• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Senin, Maret 9, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home BERITA

“Bukan Sekadar Pelipur Lara”: Guru Besar Universitas Sanata Dharma Tegaskan Sastra sebagai Benteng Peradaban dan Jalan Renaisans Bangsa

by Redaksi
November 25, 2025
in BERITA
0
“Bukan Sekadar Pelipur Lara”: Guru Besar Universitas Sanata Dharma Tegaskan Sastra sebagai Benteng Peradaban dan Jalan Renaisans Bangsa
0
SHARES
146
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 Di tengah gemuruh era algoritma dan dominasi kemajuan material, sebuah pertanyaan fundamental digemakan dari Universitas Sanata Dharma (USD) hari ini: “Apakah kita masih membutuhkan sastra?” Jawabannya, menurut Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., bukan hanya “ya”, melainkan sebuah imperatif moral bagi kelangsungan bangsa.

Dalam pidato pengukuhan jabatannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Teori Sastra, di Yogyakarta, 21 November 2025, Prof. Yapi Taum menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Teori Sastra, Memoria Passionis, dan Renaisans Bangsa.”. Pidato ini bukan sekadar perayaan akademik, melainkan sebuah manifesto yang menantang amnesia sejarah dan menyerukan “makanan bergizi bagi jiwa” untuk generasi Indonesia Emas.

 

Sastra: Dari Alam Liar Menuju Peta Pembebasan

 

Prof. Yapi Taum membuka pidatonya dengan menyoroti kondisi kritik sastra modern yang ia sebut sebagai “alam liar” yang membingungkan. Berangkat dari kegelisahan intelektualnya saat membedah karya absurd Danarto, Godlob, puluhan tahun silam, ia menegaskan bahwa tanpa teori, teks sastra akan tetap bisu.

Dalam orasi ini, Prof. Yapi Taum menawarkan kontribusi teoretis yang signifikan dengan mereposisi paradigma klasik M.H. Abrams. Ia berargumen bahwa pendekatan tradisional (Mimetik, Objektif, Ekspresif, Pragmatik) tidak lagi cukup untuk membaca kompleksitas relasi kuasa dalam teks.

Ia memperkenalkan Pendekatan Diskursif dan Eklektik ke dalam peta tersebut. “Teks bukan sekadar representasi, melainkan medan pertarungan ideologi,” tegasnya. Pendekatan diskursif inilah yang membongkar siapa yang bersuara dan siapa yang dibungkam dalam sebuah narasi.

 

Memoria Passionis: Merawat Ingatan Luka

 

Jantung dari pidato Prof. Yapi Taum terletak pada konsep Memoria Passionis—ingatan akan penderitaan. Mengutip teolog Johann Baptist Metz, ia menekankan bahwa ingatan ini bersifat subversif; ia menolak narasi sejarah resmi yang sering kali homogen dan manipulatif.

“Sastra adalah penjaga Memoria Passionis, ingatan atas luka kolektif bangsa,” ujarnya.

Rekam jejak riset Prof. Yapi Taum membuktikan konsistensi tema ini. Dari penelitian lapangan di Kamboja mengenai rezim Khmer Merah, disertasinya tentang Representasi Tragedi 1965, hingga riset terbarunya mengenai memori kolektif pascakonflik di Timor-Leste.

Ia menemukan bahwa karya sastra Indonesia seputar Tragedi 1965 hampir seluruhnya merupakan karya memoria passionis yang berpihak pada sisi kemanusiaan korban, berbeda dari narasi resmi Orde Baru. Begitu pula dalam kasus Timor-Leste, risetnya mengungkap bahwa rekonsiliasi sejati tidak dibangun dengan melupakan, tetapi dengan keberanian menatap sejarah kelam.

“Negara Timor-Leste didirikan di atas pertikaian, konflik, darah, dan air mata… Memoria Passionis harus diangkat ke publik untuk menumbuhkan Compassio (belarasa).”

 

Renaisans Bangsa: Melampaui Pembangunan Fisik

 

Bagian paling politis dan visioner dari pidato ini adalah gagasan tentang Renaisans Bangsa. Prof. Yapi Taum mengkritik kecenderungan bangsa yang mengidap “amnesia historis” dan mewarisi dinasti kekerasan.

Ia mengajukan tesis bahwa kebangkitan bangsa (renaisans) bukanlah sekadar soal ekonomi atau infrastruktur, melainkan kebangkitan moral yang dipicu oleh empati sastra. Ia mencontohkan bagaimana novel Uncle Tom’s Cabin di Amerika Serikat mampu mengubah pandangan publik tentang perbudakan lebih efektif daripada debat politik, serta bagaimana sastra Jerman pasca-Holocaust membantu bangsa tersebut melakukan rekonstruksi moral.

 

Seruan untuk Pemerintah: “MBJ” untuk Generasi Emas

 

Menutup orasinya, Prof. Yapi Taum menyampaikan pesan langsung kepada pemerintah terkait visi Indonesia Emas 2045. Ia mengapresiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kesehatan fisik anak-anak, namun mengingatkan adanya bahaya kelaparan batin.

“Kita tidak boleh membiarkan jiwa anak-anak Indonesia kelaparan,” serunya dari podium.

Ia mendesak pemerintah untuk melengkapi program fisik tersebut dengan “Makanan Bergizi bagi Jiwa” (MBJ), yaitu penyediaan akses buku sastra bermutu secara gratis dan masif. Tanpa fondasi naratif dan empati yang diasah oleh sastra, ia memperingatkan bahwa upaya kebangkitan fisik-material hanya akan menghasilkan bangunan yang rapuh.

Pidato pengukuhan ini menegaskan posisi Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. tidak hanya sebagai akademisi menara gading, tetapi sebagai intelektual publik yang meyakini bahwa sastra adalah “laboratorium moral” yang krusial bagi masa depan Indonesia yang beradab, toleran, dan manusiawi.(Berandanegeri.com)

 

ShareTweetSend
Next Post
Hak Prerogratif Presiden Berupa Rehabilitasi terhadap Direksi PT ASDP yang Telah Dijatuhi Hukuman  Pengadilan Tipikor Jakarta

Hak Prerogratif Presiden Berupa Rehabilitasi terhadap Direksi PT ASDP yang Telah Dijatuhi Hukuman  Pengadilan Tipikor Jakarta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Klarifikasi Pendeta Ibrahim Assa Jemaat GPDI Maumere terkait Penemuan Telur Berwarna yang Menggegerkan Warga Sikka

5 tahun ago
Produk Ekowisata Akan Sangat Diminati Pascapandemi

Produk Ekowisata Akan Sangat Diminati Pascapandemi

6 tahun ago

Popular News

  • Berada Bersama Peserta Didik untuk Menjadikan Disiplin sebagai Habitus

    Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In