Redemptorist, Lembata dan Lamalera

Ket. Foto: P. Moses Beding, CSsR (paling kiri depan)

Oleh P. Willy Palla, CSsR

APA hubungan redemptorist, Lembata dan orang Lamalera? Tentu sah saja pertanyaan ini. Dalam hal panggilan para redemptorist Indonesia dapat dikatakan Pulau Lembata dan Lamalera telah menjadi pintu gerbang.

Seorang pemuda bernama Moses Beding memutuskan untuk menjadi calon redemptorist. Dia menjadi orang pertama yang melamar menjadi imam redemptorist. Dia orang indonesia pertama yang menjadi imam redemptorist.

Frater Moses Beding lahir pada Maret 1942 di pulau Lomblem, yang dekat dengan pulau Flores. Dia lulus dari sekolah menengah pada bulan Juni 1962. Dari Agustus 1962 hingga Agustus 1963 menjalani novisiat dengan Pater SVD di Flores. Di sana ia juga belajar filsafat selama dua semester pertama. Tetapi kemudian ia memutuskan untuk menjadi redemptorist.

Pada bulan Oktober 1965 ia mengakhiri tahun novisiatnya dengan para Redemptoris di Sumba dengan kaul sementara. Setelah menyelesaikan studi filsafatnya di sana, ia berangkat ke Jerman pada Oktober 1966.

Ketika berada di Jerman dia memperkanlkan pulau Lomblen atau kemudian kita kenal dengan nama Lembata.

Frater Moses, yang belajar teologi di seminari religius kami di Hennef, memperkenalkan tanah airnya pada acara kaul kekal kebiaraannya. Dia meminta bantuan misi dan pada saat yang sama, dia berdoa untuk dirinya sendiri untuk perjalanan imamatnya. Dia menulis ini.

Itulah desa nelayan ikan paus Lamalera di Lomblem, sebuah pulau dengan penduduk sekitar 76.000, sebelah timur Flores. Saya lahir dan besar di desa ini. Bagi penduduk, penangkapan ikan paus merupakan sumber pendapatan penting; tetapi ini juga merupakan petualangan yang tiada henti. Di pantai anda bisa melihat sejumlah atap pelindung untuk perahu nelayan.

Kampung Lamalera

Perburuan ikan paus. Di sini Anda bisa melihat perahu nelayan berburu ikan paus. Seseorang menangkap ikan dengan metode yang sangat sederhana namun berbahaya: dengan tempuling. Perahu didayung menuju ikan paus. Kemudian pemegang tempuling dari perahu mendorong tempuling ke bagian belakang ikan paus dan melompat untuk mendorong ujung tempuling masuk ke tubuh ikan paus.

Wajar jika merasa senang melihat keberhasilan pekerjaan dan usaha kita. Paus yang baru saja diburu merupakan kegembiraan khusus bagi anak-anak: mereka menggunakan punggung paus yang sangat licin dan berminyak sebagai tempat perosotan. Sangat menyenangkan, meluncur ke air laut yang sejuk selama berjam-jam! Setelah permainan anak-anak, tibalah saatnya bekerja. Ikan dipotong-potong kemudian dibagikan atau dijual kepada warga sesuai dengan hukum Adat dan tradisi nenek moyang. Yang paling penting adalah daging dan minyak ikan paus sebagai sumber vitamin.

Sukacita anak-anak Lamalera bermain di atas ikan paus

Pentahbisan penahbisan diakon. Pada tanggal 8 April 1969, Frater Moses Beding dari Lamalera Flores dan dari Wakil Provinsi Sumba / Sumbawa di gereja biara kami di Hennef / Geistingen ditahbiskan sebagai subdiakon. Bersama dia enam konfrater lainnya dari provinsi Koln para Redemptorist menerima pentahbisan ini.

Penahbisan berlangsung pada tanggal 31 Mei di seminari misionaris SVD di St. Augustin. Sakramen tahbisan diterima Fr. Moses pada 12 Juli 1969. Setelah ditahbiskan menjadi Imam, Frater Beding akan belajar di Jerman selama satu tahun lagi sebelum kembali ke tanah airnya di Indonesia dan Misi Sumba. Kami mendoakan berkat Tuhan dan menjanjikan bantuan kami dalam doa.

Setelah kembali ke Sumba, Pater Moses berkarya di paroki Sang Penebus Waingapu dan mengajar di IPGA Pada Dita. Kemudian dia menjadi magister novisiat redemptorist dan bapak Asrama Sinar Buana. Seudah itu beliau berkarya sebagai Pastor paroki Homba Karipit. Sejak akhir tahun 90-an dan awal tahun 200an hingga akhir hayatnya P. Moses sangat gigih membela hal-hal terkait dengan keadilan sosial.

Dia juga mempromosikan karya kerasulan pena entah melalui artikel-artikel yang dikirimnya dan menjadi aktor utama penerbitan tabloid SABANA bersama Emanuel Kaley

Pater Moses meninggal dunia pada tanggal 1 juni 2007 di rumah sakit Bukit, Lewoleba, Lembata. Dia dimakamkan di Lamalera. Terima kasih Pater Moses. Pater selalu mencintai dan membela orang Kodi. Dia paling tidak suka kalau ada yang bilang orang Kodi Itu malas. Kalau ada yang omong begitu, dia akan jawab begini: “Eh… kau omong apa? Lalu padi gogo yang kau, yang kau beli dari orang Kodi datang dari orang malas? Tidak malas..hanya tidak tahu atur”.

Gereja St Maria Assumpta Homba Karipit Sumba Barat

Orang Kodi sangat menghormati Pater Moses. Ya…. Kami mencintai P. Moses. Pater Moses telah membuka keran hadirnya para imam pribumi redemptorist Indonesia. Sejak itu segalanya bergulir perlahan tapi pasti. Banyak orang muda indonesia masuk dalam jajaran putra Alfonsus dan berkaraya di bebagai negara.

Demikian juga dengan tanah Lembata. Pulau ini terus menyumbang orang-orang mudanya untuk menjadi redemptorist.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here