Neno Maria Yosefina, SSpS, “Kisah Misionaris asal Timor di Negeri Sri Paus”

0
426
Suster Neno sedang belajar bersama anak-anak TK di rumah anak milik kongregasi SSpS di Polandia. (Foto-foto: Istimewa)

Saat diutus ke Polandia, Suster Neno Maria Yosefina SSpS, terdiam. Sempat muncul pertanyaan dalam hati, apakah Polandia negara misinya. Pertanyaan berkelebat dalam dinding memori kepala.

PADAHAL, dalam formasi awal Suster Neno -sapaan akrab Suster Neno Maria Yosefina SSpS- dan para calon lainnya sudah dibekali sejarah, visi, dan misi kongregasi sehingga ia sendiri enjoy mau menjadi misionaris di luar negeri. Ia baru tahu saat menerima kabar dari Provinsial SSpS Timor Suster Kristin Maria Nahak, SSpS bahwa Suster General dan para anggota Dewan General mengutusnya ke Polandia. Saat itu, ia hanya terdiam. Perasaannya campur aduk: menolak, bersyukur, sedih bahkan merasa tidak sanggup. “Jika itu kehendak Tuhan, saya terima,” kata Suster Neno di hadapan suster provinsial.

Suster Neno sedang belajar bersama anak-anak TK di rumah anak milik kongregasi SSpS di Polandia. (Foto-foto: Istimewa)

Kehendak Tuhan terjadi. Saat ini Suster Neno bertugas di sebuah rumah untuk anak di Polandia, negeri mendiang Santo Paus Yohanes Paulus II. Rumah ini merupakan salah satu unit kerasulan kongregasi. Pengaruh rezim komunis yang kuat di masa lalu menyulitkan para suster dan kongregasi membangun unit kerja sendiri seperti sekolah dan rumah sakit untuk karya sosial. Pilihannya, hanya rumah untuk anak. “Rumah ini menjadi tempat penitipan anak dari keluarga pecandu alkohol, broken home, dan kurang mampu untuk belajar. Setiap hari mereka datang untuk dibantu menyelesaikan pekerjaan rumah dan menyiapkan materi baru untuk keesokan harinya,” kata Suster Neno saat dihubungi melalui surat elektronik (e-mail) dari Polandia, beberapa waktu lalu.

Tertarik

Menurut Suster Neno, ia mulai tertarik menjadi biarawati saat duduk di bangku sekolah menengah pertama di Mamsena, Keuskupan Atambua. Saat itu ia senang dan bangga melihat suster-suster yang mengenakan pakaian putih-putih. “Seingat saya saat itu ada aksi panggilan. Hanya saja saya juga tidak tahu apa kongregasi mereka. Saya berpikir mungkin mereka itu suster SSpS karena di Kiupukan ada komunitasnya. Apalagi, jarak Kiupukan dengan rumah kami di Sekon sekitar 7 kilo meter,” ujar Suster Neno mengenang.

Seiring perjalanan waktu ketertarikan menjadi suster selalu muncul. Tapi tak pernah terlintas kelak menjadi misionaris. Pikirannya hanya jadi suster. Ketertarikan itu kian terbuka saat ia sekolah di SMA St Joseph Dili, Timor Leste. Saat itu para siswa SMA St Joseph juga belajar bersama frater-frater. Kebetulan letak biara susteran di depan sekolah sehingga dengan mudah melihat kegiatan harian para suster. Dari sinilah ia makin tertarik.

Suster Neno pun meminta ijin orangtuanya untuk tinggal di Asrama Susteran Canosian, Dili. Ia pamit pada saudaranya untuk tinggal di asrama. Cuma, sang ayah khawatir jangan sampai Neno malah memantapkan keinginannya jadi suster. “Di asrama engkau hanya ikut pembinaan menjadi sahabat Magdalena De Cannosa. Bukan pembinaan untuk calon suster,” kata Suster Neno menirukan ayahnya. Peringatan sang ayah bagi Neno beralasan. Ibu asrama juga setuju. Saat itu, menurutnya, Roh Kudus membimbing dirinya dalam mewujudkan impiannya itu.

Mulanya, ia melamar ke Provinsi SSpS Timor dengan bantuan para suster SSpS di komunitas Kiupukan. Pada 17 Juli 1995, ia bersama sekitar 34 calon memulai masa aspiran selama setahun di Besikama, Keuskupan Atambua. Setahun kemudian ia menjalani masa postulan dan dua tahun masa novisiat di Halilulik. Ia lalu menjalani masa praktek novisiat selama enam bulan di Lahurus, Atambua. “Sesudah itu baru memutuskan bergabung bersama suster-suster dalam Kaul Pertama pada 2 Juli 1999 di Halilulik. Tugas pertama saya itu membantu Provinsial SSpS Timor di Atambua sebagai sekretaris provinsial. Tugas ini saya jalani selama setahun. Tahun kedua saya memulai tahun yuniorat di Kiupukan,” kata Suster Neno, biarawati kelahiran, Sekon, TTU tanggal 27 Maret 1973 ini.

Sesudah itu ia diutus studi komunikasi di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang sambil membantu administrasi komunitas. Setelah tamat, ia memulai masa probasi di Hokeng, Flores Timur, Keuskupan Larantuka. Selanjutnya, menjalani masa persiapan sebagai misionaris di Provinsi SSpS Jawa. “Saya probasi di Hokeng bersama delapan suster lainnya. Saat probasi kami harus mengajukan lagi permohonan untuk misi di tiga negara di mana ada karya kongregasi,” ujar Suster Neno.

Menurutnya, Polandia merupakan pilihan kedua selain Amerika Serikat dan Inggris. “Saya tidak punyai gambaran tentang Polandia. Dalam benak hanya terpikir bahwa Paus Yohanes Paulus II itu orang Polandia. Begitu juga sosok Santa Faustina Kowalska yang berjumpa dengan Tuhan Yesus beserta Doa Koronka (Kerahiman Ilahi) setiap jam tiga,” jelas Suster Neno.

Suster Neno sedang belajar bersama anak-anak TK di rumah anak milik kongregasi SSpS di Polandia. (Foto-foto: Istimewa)

Setelah Kaul Kekal dan persiapan sebelum terbang ke Polandia, Suster Neno mengikuti kursus singkat selama sebulan di Batu, Malang, Jawa Timur. Kursus ini untuk menambah pengetahuan yang sudah dimulai sejak bergabung dengan SSpS. Kursus itu juga ada sharing pengalaman para suster yang pernah bertugas di negara tujuan. “Selesai dari Batu, saya menuju Irlandia sebelum ke Polandia. Di Irlandia saya tinggal selama setahun lebih untuk belajar Bahasa Inggris.” jelas Suster Neno, anak ketujuh dari delapan bersaudara pasangan petani kecil Dominikus Ele dan Maria Nese.

Murah hati

Dalam menunaikan tugas-tugas di rumah khusus anak-anak di Polandia, Suster Neno merasakan kebaikan hati umat. Umumnya, orang Polandia juga murah hati pada gereja. Mereka tak segan menyumbang atau membantu. Mereka terbuka pada misionaris asing. Kesan ini ia tangkap saat menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan. Atau saat bersama rombongan umat ziarah ke tempat-tempat suci dan bersejarah. “Mereka bangga karena ternyata jendela telah terbuka bagi Polandia dengan hadirnya misionaris asing. Bukan hanya orang Polandia menjadi misionaris di negara lain,” katanya. Saat ini di Polandia baru ada tiga misionaris asing asal Indonesia. Dua orang suster SSpS dan seorang lagi dari Kongregasi Santa Birgita dengan rumah pusat di Italia.

Umat Polandia juga sangat antusias dan menerima kalau misionaris asing berbicara dalam bahasa setempat. Kebaikan hati umat juga dialami dalam sharing bersama. “Saya pernah hadir dalam doa malam di Santuarium Black Madona di Częstochowa. Saya diminta sharing pengalaman. Saya sedikit gugup karena ditayangkan TVTRAM dan ditonton masyarakat Polandia. Stasiun televisi Katolik ini milik pastor Redemptoris,” katanya.

Selain itu, dalam menunaikan tugas di rumah khusus anak-anak, ia tetap menjaga relasi yang harmonis agar anak-anak merasa senang. Anak-anak pun kerap menyapa ia suster coklat karena warna kulitnya. Namun, hal itu tak membuatnya tersinggung. Ia hanya mengatakan, kalau coklat pasti enak. “Saya kadang guyon. ‘Kamu itu putih jadi bisa diminum seperti susu.’ Akhirnya, kami semua tertawa. Inilah suasana yang sengaja kami hadirkan untuk menumbuhkan saling percaya dan menghargai satu sama lain,” jelas Suster Neno, yang memilih motto Kaul Tinggallah Dalam Kasih-Ku yang dikutip dari Injil Yohanes, 15:9.

Kini, Suster Neno makin menyadari arti panggilannya bahwa semua itu untuk Tuhan. Tatkala mengalami kesulitan dalam pelayanan, ia berserah dalam doa di hadapan Sakramen Maha Kudus. Tak lupa, ia sharing dengan pimpinan dan rekan-rekannya agar membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi. “Saya melakukan devosi kepada Santu Yosef pelindung saya dan novena khusus Kerahiman Allah agar tetap merasa sanggup di hadapan Tuhan,” ujarnya.

Ansel Deri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here