12.28 ke 13.28

Ket. Foto : Fince Bataona

Cerpen Fince Bataona

Maria menatap layar HP androidnya. Foto laut biru dan jam. Mengapa jam? Apapun yang kau pikirkan dan lakukan, selalu beriringan dengan waktu. Dia setia bergerak. Terus bergerak. Menandai perubahan. Mengingatkanmu. Meski terima kasih mungkin tak pernah kau ucapkan buatnya.

“Satu jam lagi, saya berangkat. Untuk waktu yang lama dan  tak menentu, saya ada di sana. Tidak ada signal. HP mati total. Hubungi saya sekarang sebelum saya benar-benar pergi, Maria.”

***

Ini malam entah kesekian. Dia tidak lagi menghitung. Yang setia dilakukannya adalah duduk sejenak di teras rumah usai makan malam. Kepada malam yang sepi. Kepada angin yang dingin. Kepada bintang yang berpendar, dia hanya menitip rindu. Rindu yang kekal. Padamu.

Selalu begitu. Tiap kali begitu. Dia tahu, sia-sia berharap segala inginnya sampai padamu. Tapi dia percaya, dia sedang tak sia-sia melewati segala malam dalam doa yang sama. Dia teguh yakin, jika malam enggan bicara padamu, telinga Tuhan telah lebih dulu mendengar. Bahkan saat harap itu masih bersemayam dalam hati.

Dingin terasa mulai menusuk hingga tulang. Lewoleba sedang berada pada puncak musim dingin di malam hari. Jacket tebal yang dipakainya tak cukup menghalau dingin.

“Di kamar saja. Kehangatan ada di dalam. Sebab pintu dan jendela tertutup. Selimut tebal juga bisa menutupi seluruh tubuhmu. Dikau nyaman di dalam. Hanya dalam kamarmu.”

“Saya ingin menulis.”

“Tentang apa?”

“Tentang hari ini.”

Dipandanginya Laptop yang tak pernah tutup itu. Seperti pada HP, dia memandangi laut biru dan jam pada layarnya.

*

12.28 Wita.

Siang yang panas tadi. Jalanan tidak seluruhnya beraspal mulus. Sebagiannya pecah dan berlubang. Sebagian lagi masih jalan tanah.

“Ini wilayah Desa Nila Napo, Kecamatan Omesuri. Sebelahnya Desa Balurebong, Kecamatan Lebatukan. Kita sedang berada di dua wilayah kecamatan di Kabupaten Lembata, yang berbeda.”

Perempuan berkulit putih dengan rambut pendek yang duduk di sebelah saya menjelaskan. Ibu camat. Suaminya, kepala wilayah Kecamatan Lebatukan.

Mobil terus bergerak. Menyusuri kali kecil lalu jalanan tanah. Debu beterbangan naik ke udara bak kepulan asap saat kebakaran. Saya menoleh. Dari kejauhan, saya menyaksikan pepohonan, rerumputan dan bebatuan menerima dengan iklas sisa-sisa debu kendaraan kami. Seberapa tebal tepungnya menempel? Setiap hari, jalan ini pasti dilewati. Minimal sepeda motor.

Iklasmu seumpama pepohonan, rerumputan dan bebatuan di pinggiran jalan ini, Maria. Diam, pasrah, tabah. Selalu begitu. Tiap kali begitu.

“Ini lokasi penangkaran tukik,” ibu camat mengalihkan pikiran saya.

Mobil berhenti di pinggir pantai. Air sedang surut jauh. Hamparan rumput laut hijau tumbuh di atas karang. Di kejauhan, Pulau Rusa terlihat anggun dikelilingi laut biru. Indah nian. Melepas lelah, mungkin pas di tempat seperti ini.

“Kau anggun, Maria. Seperti itu dirimu. Dikelilingi banyak soal yang mengharu biru nuranimu, menguras air matamu. Tapi, kau senantiasa tegak berdiri. Itulah kau, Maria!”

Bapak Mikael tersenyum lebar. Gigi-giginya hitam. Dia pasti biasa isap tembakau. Atau dia suka makan sirih pinang, seperti perempuan umumnya di kampung. Bapak Mikael pengecualian bersama beberapa laki-laki di kampung yang suka makan sirih pinang.

Tubuhnya kurus dengan rambut keriting, beruban. Usianya sekitar 60-an tahun. Dia terlihat energik. Diperlihatkannya beberapa baskom plastik dan baskom dari ban bekas. Ratusan tukik bergerak. Berdesakan. Wadah ini terlampau kecil di usia mereka yang sudah sebulan. Di dasar baskom, rumput laut masih tersisa. “Makanan tukik hanya rumput laut”, katanya.  “Saya ambil tiap hari. Secukupnya saja untuk tukik.” Dalam sebuah ember bekas cat, ada sisa-sisa rumput laut yang masih segar.

Seorang perempuan seusia bapak Mikael tergopoh menemui kami. Ramah tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. Sama seperti bapak Mikael. Ema ini pasti selalu makan sirih pinang. Di bibirnya masih tersisa merah air sirih pinang.

Kepada kami disodorinya pisang rebus. “Makanlah. Yang ada hanya ini.”  Suaranya lembut. Dia amat ramah. Polos. Apa adanya.

Maria, itulah kau. Selalu ramah dan apa adanya. Jangan berubah!

“Kak, ayo dimakan.” Ibu camat yang ramah, saya membathin. Warga di wilayah ini pasti menyenangi sosok sepertinya. Dia tak perlihatkan jarak saat bicara dengan istrinya bapak Mikael, tadi. Saya melihatnya bergurau seperti sahabatnya dan istri bapak Mikael lagi-lagi tertawa lebar. Gigi-giginya yang hitam dan sisa air sirih pinang tampak jelas. Mungkin semburat air ludahnya yang merah mengenai baju kaus putih ibu camat. Tapi, mereka tak peduli soal itu.

Jadi pemimpin mesti begitu, Maria!

Kau jaga jarak? Sok jaga image? Rakyatmu lebih tak peduli. Ketika kau ajak mereka sama-sama membangun wilayah, mereka bisa balik belakang seolah tak mengenalmu. Bagi mereka, bisa makan tiga kali saja, sudah cukup. Tidak ada urusan dengan segala tetek bengek ukuran keberhasilan seorang pemimpin. Itu patokanmu dengan pemimpin di atasmu.

Beda, jika kau membangun ikatan emosional dengan mereka. Kalau kunjungan ke desa, duduklah bersama mereka di bale-bale. Makanlah ubi, pisang, jagung titi sambil minum tuak bersama mereka. Dengarkan mereka, lalu bicaralah bersama apa yang mau kau buat untuk kepentingan bersama.

“Itu terlalu idealis.” Saya membantah, “Rakyat itu jadi komoditas politik semata untuk kepentingan pribadi. Main kuasa saja. Persetan dengan kepentingan mereka.”

Di lokasi penangkaran, saya memandangi bangunan 2×3 meter penuh tanya. Seperti pos penjagaan. Catnya biru, Baru. Mungkin dicat sesaat sebelum kunjungan bapak gubernur. Sudah lama, bangunan itu berdiri, tapi dibiarkan begitu saja, kata Bapak Mikael. Karena bernama penangkaran tukik, bapak Mikael pun tergerak mengurus.

Saban malam dia tidur di pasir pantai yang dingin. Saat dibacanya tanda alam penyu akan bertelur, dia setia menunggui. Menandai lokasi-lokasi penyu bertelur. Terus menjagai hingga telur-telur itu menetas. Memelihara dan merawat tukik dalam baskom plastic dan ban bekas hingga mereka harus dilepas ke laut.

Jika memberinya nama penangkaran tukik, mengapa hanya ada bangunan kecil, semacam pos jaga? Saya menatap Bapak Mikael yang sedang sibuk memberi makan tukik. Urat tangannya tampak jelas. Dia pekerja. Sambil terus membagi-bagi rumput laut, dia terus berceritera dan saya mendengarnya dengan setia.

Maria, kau pendengar yang baik, penuh perhatian pada setiap wajah yang mengeluh. Bahkan pada keluhan-keluhan remeh temeh, kau mendengarnya dengan sungguh. Tetaplah begitu, Maria.

Bapak Mikael mengambil sepasang tukik yang melompat keluar dari dalam baskom. Terdesak dengan sesamanya yang pasti berebutan berada di posisi nyaman. Dia menggeleng berkali-kali dan saya memahami harapannya. Dia ingin memberi tukik lebih leluasa hidup.

Hanya orang bernurani saja yang terusik melihat sesuatu yang hanya asal nama. Dia terganggu dengan sesuatu yang asal ada, di sekitarnya. Dan dia tidak menunggu untuk memulai sesuatu. Saya memegang tangannya, salut, bapak!

Maria, lakukan sesuatu.

Saya diam. Diskusi kita tentang pemimpin, kuasa, kesewenangan, seperti sebuah film pendek yang tengah diputar di depan saya.

“Minggu depan sudah dibangun bak penampung untuk tukik-tukik itu.” Kepala Desa Balurebong dan Camat Lebatukan sudah berdiri di sebelah Bapak Mikael yang tersenyum sumringah. Dia bahagia.

***

“Hubungi saya sekarang. Sebelum saya benar-benar pergi. Di sana, HP mati total.” Saya memandangi layar HP dengan perasaan tak menentu. Gelisah saya menekan nomor. Masuk. Tidak diangkat. Coba lagi. Tidak diangkat. Coba lagi dan tetap tidak diangkat.

Nanar, saya terus pandangi waktu. Sedih perlahan berkecamuk.

Di tangga pesawat, Adrian menatap layar HPnya. Membiarkan saya memanggil. “Maria, saya tidak kuat dengar, kalau kau bilang, saya tak kuat kehilanganmu. Jangan menangis, Maria.”

Butiran air hanya menggantung di bola mata. Saya dekatkan jarak lihat ke layar HP. Tak! Waktu berubah. Jam12.28Wita ke 13.28 WIT. Lompatan waktu satu jam. Di depan sana, Pantai Wade bening menggoda. Lewoleba, 0508202

Pantai Wade Lembata (Sumber Foto Google)

Catatan:

Ema: Panggilan untuk ibu dalam bahasa setempat

Pantai Wade: salah satu obyek wisata pantai di Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Propinsi NTT dengan keunikan yang belum banyak diketahui umum adalah lompatan waktunya satu jam lebih cepat dari waktu di seluruh wilayah Lembata bahkan NTT (dari WITA ke WIT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here