
Oleh Yohanes Maria Prayoga Pangestu, Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta; Sejarawan Mentah
Ada kalanya sebuah sastra yang dilahirkan dari rahim revolusi Indonesia tak selalu berjalan searah dengan perjuangan Republik. Surabaya karya Idrus adalah salah satu dari karya sastra itu. Sosok Idrus bukanlah dari kalangan sastrawan medioker. Sebagai seorang sastrawan prosa dan pengamat sejarah pada jamannya, ia berani bersikap kritis terhadap perjuangan bangsa. Apakah dengan mengkritisi sisi kelam bangsanya termasuk hitungan menguliti sanak saudaranya?
Berbeda dengan narasi sejarah arus utama yang mempoles revolusi tanpa cela, Idrus memberikan penyegaran kepada penulisan prosa Indonesia. Ia menggunakan gaya bahasa cenderung sinis dan sarkas dalam memandang teror dan kekacauan yang timbul dalam suatu peristiwa bersejarah bangsanya sendiri.
Secara singkat, Surabaya ini seperti sebuah antitesis yang menggugat dominasi historiografi arus utama seputar pertempuran Surabaya. Idrus melakukan sebuah dekonstruksi sejarah yang revolusioner, memindahkan episentrum proklamasi kemerdekaan di Jakarta menuju palagan Surabaya yang bergelimang embun merah dan kertak gigi. Dengan menggunakan pendekatan historis, Idrus menjahit dua peristiwa heroik seperti insiden perobekan bendera di Hotel Yamato dan pidato Bung Tomo sebagai pemantik psikologis yang mendobrak heroisme romantis menjadi realitas getir apa adanya.
Surabaya karya Idrus dapat dikaji melalui konsep energi sosial dari Stephen Greenblatt. Dalam pemikiran Greenblatt, sastra tidak berhenti pada imajinasi murni seniman, ia hadir sebagai wadah yang menangkap energi di dalam masyarakat. Kemudian dikembalikan kepada masyarakat sehingga terjalin ikatin batin yang terjalin antara seniman, karya, dengan massa.
Cerpen ini merupakan karya yang berbobot dan dapat menyentuh sisi kemanusiaan dari setiap pembacanya. Energi sosial yang dibawa oleh karya Idrus dapat dipahami melalui dua bahasan utama, yaitu lahirnya mesias baru dan ironi kemanusiaan yang kuat.
- Lahirnya Mesias Baru
“Orang-orang dalam mabuk kemenangan. Kepercayaan kepada diri sendiri dan cinta tanah air meluap seperti ruap bir. Pemakaian pikiran menjadi berkurang, orang-orang bertindak seperti binatang dan hasilnya memuaskan. Orang tidak banyak percaya lagi kepada Tuhan. Tuhan baru datang dan namanya bermacam-macam bom, mitralyur, dan mortir.”
Kutipan yang diambil dari Surabaya dalam antalogi cerpen Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma karya Idrus (hlm.119) memasukkan sisi teologis para pejuang dalam usaha mempertahankan kemerdekaan. Ketika kedaulatan bangsa diujung tanduk, kekosongan religius diantara pemuda republik segera dijawab oleh kehadiran sosok penyelamat sungguhan.
Sang mesias enggan lagi datang di meja bundar perundingan, melainkan ia turun dari moncong-moncong panas baja. Bom, mitraliur, dan mortar bukan sekadar Bathara pencabut nyawa, ketiganya menjelma menjadi trinitas yang disembah secara khusuk ditengah ketidakpastian. Perlombaan mengokang senjata membuat seseorang kehilangan akal warasnya sebagai manusia.
Realita sejarah yang ditampilkan Idrus terasa begitu menyesak, bangsanya memutus jeratan kolonialisme menggunakan kunci linggis yang ditempa oleh kaum kolonialis. Senjata-senjata ciptaan khas Barat didudukkan sebagai juru selamat yang menjanjikan kemerdekaan instan. Namun, bagi Idrus, penebusan ini menuntut harga yang mahal, hati nurani mannusia terdegradasi menjadi insting kebinatangan yang menuntut darah.
Di bawah bayang-bayang desingnya ledakan mortar, garis linear antara pejuang kemerdekaan republik dan pelaku kriminal menjadi sama kaburnya. Kekaburan itu menyisakan realitas pahit bahwa revolusi disini dimaknai sebagai ritual penyucian diri dengan lumuran darah.
Ketika saya membuka kembali lembar kesaksian hidup Elien Utrecht dalam buku Melintasi Dua Jaman: Kenangan Tentang Indonesia Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan, Elien sebagai seorang indo-eropa menggambarkan secara traumatis porak-porandanya medan Surabaya. Dalam kacamata Elien, pidato Bung Tomo sukses membangunkan macan yang tertidur untuk memangsa kaum minoritas sepertinya. Mesiu para pejuang dilihatnya sebagai bisa ular yang siap mematok tanpa pandang bulu.
- Ironi Kemanusiaan yang kuat
“Seorang gadis muda remaja, bajunya compang-camping, berkata kepada setiap orang yang dijumpainya: Inggris, Gurkha, maupun Indonesia, “Saya bukan perawan lagi! Periksalah! Periksalah sendiri!” Sehabis berkata itu, diraba-raba pinggangnya dengan tangannya di bawah roknya dan tiada berapa lama seperti permainan sulap meluncur sebuah lap kuning kotor melalui kedua belah kakinya ke bawah. Waktu mereka mendengar perkataan gadis remaja itu, muka mereka menjadi merah karena dendam dan kebencian. Mereka cepat-cepat meneruskan perjalanannya dan dalam hatinya mereka berkata, “seorang korban revolusi!”” (hlm. 140-141)
Di tengah hiruk pikuk kota yang masih mengepulkan asap mesiu, revolusi mencuri yang paling berharga hingga ke akarnya. Idrus menghadirkan sosok gadis remaja sebagai monumental hidup bagi ironi kemanusiaan. Gadis itu berdiri di antara puing, mengenakan pakaian compang-camping yang tak lagi mampu menutupi lambang kehormatannya.
Pengakuan yang meluncur dari bibirnya, ‘Saya bukan perawan lagi!’ adalah sebuah tuntutan atas ketidakadilan. Ia menantang musuh maupun kawan, Inggris yang pongah, Gurkha yang asing, hingga saudara sebangsanya sendiri, untuk menatap ke dalam lubang hitam yang ia pikul.
Ironi kemanusiaan mencapai klimaks pada cara orang-orang di sekitarnya menghindar. Dengan menyebutnya ‘korban revolusi’, mereka secara kolektif sedang melakukan Eufemisme Sejarah. Dalam arti lain menganggap pengorbanan gadis itu adalah harga wajar yang harus dibayar.
Melalui gadis remaja ini, Idrus menggugat balik kemapanan historiografi arus utama yang berpura-pura tuli terhadap rintihan personal. Ini seperti pengingat bahwa masih banyak jiwa-jiwa yang dibiarkan membusuk dalam sepi yang rintihannya dibiarkan berlalu. Revolusi mungkin memang melahirkan bangsa, namun Idrus mengingatkan kita bahwa pesonanya menyembunyikan kekejaman yang tak berwajah.
- Perspektif, Sebuah Kesimpulan
Idrus tidak mengkerdilan arti revolusi, melainkan sedang mengumpulkan energi sosial yang tersembunyi dalam peristiwa sejarah. Melalui penggambaran senjata sebagai juruselamat dan gadis muda compang-camping yang terenggut kehormatannya, Idrus menggugat apakah makna revolusi benar-benar dipahami oleh para pejuang atau hanya menjadi ajang pelampiasan amarah kolektif.
Pengagungan terhadap senjata sebagai juruselamat memperlihatkan pemikiran yang merasa bahwa kedaulatan hanya bisa dipertahankan dengan dentum baja. Namun Idrus segera menampik kesadaran pembaca melalui kehadiran gadis muda yang bermakna dalam, bahwa ketika ‘mesias besi’ itu bekerja maka kemanusiaan menjadi tumbal yang paling pertama jatuh ke tanah.
Pada akhirnya, Idrus ingin menegaskan ulang bahwa sejarah tidak hanya ditentukan pada yang memegang senjata, tetapi juga pada mereka yang kehilangan segalanya dan dipaksa tersenyum di bawah panji revolusi.


