
Oleh Afrilia Ekayanti Ayuwandira Lamanele, Mahasiswi Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Sejarah tidak selalu hadir sebagai cerita yang utuh dan jujur. Ia sering kali disusun oleh mereka yang memiliki kuasa, sementara suara-suara lain perlahan tersisih, bahkan dihapus. Apa yang tertulis kemudian dianggap sebagai kebenaran, sementara yang tidak tercatat seolah tidak pernah terjadi. Padahal, yang dihilangkan itu tidak benar-benar lenyap. Ia tetap hidup di dalam ingatan, dalam pengalaman, dan sering kali, di dalam tubuh manusia itu sendiri.
Dalam pengertian ini, sejarah sebenarnya tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak, berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain. Dari peristiwa menjadi ingatan, dari ingatan menjadi cerita, dan dari cerita menjadi kesadaran baru. Di titik inilah sastra memainkan peran penting. Ia tidak sekadar menceritakan masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi pengalaman-pengalaman yang selama ini dibungkam.
Hal tersebut terasa kuat ketika membaca Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Novel ini menghadirkan kisah perempuan-perempuan muda pada masa pendudukan Jepang, mereka yang dipaksa masuk ke dalam sistem kekuasaan militer dan mengalami kekerasan yang tidak selalu tercatat dalam sejarah resmi. Namun, yang dihadirkan Pramoedya bukan hanya peristiwa, melainkan pengalaman yang hidup dalam rasa takut, kehilangan, dan kehancuran yang melekat pada tubuh para tokohnya.
Di sinilah tubuh menjadi penting. Tubuh bukan lagi sekadar entitas biologis, tetapi ruang di mana kekuasaan bekerja secara nyata. Ia menjadi tempat di mana kontrol dijalankan, di mana kekerasan ditanamkan, dan di mana sejarah meninggalkan jejaknya. Apa yang tidak tertulis dalam arsip negara justru tersimpan dalam tubuh, dalam luka yang bertahan, dalam ingatan yang tidak mudah hilang.
Dan menariknya, tubuh itu tidak pernah benar-benar diam. Ia terus mengingat, bahkan ketika dunia berusaha melupakan.
Seperti yang pernah dikatakan Pram, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Kutipan ini terasa relevan dalam konteks ini. Karena tanpa tulisan, pengalaman-pengalaman seperti yang dialami para perempuan dalam novel tersebut bisa saja hilang begitu saja tidak tercatat, tidak diakui, dan akhirnya dilupakan.
Melalui tulisan, Pram seperti berusaha melawan kemungkinan itu. Ia menghadirkan kembali apa yang hampir lenyap, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini tidak terdengar.
Sementara itu, dalam perspektif Stephen Greenblatt karya seperti ini dapat dipahami sebagai bagian dari sirkulasi “energi sosial.” Energi sosial adalah segala sesuatu yang hidup di dalam masyarakat: nilai, emosi, trauma, bahkan ketakutan yang terus bergerak dan kemudian masuk ke dalam karya sastra. Dengan kata lain, sastra bukan hanya hasil dari realitas sosial, tetapi juga bagian dari cara realitas itu terus diproduksi dan dipahami.
Di titik ini, kita mulai menyadari bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Apa yang kita baca dalam buku sejarah hanyalah satu versi dari sekian banyak kemungkinan cerita. Sementara itu, sastra menghadirkan versi lain, versi yang lebih dekat dengan pengalaman manusia, dengan luka, dan dengan ingatan yang sering kali tidak diberi tempat.
Sastra, dalam hal ini, menjadi ruang alternatif. Ia memberi tempat bagi yang tidak tercatat, memberi suara bagi yang dibungkam, dan menjaga agar pengalaman-pengalaman itu tidak benar-benar hilang. Ia juga mengingatkan kita bahwa di balik narasi besar tentang perang dan kekuasaan, selalu ada manusia dengan tubuh yang terluka dan kehidupan yang berubah selamanya.
Pada akhirnya, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer tidak hanya bercerita tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang bagaimana kita mengingatnya. Ia mengajak kita untuk melihat sejarah bukan sebagai sesuatu yang sudah selesai, tetapi sebagai sesuatu yang terus hidup.
Hidup di dalam tubuh
Hidup di dalam ingatan
Dan hidup di dalam cerita yang terus diceritakan kembali.
Karena selama masih ada yang mengingat, sejarah tidak akan pernah benar-benar diam!
—————————-
Referensi :
Toer, Pramoedya Ananta Toer, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Catatan Pulau Buru. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.



