
Oleh Agustinus Tetiro, Alumnus IFTK Ledalero dan STF Driyarkara
Pada salah satu misa tahbisan imam-imam baru beberapa waktu lalu di salah satu paroki di Flores, uskup pentahbis Mgr Paulus Budi Kleden SVD memberikan hadiah rosario dari Roma bagi Bapa-bapa yang telah menyerahkan anak-anak laki-laki mereka menjadi imam Tuhan. Spontan reaksi umat yang hadir adalah tertawa yang sejurus kemudian menjadi momen singkat untuk refleksi. Merenung sambil tersenyum.
Pesan Bapa Uskup Agung Ende ini amat kuat: “Kami meminta Bapa-bapa mendoakan para imam baru dan kami semua agar selalu setia dalam jalan panggilan ini. Kami tahu, Bapa-bapa sudah selalu berdoa, tetapi dengan hadiah rosario ini, semoga makin rajin berdoa”
Peristiwa ini menjadi viral di media sosial. Berbagai tafsiran dari warga dunia digital (netizen) tak terbendung. Ada yang menyatakan bahwa itu sejenis teguran tentang betapa tidak seringnya kita melihat para bapa berdoa rosario. Ada juga yang menyatakan kalau itu adalah ajakan agar Bapa-Bapa di Flores (dan NTT) untuk mulai rajin berdoa rosario. Ada yang lebih jauh melihat bahwa itu jadi jalan masuk untuk mengajak para Bapa terlibat aktif dalam sejumlah program Keuskupan Agung Ende (KAE) yang berkaitan dengan hidup bersama: Komunitas Umat Basis (KUB) ramah anak dan KUB ramah ibu hamil.
Saya secara pribadi melihat penekanan yang amat kuat tentang peran keluarga yang disampaikan Bapa Uskup Budi Kleden dalam beberapa kesempatan. Kalau kita melihat sejumlah surat gembala Bapa Uskup Agung Ende setahun ini, maka kita akan mudah menemukan bahwa keluarga ada pada inti refleksinya yang merupakan buah langsung dari moto episkopal: “Peliharalah Kasih Persaudaraan!”
Kasih Persaudaraan hanya bisa diamalkan dan dipelihara jika kita semua memiliki kesediaan untuk mengakui dan ‘mengangkat’ orang-orang yang kita temui sebagai saudara anggota keluarga kita, anggota keluarga Allah. Keluarga Allah adalah keluarga yang penuh cinta kasih.
****
Keluarga dan refleksi tentang keluarga memang telah menjadi salah satu bagian utama dari kehidupan pribadi dan refleksi teologis Mgr Budi Kleden. Saya coba menceritakan beberapa fragmen di sini.
Kalau saya tidak salah ingat, pernah suatu ketika dulu di salah satu kuliah pilihan Pater Budi (Mgr Budi) berjudul Teodice yang digelar sore hari, sepasang suami-istri dengan dua anak melintas di depan ruang kelas. Keluarga ini terlihat amat bahagia. Sang istri dengan manjanya memeluk sang suami. Sementara, kedua anak mereka lari-lari di jalan sambil sesekali memetik bunga di taman.
Perhatian para frater dan mahasiswa yang sedang mengikuti kuliah agak terbagi. Sejurus kemudian, Pater Budi berkata, “Kalian melihat kebahagiaan. Akan tetapi, kita juga bisa membayangkan: ada berapa pertengkaran yang telah terjadi dan tentu saja ada juga lebih banyak maaf dan pengampunan di dalamnya”
Ruang kuliah terinterupsi sejenak. Lalu, kami semua kembali ke Teodice: tepat pada bagian tentang pembauran horizon menurut filsuf Jerman, Hans-Georg Gadamer. Kuliah sore itu memang menjadi full senyum.
Kesempatan lain adalah kotbah Pater Budi saat misa peringatan ibunda dari teman angkatannya Phillip Gobang di rumah mereka di belakang Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret. Saya ingat salah satu bagiannya berbunyi, “Kita semua merindukan kasih ibu… Pelukan ibu memang mengikat kita, tetapi serentak juga adalah modal bagi kita untuk percaya diri menghadapi dunia”
****
Beberapa saudara sepupu Bapa uskup Budi juga memberi kesan pribadi tersendiri. Mendiang sosiolog dan penilai sastra Ignas Kleden pernah bercerita kepada saya: “Gus, dosen teologimu Pater Budi itu teolog yang canggih, yah. Tetapi, kalau kita lihat gayanya, dia tidak seperti teolog-teolog lain. Saya membayangkan dia seperti nelayan di Waibalun yang sedang duduk santai di pinggir perahu sambil melihat anak-anaknya main di pantai. Sederhana…”
Seminggu setelah diangkat menjadi uskup agung Ende, jurnalis senior dari Tempo (English version) Hermien Kleden dan saya hadir dalam salah satu rapat ikatan sarjana Katolik Indonesia (ISKA) di Unika Atma Jaya Jakarta. Beberapa anggota ISKA bertanya banyak hal kepada Ibu Hermien, yang kemudian menjawab, “Uskup Budi itu memang adik dan saudara saya, tetapi di sini ada muridnya Aji Gusti ini,” sambil menunjuk ke arah saya.
Pater Leo Kleden bercerita tentang kesannya terhadap Bapa Uskup Budi dalam salah satu momen diskusi buku di kampus STIPAR Ende. “Dari kecil, meskipun bakat akademiknya telah terlihat mencolok, Pater Budi selalu membantu bapanya di bengkel kayu. Suatu ketika, Bapanya bertukar pikiran dengan Bapa kami. Bapa kami menasihati adiknya satu hal: biarkanlah Tuhan yang bekerja atas dirinya. Tugasmu adalah mendukungnya sekolah ke (Seminari) Hokeng”
Pada upacara pelantikan guru besar salah satu saudarinya di Undana Kupang, Prof. Intje Kleden, Mgr Budi diterima tidak hanya sebagai Uskup Agung, tetapi juga sebagai rekan akademisi. Ketika sang yubilaris menyebut nama Bapa uskup Budi Kleden sebagai kakaknya, ruangan dipenuhi tepuk tangan. Bapa uskup kita dicintai dengan amat sangat.
Dari beberapa kesaksian saudara dekatnya di atas, kita tahu bahwa Bapa Uskup Budi dicintai sejak dari komunitasnya yang paling kecil: keluarga. Dengan cinta yang sama itu, dia melihat dan memperlakukan semua yang ditemuinya di luar rumah.
Menjadikan seseorang sebagai keluarga dan saudara itu berarti menerima kelebihan dan kekurangannya serta menolongnya untuk bisa mengaktualisasi dirinya secara baik, benar, bebas dan bertanggung jawab.
****
Ketika saya membaca press realese dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tentang susunan fungsionaris KWI yang baru, sebagai mantan murid, saya bahagia karena ada nama Mgr Paul Budi Kleden SVD di posisi Wakil Ketua I (satu). Itu artinya akan ada banyak ide segar dari sang teolog yang akan mewarnai kebijakan-kebijakan teologis dan pastoral-politis para uskup Indonesia.
Akan tetapi, sebenarnya ada satu yang lebih menarik perhatian saya adalah susunan utusan (delegatus) Indonesia dari KWI untuk Federasi Konferensi Waligereja Asia (Federation of Asian Bishops’ Conference/FABC) yang menempatkan dua nama uskup akademisi yang saya kenal: teolog Mgr Budi dan ilmuwan sosial yang juga merupakan uskup Labuan Bajo Mgr Max Regus.
Dalam karya-karya awalnya berbentuk buku, Mgr Max (dulu: Romo Max Regus) selalu menuliskan ucapan terima kasih kepada Pater Budi Kleden sebagai guru dan kakak yang baik. Guru dalam artian telah menjadi pendidiknya selama studi di Ledalero puluhan tahun lalu dan Kakak pastilah karena pengalaman persaudaraan dan kekeluargaan yang tercipta dalam relasi keduanya.
Saya tahu baik, ada banyak mantan murid dan rekan seumuran yang melihat Mgr Budi sebagai Kakak dan Saudara. Begitu juga kita melihat melalui media sosial bagaimana umatnya begitu bergembira jika bertemu Sang Gembala. Bagi mereka, uskup Budi adalah Bapa mereka. Ada kebahagiaan yang terlihat dari wajah umatnya saat bertemu Bapa Uskup.
Bahkan, ada yang menyapanya, “Senang e kami bisa lihat Bapa Paus…!” Tentu saja, kesalahan sebut ini membuat Bapa uskup dan kita tertawa, tetapi tidak bisa membatalkan kebahagiaan mereka yang gembira dengan pertemuan itu.
*****
Dalam lintasan sejarah, Gereja Katolik menunjukkan contoh-contoh dari para pemimpin yang hidup dari semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Salah satunya adalah mendiang Sri Paus Yohanes Paulus II yang menyatakan: aku sebatang kara, tetapi keluargaku menyebar di seluruh dunia.
Hari ini, uskup agung Ende Mgr Paul Budi Kleden SVD telah mengajarkan banyak hal tentang keluarga harapan. Keluarga yang selalu membangkitkan harapan. Saya ingat salah satu tafsiran Bapa uskup tentang naskah anak yang hilang (Lihat; Lukas 15:11-32).
Menurut Mgr Budi, keberanian anak yang hilang untuk pulang ke rumah ayahnya adalah karena ingatannya tentang cinta Ayahnya kepada anaknya. Cinta itulah yang menguatkan sang anak hilang untuk merasa pasti bahwa dia tidak akan ditolak di rumah keluarganya sendiri.
Dalam tahun Yubileum 2025 di bawah tema Peziarah Pengharapan (Peregrinantes in Spem/Pilgrim of Hope) ini, kita semua perlu mengambil bagian untuk memastikan masih ada harapan di dalam keluarga kita masing-masing. Harapan itu menyata pada pernyataan perang kita pada hal-hal yang menggerogoti keluarga: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perdagangan orang (human trafficking), ancaman perceraian, judi online (judol), pinjaman online (pinjol), dan lain-lain.
Bacaan kedua pada misa Minggu ini (16/11/2025): Keteladanan. Keluarga adalah sumber keteladanan yang memastikan harapan tetap ada. Harapan (kepada Tuhan) itu tidak mengecewakan (Spes non confundit). Peliharalah Harapan dalam Keluarga! Peliharalah Kasih Persaudaraan! Dalam doa yang intim dan tindakan nyata.







Sejati selalu bapa Uskup.