• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Selasa, Juni 16, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home PUISI

Sajak untuk Ibu – Sajak untuk Ayah – Sajak-sajak Yoseph Yapi Taum

by Redaksi
April 3, 2025
in PUISI
3
Sajak untuk Ibu – Sajak untuk Ayah – Sajak-sajak Yoseph Yapi Taum

Foto Ilustrasi diambil dari id.pinterest.com

0
SHARES
98
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

SAJAK UNTUK IBU

 

Ibu, jika hari ini kau dengar kabar itu,
kuharap kembang di jantungmu tak luruh.
Langit belum memberiku pelangi,
tetapi seikat kembang dariku hiburkan hatimu.

Ibu, jika hari ini kau tak melihatku di ujung jalan itu,
kuharap senyummu tak surut.
Ombak laut belum memberiku perahu,
tetapi layarku kini sudah terkembang untukmu.

Rinduku padamu, Ibu,
adalah rindu kanak-kanak
menantimu pulang dari ladang.
Cintaku padamu, Ibu,
adalah keriangan kanak-kanak
saat membuka tudung saji mejamu.

Ibu, jika malam ini kau tak mendengar kabar itu,
bulan di ujung bukit masih tetap di sana.
Jarak sudah kulipat dan aku datang padamu,
mencium tanganmu memeluk dirimu.

Yogyakarta, 4 November 2017

——————————————–

 

 

 

SAJAK UNTUK AYAH

 

Ayah, kupetik kenangan dari hitungan waktu
yang tak pernah dapat dihentikan.
Pahatan-pahatan yang membentang di matamu,
tenggelam dalam kesunyian langitku.

/1/
Saputangan bersulam bunga, celana panjang putih,
cahaya pertama yang samar di desa Mulandoro.
Sanak keluarga datang berhimpun 1972,
sujud pertama sambut baruku di kaki altar!

Malam-malam panjang di perahu menuju Kedang,
percakapan di bawah ombak mengkhawatirkanmu.
Pagi di musim terang awan tiba, sekolah dan gereja,
adalah ruang pengabdian penanda nasib keluargamu.

/2/
Barangkali kerdip bintang di malam Natal 1977
yang terlambat membangunkanmu
punya makna: kekhawatiran menghadirkan
anak-anakmu di seputar kandang Bethlehem
tak perlu setinggi itu, sedang mereka sudah
berada di lautan kasihmu.

Barangkali kuda putih yang membawamu
mencariku ke desa tanjung yang jauh di 1978
merasakan degup jantungmu yang kencang.
Waktu mendapatkan anak yang hilang
engkau tertawa: perjalanan tak pernah sia-sia.

/3/
Ada pula masanya kanak-kanak belajar,
ayah menepikan ruang bermain dalam benakku
dan memahatkan tanggung jawab dalam jiwaku.
Meski hatiku pernah retak dalam kesedihan,
air mata itu berubah menjadi puisi cinta paling murni.

Kini aku berada di kota yang jauh.
Hujan seharian membuka genangan kenangan:
perjalanan panjang bersama ayah,
adalah puisi cinta yang sempurna.

Yogyakarta, 12 Februari 2021

 

ShareTweetSend
Next Post
Menara Epistemologi Tanpa Telinga

Menara Epistemologi Tanpa Telinga

Comments 3

  1. Thomas A. Sogen says:
    1 tahun ago

    Baru membacanya sekarang….
    Terlalu bagus, ama…
    Ka Thomas masih terus berlatih menulis puisi…
    Sudah banyak tapi yang biasa2 saja… Mau belajar terus untuk menghasilkan puisi2 indah dan bagus seperti ama … 🙏🙏

    Reply
  2. Anselmo da Costa Ornai says:
    1 tahun ago

    Makasih Pak Yapy… Sajaknya Sangat menyentuh hati. Izin… Saya pakai untuk mengajar puisi pak..

    Reply
  3. Theresia B says:
    5 bulan ago

    Sangat bagus puisinya,bahasanya tll tinggi kl yg awam sulit unk mrncermati maknanya.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Lagu  Pantai  Lamalera  ( buat Ivan Nestorman )

Lagu Pantai Lamalera ( buat Ivan Nestorman )

3 tahun ago
SAJAK-SAJAK YOSEPH YAPI TAUM:  Jalan Sunyi – Perjalanan Laut – Aku Menatap Langit

SAJAK-SAJAK YOSEPH YAPI TAUM: Jalan Sunyi – Perjalanan Laut – Aku Menatap Langit

3 tahun ago

Popular News

  • Bayi – bayi di Pinggir Negeri – Sebuah Cerita Pendek Helena Lose Beraf

    Bayi – bayi di Pinggir Negeri – Sebuah Cerita Pendek Helena Lose Beraf

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In