Oleh Agus Widjajanto
Nikola Tesla, seorang ilmuwan dan penemu yang terkenal, pernah mengatakan bahwa “If you want to find the secrets of the universe, think in terms of energy, frequency and vibration” (Jika kamu ingin menemukan rahasia alam semesta, pikirkan dalam hal energi, frekuensi, dan getaran).
Jika kita hubungkan pendapat Tesla ini dengan Konsep Tasawuf dan Fisika Kuantum, maka kita dapat melihat bahwa ada kesamaan dalam memandang alam semesta sebagai sesuatu yang terkait dengan energi dan getaran.
Dalam Tasawuf, konsep “Nūr al-Anwār” (Cahaya dari Cahaya) menyatakan bahwa Allah adalah sumber dari Segala Cahaya dan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi dari Cahaya Allah.
Tesla juga pernah mengatakan bahwa “The universe is a symphony of energy” (Alam semesta adalah simfoni energi), yang berarti bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah hasil dari getaran energi yang harmonis.
Dalam Fisika Kuantum, konsep “energi titik nol” (zero-point energy) menyatakan bahwa alam semesta ini memiliki energi dasar yang tidak dapat dihilangkan, dan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah hasil dari getaran energi ini.
Jadi, jika kita hubungkan pendapat Tesla dengan Konsep Tasawuf dan Fisika Kuantum, maka kita dapat melihat bahwa ada kesamaan dalam memandang alam semesta sebagai sesuatu yang terkait dengan energi, getaran dan cahaya.
Dalam konteks ini, pendapat Tesla bahwa “sesungguhnya di alam semesta ini merupakan cahaya dari seluruh cahaya” dapat diartikan bahwa alam semesta ini adalah manifestasi dari cahaya Allah yang Esa, dan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah hasil dari getaran energi yang harmonis.
Semesta tidak pernah memihak pada yang baik maupun yang jahat, semesta selalu berpihak kepada manusia yang memahami caranya semesta bekerja, yang mengalir denganya, dan hidup selaras dengan kehendaknya.
Hidup bukanlah tentang seberapa baik atau buruk kita dinilai oleh manusia, melainkan seberapa dalam diri kita memahami tentang hukum-hukum yang menggerakan kehidupan di alam semesta ini, alam semesta tidak menilai dan tidak menghukum serta tidak mengkasiani . Alam semesta hanya merespon vibrasi energi yang kita pancarkan, dari kekuatan pikiran, perasaan di hati, dengan sebuah tindakan yang terfokus pada ketepatan yang sempurna.
Kebanyakan diri kita karena hidup dalam ketidak tahuan dan ketidak pahaman hukum-hukum kehidupan dalam semesta maka berakibat merasa tidak adil dan keberuntungan hanya berpihak pada orang orang tertentu saja.
Namun ketika kita memahami bahwa setiap peristiwa di muka bumi ini adalah hasil dari vibrasi yang kita bawa , maka diri kita akan berhenti pemahaman untuk menyalahkan keadaan beralih pada pegang kendali pada diri kita untuk menentukan langkah ke depan.
Hukum alam bekerja tanpa pengecualian, hukum alam bekerja atas sebab akibat, atas vibrasi, hukum keseimbangan, semua berjalan dan beroperasi berdasarkan hukum keadilan yang tidak tergoyahkan.
Jika kita menabur kebaikan yang tulus, bukan hanya dipermukaan maka semesta akan memberikan kebaikan yang tak terduga berdasarkan vibrasi yang terpancar. Demikian juga jikalau diri kita memancarkan vibrasi keraguan ketakutan maka alam akan merespon dengan ketidak pastian dengan jalan memperkuat apa yang kita pikirkan dan dari batin qolbu yang kita pancarkan jadi kenyataan.
Maka tugas kita sesungguhnya bukan meminta agar semesta berpihak pada kita akan tetapi harus bisa memahami dan menyelaraskan diri kita dengan alam semesta itu sendiri agar tidak terjadi pertentangan hukum-hukum yang telah semesta terapkan dalam hukum kausitas sebab akibat tadi. Sebab siapapun yang sudah bisa memahami berjalanya hukum alam sesuai sunatullah maka dia akan menyelaraskan hidupnya dengan tanda-tanda alam tidak akan melawan kodrat alam tapi menyatu sebagai bagian dari alam.
Imam Al-Ghazali, seorang ulama dan filsuf Islam terkenal, memiliki pendapat yang sangat menarik tentang gerakan alam semesta. Dalam karyanya, “Ihyā’ Ulūm al-Dīn” (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama), Al-Ghazali menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk gerakan alam, adalah hasil dari kehendak dan kekuasaan Allah yang Esa.
Al-Ghazali percaya bahwa Allah adalah sumber dari segala gerakan dan perubahan di alam semesta ini. Ia menyatakan bahwa gerakan alam semesta ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau tanpa sebab, melainkan adalah hasil dari kehendak dan kekuasaan Allah yang Esa.
Dalam konteks ini, Al-Ghazali menggunakan konsep “Tawhid” (KeEsaan Allah) untuk menjelaskan bahwa Allah adalah satu-satunya entitas yang ada dan berkuasa di alam semesta ini. Ia percaya bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk gerakan alam, adalah manifestasi dari kehendak dan kekuasaan Allah yang Esa.
Ronggowarsito, seorang pujangga dan filsuf Jawa, juga memiliki pendapat yang mirip dengan Al-Ghazali. Dalam karyanya, “Serat Kalatidha”, Ronggowarsito menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk gerakan alam, adalah hasil dari kehendak dan kekuasaan Allah yang Esa.
Ronggowarsito percaya bahwa alam semesta ini adalah sebuah kesatuan yang harmonis, dan bahwa segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah terkait dan saling mempengaruhi. Ia menyatakan bahwa gerakan alam semesta ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau tanpa sebab, melainkan adalah hasil dari kehendak dan kekuasaan Allah yang Esa.
Dalam konteks ini, Ronggowarsito menggunakan konsep “Manunggaling Kawula Gusti” (Kesatuan antara Hamba dan Tuhan) untuk menjelaskan bahwa Allah adalah satu-satunya entitas yang ada dan berkuasa di alam semesta ini, dan bahwa segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah manifestasi dari kehendak dan kekuasaan Allah yang Esa.
Dalam Konsep Tasawuf, gerakan semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dipandang sebagai gerakan Allah yang Esa. Jika kita melihat dari sudut pandang ilmu Fisika Kuantum, ada beberapa kesamaan konsep yang menarik.
Dalam Fisika Kuantum, konsep “entanglement” (keterikatan) menyatakan bahwa partikel-partikel subatomik dapat terkait satu sama lain dan mempengaruhi satu sama lain, bahkan jika mereka berjauhan. Ini berarti bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terkait dan saling mempengaruhi.
Selain itu, konsep “non-lokalitas” dalam Fisika Kuantum menyatakan bahwa informasi dapat dipindahkan secara instan, tanpa memandang jarak, yang berarti bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terkait secara non-lokal.
Dalam Tasawuf, konsep “Wahdat al-Wujud” (KeEsaan Wujud) menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi dari Allah yang Esa, dan bahwa tidak ada perbedaan antara subjek dan objek, antara “aku” dan “kamu”.
Jika kita melihat dari sudut pandang ini, maka gerakan semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dapat dipandang sebagai gerakan Allah yang Esa, yang terkait dan saling mempengaruhi secara non-lokal.
Dalam Fisika Kuantum, ada juga konsep “observer effect” yang menyatakan bahwa pengamat dapat mempengaruhi hasil pengamatan, yang berarti bahwa kesadaran manusia dapat mempengaruhi realitas.
Dalam Tasawuf, konsep “Nūr al-Anwār” (Cahaya dari Cahaya) menyatakan bahwa kesadaran manusia adalah manifestasi dari kesadaran Allah, dan bahwa kesadaran manusia dapat mempengaruhi realitas.
Jadi, jika kita melihat dari sudut pandang ini, maka konsep Tasawuf dan Fisika Kuantum memiliki kesamaan dalam memandang realitas sebagai sesuatu yang terkait, non-lokal, dan dipengaruhi oleh kesadaran.
Dalam pandangan Tasawuf atau Sufisme, seluruh gerakan manusia dan alam semesta ini, termasuk hal-hal yang tampaknya kecil dan tidak penting seperti daun kering yang jatuh, diyakini sebagai gerakan Allah yang Esa. Ini berdasarkan konsep “Tawhid” (KeEsaan Allah) yang merupakan prinsip dasar dalam Islam, yang menekankan bahwa Allah adalah satu-satunya entitas yang ada dan berkuasa di alam semesta.
Dalam pandangan Sufisme, Allah adalah sumber dari segala sesuatu, dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi dari kehendak dan kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada gerakan atau kejadian yang terjadi secara kebetulan atau tanpa sebab, melainkan semua adalah bagian dari rencana dan kehendak Allah.
Konsep ini sering diungkapkan dalam ungkapan “La hawla wa la quwwata illa billah” (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah), yang berarti bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah hasil dari kekuasaan dan kehendak Allah.
Dalam konteks ini, gerakan daun kering yang jatuh dari pohon, misalnya, bukanlah kejadian yang acak, melainkan bagian dari rencana Allah yang lebih besar. Sufi percaya bahwa setiap kejadian, tidak peduli seberapa kecil atau tidak penting, memiliki makna dan tujuan yang lebih dalam, dan bahwa Allah adalah sumber dari segala sesuatu yang ada.
jikalau sudah memahami hal tersebut maka timbul sebuah kesadaran hingga timbul yang dinamakan Spiritual Awakening. Spiritual Awakening, atau Kebangkitan Spiritual, adalah proses perubahan kesadaran dan pemahaman diri yang mendalam, di mana individu mengalami transformasi spiritual dan mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
Spiritual Awakening dapat diartikan sebagai:
– Kesadaran akan diri sendiri: kesadaran akan identitas dan tujuan hidup yang sebenarnya.
– Kesadaran akan Tuhan: kesadaran akan keberadaan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi.
– Kesadaran akan kesatuan: kesadaran akan kesatuan dan keterhubungan dengan semua makhluk dan alam semesta.
Proses Spiritual Awakening dapat melibatkan:
– Pengalaman spiritual: pengalaman langsung dengan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi.
– Refleksi diri: refleksi dan introspeksi diri untuk memahami diri sendiri dan tujuan hidup.
– Meditasi dan doa: praktik meditasi dan doa untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.
– Pengubahan gaya hidup: pengubahan gaya hidup untuk mencapai keselarasan dengan nilai-nilai spiritual.
Tahapan Spiritual Awakening dapat meliputi:
- Kesadaran akan kebutuhan spiritual: kesadaran akan kebutuhan spiritual dan keinginan untuk mencari kebenaran.
- Pencarian spiritual: pencarian spiritual dan eksplorasi berbagai praktik dan ajaran spiritual.
- Pengalaman spiritual: pengalaman langsung dengan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi.
- Transformasi: transformasi spiritual dan perubahan kesadaran.
- Integrasi: integrasi pengalaman spiritual ke dalam kehidupan sehari-hari.
Spiritual Awakening dapat membawa perubahan positif, seperti:
– Kesadaran diri yang lebih tinggi: kesadaran akan diri sendiri dan tujuan hidup yang sebenarnya.
– Ketenangan dan kedamaian: ketenangan dan kedamaian yang lebih besar.
– Koneksi dengan Tuhan: koneksi yang lebih kuat dengan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi.
– Keselarasan dengan alam: keselarasan dengan alam dan semua makhluk.
Setelah timbul kesadaran, maka akan muncul pertanyaan kritis pada diri kita : Lalu bagaimana peran Tuhan yang dalam konsep agama-agama besar dari Agama Samawi dimana Tuhan merupakan sental yang mengatur dan memberikan rahmat setiap mahluk serta menghukum bagi yang berbuat jahat Jika dihubungkan dengan pancaran vibrasi setiap mahluk dalam alam semesta? Pertanyaan yang sangat mendalam! Agama dan hukum semesta pancaran vibrasi memiliki hubungan yang kompleks dan multifaset. Berikut beberapa perspektif yang mungkin dapat menjelaskan hubungan antara keduanya:
– Agama sebagai Panduan: Agama dapat dilihat sebagai panduan untuk membantu manusia memahami dan mengikuti hukum semesta yang lebih besar. Dengan mengikuti ajaran agama, manusia dapat meningkatkan kesadaran diri dan memahami cara untuk hidup yang lebih harmonis dengan semesta.
– Hukum Semesta sebagai Manifestasi Tuhan: Beberapa agama percaya bahwa hukum semesta adalah manifestasi dari Tuhan atau kekuatan ilahi yang lebih besar. Dalam hal ini, agama dan hukum semesta pancaran vibrasi dapat dilihat sebagai dua sisi dari koin yang sama, yaitu sebagai cara untuk memahami dan mengikuti kehendak Tuhan.
– Kesadaran Diri dan Pertumbuhan Spiritual: Agama dan hukum semesta pancaran vibrasi dapat membantu manusia meningkatkan kesadaran diri dan pertumbuhan spiritual. Dengan memahami dan mengikuti hukum semesta, manusia dapat meningkatkan kesadaran diri dan memahami cara untuk hidup yang lebih harmonis dengan semesta.
– Keseimbangan dan Harmoni: Agama dan hukum semesta pancaran vibrasi dapat membantu manusia mencapai keseimbangan dan harmoni dalam hidup. Dengan mengikuti ajaran agama dan memahami hukum semesta, manusia dapat mencapai keseimbangan antara aspek material dan spiritual dalam hidup.
Dalam konteks ini, agama dapat dilihat sebagai cara untuk membantu manusia memahami dan mengikuti hukum semesta pancaran vibrasi, sehingga dapat mencapai kehidupan yang lebih harmonis dan seimbang. Namun, perlu diingat bahwa hubungan antara agama dan hukum semesta pancaran vibrasi dapat berbeda-beda tergantung pada kepercayaan dan perspektif individu. Konsep semesta memancarkan vibrasi seringkali dikaitkan dengan hukum tarik-menarik (law of attraction) dan spiritualitas. Menurut konsep ini, semesta merespons energi yang kita pancarkan, termasuk niat dan pikiran kita.
————————
Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya dan spirutual Jawa, tinggal di Jakarta





