• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Kamis, April 16, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Apakah Manusia diberikan Kebebasan Menentukan Nasibnya ataukah Sudah diatur Sesuai Takdir

by Redaksi
November 11, 2025
in OPINI
0
Terlahir Kembali dalam Kontek Agama Timur dan Surga Neraka dalam Perspektif Agama Samawi
0
SHARES
17
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Agus Widjajanto Soerjo Projo

 

Semesta tidak pernah memihak pada yang baik maupun yang jahat, semesta selalu berpihak kepada manusia yang memahami caranya semesta bekerja, yang mengalir denganya, dan hidup selaras dengan kehendaknya.

Hidup bukanlah tentang seberapa baik atau buruk kita dinilai oleh manusia, melainkan seberapa dalam diri kita memahami tentang hukum hukum yang menggerakan kehidupan di alam semesta ini, alam semesta tidak menilai dan tidak menghukum serta tidak mengkasiani . Alam semesta hanya merespon vibrasi energi yang kita pancarkan, dari kekuatan pikiran, perasaan  di hati, dengan sebuah tindakan yang terfokus pada ketepatan yang sempurna.

Kebanyakan diri kita karena hidup dalam ketidak tahuan dan ketidak pahaman hukum-hukum kehidupan dalam semesta maka berakibat merasa tidak adil dan keberuntungan hanya berpihak pada orang-orang tertentu saja.

Namun ketika kita memahami bahwa setiap peristiwa di muka bumi ini adalah hasil dari vibrasi yang kita bawa, maka diri kita akan berhenti pemahaman untuk menyalahkan keadaan beralih pada pegang kendali pada diri kita untuk menentukan langkah ke depan. 

Hukum alam bekerja tanpa pengecualian, hukum alam bekerja atas sebab akibat, atas vibrasi, hukum keseimbangan, semua berjalan dan beroperasi  berdasarkan hukum keadilan yang tidak tergoyahkan.

Jika kita menabur kebaikan yang tulus, bukan hanya dipermukaan  maka semesta akan memberikan kebaikan yang tak terduga  berdasarkan vibrasi yang terpancar. Demikian juga jikalau diri kita memancarkan vibrasi keraguan ketakutan maka alam akan merespon dengan ketidak pastian dengan jalan memperkuat apa yang kita pikirkan dan dari batin qolbu yang kita pancarkan jadi kenyataan .

Maka tugas kita sesungguhnya bukan meminta agar semesta berpihak pada kita akan tetapi harus bisa memahami dan menyelaraskan diri kita dengan alam semesta itu sendiri agar tidak terjadi pertentangan hukum hukum yang telah semesta terapkan dalam hukum kausalitas sebab akibat tadi. Sebab siapapun yang sudah bisa memahami berjalanya hukum alam sesuai Sunatullah maka dia akan menyelaraskan hidupnya dengan tanda tanda alam tidak akan melawan kodrat alam tapi menyatu sebagai bagian dari alam.

Bahwa setiap tindakan manusia akan memiliki konsekuensi, baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan berikutnya yang tidak bisa dilepaskan yang selalu melekat atas hukum hukum yakni:

– Kausalitas: Hukum Karma berdasarkan pada prinsip kausalitas, yaitu bahwa setiap tindakan akan memiliki konsekuensi yang sesuai.

– Tindakan dan Konsekuensi: Setiap tindakan manusia, baik itu baik maupun buruk, akan memiliki konsekuensi yang sesuai. Tindakan baik akan menghasilkan konsekuensi baik, sedangkan tindakan buruk akan menghasilkan konsekuensi buruk.

-Bertanggung jawab: Bertanggung jawab atas tindakan kita dan menerima konsekuensi nya

– Konsekuensi tindakan: Setiap tindakan kita akan memiliki konsekuensi, baik itu dalam bentuk fisik, emosi, atau spiritual.

– Pertanggungjawaban: Kita bertanggung jawab atas tindakan kita dan harus menerima konsekuensi yang terjadi.

 

Lalu bagaimana peran Tuhan yang dalam konsep agama-agama besar dari Agama Samawi dimana Tuhan  merupakan sentral yang mengatur dan memberikan rahmat setiap mahluk serta menghukum bagi yang berbuat jahat  jika dihubungkan dengan pancaran vibrasi setiap mahluk dalam.alam semesta ?

Pertanyaan yang sangat mendalam! Agama dan hukum semesta pancaran vibrasi memiliki hubungan yang kompleks dan multifaset. Berikut beberapa perspektif yang mungkin dapat menjelaskan hubungan antara keduanya:

– Agama sebagai Panduan: Agama dapat dilihat sebagai panduan untuk membantu manusia memahami dan mengikuti hukum semesta yang lebih besar. Dengan mengikuti ajaran agama, manusia dapat meningkatkan kesadaran diri dan memahami cara untuk hidup yang lebih harmonis dengan semesta.

– Hukum Semesta sebagai Manifestasi Tuhan: Beberapa agama percaya bahwa hukum semesta adalah manifestasi dari Tuhan atau kekuatan ilahi yang lebih besar. Dalam hal ini, agama dan hukum semesta pancaran vibrasi dapat dilihat sebagai dua sisi dari koin yang sama, yaitu sebagai cara untuk memahami dan mengikuti kehendak Tuhan.

– Kesadaran Diri dan Pertumbuhan Spiritual: Agama dan hukum semesta pancaran vibrasi dapat membantu manusia meningkatkan kesadaran diri dan pertumbuhan spiritual. Dengan memahami dan mengikuti hukum semesta, manusia dapat meningkatkan kesadaran diri dan memahami cara untuk hidup yang lebih harmonis dengan semesta.

– Keseimbangan dan Harmoni: Agama dan hukum semesta pancaran vibrasi dapat membantu manusia mencapai keseimbangan dan harmoni dalam hidup. Dengan mengikuti ajaran agama dan memahami hukum semesta, manusia dapat mencapai keseimbangan antara aspek material dan spiritual dalam hidup.

 

Dalam konteks ini, agama dapat dilihat sebagai cara untuk membantu manusia memahami dan mengikuti hukum semesta pancaran vibrasi, sehingga dapat mencapai kehidupan yang lebih harmonis dan seimbang. Namun, perlu diingat bahwa hubungan antara agama dan hukum semesta pancaran vibrasi dapat berbeda-beda tergantung pada kepercayaan dan perspektif individu.

Konsep semesta memancarkan vibrasi seringkali dikaitkan dengan hukum tarik-menarik (Law of Attraction) dan spiritualitas. Menurut konsep ini, semesta merespons energi yang kita pancarkan, termasuk niat dan pikiran kita.

 

Pengaruh Niat Jahat dan Baik:

– Niat Baik: Ketika kita memiliki niat baik, seperti kasih sayang, empati, dan kepedulian, kita memancarkan energi positif. Semesta diyakini merespons energi ini dengan cara yang positif, membawa kebaikan dan keberuntungan dalam hidup kita.

– Niat Jahat: Sebaliknya, ketika kita memiliki niat jahat, seperti kebencian, iri hati, atau keinginan untuk menyakiti, kita memancarkan energi negatif. Semesta diyakini merespons energi ini dengan cara yang negatif, membawa kesulitan dan ketidakseimbangan dalam hidup kita.

 

Bagaimana Semesta Merespons:

– Hukum Tarik-Menarik: Semesta diyakini bekerja berdasarkan hukum tarik-menarik, di mana energi yang serupa akan menarik energi yang serupa. Jadi, jika kita memancarkan energi positif, kita akan menarik energi positif, dan sebaliknya.

– Getaran Energi: Setiap pikiran, emosi, dan niat memiliki getaran energi yang unik. Semesta merespons getaran energi ini dan mengembalikan apa yang kita pancarkan.

 

Itulah hukum hukum Alam Semesta, yang mempunyai keteraturan dan tata cara sesuai kodrati semesta. Apabila dikaitkan dengan hukum Agama khususnya Islam yang diatur dalam Alquranul Qarim, maka Dalam Islam, konsep nasib dan kebebasan manusia merupakan topik yang kompleks dan telah diperdebatkan oleh para ulama dan cendekiawan Muslim selama berabad-abad. Berikut adalah pandangan Islam tentang hal ini:

 

  1. Qada dan Qadar: Dalam Islam, ada konsep Qada (ketetapan Allah) dan Qadar (takdir). Qada adalah ketetapan Allah yang telah ditentukan sebelumnya, sedangkan Qadar adalah takdir yang telah ditentukan Allah untuk setiap individu.
  2. Kebebasan Manusia: Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Allah memberikan manusia akal dan kemampuan untuk memilih antara baik dan buruk.
  3. Tanggung Jawab: Manusia bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka sendiri. Allah akan mempertanyakan manusia tentang apa yang telah mereka lakukan di dunia.
  4. Takdir: Meskipun manusia memiliki kebebasan, takdir Allah tetap berlaku. Allah telah menentukan apa yang akan terjadi, tetapi manusia tidak tahu apa yang telah ditentukan.

 

Dalam Al-Quran, Allah berfirman:

 

– “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barangsiapa yang ingin (menerima kebenaran), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (menolaknya), hendaklah ia kafir’.” (QS. Al-Kahfi: 29)

– “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) jalan yang lurus, apakah dia bersyukur atau kafir.” (QS. Al-Insan: 3)

 

Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

– “Setiap anak Adam telah ditentukan tempatnya di surga atau di neraka, kecuali orang yang memilih untuk beriman atau kafir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Jadi, dalam Islam, manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri, tetapi takdir Allah tetap berlaku. Manusia bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka sendiri, dan Allah akan mempertanyakan mereka tentang apa yang telah mereka lakukan di dunia.

Para Ulama terbelah dalam dua aliran dimana aliran Mu’ tazilah memberikan kebebasan mutlak untuk menentukan jalan hidup manusia sesuai Qadar kemampuan dan niat masing masingb, sedang kan aliran Jabariyah menyerahkan diri sepenuhnya pada takdir.

Ketika keadilan bagi manusia bertabrakan dengan aturan dogma yang diyakini berdasarkan keadilan dari Tuhan Yang Esa, dimanakah harus memilih? Disinilah ke Imanan akan diuji , dimana manusia diberikan pilihan apakah memilih jalan yang lurus dalam arti berdemensi kebaikan atau jalan yang berkelok melalui jalan keburukan disinilah takdir ditentukan oleh manusia sendiri , berdasarkan akal budi dan niat nya,

Menurut Ronggo Warsito, seorang pujangga dan filsuf Jawa, takdir adalah suatu kekuatan yang telah ditentukan oleh Tuhan dan tidak dapat diubah oleh manusia. Namun, Ronggo Warsito juga menekankan pentingnya manusia untuk berusaha dan berdoa untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan.

Dalam karya-karyanya, Ronggo Warsito sering menulis tentang konsep “Kodrat” yang berarti takdir atau ketentuan Tuhan. Ia percaya bahwa kodrat adalah suatu kekuatan yang telah ditentukan oleh Tuhan dan tidak dapat diubah oleh manusia, tetapi manusia dapat memilih untuk menerima atau menolaknya.

Ronggo Warsito juga menekankan pentingnya manusia untuk memiliki “Eling” atau kesadaran akan diri sendiri dan Tuhan. Dengan memiliki eling, manusia dapat memahami kodrat dan menerima takdir dengan lapang dada.

Dalam salah satu karyanya, Ronggo Warsito menulis: “Urip iku mung mampir ngombe, ora bakal langgeng ing dunyo“. (Keputusan hidup itu hanya sementara, tidak akan kekal di dunia)

Artinya, hidup ini hanya sementara dan tidak kekal, maka manusia harus berusaha untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan dengan menerima takdir dan berusaha untuk memperbaiki diri.

Jadi, menurut Ronggo Warsito, takdir adalah suatu kekuatan yang telah ditentukan oleh Tuhan, tetapi manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan berusaha untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan.

Kesimpulannya adalah , Hukum alam atau semesta ( Kekuasaan Tuhan Yang Esa ) sesuai hukum-hukum Sunatullah adalah netral, perbuatan baik dan jahat akan kembali kepada setiap niatan yang ada, tergantung dari pilihan kita karena hidup adalah pilihan apakah akan memilih jalan kebaikan ataukah justru menempuh jalan keburukan, apapun pilihannya ada konsekuensi logis yang harus dipertanggung jawabkan  dimana pada kodratnya  hukum alam dan semesta itulah yang akan menghukum atas kelakukan kita yang dalam Hindu dan Budha disebut hukum Karma dimana karma akan perbuatan yang kita tanam yang menghukum diri kita sendiri, sedangkan sifat  Tuhan adalah Rohman Rohim. Penuh Kasih dan Sayang, yang keberadaannya meliputi seluruh alam semesta ini, yang menggerakan hukum alam (Sunatullah) yang juga hukum Tuhan yang tidak ada sifat menghukum, dimana kelakuan diri kitalah yang terhukum atas segala tindakan kita kepada sesama dan alam semesta.

————————-

Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya dan spirutual Jawa, tinggal di Jakarta

ShareTweetSend
Next Post
Menyimak Resiko  Alat Utama Tranportasi dan Pertahanan Import dan Upaya Kemandirian

Pengaruh China atas Berdirinya Kerajaan Islam Pertama di Jawa  Demak Bintoro

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

LEGISLATOR NTT : Emanuel Melkiades Laka Lena

LEGISLATOR NTT : Emanuel Melkiades Laka Lena

6 tahun ago
Pengumpul Data Kebudayaan Membuat Bianglala

Pengumpul Data Kebudayaan Membuat Bianglala

6 tahun ago

Popular News

  • Perihal Presidensialisme

    Perihal Presidensialisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In