Oleh Agus Widjajanto
Dalam perspektif agama, hampir seluruh ajaran besar di dunia secara dogmatis mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Manusia didorong untuk hidup dengan penuh kasih, menghormati sesama, menaati hukum yang berlaku di dunia, serta meyakini adanya pertanggungjawaban moral atas setiap perbuatan, baik dalam bentuk pahala, karma, maupun kehidupan setelah kematian sesuai keyakinan masing-masing.
Artinya, agama pada hakikatnya tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengenai hubungan antarmanusia. Nilai kasih sayang, tolong-menolong, keadilan, serta penghormatan terhadap martabat manusia merupakan inti ajaran yang selalu diulang dalam berbagai tradisi keagamaan.
Namun, realitas sosial sering kali memperlihatkan wajah yang berbeda. Selama puluhan tahun, masyarakat di berbagai negara juga dibentuk oleh narasi politik global yang membelah dunia ke dalam berbagai ideologi. Demokrasi Barat, misalnya, selama era Perang Dingin banyak membangun persepsi bahwa komunisme atau sosialisme merupakan sistem yang kejam, antiagama, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Pada saat yang sama, perebutan pengaruh antarideologi lebih sering diarahkan kepada kepentingan kekuasaan daripada pencarian nilai-nilai universal tentang kemanusiaan.
Indonesia sendiri dikenal sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila. Selain itu, kehidupan masyarakatnya juga tumbuh bersama agama-agama besar seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Seluruh agama tersebut mengajarkan pentingnya berbagi, mengasihi, serta membantu sesama manusia.
Ironisnya, dalam kehidupan sehari-hari, nilai kemanusiaan yang beradab sering kali justru terasa semakin memudar. Yang menguat bukan semangat gotong royong, melainkan individualisme. Setiap orang cenderung sibuk mengejar kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongannya sendiri. Egoisme sosial perlahan menggantikan solidaritas.
Padahal, sila kedua Pancasila berbunyi, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Sila tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan fondasi moral bangsa Indonesia. Ketika rasa kemanusiaan mulai luntur, maka sesungguhnya yang memudar bukan hanya hubungan sosial antarmanusia, tetapi juga jati diri bangsa itu sendiri.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa nilai kemanusiaan dapat terkikis meskipun masyarakat hidup dalam lingkungan yang sangat religius. Dalam banyak kasus, formalitas moral justru lebih menonjol dibanding substansi ajaran agama.
Masyarakat menjadi lebih sibuk menjaga simbol, ritual, identitas, maupun hukum-hukum lahiriah daripada memahami makna kasih sayang terhadap sesama. Tidak sedikit pula eksklusivitas kelompok keagamaan yang kemudian disalahgunakan untuk membedakan mana kelompok yang dianggap suci dan mana yang dianggap berada di luar lingkaran. Akibatnya, empati menjadi terbatas hanya kepada kelompok sendiri.
Dalam kajian sosiologi, fenomena semacam ini dikenal sebagai perbandingan antara moralitas berbasis teologi dan moralitas sekuler atau humanistik. Perbedaannya bukan terletak pada benar atau salah suatu sistem, melainkan pada orientasi praktik moral yang berkembang di dalam masyarakat.
Di sejumlah negara yang lebih sekuler atau bahkan memiliki sejarah sosialisme, etika sosial terkadang tampak lebih merata dalam praktik sehari-hari. Semangat gotong royong, pelayanan publik, disiplin sosial, dan kepedulian terhadap sesama dapat tumbuh karena ukuran kebaikan lebih banyak dinilai dari manfaat nyata bagi manusia yang hidup saat ini.
Sementara itu, dalam sebagian masyarakat yang sangat berorientasi pada otoritas keagamaan, perhatian kadang lebih banyak terserap pada kepatuhan terhadap ritual, simbol, dan institusi kelompok daripada pada penguatan kepedulian sosial. Hal ini tentu bukan kesalahan agama, melainkan cara manusia mempraktikkan ajaran agama itu sendiri.
Ketika empati hanya berlaku kepada kelompok yang memiliki keyakinan sama, maka rasa kemanusiaan kehilangan sifat universalnya. Padahal, penderitaan manusia tidak pernah bertanya tentang agama, ras, suku, ataupun kewarganegaraan.
Kemanusiaan seharusnya hadir sebelum segala identitas itu berbicara. Sebuah pengalaman sederhana dapat menjadi contoh bagaimana nilai kemanusiaan melampaui sekat-sekat tersebut.
Seorang mahasiswa asal Indonesia pernah memperoleh kesempatan belajar di sebuah akademi akupunktur di Surabaya yang dibimbing oleh seorang profesor dari Tiongkok. Profesor tersebut berasal dari Kota Xi’an, ibu kota Provinsi Shaanxi, salah satu kota tertua dalam sejarah peradaban Tiongkok sekaligus titik awal Jalur Sutra yang memiliki sejarah lebih dari 3.100 tahun dan pernah menjadi ibu kota bagi 13 dinasti.
Profesor tersebut tidak hanya mengajarkan teori mengenai akupunktur, anatomi, maupun akupotomi, tetapi juga membuka pintu bagi mahasiswa Indonesia itu untuk tinggal, belajar, dan menjalani magang di rumah sakit di Kota Xi’an.
Hubungan mereka tidak dilandasi ikatan keluarga, kepentingan politik, ataupun keuntungan bisnis. Yang menjadi landasan hanyalah satu hal: rasa kemanusiaan.
Sang profesor memiliki keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus diwariskan agar memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Ia berharap ilmu yang diajarkan dapat berkembang di Indonesia dan kelak menjadi sarana membantu masyarakat Indonesia memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Sesudah kembali ke tanah air, mahasiswa tersebut membuka praktik akupunktur di sebuah kota kecil di Pulau Jawa. Ia tetap menjalin komunikasi dengan komunitas ilmiah internasional dan terus memperbarui pengetahuannya demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
Hubungan itu bahkan terus berkembang. Murid-murid dan keluarga Profesor Jian tetap membangun komunikasi akademik dengan praktisi Indonesia tersebut melalui organisasi akupunktur dunia yang berpusat di Beijing. Hubungan yang terjalin adalah hubungan keilmuan, saling berbagi pengalaman, dan pengembangan metode pengobatan modern demi kepentingan kemanusiaan.
Rencananya, Prof. Fu Zhong Gua, MD, Ph.D., penemu metode Floating Needle Therapy (FSN) sekaligus Presiden FSN Beijing, bersama Prof. Yu Yan Fang juga akan datang ke Indonesia untuk berbagi ilmu, memberikan pelatihan, serta memperluas wawasan para akupunkturis Indonesia. Tujuan utamanya bukan semata-mata pertukaran akademik, melainkan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia.
Karena pada akhirnya, kesehatan masyarakat merupakan fondasi penting bagi terwujudnya kesejahteraan bangsa. Pengalaman tersebut menghadirkan sebuah perenungan.
Kadang-kadang kita merasa malu ketika menyadari bahwa bangsa yang selalu mengaku menjunjung tinggi Pancasila dan agama justru belum sepenuhnya mampu menghadirkan rasa kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, masyarakat dari negara yang selama ini sering dicap sebagai negara berhaluan sosialis dan dianggap tidak beragama justru mampu menunjukkan kepedulian yang tulus kepada manusia lain tanpa mempersoalkan perbedaan bangsa, ras, maupun agama.
Sejarah Kota Xi’an sendiri menunjukkan fakta menarik. Kota tersebut memiliki komunitas Muslim yang telah hidup selama berabad-abad dan dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam tertua di Tiongkok. Keberadaan Masjid Agung Xi’an menjadi bukti bahwa keberagaman agama dapat tumbuh berdampingan dalam perjalanan sejarah yang panjang. Fakta ini menunjukkan bahwa berbagai doktrin politik yang berkembang selama ini tidak selalu sepenuhnya sejalan dengan realitas sosial di lapangan.
Tulisan ini tentu bukan dimaksudkan untuk membenarkan ataupun mempromosikan ideologi politik tertentu. Indonesia tetap memiliki pilihan ideologinya sendiri, yaitu Pancasila sebagai dasar negara. Yang hendak ditegaskan adalah bahwa nilai kemanusiaan merupakan milik seluruh umat manusia. Ia tidak mengenal batas negara, warna kulit, ras, agama, ataupun sistem politik. Di mana pun seseorang hidup, ketika ia mampu membantu orang lain tanpa pamrih, menghormati martabat sesama, serta membagikan ilmu demi kehidupan yang lebih baik, di situlah nilai kemanusiaan menemukan makna sejatinya.
Pada akhirnya, panggilan kemanusiaan adalah panggilan jiwa. Ia tidak lahir karena kesamaan identitas, melainkan karena kesadaran bahwa seluruh manusia hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama, dan memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk saling menolong. Itulah esensi kemanusiaan yang sesungguhnya, sekaligus nilai yang semestinya terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan dalam pergaulan masyarakat dunia.
—————————-
*Penulis adalah pemerhati sosial, budaya, dan sejarah.



