
Oleh Rofinus Pati
Hari Raya Imlek pada Selasa, 17 Februari 2026, datang dengan wajah sangat ramah. Alam tidak marah. Tidak ada hujan angin seperti biasanya, bahkan dicemaskan banyak orang. Matahari bersinar cerah ke Desa Lewomuda, tempat kelahiran Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr.
Pukul 08.00 hari ini, diadakan perayaan ekaristi di gereja Stasi Kristus Raja, Lewomuda, untuk mensyukuri masa purna tugas (emeritus) Bapa Uskup Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr setelah 24 tahun karya pelayanannya sebagai Uskup. Hadir puluhan suster biarawati, beserta para aspiran dan novis. Para konselebran dalam perayaan ekaristi ini berjumlah puluhan imam yang mendampingi Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr sebagai selebran utama.
Paduan suara dalam perayaan syukur ini dimandatkan dari Pastor Paroki Maria Diangkat ke surga, Lewokluok, Bama: Romo Wilhelmus Ola Baga, Pr kepada SMK ANCOP. Para anggota koor, dirigen dan pemusik tampil sukses, melayani dan memuliakan Tuhan dalam lagu-lagu liturgi. Pengakuan tulus atas kesuksesan ini berasal dari Bapak Laurensius Hera yang tampil sebagai “Master of Ceremony” saat itu.
Tepuk tangan meriah dari umat menandakan bahwa lagu-lagu yang dibawakan dengan penuh ekspresi, mampu menghantar umat kepada inti syukuran pada hari ini dan tentu lebih dari sekedar memuaskan telinga dan hati ratusan umat yang hadir. Para anggota paduan suara telah bernyanyi dengan baik. “Qui bene cantat bis orat” (siapa yang bernyanyi dengan baik, dia berdoa dua kali).
Karya Besar
Narasi tentang SMK ANCOP memang tidak dapat dipisahkan dari peran utama Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dan akan menjadi kisah sejarah tersendiri di keuskupan Larantuka. Ibarat dua sisi dari satu mata uang yang sama. SMK ANCOP berdiri atas kerja keras sekaligus kerja cerdas Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr bersama pihak-pihak yang mendukung sejak awal demi suksesnya karya besar (opus magnum) ini. Bahkan, kita boleh mengatakan bahwa tanpa Bapa Uskup emeritus Fransiskus Kopong Kung, Pr kemungkinan besar SMK ANCOP tidak berdiri megah seperti sekarang ini.
Ketika para donatur bertanya untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak yang mau melanjutkan studi, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr langsung berpikir bahwa uang dari beasiswa yang diberikan, berapapun banyaknya, pasti akan habis. Beliau lalu meminta diberikan sebuah sekolah sebagai pengganti beasiswa, untuk mendidik anak-anak remaja di keuskupannya.
Perjuangan tidak mudah untuk merealisasikannya. Para donatur dan yayasan datang langsung ke Likotuden untuk melihat lokasi di mana sekolah akan dibangun. Ternyata jauh dari harapan. Lokasinya terpencil, akses jalan darat minim, hanya lewat jalur laut untuk agak cepat dan mudah. Pokoknya serba sulit. Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr menghantar para tamu untuk berziarah dan berdoa di Kapel Tuan Ma.
Di Kapel tua ini, sejarah baru dimulai, semesta berpihak, sebab mujizat terjadi. Dalam doa hening dan mendalam, Ibu Suanning Tanardi, salah satu peserta dalam rombongan itu, mendengar bisikan Bunda Maria di telinga batinnya:
“Aku Bunda Maria. Aku sangat mencintai umatku di keuskupan Larantuka. Bantulah mereka. Bantulah mereka”.
Kekuatan kini diperoleh dan semangat muncul berapi-api untuk mendirikan sekolah, entah bagaimana caranya ke depan. Bunda Reinha Rosari yang memulai. Yayasan sungguh meyakini bahwa Bunda Reinha Rosari juga yang akan menunjukkan jalan untuk mengangkat citra orang papa. Ini merupakan tujuan yang sangat mulia.
Dengan mengangkat citra orang papa, yayasan memuliakan Allah sendiri yang “hic et nunc” (di sini dan sekarang ini) hadir secara nyata dalam wajah anak-anak papa yang sedang menangis. Dari sinilah muncul nama ANCOP (Answering the Cry of the Poor) dan dalam bahasa Indonesia merupakan akronim dari Angkat Citra Orang Papa.
Kegiatan penggalangan dana digencarkan ke mana-mana. Para donatur digandeng. Pendirian sekolah ini dilakukan bersama Yayasan Gerakan Kepedulian ANCOP, yang berkedudukan di Jakarta. Peletakan batu pertama di Likotuden dilakukan oleh Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Ibu Mari Elka Pangestu.
Sekolah resmi beroperasi pada tahun 2017 untuk angkatan perdana. Kini SMK ANCOP sudah merayakan satu windu usianya pada tahun 2025 yang lalu. Banyak alumninya sudah bekerja di luar negeri dan meraih sukses sehingga dapat merubah kehidupan ekonomi keluarga. Banyak pula yang sedang berada di Lembaga Pendidikan dan Ketrampilan (LPK) di Jawa untuk persiapan berangkat keluar negeri. Sebagian kecil alumni melanjutkan kuliah atau bekerja di dalam negeri. Ada yang sedang merintis usaha untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri.
Oleh karena itu, koor dengan suara terbaik diberikan dalam perayaan ekaristi, sebagai salah satu bentuk ucapan terima kasih kepada Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr yang telah menghadirkan SMK ANCOP. Setiap kali kedatangannya ke SMK ANCOP, terasa seperti kembali ke rumah sendiri yang nyaman dan selalu dirindukan di sela-sela kesibukannya dalam memimpin seluruh umat keuskupan Larantuka.
Segala ide dan perhatian Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dicurahkan demi perkembangan sekolah ini sebagai buah dari lima abad Tuan Ma. Sejak awal berdirinya sekolah ini, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr selalu berupaya mengunjungi SMK ANCOP ketika ada undangan untuk menghadiri kegiatan atau acara di sekolah. Kunjungan terakhir terjadi pada perayaan Natal dan Tahun Baru (NATARU) bersama pada Januari 2026 yang lalu.
Sebuah Refleksi Mendalam
Sempat disebutkan di atas bahwa SMK ANCOP adalah buah dari lima abad Tuan Ma yang dirayakan pada tahun 2010. Di saat menyambut pesta 500 tahun kedatangan Bunda Maria di Larantuka, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr berpikir keras, bagaimana membuat sebuah kenangan istimewa untuk peristiwa besar ini. Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr berinisiatif mendekatkan diri dan menyampaikan gagasan itu kepada tokoh-tokoh Flores Timur yang tergolong sukses di Jakarta dan sekitarnya.
Para tokoh itu mendukung dan menganjurkan agar sekolah didirikan di kampung, jauh dari keramaian dan kebisingan kota. Alasannya sangat sederhana, agar anak-anak memfokuskan diri untuk belajar dan pembinaan karakter dapat berjalan maksimal sebab memiliki salah satu keunggulan berupa asrama. Pencarian lokasi dilakukan Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dan pilihan jatuh di dusun Likotuden, kawasan yang tentu sudah lama dikenalnya.
Setelah beberapa kali pertemuan antara pihak yayasan yang datang dari Jakarta dengan warga setempat, warga bersepakat menyerahkan tanah seluas 4 hektare kepada Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr untuk mendirikan sekolah yang ada seperti sekarang ini. Penyerahan tanah secara cuma-cuma ini disertai beberapa kesepakatan lisan antara pihak yayasan dengan warga setempat yang selalu terukir abadi di dalam hati dan memori.
Sekolah besar bergedung putih ini juga berasal dari pemikiran besar dan refleksi amat mendalam dari Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr. Butir-butir refleksinya ini disampaikan dalam suatu pertemuan di Aula SMK ANCOP. Di saat khusus, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr merenungkan dalam kesunyian, membatinkan peristiwa kedatangan dan kehadiran Bunda Maria di pantai Larantuka.
Pertama, kehadiran seorang Ibu di pantai dan pertama kali dijumpai oleh Resiona. Bagi Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr ini adalah tanda kasih sayang. Seorang ibu rela datang dari tempat yang jauh dan mau menampakkan diri serta mengunjungi anak-anaknya di Larantuka. Ibu itu adalah penjelmaan dari ibu mereka, ibu yang mengatasi segala ibu dimana semua orang boleh merasa nyaman dan memiliki ibu penuh cinta itu.
Kedua, Ibu yang datang ini turunnya di pantai. Mengapa tidak turun di gunung? Dalam pemikiran Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr bukan soal bahwa para pedagang dan misionaris Portugis berlayar datang ke Larantuka dan berlayar tentu lewat laut. Jelas, tidak ada yang menyangkal kenyataan itu.
Yang justru berkecamuk dalam permenungan Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr adalah apa yang dikehendaki oleh Bunda Maria ketika datang melalui pantai? Apa pesan Bunda Maria yang harus diperbuat setelah 500 tahun berada di sini? Ini mengingat wilayah keuskupan Larantuka terdiri dari gunung, bukit, lembah dan terbentang antarpulau yang dihubungkan dan dikelilingi oleh laut Sawu di sebelah selatan Flores Timur, laut Flores di sebelah barat Flores Timur, laut Banda di sebelah timur Flores Timur, laut Timor di sebelah tenggara Lembata dan kawasan pantai-pantai, termasuk Solor Watan Lema.
Ketiga, refleksi Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr mulai mengerucut kepada sosok Resiona sebagai orang pertama yang bertemu dengan Bunda Maria di pantai. Mengapa Resiona yang adalah seorang anak remaja, yang harus pertama kali menemui Bunda Maria? Mengapa bukan satu orang tua, satu orang bapak atau ibu, kakek nenek bahkan satu orang asing?
Mengapa harus seorang remaja Resiona? Dalam terang batinnya, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr menangkap pesan Bunda Maria lewat sosok seorang remaja Resiona. Pesan itu adalah melakukan sebuah karya nyata untuk anak-anak remaja, untuk Resiona-Resiona masa kini yang ada di keuskupan Larantuka. Anak-anak remaja perlu menerima pendidikan yang layak untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Dari sinilah asal mula pemikiran dari Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr untuk mendirikan sebuah sekolah unggulan bagi anak-anak remaja. Mereka dipersiapkan untuk kelak menjadi ‘bintang-bintang’ dari timur Indonesia, yang memiliki masa depan cerah dan mengangkat perekonomian daerahnya.
SMK ANCOP Saksi Sejarah
Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr telah menunaikan tugasnya sampai pada usia yang diatur dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik. Banyak kebaikan telah diperbuat untuk menjaga kesatuan umatnya selama 24 tahun, di 4 pulau dan 2 kabupaten. SMK ANCOP merupakan sebuah karya besar (opus magnum) yang ditulis dengan tinta emas dalam sejarah keuskupan Larantuka.
Lima abad Tuan Ma telah menghadirkan SMK ANCOP sebagai hasil nyata karya Roh Kudus dan perjuangan manusia yang berkendak baik dan pasrah pada penyelenggaraan Ilahi. Waktu akan terus berputar, seperti alam pun terus beredar. Sejarah akan terus menenun kisahnya sendiri.
Entah apa lagi yang akan terjadi pada peringatan 600, 700, 800 atau 900 tahun Tuan Ma. Bahkan pada peringatan 1000 tahun atau 10 abad Tuan Ma pada tahun 2510 yang akan datang, dan seterusnya. Harapan yang merupakan salah satu dimensi terpenting dalam Kekatolikan kita memotivasi kita untuk selalu optimis bahwa kasih Tuhan kepada umatNya tidak akan pernah berkesudahan.
Kini Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr memasuki lembaran baru dalam hidupnya. Beliau sebenarnya tidak pergi dari umatnya, melainkan hanya mundur untuk semakin banyak berdoa, memberi nasihat dan harapan, berbagi kebijaksanaan dan mencintai umatnya dengan lebih intensif. Termasuk mendoakan dan terus mencintai SMK ANCOP yang merupakan karya besar dalam sejarah penggembalaannya. Kita patut berterima kasih kepada Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dan mengucapkan selamat menikmati masa purna bakti dalam ketenangan dan keteduhan hati, setenang dan seteduh alam di Bukit Fatima.
*************



