• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, April 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Honocoroko Database dari Sila-Sila Pancasila sebagai Dasar Negara

by Redaksi
April 25, 2026
in OPINI
0
Honocoroko Database dari Sila-Sila Pancasila sebagai Dasar Negara
0
SHARES
12
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Agus Widjajanto

 

Ditengah derasnya pengaruh budaya luar karena adanya kemajuan tekhnologi informasi, dimana seolah dunia tanpa sekat dan batas wilayah, yang dengan mudah nya generasi muda digiring pada framing opini publik, yang belum tentu tepat dan benar, yang merupakan strategi  global dimana Imperalisme modern ysng selalu berganti wajah dan bentuk namun dari genetik yang sama  melakukan eskplotasi strategi penguasaan ekonomi dan politik, dengan cara menghancurkan dari dalam sosial budaya ekonomi masyarakatnya.

Di tengah memanasnya perang Iran melawan Amerika dan Israel, dimana dunia mengalami ketidak pastian dalam Geo Strategis dan Geo Politis secara global, bukan tidak mungkin Indonesia dengan segala sumber daya alamnya tidak menjadi incaran negara negara besar,  sebagai negara kepulauan dan dengan sistem pertanahan rakyat semesta, memang  sulit dan Imperalis  harus berpikir ulang bagi  bangsa lain akan melakukan invasi militer langsung kepada Negara ini dengan jumlah penduduk mencapai 280 juta jiwa.

Kemungkinan paling aktual yang bisa dilakukan adalah dengan tehnik dan strategi lama dengan wajah baru melalui politik pecah belah, dan penghancuran dari dalam , dan ini sudah terjadi dan terasa benar saat ini yang harus diwaspadai bersama anak bangsa .

Bahwa generasi muda sebagai tulang punggung bangsa ke depan harus paham dan belajar dari sejarah warisan leluhur. Bahwa bangsa ini adalah bangsa yang adi luhung, yang meninggalkan warisan budaya dan peradaban yang sangat besar. Salah satunya adalah ajaran luhur ilmu batin secara spiritual yakni warisan aksara jawa Honocoroko yang ditulis dalam huruf palawa dan bahasa sansekerta, yang merupakan induk  dari ajaran luhur para kesatriya Yakni Sastro Jendro Hayuningrat .

Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Dayu, yang lebih populer disebut Ajaran Luhur  ” Sastro Jendro Hayuningrat ” adalah sebuah ajaran pitutur berupa karya sastra atau ajaran suci  lewat sastra, menyangkut ilmu kaweruh batin , yang bersumber dari ajaran ajaran Agama, yang disamarkan dalam kisah pewayangan untuk menuntun pada laku spiritual dalam dimensi spiritual Jawa, yang membabar atau membuka rahasia rahasia alam semesta, untuk menuntun kepada sifat berbudi luhur, menghancur sifat angkara, sifat Anasir Anasir negatif , agar mencapai kesempurnaan hidup, sedulur papat limo pancer Soko guru dari puncak spiritual Jawa, dimana Manusia sebagai khalifah di muka Bumi dimaknai sebagai wakil Tuhan dimuka bumi, manusia dilahirkan agar bisa , mempunyai wawasan dan pemikiran yang luas ( Den Ajembar ), dengan demikian agar bisa dicapai untuk bisa menampung berbagai masukan aspirasi baik dari kalangan bawah , kalangan menengah dan kalangan atas, untuk bisa mengambil kebijakan ( Den Momot ), dan harus menghilangkan ego pribadi atau kepentingan pribadi ( Lawan den wengku), agar mencapai kesempurnaan sebagai manusia sejati , yang mempunyai pandangan , ilmu , wawasan , hati nurani , kebijaksanaan seluas samudera raya ( Den Koyo Segoro ) sebagai seorang manusia sejati /Pemimpin .

Bahwa dalam tradisi sastra Jawa kuno istilah nama  Sastro Jendro Hayuningrat dikenal dalam teks uttarakanda Jawa kuno, Tek Uttara kanda adalah gubahan dari Tek uttarakanda sansekerta pada akhir abad ke sepuluh Masehi, dimana Tek uttarakanda berisi kisah tentang Rahwana atau kelahirannya, dimana Raja Sumali yang ingin mengawinkan putri nya yang berwajah raksasa yang bernama Dewi sukesi yang berharap dapat menantu berwajah tampan seperti dewa, yang mana pada saat jaman kerajaan Majapahit tahun 1379 Masehi, kisah tersebut digubah kembali oleh Mpu Tantular menjadi Epos Kakawin arjunawiwaha.

Ajaran luhur  Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Dayu sendiri , adalah ajaran yang selama ini dirahasiakan hanya pada kalangan terbatas, dari bangsawan Jawa, karena dianggap yang membabar ilmu rahasia , yang tidak hanya mengajarkan tentang olah batiniah, tapi juga tentang ilmu ilmu kanuragan kesaktian, yang dimiliki raja-raja jaman dulu.

Bahwa makna atau kaweruh dari kitab Sastro Jendro Hayuningrat sendiri sebenarnya adalah penjabaran dari huruf huruf dalam abjad honocoroko, yang diciptakan pada tahun satu saka, tentang asal usul terjadi nya manusia, menurut persepsi dari kebatinan Jawa. Yang ditulis dalam bentuk sastra Jawa, dengan bahasa sansekerta dan huruf Pallawa.

Bahwa Filosofi dari aksara Jawa Honocoroko itu sendiri juga  merupakan intisari dari nilai nilai Pancasila, yang digali oleh para pendiri bangsa Bung Karno, yang saat itu dipidatokan dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni yang diperingati sebagai lahir nya Pancasila, disamping dari sumber -sumber lain diantaranya dari Kitab Negara Kertagama,  yang pada pemerintahan Orde Baru, diadopsi lagi dan dijadikan rujukan untuk dilakukan pembelajaran tentang  penguatan nilai-nilai Pancasila yang dikenal dengan Eka Prasetya Pancakarsa (P4).

Konsep Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di Dunia ini pada hakekatnya adalah satu kesatuan hidup. Javanisme Memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam Kosmos, dengan demikian perjalanan kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman pengalaman religius.

Dalam mencari eksistensi jati dirinya sebagai mahluk Hamba Tuhan maka, daya upaya dilakukan melalui pengembaraan yang tidak pernah berhenti untuk mencari hakekat hidup dan kehidupan itu sendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Hukum Alam ( Sunatullah ), hingga timbul pertanyaan dari mana kita berasal dan setelah itu mau kemana dan kembali kemana ( Sangkan Paraning Dumadi ), maka dikarenakan Wujud sang Pengeran / pangeran yang berarti Tuhan yang tidak berwujud sebagai tempat bernaung dan berlindung, yang tidak bisa ditembus dan dijangkau dengan pikiran serta  panca Indra kita, maka sebagai wujud ekpresinya untuk menggambarkan itu semua maka ada istilah Tan Keno Kinoyo Ngopo.

Pengetahuan tentang konsep ketuhanan salah satunya disimbulkan kedalam Aksara Jawa, Aksara yang sejatinya untuk media menulis orang Jawa, digunakan sebagai simbol pengetahuan konsep Ketuhanan . Simbol tersebut terdapat dalam tiap huruf aksara Jawa  Ha Na Ca To Ko , Da Tha Sha Wa La, , Pa Da Jo Yo Nyo, Ma Ga Ba Ta NGO.

Bahwa setiap huruf mengandung arti makna berbeda dan berkaitan antara satu dengan yang lain, yang semuanya berjumlah 20 Huruf aksara Jawa yang merupakan pengembangan dari huruf Palawa, yang setiap huruf nya punya muatan yang berkaitan dengan Sifat Religius dalam Konsep Ketuhanan , yang dalam keseharian dijabarkan dalam entitas olah ROSO bagi orang Jawa yang menekankan sisi Spiritualitas yakni dengan laku spiritual .

Dalam beberapa babad atau cerita diciptakan nya Aksara Jawa pada tahun satu Saka, penciptanya adalah Aji Saja dari tanah Hindustan India yang mengembara ke Tanah Jawa pada abad ke Dua Masehi, dengan demikian Aji Saka merupakan figur yang menyebarkan agama Hindu pertama di Tanah Jawa , maka tidak heran di Jawa banyak tempat tempat  yang diadopsi dari tanah Hindustan di India misalnya gunung Muria, dan Gunung Semeru yang identik dengan gunung Mahemeru yang disesuaikan dengan lidah orang Jawa, kisah Aji Saka sampai saat ini tumbuh subur di Jawa dan kisah Aji Saka menjadi inspirasi kehidupan batin orang Jawa, sebagai pusaka jati diri, ibarat Pusaka adalah Curigo , sedang kan warongko nya bisa bernama apa saja , sebagai pakaian penutup aurat dan memperindah bentuk .

Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ko mewakili spiritualitas orang Jawa yang paling dalam yang merindukan Harmoni , yang tidak suka atas terpecah belah nya Anak Bangsa.

 

Arti dan makna dari huruf Aksara Jawa tersebut adalah :

Ha Na Ca Ra Ka, yang berarti utusan yakni utusan Hidup berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad badan kasar manusia. Ada yang dipercaya untuk bekerja.  Yang ketiga unsur nya adalah Tuhan, Manusia, dan kewajiban Manusia sebagai Hamba Tuhan.

Da Ta Sa Wa La yang berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan saat meninggal tidak boleh SaWaLa atau mengelak sebagai manusia, harus bersedia melaksanakan , menerima takdir, dan menjalankan kehendak nya

Pa DHA Ja Ya Nya, yang berarti menyatunya Zat Pemberi Hidup ( Tuhan ) dengan yang diberi hidup ( Mahluk ) yang diberi sifat unggul atau jaya sebagai mahluk yang diberkati untuk memimpin di muka Bumi ,

Ma Gha Ba Ta Ngo, yang artinya menerima yang diperintahkan dan melarang atas hukum yang dilarang dari Tuhan yang Maha Esa, yang maksutnya manusia harus berserah diri Sumarah pada garis Kodrati, meskipun manusia diberi hak meWiradat, atau  berusaha .

 

Sedangkan arti setiap Huruf nya adalah :

HA Hana Hurip Wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci ( Tuhan )

NA Nur Chondro, Ghaib Condro artinya pengharapan Manusia hanya selalu pada Sinar cahaya ke Tuhanan untuk jadi penuntun .

CA Cipto Wening artinya Arah dan Tujuan Manusia hanya pada yang Maha Tunggal atau Tuhan.

RA Rasa Ingsun Handulusih artinya Rasa Cinta sejati muncul dari Cinta Kasih Nurani

KA  Karsoningsung memayuning Bawono, artinya hasrat ditujukan untuk kesejahteraan Alam Semesta .

  1. Dumading Dzat kang tanpo winangenan, artinya menerima hidup apa adanya.

TA  Tatas lan Wibowo, artinya totalitas dalam hidup untuk mencapai tujuan satu visi dan misi .

 

  1. Sifat Ingsun, artinya membentuk kasih sayang seperti sifat Tuhan yang penuh kasih .
  2. Wujud Hana tan keno kiniro, artinya Ilmu manusia hanya terbatas , tapi implikasi nya bisa tanpa batas.
  3. Lir Handoyo paseban jati , artinya mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi .
  4. Papan Tan tanpo Kiblat, artinya hakekat Tuhan yang ada di segala Arah , timur dan Barat milik Allah dimana wajahmu dihadapkan disitulah Allah berada.

DHA  Duwur wekasane endek wiwitane, artinya untuk bisa berada diatas, tentu selalu dimulai dari bawah / dasar.

JHA jumbuhing Kawulo LAN Gusti, artinya selalu berusaha menyatu memahami kehendaknya .

  1. Yakin marang samubarang, artinya yakin atas titah kodrat illahi

NYA  Nyoto tanpo moto, artinya memahi kodrat kehidupan ,

  1. Madep manteb nembahing illahi, artinya mantab dalam menyembah Illahi

GA guru Sejati kang Muruki, artinya guru sejati adalah hati nurani dan belajar lah pada nya,

BA Bayu sejati kang andalani, artinya menyelaraskan pada gerakan alam Semesta ( Sunatullah ).

TA  Tukul Soko niat, artinya sesuatu akan terjadi dari niat diri kita

NGA. Ngracut busaning Manungso, artinya melepas dan menghancurkan Ego pribadi , sebagai manusia.

 

Bahw setiap huruf huruf aksara Jawa dalan honocoroko tersebut penuh dengan dimensi spiritual yang punya kekuatan magis secara spiritual , dengan tata cara yang tentu diajarkan oleh para ahli filsafat dan kebatinan Jawa.

Apabila diringkas maka merupakan sebuah perjalanan, untuk menjawab segala pertanyaan kita dari mana kita berasal dan setelah dilahirkan untuk apa, di Dunia, lalu kita akan kembali Kemana dengan bekal apa kita berjalan.

Karena setiap aksara tersebut bermakna dimensi spiritual maka, seluruh Sila Sila dari Pancasila merupakan perwujudan dan pengejawantahan dari nilai nilai makna dan arti dari setisp  aksara Jawa tersebut yang dijabarkan dalam bahasa modern saat ini dalam sila pertama hingga kelima dari Pancasila.

Dalam kaitan Membangun Karakter Bangsa, terhadap generasi muda , dimana Pembangunan karakter bangsa mencakup  potensi potensi keunggulan bangsa , untuk ketahanan bangsa , yang diarahkan empat tatanan yakni menjaga jati diri bangsa, menjaga keutuhan NKRI , membentuk masyarakat yang berakhlak mulia dan membentuk bangsa yang maju, mandiri dan bermartabat sebagai bangsa yang besar dan berbudaya.

Kiranya konsep aksara Jawa dari honocoroko bisa dijadikan pijakan dan pembelajaran bersama dari generasi muda, yang merupakan tulang punggung bagi bangsa ke depan agar tetap  mengenal budaya Bangsanya sebagai bangsa yang berbudaya tinggi dan adiluhung . Nusantara pernah mencapa kejayaan dimana Saat abad ke Tujuh masehi, dinasti sanjaya dan syailendra membangun monumen budaya bangsa yang menghasilan bangunan yang jadi keajaiban dunia yakni candi prambanan dan Candi Borobudur beserta anak anak candi dalam situs sejarah yang bisa dilihat hingga hari ini, belum lagi saat abad je 11 Masehi, Singosari dengan armada Angkatan laut nya yang sangat terkenal telah menahlukan hampir sepertiga wilayah Dunia, serta Majapahit imperium yang sanggup menyatukan Nusantara ( Wilayah asia tenggara saat ini ), harus bangga sebagai anak bangsa.

Sebagai refleksi semangat tidak mau dijajah bangsa lain dalam bentuk apapun, baik ekonomi, budaya, tatanan kenegaraan dalam konsep berdemokrasi, isu Hak asasi Manusia ,Demokrasi dan Terorisme yang selalu dijadikan komuditas Politik, untuk Intervensi pada Negara yang berdaulat dalam negara Modern saat ini. sedangkan kita punya ciri khas tersendiri secara demokrasi yang telah diatur dalam kontitusi pada pasal 1 ayat 2, dan sila ke empat pada Pancasila, secara musyawarah mufakat.

Kebebesan di jamin oleh Kontitusi dan UUD 1945 namun te tu kebebasan yang bertanggung jawab, yang menghargai keberadaan Saudara saudara kita yang lain , yang tidak bisa di paksakan kehendak dan pandangan seseorang terhadap orang lain .

Demikian juga hak asasi Manusia, sebelum Dunia luar pasca perang dunia kedua membentuk Komisi Hak Asasi Manusia PBB ( UN Commision On Human Rights) pada tahun 1946 yang bertugas mengkonsep tentang Frasa The Man Of Right, yang lalu disyahkan lewat  Deklarasi hak asasi manusia  pada tahun 1948, yang mana  Para pendiri Bangsa kita ( Founding Fathers ) telah lebih dahulu  mengkonsep hak asasi warga negara dalam UUD nya  jauh tahun sebelum piagam PBB tersebut di bentuk, lewat perdebatan sengit dalam sidang BPUPKI  pada tanggal 15 Juli tahun 1945 sebelum Indonesia Merdeka dan disyahkan pada tanggal 18 agustus 1945. Artinya jangan ajari bangsa ini dengan Denokrasitasi dan hak asasi Manusia, karena para pendiri bangsa lebih dulu mencantumkan dalam 7 pasal di dalam kontitusi soal hak hak warga negara. Ini yang generasi muda harus paham.

Tan Hanna Dharma Mangrwa, tiada kebenaran yang mendua  BhinekaTunggal Ika. Walaupun berbeda beda tetap satu jua.

 

———————

Penulis adalah seorang praktisi hukum di Jakarta, pemerhati sosial budaya, hukum dan politik.

ShareTweetSend

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Pemberian Rehabilitasi Oleh Presiden Selaku Kepala Negara, terhadap Terpidana yang Belum Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap, Apakah Tepat dari Sisi Hukum?

Sumber Daya Alam Disinyalir Kuat sebagai Alasan Amerika Menyerang Iran

1 bulan ago
Kepercayaan  pada  Allah

Kepercayaan pada Allah

4 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In