Gunakan Metode “Web Spider,” Misool Basseftim  Lakukan Rehabilitasi Terumbu Karang di Desa Lewotobi 

0
116
Tim Penyelam Melakukan Rehabilitasi Terumbu Karang dengan Menggunakan Metode "Web Spider" di Perairan Lewotobi (Foto Istimewa)

LARANTUKA, berandanegeri.com – Dalam upaya mengembalikan ekosistem laut di desa Lewotobi Kecamatan Ile Bura Kabupaten Flores Timur, maka Yayasan Misool Basseftim    melakukan rehabilitasi karang yang rusak dengan menggunakan metode Web Spider atau  jaring laba-laba, pada Sabtu, 28 Agustus 2021.

Metode yang rangkanya berbentuk menyerupai jaring laba-laba ini  merupakan  metode rehabilitasi terumbu karang yang diadopsi dari rehabilitasi yang dilakukan di Pulau Badi Propinsi Sulawesi Selatan.

Staf Community Development Misool Basseftim, Ayub Markus mengatakan metode Web Spider yang digunakan pihaknya untuk menanam terumbu karang tersebut sangatlah sederhana dan siapa pun bisa mempraktekkan dan biayanya juga  murah.

“Hitung-hitungan sebanyak 25 terumbu karang yang kita buat dengan menggunakan metode Spider ini sebesar Rp2.800.000. Yang mana kalau dirata-ratakan, 1 Spider lebih Rp100.000,” tutur Ayub

Selain itu, kata Ayub banyak keunggulan dari metode ini banyak rongga-rongga, sehingga arus tidak berhenti sampai disitu saja, melainkan arus akan terus mengalir. Apalagi wilayah perairan desa Lewotobi yang sangat terkenal dengan arusnya, maka metode ini sangat cocok untuk sirkulasi arus. Dan juga aman bagi persembunyian ikan-ikan kecil untuk bermain.

Ayub Markus, Staf Community Development Misool Basseftim

“Biasanya terumbu karang buatan hanya berbentuk besi saja tetapi untuk ini ditaburi dengan pasir. Sehingga karang-karang yang kita tanam maupun yang alami, lebih cepat daya tempelnya jika dibandingkan dengan permukaan besi yang halus,” ujarnya.

Sebelumnya, sebut Ayub pada tahun 2017 lalu, pihaknya juga sudah melakukan penanaman terumbu karang buatan dengan menggunakan metode meja di perairan desa Lewotobi, sebanyak 10 meja.

Setelah dilakukan survei  ternyata berhasil karena pertumbuhannya kurang lebih sudah mencapai batas maksimal.

“Rata-rata terumbu karang yang kita tanam tahun 2017 lalu itu sudah mencapai 30 – 40 cm, artinya sudah bisa hidup secara natural dan sudah kelihatan ada biota-biota laut lain yang datang di daerah terumbu karang tersebut,” paparnya.

Ayub juga mengungkapkan, penanaman terumbu karang Spider sebanyak 25 buah saat ini, berdekatan dengan 10 meja lainnya, yang sudah ditanam sejak tahun 2017 lalu itu.

Dengan tujuan agar yang sudah terbangun dari 10 meja ini, bisa menyuplai sumber bibit-bibit planula karang kepada 25 Spider yang baru ditanam tersebut. 25 Spider juga ikut membantu supaya ikan-ikan yang sudah penuh di 10 meja, bisa pindah bermain sehingga menjadi banyak.

“Jadi 10 meja di tahun 2017 dan ditambah lagi dengan 25 Spider saat ini, mereka saling berdekatan dan jadi satu koloni,” ungkapnya.

Dirinya meminta  meminta agar karang yang sudah ditanam itu, harus dikontrol, terus dirawat dan selalu dibersihkan secara rutin dari sampah-sampah plastik maupun rating-ranting pohon yang jatuh ke laut, agar pertumbuhannya lebih cepat dan ikan-ikan juga mulai berdatangan lagi.

“Dengan membangun rehabilitasi karang ini, masyarakat harus bisa membangun kesadarannya untuk mulai mencintai laut, dengan model-model terumbu buatan yang kita bantu ini,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lewotobi, Tarsisius Buto Muda menjelaskan bahwa, Restorasi Terumbu Karang sudah mulai dilakukan sejak tahun 2017 lalu, yang diawali dengan Seminar Budaya.

Dalam seminar budaya tersebut Pemdes Lewotobi akhirnya membuat Peraturan Desa, Nomor 7 Tahun 2017, Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Pesisir dan Laut.

“Karena ini lahir dari usulan dan kebutuhan masyarakat sendiri, maka kami lalu menganggarkannya melalui Dana Desa pada tahun 2017. Kemudian mendapatakan suppport lagi dari Misool Basseftim sebanyak 25 terumbu karang buatan saat ini,” terangnya.

Kepala Desa Lewotobi Tarsisius Buto Nuda

Tarsisius mengatakan, faktor utama terbentuknya peraturan desa  tersebut dikarenakan kondisi laut dan terumbu karang di perairan desa Lewotobi sudah semakin rusak. Selain itu, hasil tangkapan nelayan juga semakin menurun, sebagai akibat dari maraknya pengeboman ikan yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab.

Ia menambahkan dengan adanya  peraturan desa yang dibuat oleh pihaknya itu, maka tingkat  kesadaran masyarakat semakin tinggi.

Dirinya pun berharap agar dengan adanya penanaman karang ini, masyarakat dari waktu ke waktu akan semakin sadar untuk terus menjaga laut, khususnya menjaga terumbu karang dan juga biota laut lainnya.

Proses rehabilitasi  terumbu karang dengan menggunakan Web Spider tersebut, dilakukan oleh 9 orang penyelam, di kedalaman 6 hingga 7 Meter dari permukaan air laut.( Athick)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here