
SAJAK UNTUK IBU
Ibu, jika hari ini kau dengar kabar itu,
kuharap kembang di jantungmu tak luruh.
Langit belum memberiku pelangi,
tetapi seikat kembang dariku hiburkan hatimu.
Ibu, jika hari ini kau tak melihatku di ujung jalan itu,
kuharap senyummu tak surut.
Ombak laut belum memberiku perahu,
tetapi layarku kini sudah terkembang untukmu.
Rinduku padamu, Ibu,
adalah rindu kanak-kanak
menantimu pulang dari ladang.
Cintaku padamu, Ibu,
adalah keriangan kanak-kanak
saat membuka tudung saji mejamu.
Ibu, jika malam ini kau tak mendengar kabar itu,
bulan di ujung bukit masih tetap di sana.
Jarak sudah kulipat dan aku datang padamu,
mencium tanganmu memeluk dirimu.
Yogyakarta, 4 November 2017
——————————————–

SAJAK UNTUK AYAH
Ayah, kupetik kenangan dari hitungan waktu
yang tak pernah dapat dihentikan.
Pahatan-pahatan yang membentang di matamu,
tenggelam dalam kesunyian langitku.
/1/
Saputangan bersulam bunga, celana panjang putih,
cahaya pertama yang samar di desa Mulandoro.
Sanak keluarga datang berhimpun 1972,
sujud pertama sambut baruku di kaki altar!
Malam-malam panjang di perahu menuju Kedang,
percakapan di bawah ombak mengkhawatirkanmu.
Pagi di musim terang awan tiba, sekolah dan gereja,
adalah ruang pengabdian penanda nasib keluargamu.
/2/
Barangkali kerdip bintang di malam Natal 1977
yang terlambat membangunkanmu
punya makna: kekhawatiran menghadirkan
anak-anakmu di seputar kandang Bethlehem
tak perlu setinggi itu, sedang mereka sudah
berada di lautan kasihmu.
Barangkali kuda putih yang membawamu
mencariku ke desa tanjung yang jauh di 1978
merasakan degup jantungmu yang kencang.
Waktu mendapatkan anak yang hilang
engkau tertawa: perjalanan tak pernah sia-sia.
/3/
Ada pula masanya kanak-kanak belajar,
ayah menepikan ruang bermain dalam benakku
dan memahatkan tanggung jawab dalam jiwaku.
Meski hatiku pernah retak dalam kesedihan,
air mata itu berubah menjadi puisi cinta paling murni.
Kini aku berada di kota yang jauh.
Hujan seharian membuka genangan kenangan:
perjalanan panjang bersama ayah,
adalah puisi cinta yang sempurna.
Yogyakarta, 12 Februari 2021






Baru membacanya sekarang….
Terlalu bagus, ama…
Ka Thomas masih terus berlatih menulis puisi…
Sudah banyak tapi yang biasa2 saja… Mau belajar terus untuk menghasilkan puisi2 indah dan bagus seperti ama … 🙏🙏
Makasih Pak Yapy… Sajaknya Sangat menyentuh hati. Izin… Saya pakai untuk mengajar puisi pak..