
Oleh Awang Budiman, Mahasiswa Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Dalam historiografi kolonial posisi pribumi dalam narasi sejarah sering diposisikan sebagai objek sejarah yang pasif, sementara penjajah sebagai pelaku utama yang menentukan arah perubahan sosial dan politik. Melalui karya sastra, perspektif tersebut dapat dipertanyakan kembali dengan melihat bagaimana tokoh-tokoh pribumi direpresentasikan sebagai individu yang memiliki kemampuan bertindak dan menentukan nasibnya sendiri. Hal ini tercermin pada novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis, yang menghadirkan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa Revolusi Kemerdekaan. Penokohan pribumi yang ditampilkan memperlihatkan proses transformasi dari kelompok subaltern yang terpinggirkan menuju subjek sejarah yang memiliki kemampuan menentukan jalannya sejarah.
Gayatri Spivak menjelaskan kelompok subaltern adalah kelompok yang suaranya tidak memperoleh ruang dalam struktur kekuasaan dominan. Mereka hadir dalam sejarah, namun sering kali tidak memiliki kesempatan untuk mendefinisikan diri dan pengalaman mereka sendiri. Dalam konteks novel Jalan Tak Ada Ujung Tokoh Guru Isa dapat dipahami sebagai representasi subaltern tersebut. Ia adalah seorang guru biasa yang hidup di tengah kekacauan revolusi. Guru Isa tidak memiliki kekuasaan politik maupun militer yang memungkinkannya menentukan arah peristiwa. Ia lebih sering menjadi korban dari berbagai perubahan yang terjadi di sekitarnya. Rasa takut yang terus menghantuinya menunjukkan bagaimana kolonialisme telah meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Ketakutan Guru Isa mencerminkan posisi masyarakat pribumi yang selama berabad-abad ditempatkan dalam struktur subordinasi kolonial. Meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan, warisan mental kolonial masih membentuk cara pandang dan perilaku individu.
Sedangkan Homi Bhabha berpendapat mengenai Agensi yaitu kemampuan kelompok terjajah untuk menciptakan ruang perlawanan melalui tindakan-tindakan. Agensi menunjukkan bahwa kelompok terjajah bukanlah pihak yang sepenuhnya pasif, melainkan memiliki kapasitas untuk bertindak dan mengubah situasi yang dihadapinya. Dalam konteks novel ini direpresentasikan pada tokoh Hazil. Sebagai pemuda revolusioner, Hazil mengambil peran aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia tidak menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Sebaliknya, ia memilih untuk terlibat dalam gerakan perlawanan dan mengambil risiko demi cita-cita kemerdekaan.
Melalui Hazil, Mochtar Lubis memperlihatkan bahwa pribumi bukan sekadar objek yang menerima dampak kolonialisme. Mereka juga merupakan aktor yang berupaya menentukan arah sejarah bangsanya sendiri. Keberanian Hazil menjadi bentuk penolakan terhadap citra kolonial yang sering menggambarkan pribumi sebagai masyarakat yang pasif, irasional, dan tidak mampu mengatur dirinya sendiri. Dengan demikian, Hazil merepresentasikan munculnya subjek postkolonial yang memiliki kesadaran politik dan kemampuan bertindak. Ia menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan merupakan hasil tindakan aktif masyarakat pribumi, bukan sekadar akibat perubahan politik global.
Konsep hibriditas juga dikemukakan oleh Homi Bhabha. Ia berpendapat kolonialisme menghasilkan identitas yang tidak sepenuhnya kolonial maupun sepenuhnya pribumi. Identitas tersebut terbentuk melalui pertemuan berbagai budaya, nilai, dan pengalaman yang saling berinteraksi. Konsep hibriditas dapat ditemukan pada karakter Guru Isa. Sebagai seorang guru yang memperoleh pendidikan modern, ia berada di antara berbagai pengaruh budaya. Di satu sisi, ia hidup dalam masyarakat Indonesia yang sedang memperjuangkan identitas nasional. Di sisi lain, pengalaman kolonial telah membentuk cara berpikir dan perilakunya. Kondisi ini menciptakan krisis identitas yang membuat Guru Isa sulit menentukan posisinya dalam revolusi. Ia tidak sepenuhnya menjadi pejuang revolusioner seperti Hazil, tetapi juga tidak lagi berada dalam posisi masyarakat kolonial yang tunduk pada kekuasaan penjajah. Posisi “di antara” tersebut merupakan bentuk hibriditas yang banyak ditemukan dalam masyarakat pascakolonial. Melalui karakter Guru Isa, Mochtar Lubis menunjukkan bahwa proses menjadi pelaku sejarah tidak berlangsung secara sederhana. Individu harus terlebih dahulu berhadapan dengan konflik identitas yang merupakan warisan dari pengalaman kolonial.
Jika dilihat secara keseluruhan, Jalan Tak Ada Ujung tidak menempatkan pribumi semata-mata sebagai objek sejarah. Novel ini justru memperlihatkan proses perubahan dari posisi objek menuju posisi subjek sejarah. Pada awal cerita, Guru Isa digambarkan sebagai individu yang pasif dan terjebak dalam ketakutan. Namun, perkembangan karakter yang dialaminya menunjukkan upaya untuk keluar dari kondisi tersebut. Perubahan itu menunjukkan bahwa dekolonisasi bukan hanya proses politik, melainkan juga proses psikologis. Kemerdekaan sejati tidak hanya berarti berakhirnya penjajahan secara formal, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk membebaskan diri dari rasa inferior dan ketidakberdayaan yang diwariskan kolonialisme. Dalam perspektif postkolonial, transformasi Guru Isa merupakan bentuk peralihan dari subaltern menuju subjek sejarah. Sementara itu, Hazil merepresentasikan subjek sejarah yang telah memiliki kesadaran politik dan kemampuan bertindak secara penuh. Kedua tokoh tersebut menunjukkan tahapan yang berbeda dalam proses dekolonisasi masyarakat Indonesia.
Melalui perspektif postkolonial, novel Jalan Tak Ada Ujung memperlihatkan bahwa masyarakat pribumi tidak dapat dipahami hanya sebagai objek sejarah. Tokoh Guru Isa merepresentasikan posisi subaltern yang masih dibayangi trauma kolonial, sedangkan Hazil menunjukkan munculnya agensi sebagai bentuk perlawanan terhadap warisan kolonial. Selain itu, krisis identitas yang dialami tokoh-tokohnya mencerminkan kondisi hibriditas yang menjadi ciri masyarakat pascakolonial. Dengan demikian, novel ini menggambarkan proses transformasi masyarakat Indonesia dari kelompok yang dibungkam dan dimarginalkan menjadi pelaku sejarah yang mampu menentukan masa depannya sendiri. Dalam konteks kajian sastra postkolonial, Jalan Tak Ada Ujung merupakan narasi penting yang mengembalikan posisi pribumi sebagai subjek utama dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.



