• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Selasa, Maret 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Seruan Profetis Trio Uskup Lamaholot: Pulang Memeluk Dunia yang Terluka

by Redaksi
Februari 14, 2026
in OPINI
0
Seruan Profetis Trio Uskup Lamaholot: Pulang Memeluk Dunia yang Terluka
0
SHARES
197
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Dr. Don Bosco Doho (Umat dan Aktivis Paroki di Keuskupan Bogor)

 

Rangkaian tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Larantuka pada 11 Februari 2026 di Gereja Katedral Reinha Rosari menjadi panggung bagi tiga uskup asal Lamaholot—Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Mgr. Paulus Budi Kleden, dan Mgr. Hans Monteiro sendiri—untuk menyuarakan seruan profetis yang melampaui seremoni liturgis. Dalam homili, sambutan, dan komitmen pastoral mereka, trio uskup ini menegaskan kompas moral gereja yang harus selalu mengarah pada pembelaan kaum tertindas dan kritik terhadap ketimpangan struktural, baik dalam masyarakat maupun dalam institusi gereja itu sendiri.

 

Homili Mgr. Budi Kleden: Membuka Mata pada Jurang Ketimpangan

Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden menyampaikan homili yang memotret tajam realitas sosial yang menghimpit rakyat kecil. Dengan mengambil moto tahbisan “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan) sebagai titik berangkat, Mgr. Budi membedah makna “kesatuan” ini bukan sebagai slogan kosong, melainkan sebagai cermin yang harus membuka mata umat terhadap kenyataan yang kontradiktif.

Menurut Mgr. Budi, moto ini mengingatkan bahwa terlepas dari perbedaan, umat manusia hidup di bawah langit yang sama dan menginjak bumi yang sama. Namun ia segera mengingatkan bahwa kesatuan ini justru menyingkap jurang yang semakin lebar. “Jurang yang semakin memisahkan mereka yang hidup dalam kelimpahan dari mereka yang menderita dalam kemiskinan ekstrem. Antara mereka yang berada di pusat kekuasaan dan mereka yang terdorong ke pinggiran”, demikian Mgr. Budi menegaskan.

Lebih tajam lagi, Mgr. Budi mengkritik bagaimana masyarakat—termasuk gereja—membangun tembok pemisah. “Kita sering membangun tembok pemisah dari orang-orang yang berbeda etnis dan pilihan politik. Kita hidup dalam keadaan kecurigaan laten terhadap mereka yang memegang keyakinan berbeda”. Homili ini bukan sekadar refleksi teologis, melainkan kritik sosial yang menohok terhadap eksklusivitas, tribalisme, dan politisasi identitas yang meracuni kehidupan bersama.

Seruan Mgr. Budi menjadi sangat relevan dalam konteks Indonesia yang plural namun rentan terhadap polarisasi. Bagi Keuskupan Larantuka yang melayani wilayah rawan bencana dan menghadapi tantangan kemiskinan struktural, homili ini menegaskan bahwa peran uskup dan gereja bukan hanya mengurus persoalan rohani, tetapi juga menjadi suara profetis yang membela keadilan sosial dan menolak sistem yang memarjinalkan sesama.

 

Pesan “No Bale Nagi”: Pulang untuk Memeluk yang Terluka

Mgr. Budi juga menyampaikan pesan bermakna dalam bahasa lokal “No Bale Nagi” yang berarti “pulang”—sebuah pulang yang bukan sekadar kepulangan geografis, melainkan misi pastoral untuk membawa kasih Tuhan dan harapan bagi umat di wilayah yang terluka. Kepulangan Mgr. Hans ke tanah kelahirannya di Larantuka bukan untuk kehormatan pribadi, melainkan untuk hadir bagi mereka yang hidup dalam ketidakpastian—korban letusan Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih tinggal di pengungsian, komunitas di sekitar Gunung Ile Lewotolok di Lembata yang terus menghadapi ancaman bencana.

Mgr. Budi menekankan bahwa kepemimpinan di Larantuka adalah misi di wilayah yang menantang secara geografis dan rawan bencana, yang memerlukan “batin yang terbuka pada kehendak Allah seperti Bunda Maria dan kesungguhan menghayati doa Yesus untuk merawat kesatuan”. Ini adalah pengakuan jujur bahwa tugas penggembalaan di wilayah kepulauan dengan tantangan geografis, ekonomi, dan alam yang ekstrem membutuhkan lebih dari sekadar kompetensi administratif—melainkan spiritualitas yang mendalam dan komitmen pada solidaritas dengan yang lemah.

 

Sambutan Mgr. Kopong: Mewariskan Semangat Kebersamaan

Mgr. Fransiskus Kopong Kung, yang telah memimpin Keuskupan Larantuka selama 24 tahun sejak 2004, dalam sambutannya di akhir perayaan ekaristi tahbisan menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam. “Saya sudah menjalankan tugas yang diminta uskup terpilih yaitu menahbiskan beliau, tetapi bukan saya yang menahbiskan tetapi Roh Kudus. Karena itu berbahagialah, terimalah tugas dan tanggung jawab ini dengan penuh kasih”.

Mgr. Kopong, dikenal sebagai gembala yang setia, sederhana, dan dekat dengan umat, mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan dan berjalan bersama dengan uskup baru. Pesan ini menggarisbawahi prinsip kolegialitas dan sinodalitas—bahwa kepemimpinan gereja bukanlah monarki hierarkis, melainkan pelayanan bersama yang membutuhkan partisipasi aktif semua komponen: para imam, biarawan-biarawati, pemerintah daerah, dan seluruh umat.

Sambutan Mgr. Kopong juga secara implisit mengkritik model kepemimpinan gereja yang otoriter dan sentralistik. Dengan menekankan “berjalan bersama,” ia mengadvokasi model gereja yang lebih partisipatif, di mana suara umat dan kekhasan lokal dihormati—sebuah visi yang sejalan dengan semangat sinodalitas Paus Fransiskus.

Komitmen Mgr. Hans: Keterbukaan pada Keberagaman

Mgr. Hans Monteiro menegaskan bahwa menjadi uskup bukan kehendak pribadi, melainkan panggilan dan rahmat Allah melalui Gereja. Dengan latar belakang sebagai doktor teologi liturgi dari Universitas Wina dan pakar yang aktif dalam Komisi Liturgi KWI, Mgr. Hans membawa perspektif global yang kaya namun tetap berakar pada identitas budaya Lamaholot.

Mgr. Hans menyampaikan bahwa Gereja Katedral Larantuka adalah tempat ia menerima sakramen pembaptisan, komuni pertama, tobat pertama, krisma, tahbisan imam, dan akhirnya tahbisan uskup sebuah narasi yang menekankan kontinuitas dan kesetiaan pada akar. Namun pengalaman internasionalnya selama bertahun-tahun di Austria dan pelayanannya di berbagai konteks akademik menunjukkan keterbukaan terhadap pluralitas.

Moto episkopalnya, “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes,” yang diambil dari Surat Paulus kepada jemaat Efesus 4:4, menjadi manifesto untuk gereja yang inklusif—gereja yang merangkul keberagaman etnis, suku, budaya, dan bahkan pilihan politik. Ini adalah seruan untuk menolak tribalisme sempit yang masih sering mewarnai dinamika kepemimpinan gereja di Indonesia, di mana jabatan strategis kadang didominasi oleh kelompok etnis atau kongregasi tertentu.

 

Kritik Terhadap Hirarki Gereja dan Ketimpangan dalam KWI

Seruan trio uskup ini, meski disampaikan dalam konteks tahbisan, mengandung kritik implisit terhadap ketimpangan yang masih terjadi dalam struktur kepemimpinan gereja Indonesia. Fakta bahwa ketiga uskup ini berasal dari Lamaholot, sebuah kelompok etnis yang secara historis berada di pinggiran menjadi simbol penting. Kehadiran mereka di posisi kepemimpinan menantang dominasi kelompok tertentu dalam hierarki gereja.

Mgr. Budi Kleden, sebagai mantan Superior General SVD yang pernah memimpin kongregasi internasional, membawa pengalaman global dan sensitivitas terhadap isu keadilan struktural. Kritiknya terhadap “mereka yang di pusat kekuasaan” dan “mereka yang terdorong ke pinggiran” dapat dibaca sebagai kritik terhadap sentralisme dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang kadang kurang peka terhadap kebutuhan gereja lokal di wilayah terpencil.

Demikian pula, penekanan pada “keterbukaan bagi pemimpin dari berbagai latar belakang budaya, etnis, dan suku” adalah kritik halus terhadap praktik nepotisme dan favoritisme yang masih mengakar. Gereja yang sejati, menurut visi trio uskup ini, harus mencerminkan wajah Indonesia yang beragam—bukan didominasi oleh kelompok elite tertentu.

 

Makna untuk Kemanusiaan dan Kehidupan Menggereja

Seruan profetis trio uskup Lamaholot ini memiliki implikasi luas bagi kehidupan menggereja dan kemanusiaan. Pertama, ia menegaskan bahwa peran uskup bukan sekadar pengelola sakramen dan ritual, melainkan gembala yang harus berpihak pada mereka yang menderita. Peran gereja yang konsisten berpihak pada kaum marginal, termasuk mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, terus ditekankan kepada semua pemimpin gereja di wilayah tersebut.

Kedua, seruan ini menantang gereja untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi ketidakadilan struktural dengan berani. Kritik terhadap ketimpangan ekonomi, eksploitasi, dan marginalisasi harus menjadi bagian integral dari pewartaan Injil—bukan sekadar refleksi teologis yang steril.

Ketiga, model kepemimpinan yang ditawarkan adalah kepemimpinan yang rendah hati, terbuka, dan partisipatif. Mgr. Budi Kleden dikenal sebagai pribadi yang ramah, rendah hati, akrab, dan selalu tersenyum—sebuah gaya kepemimpinan yang kontras dengan model hierarkis yang kaku. Ia bahkan melakukan silaturahmi ke rumah tetangga Muslim saat Lebaran, menunjukkan kasih persaudaraan lintas batas.

Keempat, rangkaian tahbisan ini yang ditutup dengan Misa Pontifical pada 12 Februari 2026—menjadi simbol harapan bagi gereja Indonesia yang lebih inklusif, lebih adil, dan lebih profetis. Gereja yang tidak takut mengkritik struktur kekuasaan yang menindas, baik di luar maupun di dalam institusinya sendiri.

 

Kesimpulan: Gereja yang Memeluk Dunia yang Terluka

Pesan “No Bale Nagi”—pulang untuk memeluk dunia yang terluka—merangkum esensi seruan profetis trio uskup Lamaholot ini. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, di mana tembok pemisah terus dibangun atas nama etnis, agama, dan politik, ketiga uskup ini menawarkan visi alternatif: gereja sebagai rumah bagi semua, tanpa diskriminasi. Gereja yang tidak hanya berbicara tentang kesatuan, tetapi berani menghadapi dan mengubah struktur yang menciptakan kesenjangan.

Seruan mereka adalah undangan bagi seluruh umat beriman—dan seluruh kemanusiaan—untuk membangun peradaban kasih persaudaraan, di mana tidak ada lagi yang terpinggirkan, tidak ada lagi yang tereksploitasi, dan tidak ada lagi yang ditindas. Ini adalah visi profetis yang melampaui batas-batas agama dan etnis, visi yang berakar pada nilai-nilai universal keadilan, kesetaraan, dan martabat manusia.

—————————–

 

Referensi:

  1. Liputan-NTT.com. (2026). “Ribuan Umat Hadiri Tahbisan Mgr Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Larantuka.” https://www.liputan-ntt.com/2026/02/ribuan-umat-hadiri-tahbisan-mgr-yohanes.html
  2. Tribunflores.com. (2026). “Mgr Yohanes Hans Monteiro dan Pesan No Bale Nagi: Pulang Memeluk Dunia yang Terluka.” https://flores.tribunnews.com/flores-timur/57343/
  3. Kompas.id. (2026). “Mgr Hans Monteiro Ditahbiskan Jadi Uskup Larantuka, Kemiskinan Ekstrem Disinggung.” https://www.kompas.id/artikel/en-mgr-hans-monteiro-ditahbiskan-menjadi-uskup-larantuka-kemiskinan-ekstrem-disinggung
  4. Mirifica.net. (2026). “Terimakasih Mgr. Frans Kopong Kung, Selamat Melayani Mgr. Hans, Uskup baru Larantuka.” https://www.mirifica.net/terimakasih-mgr-frans-kopong-kung-selamat-melayani-mgr-hans-uskup-baru-larantuka/
  5. Komsos Keuskupan Larantuka. (2026). “Rangkaian Acara Penjemputan, Vesper Agung, Tahbisan Uskup dan Misa Pontifikal Mgr. Yohanes Hans Monteiro.” https://komsoskeuskupanlarantuka.id/

 

ShareTweetSend
Next Post
Eskalasi Perang Rusia – Ukraina, Invasi ke Venezuela dan  Proposal 20 Butir Upaya Damai dari USA

Reformasi, Amandemen UUD 1945 dan Kudeta Konstitusi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ki Hadjar Dewantara: Mendidik Manusia Merdeka

Ki Hadjar Dewantara: Mendidik Manusia Merdeka

5 tahun ago
Keberanian Berdemokrasi

Keberanian Berdemokrasi

9 bulan ago

Popular News

  • Berada Bersama Peserta Didik untuk Menjadikan Disiplin sebagai Habitus

    Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In