Oleh Bernadetta Yovita Dwijayanti, Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Film 27 Steps Of May karya Ravi Bharwani menggambarkan kehidupan May yang mengalami trauma setelah menjadi korban kekerasan seksual pada masa SMA. Trauma tersebut membuat May mengasingkan diri dan menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamar. Menurut Johan Galtung, kekerasan tidak hanya berbentuk tindakan yang dilakukan secara langsung, tetapi juga dapat hadir melalui struktur sosial dan budaya masyarakat. Oleh karena itu, pengalaman May dalam film ini dapat dipahami melalui kekerasaan langsung, kekerasaan struktural, dan kekerasan kultural.
Kekerasaan langsung dalam film ini terlihat melalui peristiwa kekerasaan seksual yang dialami May. Meskipun tidak ditampilkan secara eksplisif, dampaknya tampak ketika May memilih mengurung diri di dalam kamar selama delapan tahun dan menjauh dari lingkungan sekitarnya. Trauma yang dialami May juga terlihat dalam adegan kebakaran di belakang rumah ketika ayahnya memaksa May keluar untuk menyelamatkan diri, tetapi May justru melukai tangannya sendiri dengan jarum pentul jahit. Menurut Johan Galtung, tindakan tersebut menunjukkan bahwa kekerasan langsung tidak hanya menimbulkan penderitaan pada saat peristiwa terjadi, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang berkepanjangan.
Kekerasaan struktural terlihat dari tidak adanya dukungan dan pendampingan yang memadai bagi May setelah mengalami kekerasaan seksual. Akibatnya, ia harus menghadapi traumanya seorang diri selama bertahun-tahun, sedangkan ayahnya juga tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk membantu proses pemulihan putrinya. Hal tersebut terlihat ketika ayah May sempat marah dan curuga kepada pesulap yang tinggal di balik dinding kamar May, tetapi kemudian menyadari bahwa kehadiran pesulap justru membantu May perlahan membuka diri. Adegan tersebut menunjukkan bahwa korban kekerasan membutuhkan dukungan emosional dan lingkungan yang mampu memberikan rasa aman agar dapat bangkit dari traumanya.
Film ini juga memperlihatkan adanya kekerasan kultural yang berasal dari budaya diam terhadap korban kekerasan seksual. May memilih memendam penderitaannya sendiri dan menutup diri dari orang lain karena tidak memiliki ruang yang aman untuk mengungkapkan pengalaman traumatisnya. Nilai dan cara pandang masyarakat yang membuat korban memilih diam merupakan bentuk kekerasaan kultural. Dengan demikian, budaya diam dan stigma terhadap korban membuat proses pemulihan terjadi lebih sulit dan menyebabkan penderitaan korban berlangsung lama.
Berdasarkan teori Johan Galtung, film 27 Steps of May menunjukkan bahwa penderitaan korban kekerasan seksual tidka hanya disebabkan oleh tindakan pelaku, tetapi juga diperkuat oleh kurangnya dukungan sosial dan budaya yang membuat korban memilih diam, Ketiga bentuk kekerasan tersebut saling berkaitan dan membentuk segitiga kekerasan yang menyebabkan trauma May berlangsung dalam waktu yang lama. Namun, kehadiran pesulap di balik dinding kamaar May menunjukan bahwa dukungan, empati, dan rasa aman dapat membantu korban perlahan keluar dari traumanya. Oleh karena itu, film ini mengingatkan bahwa pemulihan korban kekerasan tidak hanya membutuhkan hukuman bagi pelaku, tetapi juga dukungan dari keluarga dan masyarakat.



