang mereka garap adalah hak mereka untuk hidup.
Pemerintah kolonial akhirnya mengirim aparat dan menangkap Samin Surosentiko. Ia kemudian diasingkan hingga akhirnya wafat pada tahun 1914. Namun yang ditangkap hanyalah tubuhnya. Ajarannya terus hidup dan menyebar ke berbagai daerah seperti Blora, Pati, Kudus, Bojonegoro, hingga Madiun.
Ketika Belanda Kalah oleh Logika Petani
Salah satu hal yang membuat pemerintah kolonial frustrasi adalah cara berpikir Samin yang sederhana tetapi sulit dibantah. Belanda bermain dengan hukum positif, aturan administrasi, dan ancaman kekuasaan.
Samin bermain dengan hukum kodrat, nurani, dan logika kehidupan sehari-hari. Ketika ditanya mengapa tidak membayar pajak, ia justru bertanya apa hak moral pemerintah kolonial atas tanah yang bukan mereka ciptakan.
Ketika diancam penjara, ia menjawab bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Ketika dijanjikan uang, ia bertanya apakah uang dapat dimakan saat musim paceklik.
Cara berpikir seperti ini membuat banyak pejabat kolonial menganggap pengikut Samin sebagai kelompok yang “aneh” atau bahkan “gila”.
Padahal sesungguhnya yang terjadi adalah benturan antara logika kekuasaan dengan logika rakyat kecil.
Warisan Samin di Era Modern
Hingga hari ini komunitas Samin masih dapat ditemukan di beberapa wilayah Jawa. Mereka dikenal memegang teguh nilai kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, dan hidup damai dengan sesama. Warisan terbesar Samin bukanlah penolakan terhadap negara. Warisan terbesarnya adalah keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan dengan cara yang bermartabat.
Dalam konteks Indonesia modern, spirit tersebut dapat dimaknai sebagai dorongan agar setiap kebijakan publik benar-benar berpihak kepada rakyat.
Pajak adalah kewajiban warga negara. Namun pada saat yang sama, rakyat berhak memastikan bahwa uang yang mereka bayarkan kembali dalam bentuk pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang nyata.
Semangat inilah yang sesungguhnya relevan hingga hari ini: mengawal pengelolaan keuangan negara agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.
Dari Samin hingga Simbol Perlawanan Generasi Muda
Belakangan ini publik juga menyaksikan munculnya berbagai simbol kritik sosial di kalangan generasi muda, termasuk fenomena penggunaan simbol-simbol populer yang viral di media sosial. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa setiap zaman memiliki cara sendiri untuk menyampaikan aspirasi.
Pada masa Samin, perlawanan diwujudkan melalui logika dan pembangkangan sipil yang damai. Pada era digital, kritik sering disampaikan melalui meme, satire, dan simbol-simbol budaya populer seperti bendera One Piece
Meski berbeda bentuk, terdapat benang merah yang sama, yaitu keinginan agar rakyat diperlakukan secara adil dan didengar aspirasinya. Namun sejarah mengajarkan bahwa simbol semata tidak cukup.
Samin dikenang bukan karena simbol yang digunakannya, melainkan karena konsistensi antara ucapan dan tindakan. Ia hidup sederhana, menjunjung kejujuran, dan memperjuangkan nilai yang diyakininya.
Saatnya Gerakan Moral, Bukan Keributan
Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak gerakan moral daripada sekadar demonstrasi yang berujung pada kemacetan, gangguan aktivitas ekonomi, atau benturan antarsesama anak bangsa.
Masyarakat sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Banyak rakyat harus bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka menghadapi kenaikan berbagai kebutuhan hidup dan tekanan ekonomi yang nyata.
Karena itu, energi publik sebaiknya diarahkan pada gerakan yang produktif dan membangun.
-Mengawasi penggunaan anggaran negara.
-Mendorong transparansi kebijakan publik.
-Membantu UMKM berkembang.
-Meningkatkan literasi masyarakat mengenai APBN dan APBD.
-Mengawasi dana desa.
-Menguatkan solidaritas sosial.
-Membangun kepedulian terhadap pendidikan dan kesehatan rakyat.
Inilah bentuk “Samin modern” yang lebih relevan bagi Indonesia masa kini. Gerakan yang tidak merusak. Gerakan yang tidak memecah belah. Gerakan yang tidak mengganggu rakyat mencari nafkah. Tetapi gerakan yang tetap kritis, berani, dan konsisten memperjuangkan keadilan.
Samin Surosentiko mengajarkan bahwa perlawanan tidak selalu harus diwujudkan melalui senjata, amarah, atau keramaian. Kadang-kadang, kekuatan terbesar justru lahir dari keteguhan moral, kejujuran, dan keberanian mempertahankan akal sehat.
Belanda mungkin mampu memenjarakan Samin, tetapi mereka tidak mampu mengalahkan gagasannya. Lebih dari satu abad kemudian, pesan itu masih relevan: ketika rakyat merasa ada ketidakadilan, jawaban terbaik bukanlah kekerasan dan kegaduhan, melainkan gerakan moral yang cerdas, beradab, dan berpihak pada kepentingan bersama.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar tidak dibangun oleh kemarahan yang sesaat, melainkan oleh nurani yang terus hidup dan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dengan cara yang bermartabat.




