Para Perantau NTT Harus Dipersiapkan

Diskusi terbatas yang digelar di Saint Mary’s College Jakarta yang digagas oleh kelompok studi “Ende Bergerak”

BERANDANEGERI.COM,– Fenomena migrasi dan perantauan menjadi pengalaman sehari-hari manusia saat ini dan bahan pemberitaan bagi media di mana saja. Merantau sebagai pergi dan meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan pengalaman yang lebih kaya adalah hal yang lumrah dalam kehidupan seorang anak manusia.

Masalah muncul ketika ada dampak negatif dari perantauan, bahkan ada korban nyawa dari para perantau. Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu daerah yang terkenal banyak menghasilkan perantau. Berita terakhir yang menyedihkan adalah bahwa pemerintah memulangkan 459 WNI dari berbagai tahanan imigrasi Malaysia. Atau, selama 11 bulan, 106 TKI ilegal asal NTT meninggal di Malaysia (kompas.com).

Berbagai kalangan yang peduli pada migran dan perantauan sepakat untuk melihat lebih jernih masalah TKI, terutama yang berasal dari NTT ini. Semua pihak sepakat bahwa para perantau asal NTT harus dibekali dengan berbagai persiapan sebelum meninggalkan kampung halaman.

Demikian kesimpulan fokus diskusi terbatas yang digelar di Saint Mary’s College Jakarta yang digagas oleh kelompok studi “Ende Bergerak”. Adapun pembicara yang hadir terdiri dari Direktur PADMA Gabriel Sola, Ketua Komisi Migran dan Perantauan Keuskupan Agung Ende (KAE) RD Eduardus Radja Para, Ketua Yayasan Saint Mary M Hanafi, Praktisi Bisnis dan Manajemen SDM Thobias Djaji, serta beberapa tokoh muda lain asal NTT.

RD Edu mengaku, hampir setiap minggu ada laporan bahwa ada TKI asal NTT yang meninggal di luar negeri, terutama di Malaysia. Hal ini memprihatikan banyak kalangan.

“Seringkali kami kewalahan dalam pendataan. Karena, banyak yang merantau tanpa prosedur yang jelas,” kata Edu. Data perantau asal Keuskupan Agung Ende berdasarkan sensus 2015 ada sebanyak 25.368 orang dari 3 kabupaten (Ende, Nagekeo, Ngada). Dari Ende ada sekitar 12 ribu perantau. Tujuan perantau asal NTT terkonsentrasi di Malaysia, Kalimantan dan Papua. 

Pastor Edu menjelaskan, ada beragam alasan orang NTT merantau. Bisa karena alasan ekonomi dan finansial. Ada yang karena gaya hidup anak muda untuk melihat dunia yang lebih luas. Sebagian kecil perantau asal NTT, karena adanya tekanan adat di kampung halaman.

Menurut Edu, merantau mempunyai dampak positif seperti mendapatkan pekerjaan, membantu ekonomi keluarga, transfer pengetahuan dan teknologi, menjadi pewarta iman, dan lain-lain. Kendati demikian, ada dampak negatifnya juga seperti migrasi non procedural, tanpa persiapan diri, human trafficking hingga penyebaran HIV-AIDS.

Sementara itu, ada beberapa masalah di daerah perantauan yang ditemukan tim kerja RD Edu, seperti perantau yang tidak memiliki dokumen yang lengkap, kriminal, pendidikan anak-anak perantau yang tidak diperhatikan, lemahnya perlindungan hukum, pindah agama, dan adanya godaan untuk menikah lagi.

Keuskupan Agung Ende telah menggagas berbagai solusi dan jalan keluar untuk masalah ini. Komisi migran dan perantauan KAE sejak 2014 gencar melakukan sosialisasi tentang migrasi dan dampak-dampaknya. Sejak 2015 membentuk desa ramah migran. Desa Ranggatalo di kabupaten Ende menjadi contoh desa ramah migran. Pada 2016, KAE membentuk tripartit 3 keuskupan antara keuskupan asal, keuskupan transit dan keuskupan tujuan. Hal itu untuk memastikan perpindahan umat Katolik antarkeuskupan.

KAE juga membentuk paroki ramah migran yang berupaya membentuk paguyuban istri-istri migran, pendampingan terhadap anak-anak migran di asrama, pembedayaan ekonomi dengan komisi ekonomi, arisan bersama, kegiatan doa dan berbagai kegiatan kreatif dan produktif lainnya. Paroki ramah migran juga akan menajdi tempat untuk pengaduan masalah migran.

Sementara itu, pihak KAE juga mengikuti pendekatan terkini dalam sosialisasi migran, seperti menyebarkan film-film pendek tentang migran. “Kami akan menggelar pertemuan nasional tahun depan di Ende dengan mengangkat tema ‘Berpastoral di Tengah Arus Migran dan Perantauan’. Semoga ini menjadi momentum untuk terus sadar tentang fenomena migran,” jelas RD Edu.

Sementara itu, Gabriel Sola mengaku, perumusan undang-undang dan regulasi tentang TKI di Indonesia sangat memperhatikan jejaring internasional dan gereja Katolik. Komitmen Gereja Katolik pada kepedulian pada migran telah menginspirasi dunia luas.

“Kendati demikian, di Flores dan Lembata, tidak terlalu mencolok laporan ke polisi tentang TKI yang meninggal. Padahal data di lapangan sangat banyak,” jelas Gabriel.

Menurut Gabriel, setiap kali ada masalah TKI di NTT, hampir dipastikan actor intelektualnya tidak pernah ditangkap. “Ada 69 kasus tindakan pidana perdagangan orang (TPPO) di Polda NTT, tetapi kita tidak akan pernah bisa menangkap actor intelektual,” kata Gabriel.

Sejak 2016, TKI asal NTT yang meninggal jumlahnya selalu bertambah masing-masing 46 orang (2016), 62 orang (2017), 105 orang (2018) dan 114 orang (tahun ini). Kondisi ini makin diperparah oleh ketiadaan dokumen migran dan kebiasaan merantau secara illegal.

Gabriel mengungkapkan, harus ada kerja sama yang baik antara berbagai elemen seperti pemerintah dan pemerintah lokal, pemuka agama, swasta dan berbagai pihak terkait untuk mempersiapkan para perantau dengan cara yang baik.

Hal senada diungkapkan M Hanafi yang mengatakan, sebelum berangkat merantau, pembekalan semau aspek (keterampilan, moral, rohani) harus dilakukan. “Kita juga harus berpikir dengan pemberdayaan orang-orang yang tinggal di kampung. Supaya, kampung kita tidak kosong,” kata Hanafi.

Hanafi menawarkan lembaga pendidikannya, Saint Mary’s College menjadi mitra untuk KAE dan pemda di NTT dalam mempersiapkan pekerja-pekerja terampil. Saat ini, Saint Mary’s College bekerja sama dengan berbagai lembaga dan perusahaan kaliber untuk memastikan studi vokasional yang berkualitas.

Pada akhir diskusi, Koordinator Ende Bergerak, Agustinus Tetiro menambahkan, terpilihnya banyak anak muda sebagai kepala desa di NTT perlu menjadi langkah awal yang seharusnya didukung terutama untuk memastikan realisasi dana desa untuk proyek-proyek yang lebih melibatkan warga setempat sehingga ekonomi desa semakin bergairah.

“Para kepala desa muda bisa menggagas Desa Wisata ataupun jenis kegiatan ekonomi lain yang lebih kreatif dan kontekstual untuk mendukung makin banyak lapangan pekerjaan terbuka di desa-desa di NTT,” tandas Agustinus. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here