
Oleh Febrian Sakukut, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Cerpen Menyusu Ayah merupakan salah satu karya dari Djenar Maesa Ayu yang dikenal berani mengangkat tema-tema yang sering dianggap tabu dan vulgar. Dalam banyak karyanya, Djenar kerap menyingkap sisi gelap relasi manusia, terutama yang berkaitan dengan tubuh, seksualitas, dan kekuasaan. Ia tidak menulis dengan tujuan mengejutkan pembaca semata, melainkan ingin memperlihatkan fakta realitas yang sering disembunyikan di balik norma sosial.
Karakter kepenulisan Djenar Maesa Ayu, sangat berpengaruh terhadap cara ia membangun cerita. Sebagai penulis yang sering mengangkat persoalan tubuh dan pengalaman perempuan, Djenar berusaha memperlihatkan bagaimana tubuh dapat menjadi ruang perebutan kekuasaan.
Dalam cerpen ini, tokoh utama Nayla, digambarkan sebagai seorang anak yang mengalami relasi keluarga yang tidak sehat. Sosok ayah yang seharusnya menjadi pelindung justru berada dalam posisi dominan yang menimbulkan luka psikologis bagi dirinya. Melalui kisah Nayla, Djenar memperlihatkan bahwa relasi kekuasaan dalam keluarga tidak selalu berjalan secara adil. Yang pada akhirnya menjadi kritik sosial terhadap struktur keluarga yang sering dianggap sebagai ruang paling aman.
Untuk memahami kekuatan estetik cerpen ini, pendekatan yang dapat digunakan adalah konsep keluhuran (sublime) yang dikemukakan oleh Longinus. Menurut Longinus, sebuah karya sastra dapat dianggap luhur apabila memiliki lima unsur utama, yaitu keagungan pemikiran (grandeur of thought), emosi yang kuat atau gairah yang mulia (passion), penggunaan retorika yang unggul, pemilihan diksi yang berkualitas, serta komposisi atau susunan karya yang mulia.
Daya Pemikiran yang Agung
Keagungan pemikiran dalam cerpen ini terlihat dari keberanian Djenar mengangkat persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu penyalahgunaan kekuasaan dalam keluarga. Dalam masyarakat, keluarga sering dipandang sebagai tempat yang penuh kasih sayang dan perlindungan. Figur ayah umumnya dianggap sebagai simbol tanggung jawab dan otoritas moral. Namun melalui cerita Nayla, Djenar Maesa Ayu justru menghadirkan gambaran yang berlawanan. Ayah dalam cerpen Menyusu Ayah, tidak sepenuhnya menjalankan perannya sebagai pelindung, melainkan sebagai pihak yang memiliki kuasa terhadap tubuh anaknya.
Melalui konflik tersebut, pengarang menyampaikan gagasan besar mengenai bagaimana kekuasaan dapat bekerja dalam hubungan yang paling dekat sekalipun. Nayla berada dalam posisi yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena ia masih seorang anak yang bergantung pada orang tuanya. Situasi ini menunjukkan bahwa kekuasaan dalam keluarga dapat menjadi tidak sehat ketika tidak disertai tanggung jawab moral. Keagungan pemikiran dalam cerpen ini terletak pada kemampuannya membuka ruang refleksi bagi pembaca tentang pentingnya kesadaran etis dalam relasi keluarga.
Emosi yang Kuat dan Gairah yang Mulia
Cerpen Menyusu Ayah, menghadirkan emosi yang sangat intens melalui pengalaman batin tokoh Nayla. Nayla digambarkan belum sepenuhnya memahami cinta dan kasih sayang. Ia berada dalam kondisi bingung antara mempercayai sosok ayah sebagai figur yang memberikan cinta dan kasih sayang.
Perasaan takut, bingung, dan tidak berdaya yang dialami Nayla membuat pembaca merasakan konflik batin yang mendalam. Emosi dalam cerita ini tidak muncul melalui ungkapan yang berlebihan, melainkan melalui situasi yang secara perlahan memperlihatkan tekanan psikologis yang dialami tokoh utama. Pembaca diajak menyelami perasaan Nayla yang berada dalam posisi rentan. Inilah yang membuat cerpen Menyusu Ayah memiliki kekuatan emosional yang besar. Pembaca tidak hanya memahami cerita secara rasional, tetapi juga merasakan penderitaan tokoh secara emosional.
Penggunaan Retorika yang Kuat
Dalam cerpen Menyusu Ayah, retorika terlihat dari cara Djenar menyusun narasi yang kompleks dan abstrak sehingga memiliki dampak yang kuat. Djenar Maesa Ayu juga menggunakan kalimat rumit dengan pemikiran vulgar, yang bertujuan untuk mewakili konsep asbtrak untuk menuju ke pemikiran yang lebih dalam. Yang kemudian membuka kebenaran tentang pola pikir dan perjuangan identitas perempuan.
Selain itu, retorika juga muncul melalui kontras antara citra ayah sebagai pelindung dengan kenyataan yang dialami tokoh utama. Kontras ini menciptakan efek ironi yang kuat. Pembaca yang pada awalnya mungkin mengharapkan sosok ayah sebagai figur penyelamat justru dihadapkan pada kenyataan bahwa figur tersebut menjadi sumber ketakutan bagi Nayla. Strategi retorika seperti ini membuat kritik sosial yang disampaikan terasa lebih tajam tanpa harus dijelaskan secara langsung oleh pengarang.
Pilihan Diksi yang Berkelas
Pilihan kata yang digunakan oleh Djenar Maesa Ayu memiliki peran penting dalam membangun suasana cerita. Bahasa yang digunakan terasa sederhana namun sarat makna. Kata-kata yang dipilih mampu menggambarkan kondisi psikologis tokoh Nayla dengan sangat kuat.
Diksi yang digunakan juga memperlihatkan bagaimana tubuh menjadi simbol penting dalam cerita. Tubuh Nayla tidak hanya digambarkan sebagai bagian fisik, tetapi juga sebagai ruang di mana relasi kekuasaan berlangsung.
Melalui pilihan kata yang tepat, Djenar memperlihatkan bagaimana tubuh dapat menjadi wilayah yang rentan ketika berada dalam relasi yang tidak seimbang. Akibatnya cerpen Menyusu Ayah, memberikan logika berpikir abstrak untuk menyinggung para kaum yang mengganggap perempuan hanya sebagai objek pemuas nafsu.
Komposisi yang Mulia dan Harmonis
Pembaca mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam hubungan antara Nayla dan ayahnya. Dimulai dari pengenalan tokoh Nayla, kemudian konflik yang ia alami dengan ayahnya, hingga pencarian kasih sayang pada laki-laki lain sebagai pengganti figur ayah.
Konflik tidak muncul ketika ia berbeda pemikiran dengan ayahnya, tetapi juga dalam prosesnya ia berusaha untuk memperjuangkan kebebasan terhadap dirinya sendiri. Yang sejak kecil sudah hidup pada aturan ayahnya yang otoriter.
Komposisi cerita yang rapi membuat setiap bagian memiliki fungsi dalam membangun konflik dan memperdalam karakter tokoh. Tidak ada bagian yang terasa berlebihan, karena seluruh unsur cerita diarahkan untuk memperlihatkan relasi kekuasaan yang terjadi dalam keluarga Nayla. Struktur yang demikian membuat pesan cerita tersampaikan dengan lebih kuat.
Melalui pendekatan teori keluhuran Longinus, cerpen Menyusu Ayah menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan kritik sosial. Pengalaman Nayla tidak hanya menggambarkan penderitaan seorang anak, tetapi juga mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam masyarakat. keluarga yang seharusnya menjadi ruang perlindungan dapat berubah menjadi ruang yang penuh luka ketika relasi kekuasaan tidak dijalankan dengan tanggung jawab moral.
Selain itu, keberanian Djenar Maesa Ayu dalam mengangkat tema yang sensitif juga menunjukkan peran penting sastra dalam membuka diskusi mengenai persoalan yang sering dianggap tabu. Melalui gaya bahasa yang lugas dan struktur cerita yang kuat, Djenar berhasil menghadirkan karya yang tidak hanya menggugah emosi, tetapi juga mendorong pembaca untuk berpikir lebih kritis mengenai nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan memanfaatkan unsur keluhuran sebagaimana dijelaskan oleh Longinus, cerpen Menyusu Ayah berhasil menghadirkan pengalaman membaca yang menggugah kesadaran pembaca tentang tubuh, kekuasaan, dan keluarga.
Cerpen Menyusu Ayah, tidak sekadar menghadirkan kisah yang mengejutkan, tetapi juga mengajak pembaca untuk melihat kembali makna tanggung jawab, perlindungan, dan kasih sayang dalam keluarga.
Melalui kekuatan bahasa dan keberanian tematiknya, Djenar Maesa Ayu berhasil menjadikan cerpen Menyusu Ayah, sebagai salah satu bentuk kritik sosial yang penting dalam karya sastra.
—————-



