Soal Selera, Gengsi, Politik

0
44

Oleh P. Andre Atawolo, OFM

Yesus mengalami hal-hal lumrah seperti kita: lapar, haus, bahkan digoda iblis. Kepada Yesus iblis menawarkan solusi-solusi instant untuk menggunakan kuasa-Nya demi memenuhi keinginan akan makanan, harga diri, serta kekuasaan politik.

Makanlah Karena Kebutuhan, bukan Demi Selera

Yesus digoda untuk menggunakan kuasa-Nya demi memenuhi kebutuhan jasmani: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu  ini menjadi roti”. Yesus tidak menyangkal bahwa manusia butuh makan. Tetapi ia tidak menggunakan kuasa ilahi-Nya demi kepuasan sesaat. Dengan mengatakan “manusia hidup bukan dari roti saja”, Yesus menyatakan bahwa makanan memang penting bagi tubuh, tetapi tentu bukan jaminan keselamatan jiwa manusia.

Kata-kata Yesus itu relevan juga pada situasi aktual manusia: Kita diingatkan bahwa makanan dikonsumsi bukan demi memenuhi selera makan, tetapi terutama untuk kesehatan tubuh. Tradisi Kristen selalu menghormati nilai tubuh manusia: Tubuh bukan penjara jiwa, melainkan raung (locus) bagi jiwa untuk lebih terarah kepada Pencipta.

Gengsi: Virus Tua yang Selalu Baru

Yesus juga digoda untuk mendapat kehormatan dan pengakuan atas hal-hal ajaib yang dapat Ia lakukan. Kata: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkan saja dirimu ke bawah, toh ada malaikat-malaikat yang dapat engkau perintahkan untuk menatang engkau, sehingga tidak tersandung batu”. Kalau manusia memiliki kekuasaan, gengsinya juga jadi besar.

Yang relevan dengan dunia kita sekarang ialah soal gengsi. Gengsi itu ibarat virus yang menyebar tanpa membedakan antara orang kaya dan miskin, antara yang gajinya besar atau yang pas-pasan, antara artis terkenal atau orang biasa. Yesus mengingatkan kita untuk hidup realistis, sesuai kemampuan, tak mengejar hal yang tidak mampu kita dapatkan. Yesus memberi motivasi: mari hidup sesuai kenyataan, bukan sesuai kata orang, sesuai nilai yang kita yakini, bukan asal sesuai style umum, apalagi sesuai gosip.

Waspadai Politisi Murahan

Kita mungkin bertanya begini: Tetapi kan Yesus itu ilahi, Anak Allah. Mengapa Ia tidak menggunakan kuasa itu untuk mengatasi godaan? Bukankah dengan demikian Iblis dipermalukan. Tidak! Yesus tidak sewenang-wenang, Ia tidak main kuasa; ia tidak berkolusi dengan goadaan solusi instant. Yesus mendidik kita agar tidak gegabah dalam melawan iblis. Ia memperlihatkan teladan kesetiaan dan ketahanan dalam mewujudkan misi mewartakan Kerajaan Allah, sampai wafat di salib dan bangkit.

Bukan Tiga Kali

Godaan yang dialami Yesus juga terus mendatangi manusia, bukan hanya tiga kali, tetapi berkali-kali; dan manusiapun bisa jatuh berkali-kali. Setelah mengakhiri pencobaannya, iblis mundur. Tapi dikatakan bahwa ia menunggu waktu yang baik. Artinya, godaan terus mendekati kita melalui naluri kemanusiaan: makanan, kekuasaan, harga diri dan kehormatan. Kita ditantang untuk mewaspadai godaan itu.

Akar dari segala dosa ialah egoisme: Bentuk ekstrim dari egoisme ialah menjadikan diri sebagai allah, dan itulah berhala dalam arti sesungguhnya. Sejak awal mula, manusia jatuh dalam godaan untuk “menjadi seperti Allah”, sebagaiamana dikatakan ular kepada Hawa. Manusia tergoda untuk menjadi bebas tanpa harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Manusia tergoda mengandalkan dirinya, artinya menyangkal Allah.

Pintu Rahmat.

Paulus mengajak kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah, dan bukan kepada diri sendiri (lawan egoisme). Pintu pertobatan terbuka bagi kita. Di mana letak pintu itu? Pada kasih karunia Allah. Mengapa kasih karunia Allah? Kasih karunia itu lebih besar dari dosa kita; kasih karunia selalu mengalir dari hati Allah. Sebenrnya manusia tidak layak, tidak pantas memandang Allah. Namun manusia dibenarkan dan dimaafkan tanpa jasa apapun dari pihak kita. Inilah dasar keyakinan kita.

P. Andre Atawolo, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here