
Don Bosco Doho, Dosen Logika dan Filsafat Ilmu LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta
Ada ironi menarik yang belakangan mengemuka di industri teknologi paling mutakhir sekalipun Dimana perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) papan atas dunia justru berebut merekrut lulusan filsafat, bukan hanya insinyur perangkat lunak. DeepMind dikabarkan mempekerjakan puluhan lulusan filsafat, Anthropic merekrut sejumlah filsuf untuk membantu merumuskan kerangka etika modelnya, dan IBM menempatkan seorang filsuf sebagai kepala unit AI yang bertanggung jawab (Responsible AI). Fenomena ini menegaskan satu hal yang sesungguhnya sudah lama diyakini para pemikir humaniora namun kerap diabaikan dunia praktis karena filsafat bukan kemewahan intelektual yang bisa ditinggalkan begitu saja saat teknologi maju, melainkan justru fondasi yang makin dibutuhkan ketika teknologi itu sendiri menyentuh wilayah paling mendasar dari kemanusiaan yaitu penalaran, nilai, dan kebenaran.
Mengapa Perusahaan Teknologi Berpaling ke Filsafat
Selama bertahun-tahun, narasi populer menempatkan lulusan humaniora, termasuk filsafat, sebagai kelompok yang paling rentan tergerus otomatisasi. Namun data terbaru justru menunjukkan pola sebaliknya. Ada fakta bahwa lulusan filsafat di Amerika Serikat kini memiliki tingkat pengangguran yang jauh lebih rendah dibandingkan lulusan ilmu komputer, sementara sejumlah lulusan ilmu komputer justru mulai cemas pekerjaan mereka diambil alih mesin yang mereka ciptakan sendiri. Penjelasannya bukan kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari sifat model AI generatif itu sendiri ketika model-model ini rentan berhalusinasi, cenderung menjilat (sycophancy) demi menyenangkan pengguna, dan kesulitan membedakan jawaban yang benar dari jawaban yang sekadar terdengar meyakinkan. Justru di titik inilah metode berpikir yang selama ini dilatih dalam pendidikan filsafat dengan kejelasan argumen, kejujuran terhadap ketidaktahuan, dan kemampuan menguji validitas sebuah klaim menjadi keahlian yang secara langsung relevan untuk memperbaiki kualitas model AI.
Salah satu pendekatan yang kini banyak diadaptasi adalah metode Sokratik. Prinsip ketidaktahuan Sokrates—sikap epistemik yang mengakui batas pengetahuan diri sendiri, sebagaimana digambarkan Plato dalam Apology ternyata membuat model AI yang dilatih dengan pendekatan ini lebih bersedia mengejar kebenaran daripada sekadar menyenangkan penggunanya, dan lebih mampu membatasi sikap terlalu percaya diri. Ini bukan sekadar teknik pelatihan data, melainkan penerapan langsung disposisi epistemologis yang sudah diperdebatkan filsafat sejak lebih dari dua ribu tahun lalu.
Filsafat sebagai Laboratorium Moral
Ilmu filsafat, dalam konteks ini, berfungsi sebagai semacam laboratorium moral bagi pengembangan model AI. Filsuf tidak hanya berdebat tentang kesadaran mesin atau status ontologis kecerdasan buatan melainkan perdebatan yang memang penting namun jauh dari selesai. Filsafat juga menyangkut pekerjaan sehari-hari yang jauh lebih mendasar seperti bagaimana nilai-nilai berdampak besar pada manusia, mulai dari keadilan hingga perilaku model, disusun dan diuji secara sistematis. Pekerjaan semacam ini menuntut ketelitian berpikir yang justru menjadi inti keahlian filsafat: mengurai pertanyaan besar menjadi pertanyaan-pertanyaan kecil yang jauh lebih tajam, alih-alih membiarkan konsep besar mengambang tanpa definisi yang jelas.
Contoh konkretnya terlihat pada penyusunan dokumen prinsip etika bagi model AI, semacam “konstitusi” yang menjadi panduan moral bagi puluhan ribu keputusan yang harus diambil model dalam interaksi hariannya. Dokumen semacam ini mengharuskan penyusunnya berpikir dalam beragam sumber etika sekaligus mulai dari etika deontologis Immanuel Kant, konsekuensialisme, hingga Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan mempertimbangkan bagaimana kerangka-kerangka etika yang kadang saling bertentangan itu dipadukan secara koheren tanpa membebani model dengan kerugian atau risiko kecelakaan yang tak terhindarkan. Ini pekerjaan filosofis dalam pengertian paling ketat: bukan spekulasi abstrak, melainkan penerapan penalaran etis pada persoalan yang sangat konkret dan bertaruh nyata bagi manusia.
Kekhawatiran yang Tidak Boleh Diabaikan
Meski demikian, masuknya filsafat ke laboratorium AI bukan tanpa kritik yang perlu direnungkan bersama. Ada kekhawatiran bahwa filsafat yang dilibatkan justru berisiko dipakai sekadar sebagai alat kehumasan perusahaan teknologi, sekadar cara membangun citra bahwa perusahaan mengambil etika secara serius, tanpa benar-benar menyerahkan wewenang pengambilan keputusan penting kepada pertimbangan etis tersebut. Ada pula kekhawatiran lebih mendasar seperti apakah masukan filsuf benar-benar dipertimbangkan secara substantif dalam keputusan bisnis, ataukah filsafat hanya menjadi pemanis argumentasi ketika kepentingan komersial tetap menjadi penentu akhir arah pengembangan teknologi.
Kekhawatiran ini penting justru karena ia menegaskan mengapa kehadiran filsafat tidak boleh direduksi menjadi sekadar fungsi teknis atau kosmetik. Filsafat harus hadir sebagai suara kritis yang independen, yang berani mempertanyakan asumsi mendasar di balik keputusan teknologi, bukan sekadar melegitimasi keputusan yang sudah diambil sebelumnya atas dasar pertimbangan komersial semata.
Filsafat sebagai Pengaya Kemanusiaan
Pada akhirnya, fenomena perekrutan filsuf oleh perusahaan-perusahaan AI paling mutakhir di dunia mengonfirmasi sesuatu yang telah lama diyakini para pemikir humaniora: filsafat bukanlah disiplin yang berdiri terpisah dari persoalan praktis zaman, melainkan justru menjadi semakin relevan tepat ketika zaman menghadapi persoalan paling mendasar tentang apa artinya berpikir, bernalar, dan bertindak secara bermoral. Ketika mesin kini mampu meniru sebagian kemampuan berbahasa dan bernalar manusia, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menjadi wilayah filsafat seperti apa itu kesadaran, apa itu kebenaran, apa dasar kewajiban moral kita terhadap sesame bukan menjadi usang, malah menjadi semakin mendesak untuk dijawab dengan ketelitian yang hanya bisa diberikan oleh disiplin berpikir filosofis.
Fenomena ini semestinya menjadi pengingat penting, khususnya bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, agar tidak gegabah memandang filsafat sebagai disiplin yang kurang berguna secara praktis dibandingkan ilmu komputer atau teknik. Justru sebaliknya: semakin canggih teknologi yang kita ciptakan, semakin besar kebutuhan akan manusia yang terlatih berpikir jernih, jujur pada ketidaktahuannya sendiri, dan mampu menimbang nilai secara matang. Filsafat, dengan demikian, bukan sekadar bertahan di tengah revolusi AI, melainkan menjadi salah satu disiplin yang paling berperan memperkaya dan menjaga kemanusiaan kita di tengah pusaran perubahan teknologi yang begitu cepat.
——————————
Referensi
Sarwindaningrum, I. (2026, Juni). Bukan Ahli Koding, AI Butuh Ahli Filsafat. Kompas.
Plato. Apology (terjemahan berbagai edisi).
Floridi, L. (2019). The Logic of Information: A Theory of Philosophy as Conceptual Design. Oxford University Press.
Anthropic. (2023). Claude’s Constitution. https://www.anthropic.com/news/claudes-constitution
Askell, A., et al. (2021). A General Language Assistant as a Laboratory for Alignment. arXiv preprint.
Kant, I. Groundwork of the Metaphysics of Morals (terjemahan berbagai edisi).
Perserikatan Bangsa-Bangsa. (1948). Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.


