• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Kamis, April 16, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home UMUM

Djamil Suherman Menjadi Pengkritik Kemunafikan Berkedok Religi

by Redaksi
April 13, 2026
in UMUM
0
Djamil Suherman Menjadi Pengkritik Kemunafikan Berkedok Religi
0
SHARES
46
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Sahira Diniy Khairun Nisa, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

 

Dalam masyarakat Indonesia yang religius, gelar keagamaan kerap menjadi perisai ampuh. Seseorang yang menyandang sebutan “haji” atau rajin terlihat di langgar, otomatis dianggap mulia. Masyarakat enggan mempertanyakan integritas di balik atribut kesalehan tersebut. Justru di balik kopiah putih, bisa jadi tersimpan perbuatan yang bertolak belakang dengan ajaran yang dianut. Celah sosial inilah yang coba dibedah oleh Djamil Suherman lewat cerpen Umi Kalsum. Karya ini bukan sekadar kisah pilu seorang gadis pesantren yang bunuh diri karena tekanan ayahnya. Lebih dari itu, cerpen ini adalah protes halus. Namun, keras terhadap kemunafikan kaum beragama. Dalam teori sastra, konsep Implied Author atau Pengarang Tersirat dari Wayne C. Booth menawarkan pisau bedah untuk memahami cerpen ini. Konsep tersebut membedah dua sisi dalam diri pengarang: Persona Practica, yaitu sosok nyata pengarang dengan seluruh latar biografis dan sosialnya, serta Persona Poetica, yaitu suara ideologis yang muncul dari balik teks. Melalui kerangka ini, terlihat betapa Djamil Suherman, seorang guru agama dan penulis produktif, berani menelanjangi kebobrokan moral tokoh agama lewat karyanya sendiri.

Persona Practica merujuk pada sosok nyata pengarang di luar teks. Djamil Suherman dikenal sebagai guru agama Islam SD di Surabaya sekaligus pegawai negeri yang religius. Namun sebelum itu, ia pernah menjadi buruh pabrik, tentara, dan pegawai pos, yang menunjukkan bahwa ia berasal dari kelas bawah, bukan dari keluarga haji kaya. Sejak kecil ia akrab dengan dunia pesantren, dan pengalaman itu banyak mewarnai cerpen-cerpennya. Namun, justru disitulah letak paradoksnya, pengetahuan agamanya tidak ia gunakan untuk memperkuat citra kesalehan, melainkan untuk membongkar sisi buruk dari tokoh agama tersebut. Dalam kehidupan sosial, posisinya sebagai guru agama seharusnya menuntutnya menjaga kehormatan institusi keagamaan. Tetapi sebagai sastrawan, ia mengambil jalan yang berseberangan. Cerpen Umi Kalsum lahir bukan dari sudut pandang orang luar yang memusuhi agama, melainkan dari seseorang yang memahami agama secara mendalam hingga mampu mengenali letak kemunafikan yang tersembunyi di dalamnya.

Persona Poetica dalam cerpen Umi Kalsum menyuarakan kritik keras terhadap kemunafikan tokoh agama. Haji Basuni digambarkan sebagai lintah darat, bakhil seperti Qarun, kejam seperti Fir’aun, jarang sembahyang, dan disebut “haji keluaran Singapura” karena tidak sampai ke tanah suci. Djamil dengan sengaja meruntuhkan pamor haji. Lebih dari itu, Haji Basuni juga digambarkan sebagai tiran rumah tangga yang memukuli anak-anak perempuannya, melarang mereka bergaul, dan ketika Umi hamil, ia justru menawarkan uang kepada siapa saja yang mau menikahi anaknya sendiri. Umi akhirnya bunuh diri. Djamil menolak pembacaan romantis “Umi melihat Tuhan” dan memilih melihat kenyataan pahit “seutas tambang keras telah menjerat leher halus itu”. Umi tidak mati karena takdir, tetapi karena kekerasan sistem yang dikepalai ayahnya sendiri. Dengan kata lain, Djamil hendak menunjukkan bahwa agama yang semestinya menjadi rahmat justru berubah menjadi alat penindas ketika dijalankan oleh orang-orang yang haus kekuasaan dan harta. Pesan ini terasa semakin menusuk karena disampaikan oleh seseorang yang justru hidup bergelut dengan dunia pesantren dan pendidikan agama setiap hari.

 

Penutup

Melalui cerpen Umi Kalsum, terlihat jelas bahwa Djamil Suherman sebagai pengarang nyata tidak hadir secara langsung dalam teks. Ia bertransformasi menjadi implied author, yaitu sebuah persona yang berani, kritis, dan tidak takut melawan arus. Transformasi ini menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar media untuk bercerita, tetapi juga ruang bagi pengarang untuk menyuarakan protes terhadap ketidakadilan yang mungkin disaksikan di sekitarnya. Dalam hal ini, implied author menjadi jembatan antara realitas sosial dalam keluarga religius dengan kesadaran pembaca akan bahaya kemunafikan berkedok agama. Pada akhirnya, cerpen ini tidak hanya berbicara tentang kematian seorang gadis, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat sering kali lebih sibuk menjaga citra kesalehan daripada melindungi korban kekerasan yang terjadi di depan mata.

 

ShareTweetSend
Next Post
Ketika Sejarah Tidak Hanya Diketahui Tetapi Juga Dirasakan

Ketika Sejarah Tidak Hanya Diketahui Tetapi Juga Dirasakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

DPR Minta Perpusnas Perkuat Layanan Perpusatkaan Digital

DPR Minta Perpusnas Perkuat Layanan Perpusatkaan Digital

6 tahun ago

Bawa Bantuan untuk Korban Bencana, KRI Tanjung Kambani-971 Tiba di Pelabuhan Laut Larantuka

5 tahun ago

Popular News

  • Perihal Presidensialisme

    Perihal Presidensialisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In