
Oleh Muhammad Taufikurahman Ruki, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Pendekatan ekspresivisme dalam teori sastra memandang karya sastra sebagai ekspresi batin pengarang. Karya sastra tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga merupakan luapan pengalaman, emosi, dan pemikiran yang berasal dari dunia batin pengarang. Dalam kajian ini, konsep keluhuran (sublime) yang dikemukakan oleh Longinus menjadi penting untuk memahami bagaimana karya sastra mampu menggugah jiwa pembaca.
Menurut Longinus, karya sastra yang besar bukan hanya memberikan hiburan atau pengetahuan, melainkan mampu mengangkat jiwa pembaca menuju pengalaman emosional yang mendalam. Keluhuran tersebut muncul dari beberapa unsur, antara lain gagasan yang agung, emosi yang kuat, penggunaan bahasa yang efektif, serta penggubahan karya yang baik.
Cerpen “Air” karya Djenar Maesa Ayu menggambarkan perjuangan seorang perempuan yang harus menghadapi kehamilan di usia muda, membesarkan anak seorang diri, serta menghadapi konflik batin sebagai seorang ibu yang harus bekerja demi kehidupan mereka. Melalui kisah tersebut, cerpen ini menampilkan pengalaman manusia yang sangat emosional dan menyentuh. Dengan menggunakan perspektif keluhuran Longinus, cerpen ini dapat dipahami sebagai karya yang memiliki kekuatan ekspresif yang mampu menggugah pembaca.
Daya Wawasan yang Agung
Salah satu sumber keluhuran menurut Longinus adalah daya wawasan yang agung (grandeur of thoughts). Seorang pengarang harus mampu menghadirkan gagasan yang mendalam sehingga karya sastra tidak hanya bersifat dangkal.
Dalam cerpen “Air”, gagasan yang diangkat berkaitan dengan perjuangan seorang ibu tunggal yang harus menghadapi berbagai kesulitan hidup. Tokoh utama mengalami kehamilan yang tidak direncanakan ketika masih muda. Hal ini terlihat dalam dialog berikut:
“Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda,” kata ayahnya.
Namun, tokoh utama tetap mempertahankan keputusannya untuk menjaga anak tersebut. Ia dengan tegas berkata, “Saya akan menjaganya.”
Kalimat tersebut terus diulang sepanjang cerita dan menjadi simbol keteguhan hati tokoh sebagai seorang ibu. Pengulangan ini menunjukkan gagasan utama cerita, yaitu tentang tanggung jawab dan pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya. Dalam perspektif Longinus, gagasan seperti ini merupakan bentuk pemikiran yang luhur karena menyentuh persoalan kemanusiaan yang mendalam.
Emosi yang Kuat Sebagai Sumber Keluhuran
Menurut Longinus, keluhuran dalam karya sastra juga muncul dari emosi yang kuat dan tulus. Emosi tersebut mampu menggugah perasaan pembaca sehingga mereka merasakan pengalaman batin yang sama dengan tokoh dalam cerita.
Dalam cerpen “Air”, emosi tokoh utama digambarkan dengan sangat intens sejak awal cerita. Ketika mengetahui dirinya hamil, ia mengalami perubahan fisik dan emosional yang besar, sebagaimana digambarkan dalam narasi berikut:
“Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Rasa mual merajalela. Pun mulai membukit perut saya.”
Perjuangan tokoh semakin berat ketika ia kehilangan pekerjaan karena kehamilannya. Hal ini terlihat dalam dialog dengan atasannya, “Kami mengerti, tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil,” kata supervisor saya.
Peristiwa tersebut menunjukkan tekanan sosial yang dialami oleh tokoh utama. Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, ia tetap berusaha bertahan demi anaknya. Emosi cerita semakin kuat ketika hubungan antara ibu dan anak mulai mengalami konflik. Anak yang telah beranjak remaja mulai menunjukkan sikap marah kepada ibunya. Hal ini terlihat dalam dialog berikut:
“Capek ah nunggu, aku udah mau tidur!” semprotnya. Kalimat tersebut menggambarkan jarak emosional yang mulai muncul antara ibu dan anak. Tokoh utama merasa bahwa semua pengorbanannya tidak sepenuhnya dipahami oleh anaknya. Konflik ini menghadirkan rasa sedih, bersalah, dan keputusasaan yang sangat kuat.
Simbol “Air” sebagai Pengungkapan Bahasa
Longinus juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang kuat dan penuh makna. Bahasa yang tepat dapat memperdalam pengalaman emosional pembaca.
Dalam cerpen ini, Djenar Maesa Ayu menggunakan simbol “air” secara berulang untuk menggambarkan berbagai fase kehidupan tokoh utama. Misalnya, air ketuban saat proses kelahiran digambarkan dalam narasi berikut:
“Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya… Ketuban sudah pecah.”
Selain itu, simbol air juga muncul dalam bentuk air susu ibu ketika tokoh utama bersiap menyusui bayinya:
“Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di kedua puting saya.”
Simbol air dalam cerita ini memiliki makna yang luas. Air dapat melambangkan kehidupan, kelahiran, kesedihan, serta perubahan. Dengan menggunakan simbol yang konsisten, pengarang berhasil menciptakan kedalaman makna yang memperkuat pesan cerita.
Penggubahan Cerita yang Efektif
Menurut Longinus, keluhuran juga muncul dari penggubahan karya yang baik. Cerita harus disusun dengan struktur yang mampu menghasilkan dampak emosional yang kuat.
Cerpen “Air” disusun melalui rangkaian pengalaman hidup tokoh utama, mulai dari masa kehamilan hingga anaknya beranjak remaja. Struktur cerita ini membuat pembaca mengikuti perjalanan panjang kehidupan seorang ibu.
Pada bagian akhir cerita, tokoh utama mengalami keputusasaan yang mendalam hingga mencoba mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini menunjukkan puncak konflik emosional dalam cerita. Namun, cerita tidak berakhir dengan kematian, melainkan dengan harapan agar suatu hari nanti anaknya dapat memahami pengorbanan yang telah ia lakukan.
Kesimpulan
Melalui perspektif keluhuran dari Longinus, cerpen “Air” karya Djenar Maesa Ayu dapat dipahami sebagai karya sastra yang memiliki kekuatan ekspresif yang mendalam. Keluhuran dalam cerpen ini tampak melalui gagasan tentang perjuangan seorang ibu, emosi yang kuat dan menyentuh, penggunaan simbol air yang kaya makna, serta pengubahan cerita yang efektif.
Dengan menghadirkan kisah kehidupan seorang ibu yang penuh pengorbanan, cerpen ini tidak hanya memberikan pengalaman membaca yang emosional, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan makna tanggung jawab, cinta, dan hubungan antara orang tua dan anak.
Hal ini menunjukkan bahwa keluhuran dalam sastra dapat muncul dari pengalaman manusia yang sederhana namun diungkapkan dengan emosi yang kuat dan bahasa yang penuh makna.
———————-



