Oleh Sany Tukan_@Wisma Rafael Ledalero
Mentari di atas langit Flores sedang garang-garangnya. Angin kencang bertiup dari arah lautan, membawa aroma garam dan debu jalanan yang tak kunjung tenang diaspal jalanan. Terlihat di sebuah terminal bus kayu yang riuh hiruk-pikuk, Floren muncul melepas rindu. Ia bukan pejabat dari Jakarta, bukan Politisi dari seberang kota Medan, bukan pula pengusaha tambang dan kelapa sawit yang datang membawa janji. Ia datang hanya mengenakan kemeja tenun ikat kusam warnanya pudar dan ber-alaskan sandal jepit tipis ala kadarnya. Floren tidak membawa proposal proyek. Ia hanya membawa telinga yang mau mendengar dan tangan yang mau merangkul. Di pasar-pasar tradisional, di bawah rindangnya pohon cendana, Floren duduk berbicara sekaligus berseru curhat perihal sesuatu yang aneh didengar bagi telinga orang-orang zaman sekarang. Ia bercerita tentang mencintai musuh, tentang membagi moke, jagung titih dan jagung bose kepada mereka yang lapar, dan tentang berhentinya dendam perang antar suku.
“Berhenti memaki sama saudaramu karena beda pilihan Politik.” katanya di suatu sore di sebuah pangkalan Ojek.
“Tuhan tidak tinggal di dalam kotak suara, Ia tinggal di dalam hati orang jujur.” ujarnya lebih jauh.
Detik menit kehidupannya awal-awal dicintai oleh banyak orang, karena ia sering membantu banyak orang, berbela rasa, dan menyembuhkan seorang nenek tua yang buta di pelosok Timor hanya dengan membasuh matanya dengan air kelapa. Ia membuat kepala-kepala desa, para politisi, dan para koruptor di kantor-kantor camat merasa panas dingin hanya karena tatapan matanya yang sangat jernih. Namun, perlahan-lahan, kenyamanan para penguasa kecil mulai terganggu, mulai mengadu. Para tuan tanag yang serkah, oknum-oknum yang suka memotong dana bantuan sosial, dan mereka yang menggunakan agama untuk kepentingan pribadi mulai merasa terancam. Floren terlalu jujur. Dan di zaman ini, kejujuran sekian sering dianggap sebagai ancaman keamanan.
***
Malam itu, di bawah lampu jalanan yang redap-redup di pusat kota ditemani teriakan kicauan burung malam yang melantangkan kebenaran dan angin malam yang menghantarkan harapan akan selimut perdamaian, Floren ditangkap. Bukan oleh tentara Romawi dengan pedangnya, bukan oleh anak-anak STM, melainkan oleh suara-suara fitnah di media sosial dan laporan-laporan palsu. Ia dibawa kehadapan Tuan Besar yang duduk di atas kursi empuk berhiaskan rintihan rakyat jelata.
“Apakah engkau ini yang katanya mau mengubah tanah ini menjadi Surga?” tanya Tuan Besar sambil menghisap sebatang rokok.
Floren hanya terdiam bisu menanggung peluh. Diamnya bukan karena takut, tetapi karena ia tahu bahwa kata-kata tidak ada gunanya bagi hati yang sudah tertutup oleh gila hormat. Orang-orang lain disekitarnya masih terus menafsir keterdiamannya, bertanya-terus bertanya di dalam memori barangkali ada ketersembunyian yang tidak layak disembunyikan.
Keesokan harinya, di sebuah lapangan luas nan tandus dekat pelabuhan, Floren dipukuli. Bukan oleh prajurit berziarah layaknya peziarah yang dilukiskan oleh Paulo Caelho dalam bukunya Sang Peziarah, tetapi oleh ketidakpedulian orang banyak. Mereka yang dulu pernah diberi makan, kini hanya menonton sambil merekam kejadian itu dengan ponsel mereka demi kebahagian FB-pro. Sebagian lagi berteriak, “Hajar dia! Dia merusak adat kita! Dia membuat kita merasa bersalah.”
Floren dipaksa memikul sebuah palang kayu yang besar dan kasar, sebuah kayu jati tua yang beratnya minta ampun. Ia harus berjalan mendaki bukit batu karang yang tajam. Jalanan itu panas, penuh kerikil yang melukai kakinya. Setiap kali ia jatuh, orang-orang bukannya lekas menolong, malah sibuk memberikan komentar jahat di kolom live streaming. Di tengah perjalanan menuju puncak bukit batu karang, seorang pemuda kampung bernama Baranusa, seorang penambang pasir yang baru pulang kerja, dipaksa oleh petugas untuk membantu memikul kayu jadi tua tebangan liar itu. Baranusa melihat mata Floren. Di mata itu, Tobi tidak melihat kebencian, melainkan sebuah kasih yang sangat dalam, seolah-oleh Floren sedang memikul seluruh beban penderitaan orang NTT di puncak pundaknya.
***
Ketika tiba di puncak bukit batu karang yang dulu sering disebut Bukit Cinta, di bawah langit cakrawal yang tiba-tiba berubah mendung pekat, Floren direntangkan. Paku-paku besar menembus tangannya yang biasa dipakai untuk memberi pelukan kasih sayang kepada anak-anak kecil yang menagih kasih sayang dari kedua orang tuanya, yang merantau entah pergi kemana, lalu meninggalkan luka. Saat palang kayu itu ditegakkan, Floren tergantung di antara langit dan bumi NTT. Dari atas bukit itu, Ia bisa melihat ladang-ladang jagung yang kering, pohon-pohon tumbang ditebang, hutan-hutan digundul, dan rumah-rumah beratap alang-alang yang penghuninya masih bergumul dengan kemiskinan.
“Bapa,” bisik-Nya dengan suara parau di tengah deru angin, “Ampuni mereka. Mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan di group-group WhatsApp dan di FB-FB Pro itu, di kantor-kantor itu, dan di jalan-jalanan ini.”
Tepat pukul tiga sore, bumi berguncang. Gunung Lewotobi dan Ile Lewotolok di seberang laut merunduk tak kuasa membendung amarah. Floren menghembuskan napas terakhirnya. Orang-orang yang tadi mencemooh tiba-tiba terdiam. Ponsel-ponsel diturunkan. Suasan menjadi sunyi senyap, bisu memandang ulah kebencian, hanya deruan angin berkecamuk meminta keadilan. Seorang Tuan tanah didampingi Perwira Polisi berlutut di atas karang tajam, memandang. “Sungguh,” katanya pelan, “Orang ini benar-benar Orang Baik. Ia mati supaya kita berhenti saling membenci.”
Floren meninggal di atas bukit batu karang yang dulu katanya disebut Bukit Cinta, tetapi entah cintanya kemana, dari siapa, dan untuk siapa. Di dalam hati Baranusa, di dalam hati nenek tua yang sembuh, dan di dalam jiwa tanah NTT, sebuah benih baru telah ditanam di sela-sela batu karang keegoisan diri. Benih itu bukan tentang kematian, melainkan tentang pengorbanan yang takkan pernah usang; sebuah sejarah amerta yang membuktikan bahwa cinta selalu lebih kuat daripada paku dan kayu, cinta lebih kuat daripada janji yang diumbar tanpa ada bukti.
#Rekontekstualisasi Imajinasi dari suara-suara yang seringkali terlupakan#


