Bencana dan Solidaritas Sosial

Oleh Ansel Deri Sekretaris Papua Circle Institute

BENCANA banjir, tanah longsor, dan badai menerpa nyaris seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, nyaris seperti kolam raksasa. Wilayah Oeba hingga Oesapa dan sekitarnya dikepung air yang meluber melewati jalanan.

Dari Adonara, Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, dua pulau mungil di ujung timur Flores, tersiar kabar duka. Petaka banjir dan lahar dingin mengepung desa-desa dan warga masyarakat pada Minggu (4/4) sekitar pukul 01.30 WIB dini hari.

Maut mengintai, mengakibatkan puluhan warga meregang nyawa, menutup mata selamanya menghadap lera wulan, tanah ekan, Tuhan penguasa langit dan bumi dalam terminologi Lamaholot, salah satu etnik besar yang mendiami Pulau Adonara, dan Solor, di Flores Timur, maupun di sebagian besar wilayah di Pulau Lembata.

Di Adonara, berdasarkan keterangan Wakil Bupati Agustinus Payong Boli, dalam dialog di Metro TV (4/4) malam, sebanyak 61 orang meninggal dunia dimangsa banjir dan puluhan masih belum ketahuan rimbanya. Dari Ile Ape dan Ile Ape Timur, dua kecamatan di wilayah utara Lembata, sesuai laporan terakhir (5/4), sebanyak 11 warga meregang nyawa dan puluhan lain masih dalam pencarian.

Presiden RI, Joko Widodo sedang Meninjau Lokasi Bencana di Adonara, Flores Timur (Foto dari Google)

Akses jalan dari Lewoleba, kota Kabupaten Lembata, menuju lokasi bencana, putus total. Banjir Ile Ape mengulang nestapa warga menyusul erupsi Gunung Ile Lewotolok pada Minggu (29/11 2020) pagi.

Doa, ungkapan rasa simpati, dan asa bagi warga korban, serta daerah yang dilanda musibah dari berbagai penjuru tanah Air, terkuras dari dasar jiwa para pemimpin dan sesama anak bangsa. Meski warga masih tersandera nestapa, paling kurang ada dorongan, semangat untuk bangkit dari keterpurukan.

Doa terus terdaras dari altar Gereja, masjid atau musala, dan rumah-rumah ibadat warga. Murka alam tak bisa ditolak, tetapi melebur dalam bait-bait doa, dari rongga batin yang pasrah. Bahwa di balik kesulitan seperti bencana yang dihadapi, ada kemudahan yang segera diraih.

Konkret

Musibah bencana alam, dimana pun di seluruh Indonesia selalu menguras dasar jiwa rasa Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, para menteri, dan berbagai pihak. Meski kerap tak ditunjukkan secara fisik, solidaritas selalu konkret, mewujud dalam rupa lain. Entah ungkapan doa, simpati, dan berupa bantuan materi dan finansial bagi warga korban. Dalam konteks bencana alam, simpati Presiden Joko Widodo juga menyasar para pengungsi korban erupsi Ile Lewotolok pada Minggu, 29 November 2020.

Lorens Lima Waru Wahang, 105, dan adiknya, Agnes Tuto Waru Wahang, 89, warga Desa Lamawolo, Ile Ape, ikut merasakan betapa Presiden Jokowi sangat berempati kepada kedua warga renta ini di tengah badai erupsi Ile Lewotolok. Senyum keduanya merekah, sembari memegang paket bantuan Jokowi, bekas Wali Kota Surakarta.

Presiden RI, Jokowidodo di Ile Ape Lembata (Foto dari Goole)

Kala itu, sebanyak 3.000 paket bantuan Jokowi disalurkan untuk warga pengungsi erupsi Ile Lewotolok setelah erupsi terjadi. Komandan Pangkalan Utama TNI-AL VII Kupang IG. Kompiang Aribawa dan rombongan menyalurkan juga bantuan Presiden Jokowi di Dermaga Lewoleba, Rabu (09/12/20) menggunakan Sea Raider Lanal Maumere, Flores.

Bencana banjir, longsor, dan aneka bencana sosial, yang menimpa sesama warga bangsa di mana pun di Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur dan daerah-daerah lainnya, menyisahkan makna lain tentang solidaritas sosial. Perayaan Paskah, bagi umat kristiani seluruh dunia semakin meneguhkan arti solidaritas paling hakiki. Saat menjelang perayaan Paskah bagi umat kristiani tahun 2021 pesan, spirit tentang solidaritas sosial digelorakan masih relevan.

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, jauh-jauh hari, sudah menyampaikan arti solidaritas sosial. Saat memasuki perayaan keagamaan umat kristiani, solidaritas menjadi tema utama, yang tentunya masih relevan direnungkan seluruh elemen bangsa.

Pertama, bahwa, di balik kesulitan yang dihadapi umat manusia (warga bangsa) saat ini pasti ada kemudahan. Bencana menguras dasar jiwa setiap anak bangsa. Oleh karena itu, tak ada pilihan, selain semua bergandengan tangan, satu hati dan niat tulus ikut ambil bagian menjaga soliditas sosial, dan keutuhan bersama terutama bagi mereka yang terdampak bencana.

Kedua, kerja keras Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin bersama kementerian dan lembaga atas berbagai musibah, khu susnya pandemi covid-19 bahkan banjir dan badai, melalui dukungan semangat dan kerja-kerja nyata tentu diberikan apresiasi. Selain menjadi sebuah kewajiban negara atas warga, tetapi lebih dari itu ialah tanggung jawab.

Warga masyarakat, seperti di sejumlah wilayah di NTT yang tertimpa musibah tentu disemangati, agar bahumembahu, bekerja keras keluar dari penderitaan yang dialami. Selain, tentu segera pula diikuti dengan bantuan logistik agar kebutuhan pokoknya di berbagai posko pengungsian terpenuhi. Bantuan tersebut ialah bentuk solidaritas sosial paling riil sesama anak bangsa, atas nama kemanusiaan universal. Namun, melalui bencana alam, seketika manusia menyadari dirinya ialah makhluk kecil di hadapan pencipta-Nya.

Makhluk Kecil

Dalam bukunya, Hidup dan Masalahnya (2003), Kirinde Sri Dhammananda Nayaka Mahathera mengajak manusia memahami kedudukan dirinya di alam semesta. Dengan merujuk pandangan Sang Buddha, kata Sri Dhammananda, alam semesta harus dipahami sebagai jagat raya yang luas. Jagat raya ini dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu planet yang dihuni makhluk hidup, planet dengan unsur-unsurnya, dan ruang itu sendiri.

Kita bisa saja memandang manusia sebagai makhluk terberkati, yang hadir untuk menikmati kesenangan di planet-planet, yang khusus dibuat untuknya di pusat alam semesta. Akan tetapi, ajaran Sang Buddha memandang manusia sekadar makhluk kecil. Tidak hanya hal kekuatan, tetapi juga dalam rentang hidup yang pendek.

Pesan spiritual Sang Buddha, atas murka alam di berbagai belahan Indonesia mesti menjadi bahan renungan. Setia dijadikan menu refleksi kolektif seluruh umat manusia dan pemangku kekuasaan negara. Murka alam, dalam wujud banjir dan aliran lahar dingin, hingga memakan korban nyawa dan harta benda mesti selalu jadi pijakan refleksi teologis, atas alam ciptaan-Nya.

Manusia tak semestinya mencoba memeras segala sesuatu di dunia ini hanya demi keuntungan dirinya. Manusia harus memelihara rasa segan dan hormat kepada alam dan semua makhluk. Manusia relatif merupakan pendatang baru di muka bumi. Ia (manusia) seharusnya belajar menghormati makhluk lainnya. Karena itu, tatkala bumi ‘batuk-batuk’ dalam wujud banjir atau badai, sudah pasti solidaritas antarsesama manusia, atau pemimpin segera terkuras dari bilik hatinya. Solidaritas, yang kini juga menyapa NTT, utamanya Adonara dan Lembata.

*****************

Sumber: Media Indonesia, 9 April 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here