• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, Juni 13, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Kekerasan terhadap Perempuan dalam Cerita Rakyat Sri Tanjung: Analisis Berdasarkan Teori Johan Galtung

by Redaksi
Juni 13, 2026
in OPINI
0
Kekerasan terhadap Perempuan dalam Cerita Rakyat Sri Tanjung: Analisis Berdasarkan Teori Johan Galtung
0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Florentina Veni Mayasari, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma

 

Pendahuluan

Karya sastra merupakan bagian dari warisan budaya yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Selain berfungsi sebagai sarana hiburan, karya sastra juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai sosial, moral, dan pandangan hidup yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Melalui cerita yang diwariskan secara turun-temurun, karya sastra tidak hanya merefleksikan kehidupan sosial pada masanya, tetapi juga menyimpan berbagai makna yang dapat dikaji secara kritis. Di balik alur cerita yang tampak sederhana, sering kali terdapat representasi ketidakadilan dan berbagai bentuk kekerasan yang dialami oleh kelompok tertentu, termasuk perempuan.

Salah satu karya sastra lisan yang masih dikenal hingga kini adalah legenda Sri Tanjung yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Legenda ini mengisahkan seorang perempuan yang dikenal karena kesucian dan kesetiaannya, tetapi harus menerima penderitaan akibat fitnah, kecurigaan, dan kemarahan suaminya. Kisah tersebut tidak hanya dipercaya sebagai asal-usul nama Banyuwangi, tetapi juga menggambarkan relasi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang rentan terhadap perlakuan tidak adil. Melalui pengalaman yang dialami Sri Tanjung, tampak adanya berbagai bentuk kekerasan yang menunjukkan ketimpangan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat tradisional.

Untuk memahami representasi kekerasan tersebut, tulisan ini menggunakan teori kekerasan Johan Galtung yang membagi kekerasan ke dalam tiga bentuk, yaitu kekerasan langsung, struktural, dan kultural. Kekerasan langsung tampak dalam tindakan fisik maupun verbal yang merugikan korban, sedangkan kekerasan struktural muncul melalui sistem sosial yang membatasi hak dan kesempatan individu. Adapun kekerasan kultural hadir melalui nilai, norma, dan keyakinan yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis representasi kekerasan terhadap perempuan dalam legenda Sri Tanjung berdasarkan teori Johan Galtung, sehingga dapat mengungkap bagaimana tindakan, struktur sosial, dan nilai budaya dalam cerita tersebut berperan dalam membentuk serta melanggengkan kekerasan terhadap perempuan.

 

Pembahasan

I. Kekerasan Langsung dalam Legenda Sri Tanjung

Kekerasan langsung dalam legenda Sri Tanjung terlihat jelas melalui tindakan yang dilakukan Raden Sidopekso terhadap istrinya. Setelah mendengar fitnah dari Prabu

Sulahkromo, Sidopekso langsung menuduh Sri Tanjung tanpa mencari kebenaran terlebih dahulu. Ia memarahi Sri Tanjung dengan kata-kata kasar, kemudian menarik dan menyeretnya ke tepi sungai. Tindakan tersebut menunjukkan adanya kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan oleh seorang suami yang merasa memiliki kuasa penuh atas istrinya.

Bentuk kekerasan yang paling menonjol terlihat ketika Sri Tanjung dipaksa membuktikan kesuciannya dengan cara terjun ke sungai. Ia harus mempertaruhkan nyawanya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan tidak melakukan perselingkuhan. Dalam cerita tersebut, air sungai dijadikan penentu kebenaran: jika berbau busuk berarti ia bersalah, sedangkan jika berbau harum berarti ia tidak bersalah. Menurut teori Johan Galtung, peristiwa ini termasuk kekerasan langsung karena melibatkan tindakan yang membahayakan korban secara fisik. Meskipun dibungkus dalam bentuk ritual dan dianggap sebagai cara untuk mencari kebenaran, tindakan tersebut tetap merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan.

2. Kekerasan Struktural dalam Konteks Legenda Sri Tanjung

Kekerasan struktural dalam legenda Sri Tanjung tidak tampak secara langsung seperti kekerasan fisik, tetapi berpengaruh besar terhadap kehidupan tokohnya. Sri Tanjung berada dalam posisi yang lemah karena tidak memiliki kesempatan untuk membela diri secara adil ketika dituduh berselingkuh. Penjelasan dan pembelaannya tidak dianggap penting, sehingga ia tidak memiliki ruang untuk membuktikan kebenaran.

Menurut Johan Galtung, kekerasan struktural terjadi ketika sistem sosial menciptakan ketidakadilan bagi individu atau kelompok tertentu. Dalam legenda ini, sistem feodal dan patriarki bekerja bersamaan: kekuasaan penguasa membuat fitnah mudah dipercaya, sementara dominasi laki-laki menempatkan perempuan pada posisi yang tidak setara. Akibatnya, Sri Tanjung tidak memiliki akses terhadap keadilan dan menjadi korban dari struktur sosial yang melegitimasi ketidakberdayaannya.

3. Kekerasan Kultural sebagai Legitimasi Kekerasan terhadap Perempuan

Kekerasan kultural dalam legenda Sri Tanjung bekerja melalui nilai-nilai yang dianggap baik oleh masyarakat, seperti kesetiaan, kesucian, dan pengorbanan perempuan. Menurut Johan Galtung, kekerasan kultural merupakan nilai atau kepercayaan yang membuat ketidakadilan tampak wajar dan dapat diterima. Dalam cerita ini, Sri Tanjung tidak langsung dipercaya ketika dituduh berselingkuh, tetapi harus membuktikan kesucian dan kesetiaannya melalui ujian yang berbahaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa perempuan ditempatkan pada posisi yang lebih mudah dicurigai dan dituntut untuk membuktikan dirinya.

Kekerasan kultural juga terlihat pada akhir cerita ketika penderitaan Sri Tanjung digambarkan sebagai sesuatu yang mulia dan terhormat. Air sungai yang menjadi harum serta penggunaan namanya sebagai asal-usul Banyuwangi memberi kesan bahwa pengorbanannya membawa kebaikan bagi masyarakat. Akibatnya, kekerasan yang dialaminya seolah-olah dibenarkan dan dijadikan teladan, sehingga memperkuat pandangan bahwa penderitaan perempuan demi membuktikan kesucian dan kesetiaan adalah hal yang wajar.

 

Kesimpulan

Berdasarkan analisis menggunakan teori Johan Galtung, legenda Sri Tanjung merepresentasikan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, yaitu kekerasan langsung, struktural, dan kultural. Kekerasan langsung terlihat melalui tindakan fisik dan verbal yang dilakukan Raden Sidopekso terhadap Sri Tanjung. Kekerasan struktural tampak pada sistem feodal dan patriarki yang menempatkan Sri Tanjung dalam posisi yang tidak setara sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh keadilan. Sementara itu, kekerasan kultural hadir melalui nilai-nilai kesucian, kesetiaan, dan pengorbanan perempuan yang digunakan untuk membenarkan penderitaan yang dialaminya.

Analisis ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam legenda Sri Tanjung tidak hanya berasal dari tindakan individu, tetapi juga didukung oleh struktur sosial dan nilai budaya yang saling berkaitan. Melalui kisah Sri Tanjung, terlihat bagaimana perempuan dapat menjadi korban ketidakadilan yang dianggap wajar oleh masyarakat. Oleh karena itu, legenda ini tidak hanya dapat dipahami sebagai cerita asal-usul Banyuwangi, tetapi juga sebagai refleksi terhadap relasi gender dan bentuk-bentuk kekerasan yang masih relevan untuk dikaji secara kritis pada masa kini.

ShareTweetSend
Next Post
Representasi Agensi Tokoh Pribumi dalam Max Havelaar dan Anak Semua Bangsa: Dari Objek Kolonial Menuju Subjek Sejarah

Representasi Agensi Tokoh Pribumi dalam Max Havelaar dan Anak Semua Bangsa: Dari Objek Kolonial Menuju Subjek Sejarah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Merayakan Indonesia

Mencapai Sanatha Darma (Pelayanan yang Sejati)

1 tahun ago
Tiga Hari,  Berhasil Submit 23 Artikel ke Jurnal Bereputasi

Tiga Hari,  Berhasil Submit 23 Artikel ke Jurnal Bereputasi

2 tahun ago

Popular News

  • Bayi – bayi di Pinggir Negeri – Sebuah Cerita Pendek Helena Lose Beraf

    Bayi – bayi di Pinggir Negeri – Sebuah Cerita Pendek Helena Lose Beraf

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Beranda Negeri

Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
SUBSCRIBE

Category

  • BERITA
  • BIOGRAFI
  • BUMI MANUSIA
  • Featured
  • JADWAL
  • JELAJAH
  • KOLOM KHUSUS
  • LENSA
  • OPINI
  • PAPALELE ONLINE
  • PUISI
  • PUSTAKA
  • SASTRA
  • TEROPONG
  • UMUM

Site Links

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

About Us

Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

  • Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

No Result
View All Result
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL

© 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In