Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan
Lampu pijar lima watt menggantung di sudut teras rumah tua itu, bergoyang pelan ditiup angin malam. Di bawahnya, seorang lelaki tua duduk di kursi rotan yang sudah ringkih. Rambutnya memutih sempurna, seperti kapas yang terurai. Tangannya yang dipenuhi kerutan memegang sebuah telepon genggam murah dengan layar retak di sudut kanan bawah. Jempolnya yang kaku bergerak ritmis, mengetik huruf demi huruf di atas layar sentuh yang sempit.
Lelaki tua itu adalah seorang penulis. Dia tidak memiliki laptop, komputer meja, atau bahkan mesin ketik tua peninggalan masa lalu. Seluruh dunia imajinasinya—cerita tentang manusia, cinta, penderitaan, dan kebijaksanaan—dijejalkan ke dalam sebuah benda pipih berukuran lima inci. Namun, siapa pun yang membaca karyanya akan tahu: hatinya jauh lebih luas daripada batasan teknologi yang digenggamnya.
Dialog di Ambang Malam
Malam itu, saya duduk di seberangnya, memperhatikannya yang begitu khusyuk mengetik dengan satu jari. Rasa penasaran yang lama terpendam akhirnya membuat saya memberanikan diri untuk bertanya.
”Pak,” panggil saya pelan. “Kenapa Anda tidak membeli laptop? Menulis di gawai sekecil itu pasti menyiksa mata dan melelahkan jemari. Buku-buku Anda laris, royalti Anda tentu cukup untuk membeli komputer tercanggih saat ini.”
Lelaki tua itu berhenti mengetik. Dia menurunkan gawainya, meletakkannya di atas paha, lalu menatap saya dengan mata yang teduh namun menyimpan misteri. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa pertanyaan saya adalah sesuatu yang amat jenaka.
”Bulan dan matahari itu tidak pernah menyatu,” jawabnya tenang. “Mereka punya orbitnya masing-masing.”
Saya mengernyitkan dahi. Dahiku berkerut dalam, mencoba mencari korelasi antara laptop, gawai, dan benda-benda langit. “Maaf, Pak? Apa hubungannya dengan laptop?”
Dia tidak langsung menjawab. Dia menuangkan teh hangat dari teko tanah liat ke dalam dua cangkir kaleng yang sudah mengelupas catnya. Aroma sepet teh tubruk langsung menguar, membelah keheningan malam.
”Gula dan teh bisa larut,” lanjutnya sambil menyodorkan secangkir kepada saya. “Tetapi teh tetaplah teh. Hanya rasanya yang berbeda; bisa manis, pahit, sepet, atau kurang manis. Tergantung bagaimana takarannya. Tetapi esensinya tidak pernah berubah menjadi gula, bukan?”
Makna di Balik Jawaban yang “Tak Nyambung”
Saya terdiam, memutar otak. Jawaban itu terdengar sangat tidak menyambung dengan pertanyaan saya yang pragmatis tentang kenyamanan menulis. Namun, perlahan-lahan, seperti teh yang pekat dalam cangkir saya, makna dari kata-katanya mulai mengendap ke dasar kesadaran.
Lelaki tua ini sedang tidak berbicara tentang spesifikasi perangkat keras atau efisiensi kerja. Dia sedang berbicara tentang hakikat eksistensi dan konsistensi diri.
”Bulan dan matahari tidak menyatu karena ada orbitnya masing-masing.”
Bagi sang penulis tua, gawai pipih dan laptop adalah bulan dan matahari dalam semesta kreatifnya. Laptop mungkin adalah matahari yang silau, megah, dan menjadi standar bagi semua penulis modern. Gawai adalah bulan kecil yang redup, yang ia miliki hari ini. Namun, keduanya berada pada orbit yang berbeda dan tidak perlu dipaksakan untuk menyatu dalam hidupnya.
Alat hanyalah alat. Orbit sang penulis bukanlah pada kemewahan alat, melainkan pada proses penciptaan itu sendiri. Dia tidak membutuhkan matahari buatan manusia berbentuk laptop jika bulan kecil di tangannya sudah cukup untuk menerangi jalan pikirannya.
Lalu tentang teh dan gula. Saya menyeruput teh sepet tanpa gula yang disajikannya. Pahit, namun jujur.Dia ingin mengatakan bahwa tulisan adalah teh, sedangkan media—baik itu laptop mahal, kertas loak, atau layar ponsel retak—hanyalah gula. Gula bisa larut ke dalam teh, memberikan sensasi manis, atau absen sama sekali dan meninggalkan rasa sepet yang pekat.
Namun, gawai atau laptop tidak akan pernah mengubah esensi dari apa yang ditulis. Menulis dengan laptop bisa jadi terasa “manis” karena kemudahannya, dan menulis dengan ponsel terasa “sepet” karena keterbatasannya. Namun, jiwanya tetaplah sama. Teh tetaplah teh. Rasa tulisan itu ditentukan oleh kedalaman hati penulisnya, bukan oleh merek perangkat elektronik yang digunakannya.
Semesta di Balik Layar Pipih
Lelaki tua itu kembali mengambil ponselnya. Layarnya menyala, menerangi wajahnya yang penuh guratan pengalaman hidup. Di dalam benda pipih yang sempit itu, dia tidak melihat keterbatasan. Hatinya yang luas telah mengubah layar lima inci itu menjadi samudra tanpa tepi.
Dia tidak membutuhkan layar monitor yang lebar untuk melihat dunia, karena matanya telah merekam setiap jengkal penderitaan dan kebahagiaan manusia. Dia tidak membutuhkan papan ketik yang empuk, karena jemarinya digerakkan oleh denyut nadi kehidupan yang jujur.
Saya pamit ketika malam semakin larut. Berjalan meninggalkan teras rumahnya, saya menoleh ke belakang sekilas. Di sana, di bawah temaram lampu pijar, sang penulis tua masih setia pada orbitnya. Mengetik perlahan, melarutkan rasa manis dan pahit kehidupan ke dalam teh tulisannya, membuktikan bahwa keluasan hati seorang manusia tidak akan pernah bisa dipenjara oleh sempitnya sebuah layar gawai.






