Natal dan Pesan Perdamaian

Ket. Foto: Yakobus OdiyaipaiDumupa

Oleh Yakobus Odiyaipai Dumupa, Bupati Dogiyai Papua

PASTOR yang memimpin misa Natal di Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura, Jayapura, 25 Desember 2012, dalam kotbahnya mengemukakan bahwa, “Tuhan Yesus lahir ke dunia dan rela menjelma menjadi manusia karena Allah hendak menyelamatkan manusia. Keselamatan itu diwujudkan oleh Tuhan Yesus dengan menebus dosa manusia. Tuhan Yesus juga lahir untuk membawa kedamaian di bumi, agar manusia saling mengasihi satu sama lain dan mengasihi Allah sebagaimana Allah terlebih dahulu mengasihi manusia.”

Program berita Editorial Media Indonesia di Metro TV juga mengemukakan, “Natal identic dengan damai. Kedamaina sejatinya punya makna universal. Setiap orang, apa pun agama, keyakinan, budaya, dan bangsanya, senantiasa berupaya mencapai kedamaian. Berdamai dengan diri sendiri, baik sebagai pribadi maupun bangsa, ialah ikhtiar yang pertama-tama harus kita lakukan untuk mencapai kedamaina hakiki. Kita telah berdamai dengan diri sendiri bila kita berhasil menaklukan nafsu di dalam diri kita. Hasrat memperkaya diri, berkuasa dengan menempuh segala cara, serta merasa paling benar merupakan syahwat dalam diri yang harus kita taklukan.”

Di tengah kehendah Allah yang luar biasa bagi manusia dan impian sebagian besar manusia untuk hidup damai, apakah manusia telah menciptakan kedamaian di bumi ini? Jika disimak dengan seksama, maka sesungguhnya banyak orang belum berdamai. Pertama, banyak orang belum berdamai dengan dirinya sendiri. Banyak orang masih terbelenggu dalam berbagai dosa yang tak henti-hentinya dilakukan setiap saat, sehingga menjadikan dirinya sebagai ‘hamba iblis’. Kedua, banyak orang juga masih belum berdamai dengan sesamanya. Bahkan ada kecenderungan dari waktu ke waktu manusia saling bermusuhan satu sama lain, hanya karena kebetulan punya pribadi yang berbeda, punya bangsa (negara) yang berbeda, punya agama dan keyakinan yang berbeda, dan karena perbedaan lainnya, padahal sejatinya semua manusia punya derajat yang sama sebagai ciptaan Allah. Ketiga, banyak orang yang belum berdamai dengan Allah. Makin hari makin banyak orang yang menjauhkan diri dari Allah. Allah dianggap ‘tidak kelihatan’(tidak nyata), sehingga dianggap tidak ada.

Setiap perayaan Natal pesan kedamaian selalu disampaikan kepada umat manusia, terutama bagi umat Kristiani yang merayakannya. Banyak pihak selalu berharap agar Natal melahirkan manfaat yang nyata untuk menciptakan kedamaian. Tetapi kedamaian yang sejati; berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama, dan berdamai dengan Allah nampaknya masih jauh dari harapan. Manusia harus berjuang terus dengan mengandalkan campur tangan Allah, sesuai dengan kapasitasnya sebagai pribadi, sebagai makhluk sosial dan sebagai anak Allah untuk menciptakan kedamaian yang nyata. Jika tidak, maka kedamaian hanyalah impian yang tak kunjung menjadi nyata.

Selamat Ulang Tahun Yesus. Selamat Natal Umat Kristiani.

Sumber: Ungkapan Kegelisahan (Catatan Yakobus Odiyaipai Dumupa), Penerbit Ikan Paus, 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here